Madre

Judul: Madre

Penulis: Dewi Lestari (Dee)

Terbit: Cetakan VI, Februari 2013

Penerbit: Bentang Pustaka

Genre: Fiksi, Romance

Tebal:  xiv + 162 halaman

ISBN: 978-602-8811-49

Harga: Rp 47.000,- (Pinjam dari Aini)

Blurb:

“Apa rasanya sejarah hidup kita berubah dalam sehari?

darah saya mendadak sepermpat Tionghoa,

nenek saya ternyata tukang roti, dan dia,

bersama kakek yang tidak saya kenal,

mewariskan anggota keluarga yang tidak pernah saya tahu:

Madre.”

Terdiri dari 13 karya fiksi dan prosa pendek, Madre kumpulan karya Dee selama lima tahun terakhir. Untaian kisah apik ini menyuguhkan berbagai tema: perjuangan sebuah toko roti kuno, dialog antara ibu dan janinnya, dilema antara cinta dan persahabatan, sampai tema seperti reinkarnasi dan kemerdekaan sejati.

Lewat sentilan dan sentuhan khas seorang Dee, Madre merupakan etalase bagi kematangannya sebagai salah satu penulis perempuan terbaik di Indonesia.

Review:

Madre adalah salah satu judul cerpen dalam buku ini. Cerita yang memang paling menarik dan tentu saja menjadi favorit bagi saya.

Sebelumnya saya hanya akan mereview Madre saja, terus terang cerpen dan prosa yang lain sama bagusnya, hanya saja mungkin karena Madre ini yang begitu membekas ceritanya bagi saya.

Tansen adalah tokoh utama dalam cerita Madre, yaitu seorang laki-laki keturunan India Manado yang hidup seorang diri di Bali sebagai freelancer (lebih tepatnya pekerja serabutan, kata Pak Hadi).

Pak Hadi adalah orang tua berumur 80-an yang tinggal di Jakarta, yang ternyata adalah teman dari kakek Tansen, yaitu Tan.

Tansen datang ke Jakarta untuk menghadiri pemakaman Tan—kakek yang baru saja dikenalnya, tapi sudah pergi untuk selama-lamanya.

Heran bukan?

Tansen tidak pernah tahu bahwa ia keturunan Tionghoa, ia juga tidak tahu kalau ternyata Tan adalah kakek aslinya.

Kedatangan Tansen ke Jakarta tidak lain dan tidak bukan pasti karena urusan warisan. Warisan yang menurutnya lucu, “Madre”.

Bu Suri berhasil membuat saya penasaran, “apa itu Madre?” Tidak hanya sampai di situ, Bu Suri pun telah berhasil membuat saya terkekeh dengan kata-kata datar milik Pak Hadi. Sungguh humor yang pas saat Tansen dan Pak Hadi bertemu menciptakan sebuah dialog yang ringan.

“Kerjamu apa di Bali?”

“Macam-macam. Guide, ngajar surfing, desainer lepasan, penulis kadang-kadang,…”

“Oh. Serabutan.” Dengan datar Pak Hadi menyimpulkan. (Page 15)

Adapun tokoh Mei yang manis, yang tak disangka menjadi bumbu penyedap dari bangkitnya Madre.

“Kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya sudah bukan bebas lagi, ya?”- Mei (Page 49)

Saya suka dengan tokoh-tokoh dalam cerpen ini, berjiwa penuh semangat dan manusiawi.

Dan saya beruntung tidak menonton filmnya dulu sebelum membaca buku ini, karena dari membaca—saya bisa menemukan kejutan-kejutan menarik yang tak terduga. Biarlah nanti saya menonton filmnya sebagai pelengkap dari tokoh fiksi yang hidup.

4 bintang untuk Madre.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s