Negeri Di Ujung Tanduk


Judul Buku: Negeri Di Ujung Tanduk
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Thriller, Fiksi
Terbit: Cetakan III, Mei 2013
Tebal: 360 halaman
ISBN: 978-979-22-9429-3
Harga: Rp. 55.000,-

Di Negeri di Ujung Tanduk
kehidupan semakin rusak,
bukan karena orang jahat semakin banyak,
tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.

Di Negeri di Ujung Tanduk
para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan,
bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladaan,
tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian.

Tapi di Negeri di Ujung Tanduk
setidaknya, kawan, seorang petaeung sejati akan memilih jalan suci,
meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata,
dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

**

Novel ini adalah sequel dari Negeri Para Bedebah. Bagi yang belum pernah baca seri pertamanya, bisa lihat pada review yang saya buat setahun lalu, disini.
Masih tentang Thomas dan orang-orang yang ada di sekelilingnya, seperti Opa, Om Liem, Maggie, dan Kadek. Tenang saja, ada orang-orang baru yang akan terlibat dalam cerita ini.

Namun, perbedaannya kali ini Thomas memiliki bidang pekerjaan yang baru. Masih seorang Konsultan, tapi ia mencoba untuk terjun di ranah yang berbau politik. Motivasi itu ada lantaran seorang kerabat lama yang mengajukan diri sebagai calon presiden dengan visi dan misi yang dapat menjual, meskipun hanya omong kosong. Poinnya penegakan hukum–itulah yang meyakinkan Thomas ingin ikut bagian menjadi seorang konsultan politik. Apalagi dia sudah memiliki nama dari profesinya tersebut, tidak diragukan lagi keahliannya.

Karakter Thomas masih seperti dulu, teguh pendirian dan sedikit keras kepala, sementara dalam sisi akademiknya, dia sangat cerdas dan cekatan.

Bagi sekretarisnya-Maggie, Thomas itu menyebalkan (menurut saya juga begitu sih) xD Tapi, semenyebalkan apapun Thomas, saya gak bisa benci dia XD
Dan bagaimana saya sebagai pembaca begitu takjub karena Thomas pintar sekali mempengaruhi orang lain, tepatnya menanamkan bibit-bibit ide dan membiarkannya tumbuh sendiri kemudian tersebar di pikiran orang-orang yang diajaknya bicara.
Well, Thomas selalu benar.

“Kau bosnya, Thom,”
Kalimat ini sering diucapkan Maggie jika dia sudah tidak bisa mengatakan TIDAK pada Thomas.

Dalam cerita kali ini, Thomas berurusan dengan banyak pihak, bahkan melibatkan orang-orang penting di pemerintahan. Hal itu tak bisa dielakkan karena Thomas sebagai konsultan partai politik dari JD yang sedang mencalonkan diri sebagai presiden. JD adalah mantan gubernur ibukota yang memiliki banyak prestasi selama menjabat sebagai orang nomor satu di ibukota tersebut.

Akan tetapi, tidak lama setelah itu, masalah demi maslah datang seperti tidak ada yang suka dengan keberhasilan JD–yang diperkirakan akan memenangi konvensi partai dan menjadi calon unggul untuk pemilihan presiden nanti. Dengan menjual omong kosong “Penegakan Hukum”, beliau akan menegakkan hukum Indonesia tanpa pandang bulu.

Omong kosong tersebut sepertinya lebih dari sekedar omong kosong, karena JD adalah pemimpin yang taat dalam menjalankan tugasnya. Kemungkinan omong kosong itu pun akan ada benarnya apalagi didukung Thomas, si petarung sejati.
Hal ini nampaknya menimbulkan ketidakpercayaan diri oknum-oknum, takut sekali jika JD benar-benar jadi presiden.

Berbagai carapun dilakukan oknum tersebut untuk menggulingkan JD, termasuk Thomas yang pasti harus ditumbangkan terlebih dahulu.

Seperti di buku pertamanya, Thomas tidak sendiri. Selain Opa dan Kadek, ada seorang wartawan majalah politik yang bernama Maryam-yang akan mewancarai Thomas hingga nekat pergi menyusulnya ke Hong Kong. Saat itu Thomas memang sedang menghadiri Konferensi Internasional tentang Komunikasi Politik, setelah itu, sekalian berada disana-dia juga mengikuti klub petarung yang banyak diikuti oleh berbagai negara. Salah satunya oleh petarung asal Hong Kong tersebut, Lee–yang merupakan petarung tangguh yang tak terkalahkan.

Jakarta. Dimana JD cemas dengan situasi yang akan dihadapinya menjelang konvensi nanti. Sementara, di Hong Kong, ada yang menjebak Thomas di kapal pesiar barunya sendiri. Ada sekitar seratus kilogram heroin dan beberapa senjata yang tidak tahu darimana asalnya, tiba-tiba saja sudah ada di kapalnya.
Dermaga Hong Kong yang menjadi tempat berlabuhnya kapal pesiar Thomas langsung dikepung oleh kepolisian Hong Kong. Dan tanpa proses yang lama, pasukan khusus antiteror Hong Kong SAR yang dikepalai oleh Detektif Liu itu menangkap Thomas beserta Opa, Kadek, dan Maryam, lalu membawa mereka ke markas dan menahannya.

“Pengalaman selalu lebih penting dibanding level pendidikan dan nilai akademis.”

Yap, berbekal pengalaman setahun yang lalu—saat Thomas berurusan dengan orang-orang yang ingin menghancurkan bank Semesta milik Om Liem, kini dia harus merasakan lagi masuk ke dalam penjara.

Di situasi yang sangat terjepit, waktu yang tinggal dua hari lagi menuju konvensi partai-bagaimana Thomas bisa keluar dari gedung kepolisian–yang pada saat ditangkap ke tempat ini saja, matanya ditutup oleh kain.

Lalu di Jakarta sendiri heboh soal penangkapan JD oleh polisi karena diduga terlibat korupsi megaproyek tunel raksasa selama beliau menjabat sebagai gubernur ibukota. Hal ini mengancam didiskualifikasinya JD pada konvensi partai yang tinggal satu hari lagi.

Kasus kali ini tidak kalah menengangkan dengan kasus yang ada pada NPB. Selalu ada Suspense di tiap bab–membuat saya pengin cepat menyelesaikan buku ini, karena berasa ikut dikejar deadline.

“Sebelum semua terlambat, sebelum seluruh negeri ini berubah dari negeri para bedebah menjadi negeri di ujung tanduk.” (page 256)

“Riset adalah segalanya.”

Meskipun terburu-buru, tapi berpikir dengan kepala dingin dan efektif, masalah demi masalah bisa teratasi.

Cerita yang diangkat begitu dekat dengan apa yang sering kita semua lihat di berita-berita televisi. Tapi, tidak seekstrim cerita Thomas−−jika saya melihat dari kacamata sebagai penonton televisi.
Seandainya dalam kehidupan nyata ada peran seperti Thomas, mungkin negara kita akan aman dan sejahtera ya.haha

Mengenai sudut pandang yang dipakai adalah orang pertama serba tahu. Jadi, sebagai pembaca saya merasa ikut terlibat. Dan untuk covernya sangat pas dengan tema cerita.

Kekurangannya, menurut sudut pandangku sebagai pembaca, ada beberapa cerita yang dibuat begitu singkat penjabarannya, seperti adegan Thomas yang bertinju dengan Lee tidak dipaparkan, mungkin hal ini juga yang membuat novel ini lebih tipis dari novel NPB.

Kesimpulan yang bisa saya petik dari novel ini sebenarnya simpel, hanya soal kepedulian dan kehormatan.

Beberapa typo:
1) page 171: Maryam kembali bicara padaku, meletakkan gagang telepon. ->
Seharusnya disitu bukan Maryam, tapi Maggie. Karena jelas disitu−−Maggie yang sedang menelepon Kris.
2) page 335: segara -> segera
3) page 336: Paman Liem -> padahal biasanya Thomas memanggilnya Om Liem.

Overall, saya suka novel ini. 5 bintang untuk Tommi 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s