Rectoverso

cr:photo addeection

Judul: Rectoverso

Penulis: Dewi Lestari (Dee)

Terbit: Cetakan II, Februari 2013

Penerbit: Bentang Pustaka

Genre: Fiksi, Science-Romance

Tebal:  x + 174 halaman

ISBN: 978-602-7888-03-6

Harga: Rp 69.000,- (Pinjam dari Aini)

Blurb:

Dewi Lestari, yang bernama pena See, kali ini hadir dengan mahakarya unik dan pertama di Indonesia. Rectoverso merupakan hibrida dari fiksi dan musik, terdiri dari sebelas cerita pendek dan sebelas lagu yang bisa dinikmati secara terpisah maupun bersama-sama. Keduanya saling melengkapi bagaikan dua imaji yang seolah berdiri sendiri, tetapi sesungguhnya merupakan satu kesatuan.

Inilah cermin dari dua dunia Dewi Lestari yang ia ekspresikan dalam napas kreativitas tunggal bertajuk Rectoverso.

Dengar fiksinya. Baca musiknya. Lengkapi penghayatan Anda dan temukanlah sebuah pengalaman baru.

Review:

Rectoverso adalah buku kumpulan cerpen karya Dee yang sebelumnya pernah diterbitkan pada tahun 2008.  cerpen yang ada dalam buku ini merupakan penyatuan antara buku dan musik. Unik sekali, dengan gaya penulisannya Dee yang nyastra.

Berbicara soal sastra, saya kurang mudeng dengan yang namanya bahasa sastra, entahlah… saya butuh beberapa kali membaca untuk benar-benar paham maksud dari kata per kata yang menjadi kesatuan kalimat utuh, apalagi sampai jadi paragraf. Intinya saya harus mefokuskan diri untuk membacanya, karena jika tidak saya akan gagal paham.

Makanya mereview Rectoverso ini sangat sulit bagi saya, apalagi ini kumcer. Jadi saya hanya akan sharing saja cerita yang saya suka, diantaranya:

  • Malaikat Juga Tahu

Cerita yang menyentuh dan memiliki banyak makna.

“Tapi… bunda bukan malaikat yang bisa baca pikiran orang. Bunda tidak bisa bilang siapa yang lebih sayang sama saya. Tidak akan ada yang pernah tahu.” (page 18)

  • Peluk

“Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.” (page 60)

  • Firasat

Terkadang firasat itu hanya sugesti akan pikiran yang terlalu kuat menguasai diri.

“Kadang-kadang pilihan yang terbaik adalah menerima…” (page 122)

  • Tidur

“Aku tak pernah tahu ke mana aku saat kutidur. Aku tak pernah tahu ke mana orang-orang pergi saat mereka tidur. Yang kutahu, kita tiba di suatu tempat. Kita bahkan tak mengerti mengapa dan bagaimana kita bisa di sana. Sementara yang kita lakukan hanyalah memejamkan mata.” (page 141)

Yang lain tentu sama bagusnya, ini hanya soal selera saja.

3 bintang untuk Rectoverso.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s