Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela

Judul Buku: Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela

Penulis: Tetsuko Kuroyanagi

Penerjemah: Widya Kirana

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Genre: Non Fiksi, Childrens, Autobiography, Cultural Japan

Terbit: Cetakan IX, November 2004

Tebal: 272 halaman

ISBN: 979-22-0234-x

Pinjam dari perpus kampus x)

 

Blurb:

Ibu Guru menganggap Totto-chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Karena para guru sudah tak tahan lagi, akhirnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah.

Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Totto-chan girang sekali, di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan. Mengasyikkan sekali, kan?

Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan belajar fisika, ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya sesuka mereka. Karena sekolah itu begitu unik, Totto-chan pun merasa kerasan.

Walaupun belum menyadarinya, Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa, dan lain-lain di sana. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, kebebasan menjadi diri sendiri.

 

Review:

Sinopsis back cover sudah cukup mewakili isi dari buku ini, jadi saya pun tidak akan panjang lebar menceritakan bagaimana Totto-chan akhirnya bisa pindah sekolah ke Tomoe Gakuen :))

Biasanya sekolah itu identik dengan pendidikan formal dan segala bentuk aturan yang membayangi para murid. Hal ini lain sekali dengan sekolah baru Toto-chan, yaitu Tomoe Gakuen. Tomoe adalah sekolah yang unik, muridnya tidak banyak, tempat belajarnya di gerbong kereta yang sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Walaupun tidak berjalan, tapi Totto-chan merasakan sekolahnya itu bisa melakukan perjalanan yang menyenangkan.

Selain karena tempat, keunikan selanjutnya adalah jadwal pelajaran Tomoe yang fleksibel. Para murid bisa bebas memilih mata pelajaran apa yang paling disukai untuk didahulukan, jadi satu kelas bisa ada pemandangan bermain sambil belajar, karena satu kelas bisa bermacam-macam aktivitas yang dilakukan 😀

“Metode pengajaran ini membuat para guru bisa mengamati—sejalan dengan waktu ketika anak-anak melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi—bidang apa saja yang diminati anak-anak, termasuk cara berpikir dan karakter mereka. Ini cara ideal bagi para guru untuk benar-benar mengenal murid-murid mereka.” (page 38)

Semua itu tidak lepas dari peran kepala sekolah yang begitu luar biasa. Pasti sudah terbayang kan kepala sekolah seperti apa sih yang menerapkan kurikulum semacam itu? Baik hatinya benar-benar baik dan tulus, nggak ada kesan dibuat-buat. Berharap dalam dunia nyata banyak lahir kepala sekolah seperti Kobayashi x) yang memahami anak-anak.

“Kepala sekolah tidak menerapkan sistem pendidikan yang berlaku umum ketika itu, yaitu sistem yang lebih menekankan pada kata-kata tertulis dan cenderung menyempitkan persepsi indrawi anak-anak terhadap alam. Sistem juga menghilangkan kepekaan intuitif mereka akan cuara Tuhan yang pelan dan menenangkan, yaitu inspirasi.” (page 105)

Saya paling suka bagaimana metode makan siang yang diterapkan, di mana murid diharuskan membawa makan siangnya dengan “sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan”. Jadi, nggak ada tuh kesan bermewah-mewah membawa bekal makanan. Dengan membawa sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan, anak-anak dan para orangtua bisa belajar beraneka macam makanan yang bisa diolah dari laut maupun dari pegunungan, benar-benar kreatif.

Tidak hanya menceritakan tentang lingkup sekolah, buku ini juga memiliki makna dari sisi hubungan sesama teman, tentang persahabatan dan saling menghargai.

“Aku dimarahi Kepala Sekolah. Katanya aku harus bersikap manis pada anak-anak perempuan. Katanya anak laki-laki harus bersikap sopan kepada anak-anak perempuan dan menjaga mereka.” – Oe (page 159)

Kehidupan Totto-chan sendiri pun tidak kalah menarik, ada kelucuan di setiap tingkah polosnya Totto-chan “lihat dulu, baru lompat”, ada keharuan saat Totto-chan mengatakan ada “satu-satunya yang kuinginkan” untuk mendapatkan sesuatu yang ia minta pada kedua orangtuanya.

Pokoknya buku ini saya rekomendasikan sekali untuk anak-anak sampai dewasa, terutama para pendidik, juga orangtua :))

Covernya bagus, kesan buku anak-anaknya dapat sekali, ditambah ilustrasi di dalam beberapa cerita, sayangnya tidak begitu jelas. Untuk segi penulisan dan terjemahan, enak dibaca dan bersih typo 😀

4 bintang untuk gadis cilik di jendela 🙂

Quotes yang kusuka:

“Entah bagaimana, kehidupan sehari-hari di Tomoe telah mengajarkan bahwa mereka tidak boleh mendorong orang yang lebih kecil atau lemah daripada mereka, bahwa bersikap tidak sopan berarti mempermalukan diri sendiri, bahwa setiap kali melewati sampah mereka harus mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah, dan bahwa mereka tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat orang lain kesal atau terganggu.” (page 95)

“Kalian tidak perlu merasa harus jadi pembicara yang baik,” “Kalian boleh berbicara tentang apa saja. Kalian boleh berbicara tentang apa yang ingin kalian lakukan. Apa saja. Tapi yang penting, mari kita coba dulu.” (page 122)

“Kau tidak harus pandai melucu atau membuat orang tertawa untuk menjadi pembicara yang baik. Yang penting, kau tadi bilang tak punya sesuatu untuk diceritakan, tapi nyatanya kau punya sesuatu yang bisa kauceritakan.” (page 125)

Advertisements

4 thoughts on “Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela

    • irienari says:

      betul sekali… anak-anak tetaplah anak-anak, biarkan mereka bermain menikmati masanya 🙂 karena akan ada waktunya kok mereka bisa paham dan mengerti saatnya menjadi manusia yang bertanggung jawab alias dewasa :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s