Mitsuko

mitsuko


Judul Buku: Mitsuko
Judul Asli: Little Sister
Penulis: Kara Dalkey
Penerjemah: Mohammad H
Penerbit: Matahati
Genre: Fantasy, YA, Historical Fiction, Science Fiction
Terbit: Cetakan II, Juli 2007
Tebal: 245 halaman
ISBN: 979-1141-08-8

Blurb:
Mitsuko adalah gadis berusia tiga belas tahun di Jepang abad kedua belas. Layaknya gadis bangsawan lain, dia hidup di balik tirai kesopanan.

Hidupnya berubah ketika keluarganya diserang pemberontak dan kakak iparnya dibunuh. Dengan bantuan tengu – manusia gagak – dan mahluk lain dalam mitos Jepang, Mitsuko melakukan perrjalanan demi menolog keluarganya.
**

“Buku ini mengajarkan tentang persaudaraan, persahabatan, dan kejujuran melalui setiap kejadian yang dihadapi Mitsuko. Sebuah pelajaran untuk menjadi dewasa dan mandiri.” – Majalah Gogirl!

“Petualangan Mitsuko berrhasil membungkus sejarah dan imajinasi dalam kemasan yang menarik.” – Majalah Kawanku

“Racikan yang tepat antara sejarah dan mitologi membuat novel ini sangat menegangkan.” – Publishers Weekly
**

Review:
Adik kecil dari bumi
Betapa teguh perasaan batu-batu itu di bawah kakiku yang berkasut hingga gempa bumi…

Mitsuko. Tokoh utama dalam novel ini menceritakan masa lalunya saat ia berumur tiga belas tahun. Dimulai ketika acara Jamuan Air Berkelok di Festival Ular, dimana para putra putri keluarga bangsawan saling berbalas puisi yang ditulis di kertas dan mengapungkannya dengan perahu kayu.
Mitsuko sangat kagum pada kepiawaian kakak sulungnya, Amaiko. Selain pandai membuat puisi, Amaiko sangat cantik dan anggun, sehingga banyak laki-laki yang menyukainya.
Semenjak Festival Ular, Mitsuko memiliki nama panggilan baru, yaitu Genangan air/ genangan kecil.

“Meskipun aku merasa seperti katak memandang bangau, tetapi aku tidak iri. Aku merasa puas bahwa takdir mengizinkan aku berada di dekatnya, mendengar dia tertawa serta mencaciku dengan senyuman; memerhatikan tangannya bergerak laksana daun mengapung di Sungai Kamo.” – Mitsuko (page 7)

Kakak perempuan kedua dan ketiga Mitsuko adalah Kiwako dan Sotkoko yang berumur lima belas tahun, mereka kakak yang baik, tapi begitu penakut dan banyak bicara. Adik laki-lakinya yang paling kecil masih berumur tiga bulan, namanya Yusho.

Tak butuh waktu lama, Mitsuko menceritakan kakak pertamanya telah menikah dengan seorang bangsawan, pemuda yang tampan, bernama Koga No Yugiri.

Pastilah ada suatu alasan mengapa Mitsuko menjadi narator dalam cerita ini, dimana konflik akhirnya datang saat kebahagiaan pernikahan kakaknya. Isu pembakaran istana oleh biarawan Hiei, membuatnya gusar, sampai akhirnya ia memberanikan diri bertanya pada seorang penjual kue keliling saat melewati kediamannya. Padahal sebagai bangsawan, dilarang untuk bebicara dengan orang asing, apalagi memperlihatkan wajahnya.
Mochi, gadis yang memanggilnya genangan air di gunung, sementara gadis itu menyebut dirinya sendiri burung.

Benar, istana kaisar Fujiwara akan dibakar oleh para biarawan hiei, betapa sedihnya Mitsuko karena tidak ada satupun orang di istana yang menceritakan masalah ini.

“Ada hal-hal yang tak boleh didengar wanita terhormat.”

Sampai akhirnya, keluarga mereka harus mengungsi keluar dari kota Heian Kyo, tetapi ayahnya tetap tinggal untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang kaisar. Menuju pondok Gunung di Tamba, Mitsuko dan keluarganya dihadang prajurit biarawan, kakak iparnya, Yugiri yang memang ikut dalam perjalanan mengawal keluarganya tewas terbunuh saat melawan prajurit dari gunung Hiei itu.

Seakan cobaan tidak ada habisnya datang bertubi-tubi, pondok tempat tinggal yang direkomendasikan ayahnya ternyata sebuah gubuk yang tak terurus. Amaiko berubah pucat bak mayat hidup setelah kehilangan suaminya. Tak mau bicara, menangis pun tidak. Hanya diam, diam, dan diam. Mitsuka dan ibunya merasa khawatir, sampai akhirnya bantuan datang dari Lord Tsubashima, seorang kerabat jauh yang memang akan menyambutnya saat datang ke pondok.
Rahib Dento membantu mengobati Amaiko dari roh jahat, tapi tak ada hasilnya, Amaiko tetap bersikap sama. Rohnya sendiri seperti pergi jauh mencari suaminya.

Bak raja datuk maringgi, Lord Tsubashima yang memilki kekuasaan di wilayah sekitar tempat tinggal, menyuruh mereka untuk pindah ke istananya, mereka akan dijamin hidupa layak, dan diberi pelindungan yang aman. Hanya dengan syarat putri bangsawan Fujiwara mau menikah dengan putra raja Lord Tsubashima.

Mitsuko yang tidak mau itu terjadi, melarikan diri membawa Amaiko di tengah malam. Mempertemukannya dengan tengu, manusia gagak. Namanya Goranu.

Tengu tidak beriman, mendengar cerita Mitsuko ia mau membantunya karena biarawan itu musuh bunian.

Dari sinilah petualangan Mitsuko mencari visi bersama Goranu untuk mencari roh kakak iparnya, agar Amaiko bisa sembuh.
Disini aku suka dengan tokoh Goranu, meskipun dia tengu, dia bisa baik dengan caranya sendiri, tanpa harus berpura-pura apalagi meninggalkan kesan jahatnya. Sekalipun dia hebat, bisa membawa terbang Mitsuko ke alam manapun, tapi tetap saja yang namanya tengu punya kelemahan, dia tidak bisa bertahan di tempat yang suci, seperti kuil dan surga.

Aku juga suka dengan tokoh Mitsuko yang mandiri, yang membuat pandangan seseorang terhadap bangsawan tidak lagi seperti ada sekat yang memisahkan si kaya dan si miskin. Sifat Mitsuko tidak dibuat-buat sok baik terhadap Mochi, dia melakukannya dengan alasan yang logis.

Banyak sekali puisi-puisi dalam novel ini, aku sedikit tidak nyaman, mungkin karena tidak terbiasa membaca puisi, apalagi puisi sastra Jepang.

Untuk keseluruhan aku cukup suka dengan novel ini, selain karena berlatar Jepang juga karena tokoh-tokohnya yang terbangun dengan sangat baik.

3 bintang untuk klan Fujiwara 😀

Quotes yang kusukai:

“Aku sadar bahwa aku pun akan merindukan mereka. Benar bunyi peribahasa bahwa jauh dari kerabat adalah kemiskinan yang terparah.” – Mitsuko. (page 128)

Advertisements