The Bliss Bakery Trilogy #1


Judul Buku: The Bliss Bakery Trilogy #1
Penulis: Kathryn Littlewood
Penerjemah: Nadia Mirzha
Penerbit: Mizan (Mizan Fantasi)
Genre: fiksi, fantasi
Terbit: Cetakan I, November 2012
Tebal: 320 halaman
ISBN: 978-979-433-690-8
Harga: Rp 49.500,-

Musim panas itu, Rosemarry Bliss melihat ibunya mengaduk halilintar ke dalam semangkuk adonan dan semakin yakin bahwa orangtuanya menggunakan sihir di Toko Roti Bliss. Rahasianya ada pada sebuah buku resep BLiss Cookery Booke.

Namun, apa jadinya jika Rose dan Ty memutuskan bereksperimen dengan beberapa resep saat orangtua mereka pergi? Yah, beberapa Muffin Asmara dan Cookie Kebenaran sepertinya tak akan menimbulkan masalah bukan?

“Kisah yang lezat dan penuh petualangan mendebarkan…”
-Tracy Grant, Washington Post

**

Novel ini mengambil sudut pandang orang ketiga, dengan tokoh utama bernama Rose, usianya baru sebelas tahun.
Rose adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya yang tampan bernama Ty, dan adik laki-lakinya yang berpipi gembil bernama Sage, sementara adik yang terakhir, perempuan, bernama Leigh, usianya tiga tahun.
Disini aku tidak tahu jelas, Ty dan Sage berumur berapa, sepertinya tidak beda jauh beberapa tahun dari Rose. Karena mereka berdua juga masih sekolah.

Orangtua mereka, Albert dan Purdy adalah seorang ahli membuat kue. Rumah yang merangkap sebagai Toko Kue Bliss itu tinggal di kota kecil bernama Calamity Falls.

Kue buatan Albert dan Purdy diakui kehebatannya oleh para konsumen yang kadang sekaligus berkonsultasi dengan masalah mereka (ini toko kue apa tempat konsultasi ya). Tapi, mereka tidak tahu yang sebenarnya bahwa kue yang dibuat oleh Toko Kue Bliss itu ada sihirnya. Bahwa yang orang-orang tahu, bahkan anak mereka sendiri–kue-kue Bliss adalah kue biasa.

Sampai akhirnya Rose tahu bahwa kue yang dibuat orangtuanya ternyata dibuat dengan bahan-bahan yang tidak biasa. Semua resep itu tercatat di Cookery Booke. Cookery Booke yang disimpan di tempat yang tersembunyi di rumah mereka. Di kunci di dalam ruang pendingin yang hanya Albert dan Purdy yang bisa memasukinya.

Rose merasa kecewa dengan hal yang ditutup-tutupi orangtuanya. Mereka tidak melibatkan Rose ataupun kakak dan adik-adiknya. Untuk Ty sih mungkin saja dirahasiakan, karena Ty memang tidak suka ikut membantu membuat kue, begitu juga Sage dan Leigh yang lebih suka bermain. Tapi, untuk Rose yang memang sangat mengabdikan diri sekali dengan toko kue Bliss merasa diabaikan/tidak berguna.
Saudara-saudara kandungnya pun seperti tidak mempedulikannya. Rose merasa sangat biasa-biasa saja dibandingkan mereka.
Rose yang tidak berparas cantik dan berpenampilan menarik, dan juga tidak terkenal–merasa buruk sendiri. Apalagi laki-laki yang ditaksirnya, Devin Stetson tidak mengenalnya.

Perasaan seperti itu ada batasannya juga. Hingga kesempatan itu benar-benar ada. Kesempatan untuk membuktikan pada orangtuanya serta saudara-saudaranya bahwa ia hebat dan sangat patut untuk dibanggakan.

Kebetulannya, kunci ruangan tempat disimpannya buku resep itu dititipka pada Rose. Meski begitu tentu saja orangtuanya melarang Rose atau siapapun untuk membukanya.

Dipatuhi? sayangnya tidak.
Dari sinilah petualangan membuat kue dengan sihir dimulai, tanpa keahlian dan pengalaman membuatnya−−semuanya berjalan tidak mudah.

Di tengah situasi seperti ini datang seorang yang mengaku bibi mereka, keluarga dari kakek buyut-buyut-buyut. Namanya Lily.
Ty, Sage, dan Leigh percaya pada bibi Lily. Tapi, Rose tidak sepenuhnya mempercayai. Dia takut orang yang mengaku bibi mereka itu hanya datang karena ingin mengambil Cookery Booke.

Kocak, seru, kue-kue ajaibnya absurd xD

Karakter-karakternya kuat, sebut saja Rose si tokoh utama yang memiliki banyak kekurangan, sangat berbeda dengan tokoh-tokoh utama heroin pada umumnya.
Dia berkepribadian yang pekerja keras. Sama halnya dengan gadis pada umumnya, yang ingin tampil cantik, menarik, dan terkenal. Rose tumbuh menjadi anak yang cukup cerdas dan berambisi ingin melakukan apapun agar dia menjadi disukai banyak orang. Karena selama ini dia merasa tidak percaya diri dengan fisiknya. Untuk kelebihannya dia memiliki tanggungjawab yang tinggi.

“Rose merasa bersalah membayangkan betapa dia telah melanggar semua peraturan orangtuanya. Tujuannya minggu ini hanyalah membuktikan kepada orangtuanya bahwa dia layak mendapatkan kepercayaan mereka, layak menggunakan buku masak keluarga, juga layak menjadi pembuat roti yang sejati.” (page 213)

Ty, cowok yang tampan bak model majalah itu orangnya sedikit angkuh. Ya, wajar saja dia memang tampan. Dia juga sedikit malas untuk bantu-bantu di toko kue. Mungkin takut ketampanannya tidak bersinar. lol

“Kenapa aku harus membantu? Itu kan, tanggung jawab Rose.” – Ty (page 38)
*pengin ngejitak Ty, ganteng-ganteng kok males :p

Sage, versi Ty yang pendek dan berpipi gembil punya kepekaan yang tinggi dengan keadaan di sekelilingnya. Dia juga selalu ingin dilibatkan. Si selalu ingin tampil, yang membuat Rose agak kurang percaya dengan apa yang dilakukan Sage.

“Rose. Kupikir sebaiknya kau membiarkan Sage memegang kunci itu. Dia ingin diperlakukan dengan serius. Kalau kau tak mulai memercayainya sekarang, dia tak akan pernah bertanggung jawab atas apa pun.” – Lily (page 196)

Leigh, si kecil yang menggemaskan, suka bermain di dapur tempat membuat kue. Dia juga suka sekali membawa kamera polaroidnya yang ia kalungkan di leher.

Lily, wanita yang sangat sempurna dimata Rose, karena dia cantik, terkenal, dan berpenampilan menarik. Pandai memasak dan membuat kue pula.
Lily adalah sosok dewasa yang diimpikan Rose. Kelak Rose ingin menjadi seperti dia.
Lily sangat pandai mengambil hati orang, Ty dan Sage saja bertekuk lutut memujanya. Rose pun sempat goyah dengan pendiriannya yang awalnya menjudge Lily adalah penipu.

“Rose, aku mengerti bagaimana rasanya saat semua orang mengunggulimu, rasanya kau ingin berteriak meminta perhatian mereka. Dulu aku orang yang biasa-biasa saja–lalu aku menemukan bakatku dalam membuat roti. Kau dan aku, kita sama-sama membuat roti karena kita senang melakulannya, tapi kita juga membuat roti karena kita ingin menjadi luar biasa. Dan terkadang, saat kau berusaha menjadi luar biasa, kau melangkah terlalu jauh…” – Lily (page 213)

“…Ingatlah bahwa bagian kehebatan itu aalah mengakui bahwa kau membuuhkan bantuan.” – Lily (page 226)

Dan masih banyak tokoh pendukung lainnya yang sangat berperan membangun karakter utama menjadi hidup, seperti Chip, Mrs. Carlson, Mrs. Havegood, Mr. Bastable, Miss Thistle, Ashley Knob, dan masih banyak lagi.

Recomended sekali buku ini untuk anak-anak dan remaja-dewasa sekalipun. Novel yang sangat lezat dan bikin nagih untuk baca sampai habis. Sayangnya untuk beberapa adegan/kata cium−−menurutku seharusnya jangan ada. Kan ini buku anak-anak. Menurutku ini sebagai kekurangan dari jati diri novel yang bergenre anak-anak.

Diluar segi cerita, kelebihan novel ini adalah segi terjemahannya yang enak dibaca, dan ukuran fontnya yang besar sangat nyaman dimata. Covernya juga bagus banget, lebih bagus dibandingkan cover aslinya.

Pelajaran yang bisa diambil dari novel ini adalah tentang keajaiban yang sesungguhnya. Sejatinya yang ada hanyalah keajaiban dalam diri seseorang untuk mau berubah, berkembang, dan menyembuhkan diri, tanpa bantuan sihir sama sekali. Itulah keajaiban yang sebenarnya 😀

3 bintang untuk Cookery Booke.

Tentang Penulis:

Kathryn Littlewood adalah penulis, aktris, komedian, dan bon vivant yang tinggal di New York. Dia sering kali bekerja di Los Angeles, suka makanan manis seperti pain de chocolat dan punya novel yang mania untuk para pembacanya.

Advertisements

4 thoughts on “The Bliss Bakery Trilogy #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s