Kedai 1001 Mimpi

Judul Buku: Kedai 1001 Mimpi

Penulis: Valiant Budi

Editor: Alit Tisna Palupi

Proof Reader: Christian Simamora

Penerbit: GagasMedia

Genre: Non Fiksi, Traveling

Target Pembaca: Dewasa

Terbit: Cetakan III, 2011

Tebal: xii+444 halaman

ISBN: 979-780-497-6

Harga: Rp 55.000,- Rp 41.250,- (beli di BukaBuku.com)

 

Blurb:

Desas Desus

“Kita ini konon pahlawan devisa. Tapi kalau mati, ya sudah, dianggap binatang saja.”

“Saya datang buat mempertebal iman, bukan jadi mainan.”

“Datang ke sini itu harus siap ‘dijajah’. Baik jiwa maupun raga!”

“KAMU tidak perhatikan, banyak orang MATI karena terlalu BANYAK TAHU?!”

Valiant Budi adalah seorang penulis yang tergila-gila dengan dunia Timur Tengah. Salah satu ambisinya yaitu menulis sebuah buku travel dari belahan bumi 1001 mimpi ini.

Kesempatan datang, ia akhirnya tinggal di Saudi Arabia sambil bekerja di salah satu kedai kopi internasional.

Ternyata, terjun langsung sebagai TKI membuatnya menemukan berbagai peristiwa ganjil yang tak pernah ia ingin ketahui, apalagi ikut merasakannya.

Ambisinya terkubur, berubah menjadi keinginan kuat untuk kembali tinggal di tanah air tercinta.

Buku ini berdasarkan pengalaman Valiant Budi dan beberapa rekan TKI yang bertahan hidup di Saudi Arabia dan selalu rindu Indonesia.

 

Review:

Kedai 1001 Mimpi berdasarkan kisah nyata.

Beberapa nama dan tempat saya samarkan

demi perlindungan dan permintaan.

Saya tak meminta Anda untuk percaya.

Silakan cari data atau buktikan sendiri.

Selamat datang di negeri 1001 dongeng. Berharaplah ini memang sekadar dongeng.

Sebut saja Vibi, penulis sekaligus tokoh utama dalam buku ini. Buku ini mengisahkan tentang kehidupan Vibi sebagai seorang TKI yang bekerja di kedai kopi bernama Sky Rabbit. Perusahaan asal Amerika itu menempatkan Vibi di Alkhobar, kota yang terletak di sebelah barat Arab Saudi.

Yang saya tahu dan mungkin kebanyakan orang juga tahu, kota di Arab itu yang paling dikenal adalah Mekah, Madinah, dan Jedah. Tempat di mana banyak orang-orang suci. Yap, pertama kali saya melihat buku ini (belum membacanya) saya pikir akan banyak kisah Islami mengenai kehidupannya di negeri sana. Tapi ternyata jauh sekali dari bayangan saya selama ini, berikut pun dengan penulis itu sendiri.

Kita semua tahu kalau banyak sekali orang-orang Indonesia yang bekerja di Arab sebagai TKI. Ternyata banyak juga orang Filipina yang bekerja di sana. Saya dibuat ketawa ngikik saat Vibi sering disangka orang Filipini. Kabayan, istilah orang Filipina menyebut sebangsanya.

“Kabayan? Kabayan!”

“Kabayan? Nyi Iteung?!”

LOL. Banyak humor yang disajikan dalam buku ini, selain kisahnya yang miris dan tragis, tampaknya sisipan humor itu sendiri mampu mencairkan susana tegang bagi si pembaca. Meskipun humornya cukup lebay dan garing x)

Kenapa tragis dan miris? Percaya atau tidak ternyata banyak orang Arab itu hedonis. Yang saya baca di sini, Vibi sering sekali jadi korban tidak senonoh warga Arab sana. Dari bos-nya sampai kolega dan pelanggannya di kafe. Masa-masa ‘pembantaian’ harus ia lewati demi bisa bertahan di negeri 1001 mimpi ini.

Hidup seorang diri di negeri orang rasanya seperti terasingkan, belum karena bahasanya yang berbeda, cuacanya, sampai budayanya. Beruntung akhirnya Vibi bertemu dengan rekan sejawat alias Kabayan-nya di sana, jadi terasa tidak sendiri lagi di negeri orang. Ditambah ia bisa tahu banyak tentang Alkhobar dari senior-seniornya itu.

Sama halnya yang seperti dialami Vibi, dalam buku ini dikisahkan banyak kekerasan dan pelecehan. Jadi tidak salah kalau TKI-TKI kita banyak yang disiksa, dilecehkan dan dihukum mati jika melanggar aturan di sana. Seperti sudah rahasia umum bahwa homoseksualitas pun terang-terangan ada dan sifat mereka yang rasis pada orang non Arab. Namun, semuanya terasa ditutup-tutupi, mungkin karena ada Muttawa(?). Muttawa itu istilah polisi sana untuk menilang orang-orang yang melanggar hukum agama Islam.

“Mereka selalu berpikir dengan gue bekerja di Arab, pulang-pulang jadi ustad. Taunya tambah bejat.”

Saya salut sekali dengan Vibi yang berani menuliskan kisahnya, meskipun banyak hujatan dari sesama muslim yang menjudge Vibi menjelek-jelekan Islam di blog miliknya, sebelum buku ini terbit tentunya. Nah, setelah membaca buku ini sepertinya kita bisa tahu di mana letak kebenarannya. Jadi, kesimpulannya ada di tangan pembaca sendiri, mau percaya atau tidak. Seperti kalimat pembuka di atas, silakan cari data atau buktikan sendiri 🙂

“Berani karena benar, tapi yang salah bisa jauh lebih sangar.”

Tidak hanya melulu soal kejelekan kok yang ditulis, tapi ada juga sisi kebaikannya, di mana ia bertemu imam mesjid di sana. Ada setitik kebaikan dalam perjumpaan itu.

“… Dulu Islam terkenal dengan para ilmuan dan penemuannya, sekarang lebih sering disebut dalam berita terorisme, dan kelakuan bejat sebangsanya. Kalau boleh saya mengutip perkataan Rasulullah SAW, Islam memang dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya.” (page 408) 😦

Sekali lagi, buku ini tidak serta merta hanya hiburan apalagi sindiran. Tapi fakta yang seharusnya bisa jadi sentilan bagi kita semua, bahwa semua orang di negara manapun ternyata pada dasarnya sama saja, ada yang baik ada yang buruk. Tergantung bagaimana pandangan kita terhadap tindakannya, yang tentunya juga harus berpedoman pada agama, salah satunya yang dibahas di sini adalah Islam, berpegang tegulah pada kitab Al Qur’an.

Hal ini pula yang seharusnya bisa disikapi lebih mawas oleh Pemerintah kita, perlindungan akan TKI sangat dibutuhkan. Seperti halnya bekal dan pendidikan sangatlah perlu sebelum TKI dikirimkan ke negeri orang. Jangan hanya sekedar meraih untung mendapat devisa namun tega kembali jadi bobrok apalagi sampai meninggal.

“There’s a thing that money can’t buy. It’s called ATTITUDE.”

Penginnya sih kasih 5 bintang untuk buku ini, tapi membaca banyak typo yang bikin saya geleng-geleng dan jediotin kepala *eh, ngikutin lebaynya Vibi ^^v* maka saya kasih 4 bintang saja.

Mengenai cover sangat pas dengan tema bukunya. Berhubung isinya tidak cocok untuk pembaca dibawah umur, jadi seharusnya ada label buku dewasa di covernya.

Akhir kata setelah rasa emosi, haru, sedih, jijik, dan bikin ketawa membaca buku ini, saya senang setelah menutup buku ini. Selamat Vibi 😀

Untuk yang mau tahu lebih banyak mengenai kisah ini, juga tentang si penulis, bisa kunjungi blognya di http://vabyo.com

“Kalau mampu bertahan kerja di Saudi Arabia, kita bakal tahan banting gawe di mana saja…” – pesan mutiara seorang TKI senior (page 442)

Advertisements

4 thoughts on “Kedai 1001 Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s