Bidadari Bidadari Surga

Bidadari-syurga

Judul Buku: Bidadari Bidadari Surga

Penulis: Tere Liye

Terbit: Cetakan XI, April 2012

Penerbit: Republika

Tebal:  viii+367 halaman

Harga: Rp 47.500

 Laisa, adalah sulung dari lima bersaudara. Dia bersumpah akan memberikan kesempatan pada adik-adiknya untuk menjadi orang-orang yang hebat.

Sumpah yang membuat terang benderang seluruh kisah ini.

Laisa, adalah sulung dari lima bersaudara. Menyimpan seluruh pengorbanannya seorang diri hingga detik terakhir hidupnya. Saat empat adik-adiknya pulang secepat mungkin ke Lembah Lahambay yang indah, menemui kakak yang membutuhkan mereka untuk pertama kali sekaligus terakhir kali seumur hidupnya.

Novel ini tentang kasih-sayang keluarga, tentang pengorbanan seorang kakak. Kapan terakhir kali kita memeluk adik-adik kita dan berlinang air mata bilang, meski mereka menyebalkan, kita sungguh sayang pada mereka. Dan sebaliknya, kapan terakhir kita memeluk kakak-kakak kita dan bilang, meski mereka cerewet, suka menyuruh-nyuruh kita sungguh menghargai mereka.

Novel yang menggunakan alur maju mundur ini sangat menyentuh, menguras emosi, visualisasi yang digambarkan dapet banget. Lembah Lahambay, tempat fiksi namun begitu hidup : )

Di Lembah itu ada sebuah rumah panggung yang sangat amat sederhana, yang menjadi tempat tinggal bagi keenam anggota keluarga. Ekonomi keluarga tersebut lemah semenjak Babak mereka meninggal karena di mangsa harimau di Gunung Kendeng. Menjalani hidup sebagai orangtua tunggal tidaklah mudah bagi Mamak, ia harus mengurus kelima anaknya yang masih belia. Beruntungnya Mamak memiliki anak-anak yang luar biasa.

Anak pertamanya bernama Laisa, yang usianya 16 tahun. Gadis remaja itu tumbuh dengan sifat penyayang, pekerja keras, penuh rasa syukur dan selalu berkorban untuk adik-adiknya dengan penuh keihlasan (keikhlasan yang sangat luar biasa menurutku).

Kerja keras, kerja keras, dan kerja keras selalu dimandatkan Laisa pada ketiga adiknya, ia ingin melihat adik-adiknya bisa sukses, menggapai berjuta kerlip cahaya lampu yang jauh lebih indah di luar sana, di luar Lembah Lahambay.

Dalimunte, anak laki-laki yang cerdas. Keberhasilannya membuat kincir air saat usianya masih sepuluh tahun mampu merubah kehidupan Lembah Lahambay jauh lebih baik. Saat ini dia menjadi seorang Profesor, Penemu Ilmiah Fisika. Diantara adik-adiknya yang lain, Dalimunte lah yang paling penurut dan rajin, saya suka dengan karakternya yang begitu peka terhadap Laisa.

Wibisana dan Ikanuri, mereka berdua terpaut usia sebelas bulan, tidak kembar tapi begitu mirip, kompak, dan sangat nakal, kenakalan mereka membuat hari-hari Laisa penuh cemas, was-was, betapa tidak.. kedua adik laki-lakinya itu selalu kabur, bolos sekolah, tidak pernah menurut jika disuruh bantu-bantu Mamak bekerja di ladang. Sampai pada titik tertentu, puncaknya tragedi di Gunung Kendeng membuat kedua sigung kecil yang nakal itu tahu bahwa kakaknya begitu peduli terhadap mereka, bahwa pengorbanan yang tulus itu benar-benar diberikan untuknya. Hinggga saat ini, Wibisana dan Ikanuri sadari setelah mereka sukses memiliki perusahaan  spare part otomotif.

Yashinta, anak paling bungsu yang pemberani. Rupanya yang cantik, yang membuat panggung di Lembah Lahambay terasa berbeda. Berbeda dari Laisa yang secara fisik tidak sesempurna adiknya, Yashinta. Sekarang ia tengah sukses bekerja di konservasi penelitian di Bogor, ia sudah mendaki 27 gunung di dunia. Kecintaannya akan alam, dan hobinya yang cukup ekstrem membuatnya menjadi gadis yang tangguh. Namun tetap saja tidak setangguh kak Laisa.

 “Lais kau bantu mamakmu menjaga adik-adik hingga Babak pulang dari mencari kumbang,” Laisa kecil mengangguk manatp sekali.

Anggukan yang menjadi janji sejati. Karena babak ternyata tidak pernah pulang-pulang. Janji seorang kakak. (Page 312) 

Mereka semua sukses berkat kerja keras dan pengorbanan kakaknya 🙂  

Aku suka dengan ceritanya yang sederhana namun setelah selesai membacanya, ternyata gak sesederhana itu, gak serumit yang dipikirkan pertama kali ketika aku membaca ceritanya di halaman pertama. Semuanya mengalir apa adanya, menyentuh nilai-nilai kemanusiaan, menginspirasi, so touching! Aku sampai menyeka ujung mataku ketika mencapai halaman-halaman terakhir . Menyesakkan.

Dibagian akhir ada yang membuatku sedikit tercengang, bagian itu adalah ketika si penulis mengambil posisi dalam cerita ini. Bahwa cerita ini ditulis oleh pihak ketiga. Jujur aku bacanya sampai tercengang mengangkat alis.lol Baru pertama kali aku membaca buku yang penulisnya ikut ambil bagian dalam cerita tersebut.

Well&he
llip; Rekomendasi banget buku ini untuk kalian semua. Ayah ibu kalian, kakak-kakak kalian, adik-adik kalian, sahabat-sahabat kalian… dan untuk semua-semuanya.. tak terkecuali siapapun. Berikan buku ini sebagai kado terindah buat mereka : ) (dikutip sedikit dari persembahannya Tere Liye, hehe).

 

Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al waqiah:22). Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedap-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi cantik. (Ar Rahman:70)

 

Aku kasih 5 bintang untuk Lembah Lahambay yang menjadi saksi hidup mereka.

Advertisements

One thought on “Bidadari Bidadari Surga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s