Filosofi Kopi


Judul Buku: Filosofi Kopi
Penulis: Dewi Lestari (Dee)
Penerbit: Truedee Books & Gagasmedia
Genre: Fiksi, Sci-fi, Romance
Terbit: Cetakan I, Februari 2006
Tebal: xii + 134 halaman
ISBN: 979-96257-3-4

Sebuah kumpulan cerita dan prosa satu dekade.
Ada delapan belas judul cerpen dan prosa dalam buku ini. Diantara kedelapan belas judul tersebut, aku menyukai dua cerpen dan satu prosa.
Untuk cerpen aku menyukai Filosofi Kopi dan Rico de Coro, sedangkan untuk prosa aku menyukai Spasi.
Cerita yang disuguhkan dalam buku ini cukup absurd dan nelangsa. Absurdnya sendiri saja sampai menjadi tokoh bernama Absurdo di Rico de Coro. LOL! Nelangsanya…karena begitu menyedihkan. Yap, salah satunya ada pada cerita berjudul Mencari Herman yang bikin aku merinding karena dibaca pas tengah malam x)

Untuk Filosofi Kopi sendiri aku sangat suka dengan ceritanya dan makna diakhir ceritanya, begitu mengena dan hmm aroma kopinya sampai terasa :p
Adalah Ben dan Jody yang menjadi tokoh utama dalam novel ini. Dua cowok, iya, dua cowok yang bersahabat dekat. Ben penyuka kopi kelas berat, mampu membuat jenis kopi apapun, hingga ia bisa menciptakan jenis kopi baru yang sempurna. Sementara Jody yang tidak se-addicted itu pada kopi, hanya mendampingi sahabatnya membuka kedai kopi tersebut dengan mengambil peran sebagai kasir saja.

Nama awal kedai mereka adalah “Kedai Koffie: Ben & Jody.” Namun, berubah menjadi “Filosofi Kopi: Temukan Diri Anda di Sini.” Konsep yang menarik dengan memberikan selembar kertas setiap pembelian kopi di kedainya, dengan kata: Kopi yang Anda minum hari ini, beserta keterangan filosofisnya.
Sampai suatu hari seseorang yang mengaku pecinta kopi sejati menantang Ben untuk membuatkannya kopi yang paling enak, hingga membuatnya mampu berkata ‘Hidup ini sempurna’. Dengan imbalan 50 juta, Ben menerima tantangan tersebut. Bukan, bukan karena uangnya tapi karena Ben memang ingin membuktikan bahwa dia pembuat kopi terbaik di seluruh dunia. Kalau untuk Jody sendiri sih, yang penting uangnya. Hihi… seru kan? Kalau mau tahu kelanjutannya baca sendiri :p nggak panjang kok, namanya juga cerpen.

Next story, Rico de Coro. Kebayang nggak sih kalau tokoh dalam cerpen ini seekor kecoak, ihh… geli banget kan. Tapi, sukses loh, cerpen ini bikin aku tertawa renyah dan manggut-manggut terkesima dengan makna dibalik akhir ceritanya.
Seekor kecoak yang hitam, kecil, jelek, dan bau itu jatuh cinta pada seorang puteri bernama Sarah. Bukan, Sarah itu bukan puterinya kecoak, melainkan manusia. Waah, kecoak jatuh cinta sama manusia?? Geli banget, ya. Haha… Tapi, disitulah keunikan dan konfliknya bermula.

Sebuah kerajaan kecoak ‘Hunter’ yang tinggal di rumah keluarga Haryono, memberikan aksi balas dendam bagi keluarga tersebut karena suka membasmi bangsanya secara tidak hewani, apalagi meremehkan bangsa mereka sebagai binatang yang menjijikkan. Hunter ini memiliki anak bernama Rico de Coro, sebenarnya nama Rico de Coro itu disematkan sendiri oleh anaknya, karena ngakunya sih pemberian dari Sarah. Sarah itu anak dari Tuan Haryono. Nah, ternyata tidak hanya di bangsa manusia saja yang jatuh cinta dikekang oleh orangtua, di bangsa kecoak pun bisa terjadi,LOL! Yap, Rico de Coro tak direstui untuk menyukai Sarah oleh Hunter x)
Bagiku yang nggak suka kecoak, entah kenapa suka dengan cerita ini. Hihi…

3 bintang untuk kumcer dan prosa satu dekade 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s