99 Cahaya di Langit Eropa

Judul Buku: 99 Cahaya di Langit Eropa
Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Non Fiksi, Traveling
Terbit: Maret, 2014
ISBN: 9786020303284
Harga: 80.000,-

Rating: 5 Bintang


More

ABOUT AUTHOR


Luar biasa… buku perjalanan yang sangat bagus sekali di antara buku-buku perjalanan yang sudah pernah saya baca. Bagus menurut saya karena buku ini mampu mengubah semangat dan jalan pikiran saya.

Dalam prolog, saya sudah sangat tertarik dengan penuturan penulis mengenai hakikat sebuah perjalanan yang bukan hanya sekedar untuk menikmati keindahan suatu tempat, beserta biaya yang semurah-murahnya… Melainkan sebuah perjalanan harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan. sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.

“Umat Islam terdahulu adalah ‘traveler’ yang tangguh.” (page 7)  

Hanum dan Rangga adalah seorang muslim asal Indonesia yang tinggal di Eropa, lantaran Rangga mendapatkan beasiswa studi doktoral di Wina, Austria. Sementara, Hanum mengikuti Rangga, suaminya untuk tinggal di sana, sekalian agar bisa berjalan-jalan di Wina sambil menunggu panggilan kerja di kampus suaminya itu.  

Mencari pekerjaan di Eropa tidak semudah yang dibayangkan, karena selain harus bisa bahasa Jerman, orang-orang Eropa-nya pun yang mayoritasnya katolik dan atheis tidak memudahkan seseorang yang berjilbab untuk bisa bekerja di sana. Salah satunya Fatma Pasha, teman sekursus bahasa Jerman Hanum. Fatma adalah seorang imigran Turki yang tinggal mengikuti suaminya yang bekerja di Wina. Dan mereka memiliki seorang anak berusia tiga tahun yang bernama Ayse.

Mendengar curhatan Fatma, Hanum begitu tertarik dengan kontroversi mengenai penggunaan jilbab di Eropa. Ya, seperti yang diceritakan oleh Fatma tentang kenyataannya itu.  

Di kelas kursus, Hanum dan Fatma semakin dekat seperti saudara serumpun yang sudah lama tidak bertemu, hal ini karena mereka sama-sama muslim. Meskipun Hanum tidak berjilbab, tapi berkat perkenalannya karena sebatang cokelat, Fatma jadi tahu kalau Hanum ternyata muslim.  

Mengingat Hanum dan Fatma tidak memiliki kesibukan yang berarti seperti pekerjaan, Fatma pun mengusulkan akan mengajak kawan barunya itu untuk jalan-jalan berkeliling kota Wina. Dan, tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Kahlenberg, sebuah bukit atau pegunungan yang masih menjadi bagian kecil dari gugusan Alpen yang mengitari tujuh negara di Eropa. Jika kita naik bukit Kahlenberg ini, kita bisa melihat keindahan kota Wina secara keseluruhan.

pic source: here

Dari atas bukit suara lonceng Gereja terdengar jelas, meredam suara adzan yang jauh di tepi sungai Danube. Di saat seperti inilah, Fatma bercerita tentang sejarah Islam di Eropa yang membuat hati Hanum terketuk. Berkat cerita-cerita Fatma, ia ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang jejak Islam di Eropa yang pernah mengalami masa kegelapan yang panjang.

Ada satu kejadian pula yang membuat Hanum begitu mengagumi cara pandang Fatma terhadap Islam, melihat sikapnya yang begitu santun di mana agama yang mereka anut masih menjadi minoritas di Eropa saat ini.  

“Fatma yakin bahwa menebar pengaruh kepada seseorang dengan cara-cara yang memaksakan, menggurui, menghasut, menyerang, atau membandingkan sudah bukan zamannya lagi. Bagi Fatma, semua itu sudah usang sejak dia sadar bangsanya pernah menyimpan memori buruk kegagalan.” (page 63)  

Ya, Fatma ingin menjadi agen muslim yang baik. Bahwa Islam bukan agama radikal, melainkan sejak dulu Islam itu indah dengan menyebarkan agama dan sains yang tidak dapat dipisahkan. Karena jika terlalu kuat hanya mempertahankan salah satu saja akan berakibat kehancuran bagi bangsa itu, seperti yang terjadi pada bangsa Eropa dulu. Di era modern sekarang, Hanum dan seluruh umat muslim di manapun pasti berharap cahaya Islam akan bersinar kembali di langit Eropa.  

Seperti yang Fatma dan kawan-kawannya syiarkan saat di Austria:
1. Tebarkan senyum indahmu
2. Kuasai bahasa Jerman dan Inggris
3. Selalu jujur dalam berdagang  

Saya begitu terkagum-kagum pada kisah ini, seorang teman Fatma bernama Oznur masuk Islam karena senyuman teman Fatma satunya lagi yang bernama Latife. Begitu murahnya senyum, begitu indah hingga mampu menggetarkan hati seseorang untuk masuk Islam.   “Senyumlah, memberi senyum adalah sedekah.” (page 92)  

Singkat cerita, semenjak pertandingan bola Turki melawan Portugal, Fatma tidak bisa menepati janjinya untuk berkeliling Eropa bersama Hanum. Ketiadaan Fatma dalam pengumuman kelulusan kursus bahasa Jerman membuat Hanum bertanya-tanya, kemana perginya Fatma?

Lama tak ada kabar dari Fatma, Hanum memutuskan untuk menepati sendiri janji mereka berdua untuk berjalan-jalan mengelilingi Eropa, tempat persinggahan terakhir penyebaran Islam.  

Selain berkisah tentang kehidupan Hanum, tak luput juga banyak kisah menarik dari suaminya, Rangga. Berkuliah merupakan salah satu sarana komunikasi yang bagus untuk bisa berinteraksi dengan berbagai macam orang. Di antaranya Stefan dan Khan. Stefan yang atheis dan Khan yang radikal, keduanya selalu membuat persitegangan yang tak pernah ada habisnya mengenai perbedaan akan kepercayaan masing-masing. Namun, meskipun di antara mereka begitu banyak perbedaan, aku merasa mereka begitu solid.  
Saat Stefan banyak sekali bertanya tentang agama Rangga yang menurutnya banyak menyiksa penganutnya, Rangga dengan begitu tenang dan rasional mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan Stefan, yang buat saya manggut-manggut karena baru tahu.  

Dengan membaca buku ini saya jadi semakin bangga terlahir menjadi seorang muslim, dan semakin cinta pada Islam. Begitu banyak yang saya tidak ketahui, dan begitu membaca buku ini, rasanya terharu bukan kepalang. Tentunya masih banyak lagi ketidaktahuan-ketidaktahuan saya, maka dari itu saya ingin sekali bisa lebih banyak membaca dan semoga saja bisa sampai traveling, sama seperti Mbak Hanum dan Mas Rangga.  

Nah, meskipun Fatma tidak muncul lagi dalam waktu yang cukup lama, Hanum pun melanjutkan perjalanan pertamanya ke Paris, bertemu Marion, seorang perempuan mualaf asal Perancis. Pengetahuannya akan Islam membuat saya terkagum-kagum. Ia berkuliah jurusan Islam abad pertengahan di sebuah universitas ternama di Paris.

“Ilmu pengetahuan itu pahit pada awalnya, tetapi manis melebihi madu pada akhirnya.” (page 155)  

“Agama dan Ilmu harus membentuk keseimbangan yang tak bisa dibentur-benturkan. Keduanya tak boleh mengkafiri yang lainnya. Baik agama dan ilmu pengetahuan harus membuka diri satu sama lain. Kalau tidak, keseimbangan itu akan runtuh. Kekuatan Yin dan Yang harus saling melengkapi, tidak boleh saling mengingkari.” (page 156)  

Di Paris, Hanum dan Marion mengunjungi museum Louvre, memasuki section Islam Art Gallery melihat lukisan patung bunda Maria yang menggendong bayi Yesus.

Pic source: here

“Kau boleh percaya boleh tidak, InsyaAllah aku benar. Itu adalah tulisan ‘Laa Ilaa ha Illallah’.” (page 166)  

Kalaupun memang itu bukan lafal Laa Ilaa ha Illallah, setidaknya menurut Hanum, “Peradaban Islam pernah menancapkan pengaruhnya di benua Eropa.”  

Setelah perjalanan bersama Marion berakhir, Hanum dan Rangga berjalan-jalan ke Notre Dome, tempat di mana ada Point Zero. Point zero adalah titik nol kota Paris. Jadi, menurut mitos, kalau kita bisa menyentuh, menginjak, dan berfoto di atas Point Zero, kita akan bisa kembali lagi ke Paris, entah bersama siapa, sesuai apa yang disebutkan/harapkan saat menginjakkan kaki di Point Zero.

Pic source: here

Perjalanan kemudian berlanjut ke Cordoba dan Granada. Bersama suaminya, Hanum ingin menggapai impiannya untuk mengunjungi Mezquita, yaitu mesjid yang berubah jadi gereja. Hanum yang ingin sekali shalat di sana tidak diizinkan oleh petugas. Kalau dipaksakan akan berbuntut panjang di kepolisian.

Pic source: here

“Untuk apa memaksakan sesuatu yang lebih besar mudharatnya daripada manfaatnya.” (page 264)  

Lalu, mereka berlanjut melihat patung Averroes atau Ibnu Rushd, seorang filsuf besar dari Andalusia. Di kenal sebagai Bapak Renaissance Eropa, ia yang memperkenalkan ‘the double truth doctrine’. Melihat patung tersebut dalam angan-angan. Saya menyukai quotes ini, “Kewajiban manusia untuk berpikir.” (page 281)  

Sejarah yang begitu panjang pada era kegelapan Eropa tidak bisa saya rangkum di sini, esensinya takut hilang, tapi kalaupun diceritakan seutuhnya akan membuat banyak spoiler. Yang jelas kesimpulannya ada pada penuturan penulisnya, yaitu “Aku semakin yakin, esensi sejarah bukanlah hanya siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu, siapa yang lebih cepat belajar dari kemenangan dan kekalahan.” (page 310)  

Setelah sekian lama, tiga tahun sudah berjalan. Akhirnya, Fatma memberi kabar pada Hanum melalui email. Email yang cukup mengejutkan.  

Selain kabar mengejutkan itu, Fatma mengajak Hanum berkunjung ke kota asalnya, Istanbul. Tanpa berpikir panjang lagi, Hanum mengiyakan ajakan tersebut. Terbanglah Hanum dan Rangga ke Istanbul. Dan, sebelum bertemu Fatma mereka mengunjungi Hagia Sophia dan Blue Mosque.

Hagia Sophia pic source: here

Blue Mosque pic source: here

Hagia Sophia adalah katedral Byzantium terbesar di Eropa yang kemudian menjadi masjid, kebalikan dengan Mezquita di Cordoba. Sedangkan, Blue Mosque, sesuai namanya, masjid ini memang berwarna biru.

Setelah waktunya tiba, mereka bertemu Fatma dengan perasaan bahagia. Fatma cukup terkejut dengan perubahan-perubahan Hanum yang sekarang memakai jilbab sejak perjalanannya ke Paris bertemu Marion. Di rasa sudah cukup melepas rindu, akhirnya mereka  berkunjung ke Tapkopi, istana yang terabaikan di Turki. Cerita sejarah pun mengalun dari bibir Fatma, membuat Hanum selalu bersemangat mendengarkannya.

Pic source: here

Dan, titik nol dari perjalanan seorang Hanum akhirnya berlabuh pada kota Mekkah. Di mana ia ingin berhaji, menunaikan rukun islam yang kelima. Subhanallah… ending yang indah untuk sebuah buku perjalanan. Tidak hanya menikmati indahnya kota yang dituju, tapi juga ada makna spiritual dari perjalanan tersebut.

Pic source: here

Dengan bahasa yang mudah dipahami, buku ini terasa dekat dengan pembaca. Jadi, saat bukunya sudah habis dilahap, saya merasa kehilangan sekali… ingin baca sequelnya dan buku-buku lainnya dari mbak Hanum dan Mas Rangga, di antaranya Berjalan di Atas Cahaya dan Bulan Terbelah di Langit Amerika. Karena masih merasa belum puas juga, semoga saja saya bisa melanjutkan sendiri perjalanan menapaki jejak Islam di Eropa dan di seluruh negara lainnya. Aamiin…  

Mengingat covernya berbeda dengan novel 99CdLE perdana dan cover filmnya, cover yang saya punya ini edisi terbatas, isinya terdapat bonus tandatangan penulis, foto-foto BTS film, perjalanan film 99CdLE, proses menyesuaikan buku menjadi film yang hanya berdurasi 90 menit (meskipun memang dalam film dibagi dua bagian).  

Di dalamnya ada uraian tentang menyamakan visi, menciptakan kurva pengadegan (di sini ada 11 bagian cerita yang tidak dituliskan dalam buku, tapi diceritakan dalam filmnya). Jadi, beruntunglah bagi siapapun yang sudah membaca bukunya dan menonton filmnya 😀  

Sama halnya seperti di film-film kebanyakan yang mengadaptasi dari buku, pasti banyak sekali perbedaan dengan isi bukunya. Di dalam buku, tokoh Fatma dan Marion tidak saling kenal, tapi di film mereka adalah teman lama. Asye di buku berumur tiga tahun, tapi di film sepuluh tahun, dan ada beberapa cerita di film yang lompat-lompat, tentu saja mungkin karena durasi… Tapi, walaupun begitu, yang penting makna dan pesannya tetap sampai 🙂 Dan terakhir, saya suka karakter-karakter di filmnya karena cocok sekali memerankan tokoh-tokoh asli dalam bukunya 😀

Advertisements

4 thoughts on “99 Cahaya di Langit Eropa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s