Tangan Kelima


Judul Buku: Tangan Kelima (1 Mobil, 4 Nama, 5 Misteri)
Penulis: Christian Armantyo
Penerbit: Visimedia
Genre: Detektif, Thriller
Terbit: Cetakan I, Mei 2013
Tebal: 366 halaman
ISBN: 979-065-183-X
Harga: Rp. 55.000,-

NO GAME LIKE IT, NO TALE LAKE IT, NO LOVE LIKE IT
MERCEDES Benz SL klasik merah menyala ditemukan di gudang rumah tua. Sang pemilik rumah meninggal tiba-tiba beberapa waktu sebelumnya. Tanpa ada kejelasan penyebabnya. Di dalam mobil klasik itu ditemukan BKPB berisi nama-nama pemilik sebelumnya dan sepasang sepatu perempuan yang masih baru.
RANTAU, sang ahli waris pemilik rumah menemukan berbagai kejanggalan di sekitar gudang tempat mobil itu ditemukan. Tak ada nama sang ayah di BPKB itu. Sederet tanda tanya memenuhi kepalanya. Mobil siapakah itu? Rantau akhirnya memutuskan menelusuri satu persatu nama yang tertera di dalam buku kepemilikan mobil itu. Ia tak pernah menyangka, penyelidikan kecil itu akan membawanya ke dalam labirin misteri yang semakin rumit. Misteri yang berusia puluhan tahun.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu Anna, perempuan yang mengaku anak salah satu pemilik mobil. Anna menawarkan diri membantu Rantau melanjutkan pencarian. Bersama Anna, Rantau keluar-masuk jalanan Jakarta, bahkan hingga menyeberangi Laut Cina Selatan, mencari alamat demi alamat yang terkadang berujung pada kekecewaan. Kebersamaan itu pun memunculkan benih asmara di dalam hati keduanya. Sampai pada akhirnya Rantau menemukan fakta-fakta yang mengejutkan. Pencarian yang dilakukan ternyata membuatnya tidak hanya kehilangan seorang kekasih yang sudah lama menemani, tetapi juga sahabat setia, bahkan nyaris nyawanya sendiri!

**
Sebelumnya saya berterima kasih banget nih buat Penerbit Visimedia yang sudah memberikan buku ini pada saya sebagai Tangan Keduabelas 😀

Dari judul dan sinopsisnya sudah cukup menggambarkan seperti apa perjalanan kasus yang akan dipecahkan oleh seseorang yang bernama Rantau. Ya, Rantau adalah tokoh utama dari novel ini. Penulis memakai sudut pandang orang pertama yang membuat saya sebagai pembaca menjadi lebih mengenal Rantau. Dan, bisa langsung bikin saya jatuh hati dengan tokoh ini xD

Cerita berawal dari Rantau yang baru lulus kuliah dari jurusan Arkeolog. Bicara soal arkeolog, pandanganku terhadap arkeolog di Indonesia memang masih terbilang tidak biasa dijadikan profesi sehari-hari. Entah karena memang istilahnya masih asing atau memang kebanyakan masyarakat sekarang lebih menilai kekayaan yang sudah ada dan modern, dibandingkan peninggalan-peninggalan zaman dulu yang bendanya sudah tidak ada atau ada tapi bukan untuk milik sendiri. Namun, faktanya hasil peninggalan malah lebih suka dilempar sana-sini untuk dijual, dan mirisnya dengan harga yang tidak sebanding.

“Hei, kamu itu arkeolog! Apa kamu mencari tahu sesuatu berdasarkan benda yang masih ada, atau yang kamu miliki?” – Elora

Saya sangat suka bagaimana penulis memberikan banyak informasi tentang Arkeologi−yang bagi saya masih awam. Tulisannya yang enak dibaca semakin membuat saya larut dalam kisah Rantau. Latar dalam ceritanya juga tidak perlu membuat saya berpikir keras mengenai tata letaknya, karena hanya berlokasi di Jakarta dan Bandung, tapi di bab pertengahan kita akan dibawa berpetualang dua hari di Hongkong 😀

Mobil Mercedes Benz SL ditemukan Rantau di rumah almarhum ayah kandungnya di Bandung. Tepatnya berada di dalam sebuah gudang yang tak pernah ia buka. Gudang itu sebenarnya tempat parkiran namun dialih fungsikan menjadi gudang karena pemilik rumahnya tidak memiliki mobil. Rantau yang datang kesana bersama Daan, sahabatnya, menaruh curiga dengan keganjilan yang ada pada mobil klasik berwarna merah itu.

Ayahnya tidak mungkin memiliki mobil antik seperti ini, lalu milik siapa mobil yang ditinggalkan secara tidak wajar ini. Apalagi, dipastikan mobil ini memang sudah ada sejak ayahnya ditemukan meninggal di rumahnya. Dan, yang tak terduga ada BPKB yang berisi nama-nama dari pemilik sebelumnya. Analisis-analisis yang selalu tepat dari seorang Rantau pun akhirnya keluar, dibumbui sifat humor dari Daan membuat analisis ini terbilang santai, jauh dari kesan rumit. Analisisnya sangat mudah dipahami dan terbilang natural, tidak terkesan dibuat-buat ataupun terpaksa harus ada petunjuk. Hal ini yang membuat ceritanya begitu mengalir dan nyata.

Sebagai seorang anak dengan jiwa arkeolog, sudah pasti Rantau sangat ingin menyelidiki hubungan antara mobil antik itu dengan ayahnya. Penyelidikan pun akhirnya dimulai dengan mencari sang pemilik terakhir yang mempertemukannya dengan Anna, anak dari pemilik mobil tersebut. Namun, karena nonya Elisabeth (pemilik mobil) tidak berada di tempat, Rantau harus memulainya terlebih dahulu dengan anaknya. Anna adalah perempuan cantik berwajah indo yang tertarik dengan apa yang sedang diselidiki Rantau. Keduanya akhirnya sepakat untuk memulai petualangan mencari pemilik-pemilik mobil sebelumnya, selama menunggu nyonya Elisabeth pulang dari luar negeri. Dan pencarian tangan ketiga, kedua, dan pertama pun dimulai, membuat saya sendiri menggebu-gebu seperti ikut berpetualang mencari orang-orang di masa lampau tersebut.

Dari sini pula dapat terlihat bagaimana chemistry antara Rantau dan Anna tumbuh. Tapi, perlu diketahui bahwa Rantau sudah punya kekasih, bernama Elora. Itulah yang selalu diwanti-wanti Daan setiap kali Rantau mulai beraksi mencari tangan-tangan berikutnya yang ia selidiki bersama Anna. Elora memang kuliah di Jogja, karena itu, soal penyelidikan ini pun tak diberitahunya. Sementara disisi Rantau ada Daan, disisi Anna juga ada Leo. Rantau kerap kali diperingatkan Leo untuk tidak macam-macam dengan Anna. Yah, maklum ceritanya Leo itu kakaknya Anna. *cough* :p

Jadi, intinya sih ya..menyelidiki pemilik mobil sebelumnya yang diurutkan dari sang tangan ke empat ke tangan pertama, yang akan membukakan petunjuk siapa pemilik sebenarnya, yaitu tangan kelima. Bisa dibilang, ini termasuk proses penyelidikan yang berjalan mundur.

Selalu ditemukan tokoh-tokoh baru disetiap babnya dan selalu ada cerita dibalik orang-orang yang pernah memiliki mobil tersebut. Dan, anehnya selalu saja mereka menawarkan diri ingin membeli mobil itu lagi. Tapi, tenang saja.. Rantau tidak silau harta untuk menjualnya. Dia masih ingin terus menguak hubungan mobil itu dengan ayahnya. Bahkan sampai berani terbang ke Hongkong berdua bersama Anna, demi mendapatkan informasi mengenai mobil mercedes itu.

Bab menjelang akhir, muncul tokoh Elora, kekasih Rantau. Meskipun munculnya ada di bab tiga terakhir, tapi tidak membuat sosoknya kehilangan peran. Justru perannya sangat kuat dengan pemikiran-pemikiran yang masih fresh dibandingkan Rantau yang isi kepalanya pasti sudah mumet gara-gara banyaknya informasi yang ia dapat, sehingga membuatnya berputar-putar sendiri dalam kekusutan kasusnya itu. Kesetiaan Rantau pada Elora tak perlu dipertanyakan lagi, meski selama Elora tidak ada, tapi itu tidak membuatnya mudah berpaling. Meskipun begitu, saya mendapakan chemistrynya pada Anna tidak kalah jauh dengan hubungan yang sudah bertahan selama dua tahun itu dengan Elora. xD

Sebenarnya aku sudah mulai menebak siapa Anna sebenarnya. Namun, karena asumsi Rantau yang begitu menerima informasi dengan mentah-mentah, membuat kecurigaan saya mengendur. Bahkan, dengan teganya saya ikut-ikutan mencurigai Daan. LOL
Menurut saya, tokoh Rantau ini memang tokoh yang lahir dengan sangat alami. Meskipun dia arkeolog, tapi tetap saja sifat tidak telitinya ada, yang membuat penyelidikannya semakin menarik.

“Saya arkeolog, bukan detektif… Arekolog itu lebih keren daripada detektif, Dik…” – Rantau (page 340)

Seorang arkeolog bisa otomatis disebut detektif, tapi detektif belum tentu seorang arkeolog. (menurutku) xD

Aku suka dengan endingnya yang memberikan penjelasan masuk akal. Tapi, kenapa harus seperti itu? Benar-benar bikin nyesek!! Saya gak terima dengan nasib Daan 😥

Novel ini seperti parcel buku, komplit genrenya. Ada history, horror, thriller, detektif, romance, humor, dan juga melodramanya.
Sangat disayangkan dalam buku ini saya menemukan lebih dari sepuluh typo, tapi tidak mengurangi kesan saya untuk menyukai buku ini. Hanya lebih bagus kalau typo itu gak ada, sehingga mata saya gak perlu ngucek-ngucek setiap kali liat typo.

Berhubung Rantau sudah saya kasih hati, bintang kali ini saya kasih buat Got. Eh, Daan Mogot! 4 bintang 😀

NB: Setelah habis membaca buku ini, saya jadi berasumsi bahwa title tangan keduabelas yang disematkan pada saya adalah bukan untuk memecahkan kasus-kasus selanjutnya yang tidak berujung, melainkan untuk membedah buku ini menjadi sebuah resensi. haha xD Apa diantara kalian juga ingin menjadi tangan-tangan berikutnya? Silahkan coba baca buku ini, barangkali benar anda adalah orang selanjutnya (tangan ketigabelas)? atau tangan keseratus, bahkan keseribu? x)

Tentang Penulis
Christian Armantyo

Membatalkan pilihannya menempuh pendidikan kesenian, lalu beralih mengikuti jejak kedua kakak dan ayahnya. Setelah menyelesaikan studi Akuntansi di Fakultas Ekonomi, UI, pada usia yang ke-20 tahun menjalani profesi sebagai bankir di salah satu bank milik negara.
Pagi hingga petang berjerih mengembangkan produk kredit bagi para pengusaha UKM. Saat malam sudah terlalu larut dan pagi yag masih buta berjerih mengembangkan produk imajinasi bagi para pembaca.
Mengenai beberapa bidang seni lainnya, seperti menggambar, bermain alat musik gitar dan cello. Merasa pernah hidup pada masa lampau, sehingga selalu terenyuh ketika mendengar musik-musik lama, melihat bangunan tua, dan hal bersejarah.

Untuk yang ingin mengenal lebih jauh penulis bisa berkunjung ke websitenya. Emailnya christian.armantyo@gmail.com, dan bisa follow twitternya @carmantyo

Advertisements

One thought on “Tangan Kelima

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s