Moga Bunda Disayang Allah

22050-mogabundadisayang

Judul Buku: Moga Bunda Disayang Allah
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Genre: Fiksi
Tebal: v + 246 halaman

Blurb:
“Gelap! Melati hanya melihat gelap.
Hitam. Kosong. Tak ada warna….
Senyap! Melati hanya mendengar senyap.
Sepi. Sendiri. Tak ada nada…

“Buku ini akan membuat Anda lebih mencintai Allah dan hamba-hamba-Nya. Jangan menjadi orang yang merugi karena tidak mendapatkan ‘ilmu’ dari buku ini.”…. (Ratih Sang, penulis buku “Kerudung Praktis”)

“Dengan gaya bahasa yang unik dan sarat makna, novel ini kembali mengingatkan kita pada kunci meraih kebahagiaan, yaitu… ikhlas, sabar, dan syukur…” …. (Cut Putri, Perekam Peristiwa Tsunami Aceh 2004)

Review:
Novel ini bercerita tentang seorang anak yang berusia 6 tahun bernama Melati. Gadis kecil itu memiliki kekurangan, dia tidak bisa melihat, mendengar, dan bicara. Hidupnya gelap, sunyi, kosong. Kedua orangtuanya yang kaya raya

    sudah melakukan berbagai upaya untuk menyembuhkan Melati (setidaknya mereka ingin Melati bisa berkomunikasi dengan lingkungan meskipun dengan keterbatasannya) karena Bunda begitu sedih karena anak semata wayangnya itu hanya bisa menggerung, melempar-lempar apa pun yang ada di dekatnya, bahkan dipegang oleh orang lainpun Melati mengamuk. Semua ini karena gadis kecil itu tidak tahu seperti apa dunia, bagaimana wujud seseorang yang menyentuhnya, bagaimana wujud benda-benda yang disentuhnya, mendengar tidak bisa, bicarapun tak berdaya.

    Karena novel ini di bab-bab awal dibagi menjadi dua POV, saya sedikit bingung, tapi ternyata POV Karang memang ada sangkut pautnya dengan kisah Melati. Karang yang dulunya seorang pemuda yang akrab bagi anak-anak, tiga tahun terakhir ini berubah menjadi brutal. Ia tinggal dengan ibu-ibu gendut (ibu angkatnya). Karang sering mabuk-mabukkan dan kerjanya tidur seharian, dan baru keluar jika hari tengah gelap.

    Kinasih, putri dari dokter Ryan sahabat Tuan HK, ternyata memberikan infromasi bahwa ada seorang laki-laki yang akan bisa membantu Melati. Seperti sebuah pola, garis cerita antara Bunda, Melati, Kinasih, dan Karang saling terikat, menyimpulkan benang merah.

    Melati bertemu dengan Karang, diajarkan banyak hal. Akan tetapi, Karang yang masih brutal itu, memperlakukan Melati secara kasar, sampai Tuan HK marah dan ingin mengusir Karang. Bunda yang sudah tahu akan asal usul Karang tidak bisa berbuat apa-apa, namun sebisa mungkin ia tetap mempertahankan Karang untuk tinggal, memberinya kesempatan untuk merubah Melati.

    Banyak sekali air mata yang dikeluarkan oleh Bunda, saya terharu bagaimana seorang ibu berjuang, berdoa setulus hati demi anaknya. Yang paling buat saya tersentuh adalah pada bagian saat Melati menemukan cara mengenal dunia. Hiks… sangat mengharukan.

    “Ya Allah, tak lelah ia berharap suatu saat keajaiban itu pasti akan datang. Suatu saat janji-Mu pasti akan tiba… Bukankah, bukankah Engkau sendiri yang menggurat kalimat indah itu dalam kitab suci? Sungguh! Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan… (page 47)

    Entah kenapa saya merasa alurnya lambat. Apa mungkin karena dari sayanya sendiri yang kebanyakan menunda baca bukunya?lol. Selain itu, typo cukup banyak, gaya bahasa tidak baku, dan banyak kata-kata yang sering diulang.
    But, keseluruhannya sih oke, cover bagus. Novel karya Terel Liye hampir semuanya my cup of tea.

    3 Bintang untuk bulu ayamnya Mang Jeje.

    Quotes yang kusuka:
    “Tidakkah kau sejenak bisa berdamai dengan masa lalu itu?” – Bunda (page 79)

    “…Tahukah kalian hal yang paling menyakitkan di dunia bukan ketika orang lain ramai menyalahkan diri kalian. Tapi saat kalian menyalahkan diri sendiri…” (page 81)

    “… Kita akan lebih menyesal atas hal-hal yang tidak pernah kita lakukan, bukan atas hal-hal yang pernah kita lakukan meski itu sebuah kesalahan…” (page 104)

    “Benarlah. Jika kalian sedang bersedih, jika kalian sedang terpagut masa lalu menyakitkan, penuh penyesalan seumur hidup, salah satu obatnya adalah dengan menyadari masih banyak orang lain yang lebih sedih dan mengalami kejadian lebih menyakitkan dibanding kalian. Masih banyak orang lain yang tidak lebih beruntung dibanding kita. Itu akan memberikan pengertian bahwa hidup ini belum berakhir. Itu akan membuat kita selalu meyakini: setiap satu mahluk berhak atas satu harapan.” (page 190)

    Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s