Melbourne (Rewind)

Judul Buku: Melbourne

Penulis: Winna Efendi

Penerbit: Gagasmedia

Terbit: Cetakan IV, 2013

Genre: Romance, Non Fiksi

Tebal : xii + 328 halaman

ISBN: 979-780-645-6

Harga: Rp 52.000,-

Blurb:

Pembaca tersayang,

Kehangatan Melbourne membawa siapa pun untuk bahagia.

Winna Efendi menceritakan potongan certa cinta dari Benua Australia semanis karya-karya sebelumnya: Ai, Refrain, Unforgettable, Remember When, dan Turth or Dare.

Seperti kali ini, Winna menulis tentang masa lalu, jatuh cinta, dan kehilangan.

Max dan Laura dulu pernah saling jatuh cinta, bertemu lagi dalam satu celah waktu. Cerita max dan Laura pun bergulir di sebuah bar terpencil di daerah West Melbourne. Keduanya bertanya-tanya tentang perasaan satu sama lain. bermain-main dengan keputusan, kenangan, dan kesempatan. Mempertaruhkan hati di atas harapan yang sebenarnya kurang pasti.

Setiap tempat punya cerita.

Dan bersama surat ini, kami kirimkan cerita dari Melbourne bersama pilihan lagu-lagu kenangan Max dan Laura.

Review:
Melbourne adalah salah satu novel seri STPC, yang mana latar dalam novel tersebut sesuai dengan judul novelnya itu sendiri.

Blurb novelnya sudah jelas kalau novel ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang sudah putus, eh tapi ketemu lagi, jadi semacam bernostalgia. Kalau di kehidupan real jarang banget mantan bisa ketemu akur gini, apa mungkin tergantung putusnya waktu itu kenapa kali ya… Nah, pertanyaan-pertanyaan itu bisa kita ketahui jawabannya dari novel ini.

Max dan Laura seperti kebanyakan pasangan lainnya kok, meskipun mereka bisa ketemu dan ngobrol bareng lagi, tapi tetap saja perasaan mereka sekarang sudah beda. Status mantan pacar sepertinya tidak ingin mereka sandang, mungkin sekedar teman itu lebih baik, atau mungkin jadi orang asing saja. Karena toh sudah lima tahun yang lalu tepat ketika mereka memutuskan untuk berpisah.

โ€œKalau gue pikir-pikir sekarang, mungkin kehilangan buku dan menemukan walkman itu di sana adalah takdir, permainan hidup yang bertujuan untuk mempertemukan gue dan dia.โ€ โ€“ Max (page 12)

Mungkin pembaca sekalian bertanya-tanya seperti apa cerita dalam novel ini, apa hanya monoton ketemu mantan lalu bernostalgia, terus jalan-jalan ke lokasi favorit di Melbourne? Seperti di seri STPC pertama yang saya baca.

Di awal-awal saya sempat khawatir seperti itu, terlebih Winna Efendi ini author favorit saya, agak kecewa kalau ceritanya monton dengan mengumbar lokasi-lokasi yang sebenarnya bisa saja diganti di mana pun tempatnya, karena sekedar tempelan. Setelah menutup buku ini saya puas deh ๐Ÿ˜€ kekhawatiran saya tidak terjadi.

Karena novel ini memiliki alur maju mundur sehingga ceritanya pun kuat sekali, pembaca seakan di bawa ke mana pun oleh cerita Laura dan Max. Yap, bagi yang pernah baca karyanya Winna Efendi tidak asing lagi dengan penulisan sudut pandangnya yang menggunakan sudut pandang orang pertama dengan dua POV.

Max, seseorang yang terobsesi pada cahaya, sejak dulu bahkan saat masih pacaran dengan Laura ia memiliki impian bisa mewujudkan passionnya itu, penata cahaya. kesukaannya pada cahaya akhirnya membuat ia sukses dan bisa bekerja dengan tim artisnya Geeks, menata cahaya panggung konser agar menjadi lebih spektakuler.

Berbeda dengan Laura, sejak dulu ia tidak memiliki impian apa pun, kuliah mengambil finance saja hanya sekedar tuntutan harus mendapat gelar agar bisa bekerja. Terang saja dalam setiap ceritanya dia tidak menceritakan seperti apa pekerjaannya itu, terkadang ia hanya terlihat sibuk jika membawa pekerjaan itu di depan Max yang sama sibuknya dengan settingan-settingan cahayanya di laptopโ€”ketika mereka janjian ketemu di Prudance, kafe terpencil di daerah Melbourne Barat.

Meskipun begitu, kini untuk mengisi kekosongan, Laura bekerja paruh waktu sebagai penyiar radio. Seperti halnya waktu ia masih kuliah bisa menjadi penerjemah freelance adalah sesuatu yang menyenangkan. Menjadi penyiar radio pun sama menyenangkannya, ia suka mendengarkan musik, seperti musik-musik dalam walkman-nya dulu yang sekarang sudah tidak dipakainya lagi.

โ€œA song tells the story of your life, thereโ€™s always a personal history attached to it. Itu;ah yang menarik dari musikโ€”setiap orang memiliki soundtrack kehidupannya sendiri.โ€ โ€“ Laura (page 19)

–Menurut Max, selera musik Laura aneh.

โ€œDoes the past always come back to you?โ€ โ€“ Laura (page 22)

Semua orang pasti pernah mengalami hal semacam ini. Berkata โ€˜gue selalu melihat ke depanโ€™ adalah benar adanya, tapi berpikir ke belakang pun tidak ada salahnya kan, toh kita yang sekarang tanpa masa lalu yang sudah dilewati tidak akan menjadi kita yang saat ini.

Atau mungkin pertemuan antara Max dan Laura hanya kebetulan…

โ€œ…Layaknya reuni SMA yang berlangsung beberapa tahun sekali; teman-teman lama berkumpul, bertukar kabar, dan berjanji akan segera bertemu lagi, lantas melupakan janji itu dan kembali sibuk dengan kehidupan masing-masing.โ€ (page 46)

Karena kehidupan mereka sudah memiliki titik masing-masing, Max dengan profesinya yang mengharuskannya bertemu dengan orang-orang hebat dan tentu saja terkenal. Tapi lain ceritanya dengan Max yang tidak metropolis dengan kehidupannya itu. Dia bisa berteman baik dengan seorang manajer Geeks, yaitu Marly, cewek cuek yang asik diajak ngobrol. Kedekatan mereka tidak lain karena keduanya sama-sama jatuh cinta pada seseorang (yang berbeda) tapi cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Marly pada anggota Geeks (Jonah), sementara Max pada mantan kekasihnya (Laura).

Coba bayangin kalau Max cowok metropolis, hmm…bisa jadi saya tidak suka dengan tokoh dia. *eh

Begitupun Laura, saya tahu keputusan yang Laura ambil sangat tepat, keputusan apa…cari tahu sendiri ya :p

Yang jelas, sama dengan Max, Laura pun punya kehidupan sendiri. Ia sebagai penyiar radio bertemu dengan pendengar setianya yang ternyata pacarnya Cee, sahabatnya.

Adalah Evan nama lelaki yang bisa membuat Laura nyaman, bisa berbagi musik yang sama, menoton konser bersama, hal-hal yang selama ini ia inginkan. Meskipun ia tahu Evan adalah milik Cee, tapi sahabatnya itu begitu pengertian. Tentu saja karena Laura adalah sahabatnya, dan Evan kekasihnya. Keduanya memiliki kesukaan yang sama pada musik, jadi jika mereka berteman dekat, tidak salah dong?

โ€œ…Manusia nggak bisa milih kapan waktu yang tepat untuk jatuh cinta. The good thing is, I know when it happens to me.โ€ โ€“ Max (page 61)

Selanjutnya, bagaimana akhirnya Max dan Laura memutuskan kesempatan yang ada di depan mereka. Apa Max mau berkorban demi Laura? Tentu saja harus >< *pengin teriak ditelinga Max* kalau saya sih kasihan sama Laura.

Over all, saya suka sekali dengan novel ini, suka dengan kedua tokohnya, ceritanya, juga tempatnya, plus gaya penulisannya Winna Efendi yang sedap dibaca ๐Ÿ˜€

Penasaran kan dengan endingnya Rewind?

Saya kasih 4 bintang untuk Lost of Found tempat untuk mengambil barang-barang yang hilang ๐Ÿ˜€

Favorit Quote:

โ€œ…But I think believing that things happen for a reason makes it easier for us to keep going. Dengan menerima kenyataan, kita akan lebih mudah bergerak maju, mengecilkan ruang untuk rasa sesal.โ€ โ€“ Max (page 123)

Advertisements

20 thoughts on “Melbourne (Rewind)

  1. Ade Delina Putri says:

    Melbourne. Dari namanya udah cinta banget sama kota ini upzh. Tapi novel ini sepertinya bukan novel biasa. penuh dengan quote yang bermanfaat, makanya pasti ada yang bisa diambil hikmah dalam novel ini. Penasaran juga sama endingnya hik >_<

  2. suhodephil says:

    gyaaaa mbak Winna Efendi… pengen banget baca bukunya, selama iniblm kesampean T.T
    pake sudut pandang pertama, aku mau mempelajari cara ganti POV =_= ceritanya tentang pasangan lama yangg bersemi kembali gak ya? =_= aku pengen banget dapet cerita yg kayak begini biar gak terlalu ngarepin masa laluku *eaakkk* *ini apaaa*
    review nya bagus deh ga terlalu spoiler tapi nyebutin semua tokohnya, walaupun ada tokoh yg di tengah jalan , tetep ga bikin spoiler . goooooood :3

  3. Ninda says:

    Aku juga suka Winna, meskipun baru baca dua novelnya. Keren pokoknya. Setelah baca reviewnya, entah kenapa aku jadi pengen punya buku ini, sayang nggak bisa beli. Ouwoo keren reviewnya!

  4. Khairisa Ramadhani Primawestri says:

    Aw, aw, dari review-review lain yang saya baca memang sepertinya kaitan dengan musik dan cahaya nya itu kayaknya unyu :”’ setelah baca review kak inari malah makin penasaran karena kayaknya kok ada cinta segitiga biru yah A___A hehehe. Rasanya ngomporin nih buat segera baca huhuhuhu apalagi karena diungkit kalau bahasa penulisannya enak, saya soalnya belum pernah baca bukunya kak WInna… #sokakrab.

    Dengan tema nya yang kayaknya juga nyess gitu untuk diceritakan dengan cara yang mengesankan seperti yang sudah dikatakan xD terima kasih reviewnya kak, semoga saya bisa berkesempatan baca buku ini^^ Pengen juga ngeliat penggambaran Melbourne di sini, aw aw. Teman saya ada yang kuliah di Melbourne, pengen coba ngeresein dia kalau udah baca ini hahaha.

    Regards,
    Khairisa

  5. Asy-syifaa Halimatu Sadiah says:

    Aku kira ceritanya seputaran kehidupan Max sama Laura aja, mirip-mirip cerita Ai kan? Cuma bedanya disana ada 3 tokoh. Konfliknya menurutku (setelah baca review) lebih banyak, Max-Laura, Max-Marly, Laura-Cee, Laura-Evan… Duuh, pasti owsom >ww< Give me,syalalala~

  6. Zuhelviyani Zainuddin says:

    Aku juga suka nih sama tulisannya Kak Winna! ๐Ÿ˜€ *toss*
    Hihi.. Saya agak takut sih baca novel yang menonjolkan latar tempat cerita. Takutnya isinya cuma acara jalan-jalan dan romance-nya malah terabaikan.
    Tapi setelah baca review ini, kayaknya kekhawatiran saya nggak beralasan lagi. :3
    Apalagi kayaknya seru nih, semacam cinta segiempat. *0*

    Salam kenal, ya. ๐Ÿ˜€

  7. Zuhelviyani Zainuddin says:

    Tadi udah komentar di sini kok ngilang, ya? *abaikan*

    Halooo! Saya juga suka loh baca tulisannya Kak Winna! *toss* ๐Ÿ˜€
    Sebenarnya saya nggak pernah kepikiran membaca novel yang menonjolkan setting cerita. Takutnya isinya malah tentang tempat-tempat buat jalan-jalan dan nggak fokus ke jalan ceritanya. Hihi.

    Tapi setelah baca review, kekhawatiran saya nggak beralasan lagi! :3
    Apalagi ceritanya seru nih, kayaknya. Cinta segiempat. Trus ada flashback antara Max Laura pastinya, kan? :3

    Btw, salam kenal yaa. ๐Ÿ˜€

  8. Yuni Amidong says:

    Wah kalau penulisanya Winna Efendi sih, ceritanya pasti seru nih. Dari awal novel ini keluar, rasanya pengen beli, tapi saat uang udah kekumpul, eh mesti keluar lagi buat beli keperluan kuliah :(( *curcol
    Reviewnya nggak neko-neko, jadi setidaknya saja bisa tahu garis besar dari cerita dalam novel ini ๐Ÿ™‚ dan efeknya…. aaaa makin penasaran sama novel ini. hmmmm

  9. ans says:

    Aku lama hiatus dari baca novel sekarang comeback lagi dan tau ada gagas duet dan aku baru baca itu *lama banget ya?*
    Dan rupanya gagas berhasil ngebuat ingin menguras dompetku lagi dengan project setiap tempat punya ceritanya, sayangnya duit saya gak cukup karena untuk gagas duet hehe.
    Ketika ngeliat stpc ini rupanya ada punya kak winna, aku udah baca 3 karya kak winna, refrain, remember when dan unforgettable. Cukup kecewa sama unforgettable yang endingnya gantung.
    Aku udah baca di goodreads review tentang melbourne dan banyak yang bilang bagus.
    Aku suka cara kak winna nulis, terus tema yang diangkat juga ‘asik’ banget hehe. Ditambah quote-quote yang diatas mengundang. Baca review kakak jadi tambah penasaran hehe.
    Kalo ditanya kasih bintang berapa untuk novel ini aku belum tau belum baca tapi kalo bintang untuk review kakak 4/5.
    makasih kak, salam kenal^^

  10. rumaisha az-sahra says:

    “Manusia nggak bisa milih kapan waktu yang tepat untuk jatuh cinta.”
    kutipan yang cukup dewasa untuk orang yang mungkin ingin melupakan masa lalunya, namun kembali bertemu dan kembali jatuh cinta. Kota Melbourne yang modern, manis dan romantis, bisa membuat siapa saja jatuh cinta. Max yang ‘be himself’ dan nggak neko-neko pasti butuh sosok Laura yang rame. Kekecewaan harusnya bisa terobati dengan frekuensi pertemuan mereka.
    Itu pasti kisah yang manis, mereka harusnya bisa menjadi pasangan yg salung melengkapi, walau sepertinya mereka saling menjauh satu sama lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s