Galila

Judul Buku: Galila

Penulis: Jessica Huwae

Terbit: Cetakan I, Maret 2014

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Genre: Fiksi, Romance

Tebal: 336 halaman

ISBN: 978-602-03-0210-2

Harga: Rp 62.000

Blurb:

“Galila.”

“Hanya Galila?”

“Tanpa nama belakang.”

Berusaha mengubur masa lalu dengan meniti karier hingga menjadi diva negeri ini, Galila justru dipaksa menghadapi kenangan itu lagi tepat ketika hidupnya mulai bahagia: Prestasi gemilang, nama tersohor, dan Eddie, pria yang ia cintai, akan menikahinya.

Ia pun kembali ke pulau asalnya jauh di timur Indonesia. menyelami lagi jejak masa silam yang membentuk dirinya sekarang. Menengok kampung halaman yang sempat luluh lantak akibat kerusuhan antaragama. Bertanya pada diri sendiri, apakah perempuan tanpa nama belakang dan masa lalu seperti dirinya masih memiliki masa depan?

Galila adalah sebuah cerita, tapi ia juga seorang wanita—dan keduanya tak lepas dari rasa. Pada akhirnya, Galila adalah sebuah perenungan: sejauh apa pun kaki melangkah, kita takkan pernah bisa meninggalkan titik di mana kita mengawali langkah itu. –Maggie Tiojakin, Penulis/Pendiri www.fiksilotus.com

Dengan pemilihan diksi dan analogi yang cermat, Jessica seakan mengingatkan bahwa pada hakikatnya cinta adalah soal dua pribadi yang bertaut. Sampai batas mana kita mau berjumpa demi cinta yang kita yakini membuat kita bahagia? –Ruly Larasati, Jurnalis, Femina.

Review:

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan alur maju mundur. Bercerita tentang Galila perempuan asal Saparua, Ambon yang merantau ke ibukota, tempat di mana ajang Indonesia Mencari Diva berada. Galila memenangkan kontes tersebut dan tidak berapa lama kariernya langsung melejit di bawah naungan Magda sebagai manajernya.

Sifat Galila yang tertutup, tidak suka mengekspos kehidupannya di mata publik dan media, membuatnya menjadi artis eksklusif dan mahal. Tidak seperti artis-artis lainnya yang sering sekali muncul di berita-berita gosip televisi maupun majalah.

Kesuksesan Galila membuat siapa saja iri padanya, termasuk oleh Davina Alexandra, rivalnya sebagai penyanyi. Apa pun akan dilakukan oleh Davina agar ia bisa lebih segala-galanya dibanding Galila, termasuk menggunakan cara-cara kotor.

Kesel banget sama tokoh antagonis ini, berasa kayak di sinetron-sinetron!! *zoom out* *zoom out*

Dengan kariernya yang mulus hidup Galila terasa sempurna, tapi tidak bagi kehidupan pribadinya, termasuk kisah cintanya yang tidak begitu mulus. Bertemu beberapa lelaki yang mengisi hatinya namun tidak ada yang bisa bertahan, membuatnya dihargai sebagai seorang wanita. Salah satunya Marco, kekasih pertamanya di kampung halaman.

“Biarlah cinta, mungkin, kelak yang menemukannya. Entah kapan dan bagaimana.” (page 63)

Sampai akhirnya ia bertemu dengan Edward Hamonangan Silitonga atau biasa disebut Eddie, anak pengusaha kaya raya dari keluarga Silitonga asal Batak yang sudah lama tinggal di Amerika.

Pertemuan mereka berawal di acara syukuran pembukaan cabang baru PT Cahaya Sejati yang kelima belas, di mana Eddie juga berada di sana sebagai penerus dari usaha ayahnya, Jackson Silitonga. Mereka bisa saling mengenal lebih dekat lantaran insiden terjatuhnya Galila dari panggung—yang untungnya bisa diselamatkan oleh Eddie. Sampai pertemuan-pertemuan selanjutnya mereka berteman baik hingga menumbuhkan rasa cinta lalu jadian.

Namun, sayang sekali hubungan keduanya tidak direstui orangtua Eddie, terutama ibunya, Hana. Tokoh antagonis kedua yang  jahatnya kayak kebanyakan nonton sinetron *zoom out* *zoom out*

Apa pun akan dilakukan Hana agar hubungan Eddie dan Galila berakhir. Walau bagaimanapun Eddie harus menikah dengan Yunita, calon menantu pilihannya yang sederajat dengan keluarga Silitonga.

Dari kebencian Davina akan kariernya dan Hana akan hubungan dengan anaknya, membuat kedua tokoh tersebut menguak masa lalu Galila, hingga karier keartisan Galila mulai terancam, serta hubungannya dengan Eddie pun mulai kandas.

“Kita mulai di suatu titik, bukan berarti kita akan berakhir di titik yang sama,” – Eddie. (page 86)

“Tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat saat kamu merasa telah bertemu dengan orang yang tepat. Yang kamu tahu hanyalah kamu ingin cepat-cepat menghabiskan hidupmu bersamanya,” – Eddie (page 210)

Lalu, masa lalu seperti apa yang dimaksud? Semua ada benang merahnya dengan nama Galila yang tanpa nama belakang. Kenapa bisa begitu? Baca saja novelnya : )

**

Kalau orang di daerah timur Indonesia kebanyakan orang-orangnya pasti punya nama belakang, seperti marga gitu. Jadi, saat Galila tidak memakai nama belakang, semua orang mempertanyakannya. Inilah salah satu yang saya suka dari novel ini, unsur budayanya cukup kental ditambah juga dengan unsur agama. Seperti yang kita tahu kalau di Ambon itu pernah ada kerusuhan meskipun dalam novel ini ceritanya fiktif.

Novel ini benar-benar membawa angin segar bagi saya, banyak quotes bagus dan pesan moralnya juga dapat^^

Mengenai Tokoh

Tokoh-tokoh yang tidak saya suka: Davina, Hana, dan orangtua Galila. Kalau Davina dan Hana sudah jelas karena mereka tokoh antagonis, sedangkan orangtua Galila yang buat saya tidak suka karena ke mana mereka sampai Galila sudah terkenal pun tidak pernah muncul, mereka sudah menelantarkan Galila sampai Galila… *sinyal hilang* hiks, nyesek banget ngebayangin masa lalu Galila yang… ya ampun, nih cerita kok gini banget sih!!! *jleb* *jleb*

Endingnya pun menurut saya tidak terlalu menyelesaikan, tapi happy endinglah : ) *eh, ini bukan spoiler, kan?*

Di luar segi cerita

Cover novelnya bagus dengan penggambaran tokoh Galila yang tenang, ditambah gulungan ombak dan piringan terpecah yang harus disusun untuk menyelesaikan pecahan masa lalu yang masih menggantung.

Ada beberapa typo yang saya temukan:

  1. Tegah, seharusnya Tengah (page 91)
  2. Menghancukan, seharusnya Menghancurkan (page 94)
  3. Probabiltasnya, seharunya Probabilitasnya (page 120)
  4. Meiliki, seharusnya Memiliki (page 135)
  5. Hubungannnya, seharusnya Hubungannya (page 163)
  6. Kecang , seharusnya Kencang (page 271)

Terlepas dari itu semua, novel ini bagus… Tulisan Jessica Huwae enak sekali dibaca, tidak kagok meskipun menggunakan sudut pandang orang ketiga, diksi dan analoginya juga cermat. Kayaknya bikin nagih buat baca bukunya yang lain, atau nunggu karya penulis selanjutnya : )

3,5 bintang untuk Galila.

Quotes yang saya suka:

“Tradisi memang kadang dilakukan bukan karena manusia sungguh-sungguh percaya, namun kaena ada janji  dan pengharapan akan masa depan yang tersimpan di dalamnya.” (page 25)

“Manusia kadang memang jadi lebih jujur saat detik-detik perpisahan datang menjelang.” (page 31)

“Bila salah potong rambut, menyesal hanya sebulan. Bila kau salah makan, perutmu hanya sakit satu atau dua jam. Tapi bila kau salah pilih jodoh, seumur hidup kau tinggal dalam duka dan penyesalan.” (page 112)

“Dalam keadaan kepepet, manusia memang kadang bisa berpikir lebih terang dan kreatif.” (page 139)

“Saat masih muda, kamu harus berani melakukan satu hal gila yang akan membuatmu mengingatnya sampai kamu tua nanti. Itu akan jadi pengingat bahwa kamu pernah hidup,” Koh Kong (page 292)

“Semua orang punya potensi, yang mereka butuhkan hanya kesempatan.” (page 294)

“Hidup, sepahit apa pun, harus tetap punya mimpi. Setiap orang harus punya sesuatu untuk dia kejar setiap hari. Masalah akhirnya tercapai atau tidak, itu urusan nanti…” Koh Kong (page 295)

“Keinginan kadang lahir dari rasa tidak puas. Dan tidak puas adalah sumber masalah.” (page 297)

Tentang penulis:

Jessica Huwae lahir di Jakarta. Lulus dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tahun 2001 dan sempat bekerja di beberapa grup media nasional: Femina Group, MRA Media, dan majalah Media Indonesia. Buku-buku Jessica yang sudah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama adalah Soulmate.Com (2006), Skenario Remang-Remang (2013), dan Galila (2014). Selain menulis, saat ini Jessica mengelola majalah online untuk wanita karier Indonesia, http://www.dailysylvia.com.

Advertisements

3 thoughts on “Galila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s