Love, Aubrey

Lau

Judul: Love, Aubrey

Penulis: Suzanne LaFleur

Penerjemah: Ary Nilandari

Penerbit: M-pop (Matahati)

Tebal:  256 halaman

Genre: Teen Fiction

Aubrey baru saja kehilangan ayah dan adiknya dalam kecelakaan tragis yang membuat seluruh hidupnya jungkir balik. Bersama ibunya, gadis itu berusaha menata hidupnya kembali. Namun pada suatu hari, sang ibu pergi meninggalkannya, entah kemana, tanpa pesan, tak ingat pada dirinya.

Gadis berusia sebelas tahun itu terpaksa mengurus diri dan menjalani hari-harinya sendirian, menunggu ibunya kembali. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah menulis surat untuk mengungkapkan perasaan bahkan di saat tak ada seorang pun yang dapat membacanya.

Ini adalah kisah mengharukan tentang keluarga, persahabatan, kenangan, cinta, serta kekuatan untuk memaafkan. Pada akhirnya, semua pengalaman itu memaksa Aubrey membuat salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya.

Sinopsis diatas sudah cukup jelas menggambarkan isi cerita dari novel ini. Ketegaran Aubrey menghadapi musibah patut diacungi jempol, seorang gadis cilik berusia sebelas tahun sudah berani hidup sendiri dan harus menjadi dewasa sebelum waktunya, dibandingkan orang dewasa sesungguhnya (ibu Aubrey) yang terlihat rapuh dan tak bisa bertahan hingga ia nyaris melupakan Aubrey dan telah pergi meninggalkannya sendirian.

Namun itu semua tidak berlangsung lama karena sang nenek (Gram) datang ke Virginia membawa Aubrey pergi ke Vermont untuk tinggal bersamanya. Awalnya Aubrey tidak nyaman tinggal dengan Gram, ia masih diliputi kesedihan dan ingatannya akan Dad, Savannah, dan juga ibunya yang menghilang. Hanya ikan piaraannya (Sammy) yang menjadi teman setianya saat ini. Selain itu Aubrey masih sering menulis surat untuk Jilly (teman khayalan Savannah) untuk menceritakan semua isi hatinya setiap hari.

Gram tidak pernah menyerah untuk membuat Aubrey hidup ceria kembali, Gram menyuruh cucunya itu melakukan kegiatan dan bersekolah agar ia tidak terus mengurung diri di kamar.

Berkat neneknya Aubrey bisa bertemu Bridget, gadis cilik seusianya yang tinggal disebelah rumah Gram. Keluarga Bridget sangat baik sekali terhadap Aubrey. Mereka berdua kini bersahabat baik, di sekolah pun kompak selalu bersama-sama.

Masa lalu Aubrey sudah banyak diketahui pihak sekolah, ia pun diberi guru konseling bernama Amy. Amy selalu memberikan nasihat dan solusi pada Aubrey, meskipun setiap obrolan mereka seperti halnya seorang teman, tidak terlihat menggurui ataupun memerintah.

Ini yang saya suka dari novel ini, tidak ada kesan menggurui dalam setiap kata-katanya.

Sang Nenek tidak hanya berdiam diri, ia selalu berusaha mencari tahu keberadaan putrinya (ibu Aubrey) sampai sanak saudara semua dilibatkan dalam pencariannya.

Bagaimana usaha Gram untuk menemukan ibu Aubrey dan apakah Aubrey bisa bertahan di rumah neneknya? Akankah ia bisa kembali dengan ibunya? Lalu kisah apa saja yang terjadi di sekolahnya bersama Bridget juga seseorang yang disukainya?

Semua jawabannya ada di novel ini, kalau tertarik baca saja selengkapnya dibuku ini, saya tidak mau bikin spoiler,hehe meskipun sudah banyak clue yang diceritakan,kkk.

Aku kasih 3 bintang untuk Love, Aubrey.

Sebenarnya cerita dalam buku ini gak buat aku sedih, tapi sedikit tersentuh saat membaca surat Aubrey untuk Dad (page 167).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s