Katarsis


Judul Buku: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Editor: Hetih Rusli
Desain & Illustration Cover: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Psychology Thriller
Terbit: April, 2013
Tebal: 264 Halaman
ISBN: 978-979-22-9466-8
Harga: Rp 45.000

Rating: 4 Bintang



Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun, menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung. Ketika ditemukan ia disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.

Sebagai Psikiater, Alfons berusaha membantu Tara lepas dari traumanya. Meski dia tahu itu tidak mudah. Ada sesuatu dalam masa lalu Tara yang disembunyikan gadis itu dengan sangat rapat. Namun, sebelum hal itu terpecahkan, muncul Ello, pria teman masa kecil Tara yang mengusik usaha Alfons.

Dan bersamaan dengan kemunculan Ello, polisi dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu seperti yang dipakai untuk menyekap Tara. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?


Sejak kecil bahkan sejak ia lahir, Tara tidak pernah suka dengan namamya sendiri (Tara). Ia juga tidak suka pada kedua orangtuanya–sampai-sampai ia tidak pernah memanggil mereka dengan sebutan ayah dan ibu, tapi dengan memanggil namanya langsung, yaitu Bara dan Tari. Semenjak Tari meninggal, Bara menitipkan Tara pada saudaranya, Arif. Kemudian seterusnya Arif dan istrinya, Sasi yang mengurus Tara hingga tumbuh menjadi remaja. Selama perjalanan tumbuhnya Tara, Arif dan Sasi belum mengetahui keanehan yang dimiliki oleh Tara. Padahal saat umur tujuh tahun, Tara sudah terobsesi dengan sebuah koin lima rupiah pemberian Ello, bocah laki-laki yang pernah Tara temui di taman.
“Ini, pegang. Mamaku bilang, kalau lagi sakit kita harus pegang koin biar sakitnya berkurang.” – Ello (page 39)
Karena Tara tidak bisa merasakan sakit, maka ia harus berpura-pura sakit dengan memegang koin itu erat-erat.

Kehidupan Tara di rumah Arif dan Sasi memang lebih baik. Tapi siapa sangka kelakuannya yang sejak kecil sudah luar biasa berbeda dengan anak-anak lain–hingga remaja kini masih terus ada, terlebih karena anak Arif dan Sasi, yaitu Moses yang mengganggu hidup Tara. Bukan Tara namanya jika ia diam saja, maka pembunuhan pertama yang secara langsung diceritakan di sini adalah Tara membunuh Moses, dengan cara yang sadis, memotong-motong tubuhnya beberapa bagian.

Arif dan Sasi tidak mengetahui hal ini, maka jangan tanya kenapa tiba-tiba ada berita perampokan tragis di rumah mereka. Sampai-sampai Tara disekap dalam kotak perkakas kayu. Untungnya, Tara selamat. Ia masih bertahan hidup meskipun sudah berhari-hari di dalam kotak perkakas kayu yang sempit itu. Dari peristiwa itu, psikiater yang menangani Tara sejak lama, yaitu Alfons membantu Tara untuk tinggal beberapa lama di rumahnya, sebagai terapi pula agar sakitnya bisa segera sembuh.

Memang benar, selama Tara tinggal di rumah Alfons, hidupnya menjadi lebih normal, seperti gadis remaja pada umumnya. Namun, di saat ia sudah bisa hidup lebih baik tiba-tiba masa lalunya kembali terusik dengan adanya kasus pembunuhan berantai dengan menggunakan kotak perkakas kayu sebagai tempat mayat yang sudah dibunuh.

Alfons ikut menyelidiki kasus itu karena diduga masih ada hubungannya dengan kasus Tara dulu. Dan dalam menyelesaikan kasus ini, justru muncul kembali Ello di tengah-tengah Alfons dan Tara. Tapi di sini Tara tidak mengenal Ello sebagai anak kecil yang dulu pernah memberinya koin lima rupiah.
Jadi, siapa yang melakukan pembunuhan berantai? Yang jelas, untuk membunuh rasa penasaranmu lebih baik baca bukunya sendiri 🙂
*
Sadiiis banget, baik itu ide ceritanya maupun tokohnya. Kesadisan novel ini berselancar terus di kepala saya. Penulis dengan gamblang menarasikan bagaimana kasus pembunuhan yang ada dalam novel ini terjadi. Tidak hanya pembunuhan saja, tapi hal-hal lain yang berdarah-darah pun bikin ngilu gigi–sangat apik sekali dipaparkannya. Saya benar-benar terbius dengan kegilaan seorang psycho di buku ini.

Di balik kesuksesan novel ini yang bagus banget, ternyata ada kekuarangannya juga, yaitu di POV-nya. Saya bingung di bab 21, sudut pandang berubah menjadi orang lain, bukan Tara. Padahal pembaca sudah asyik banget dibawa masuk ke kehidupan Tara. Eh, tahu-tahu di tengah-tengah cerita POV berubah. Rasanya tuh kayak lagi asyik jalan terus kesandung batu.

Ya, sebenernya boleh saja POV berubah. Tapi seharusnya tiap bab diberi nama, POV siapa biar jelas karena bahasa tiap tokoh terkesan sama. Sayangnya di buku ini bakal aneh juga karena di ending–POV yg dipakai POV penulis itu sendiri.
Tapi di luar buku ini memang lebih baik diberi nama, supaya pembaca sudah tahu nada yang pas untuk dibaca saat POV berubah. Alias nggak bikin bingung.

Last but not least, buku ini rekomen banget buat teman-teman yang suka dengan novel bergenre psychology thriller maupun misteri dengan latar Indonesia, nggak kalah keren dengan novel-novel luar:)

ABOUT AUTHOR
Anastasia Aemilia lahir di Jakarta, 9 Januari 1987. Begitu lulus dari S1 FKIP Bahasa Inggris Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, ia bekerja sebagai editor, penerjemah, dan pengarang di Gramedia Pustaka Utama. Bercita-cita hidup nomaden, menjelajah dunia, dan travel writer, malah banting setir menulis novel psychology thriller. Buku lain yang sudah terbitan: antologi cerpen Autumn Once More (GPU, 2013).

Advertisements

4 thoughts on “Katarsis

  1. irienari says:

    iya, di indonesia jarang-jarang ada tema begini. Sekalinya ada, keren banget. Suka dg karakter2nya yang kuat, risetnya bener2 bagus.. karakter psycho n psikiaternya dapet. recommended^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s