For One More Day


Judul Buku: For One More Day
Penulis: Mitch Albom
Penerjemah: Olivia Gerungan
Ilustrasi & Desain Cover: Eduard Iwan Mangopang
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Genre: Contemporary, Adult Fiction
Terbit: Desember, 2007
Tebal: 248 Halaman
ISBN: 978-979-22-3433-6

Rating: 3 Bintang


more


Apa yang akan kau lakukan seandainya kau diberi satu hari lagi bersama orang yang kau sayangi yang telah tiada?

Charley Benetto atau biasa dipanggil Chick atau Charley adalah seorang mantan pemain bisbol terkenal. Siapa yang tahu dibalik kesuksesannya menjadi pemain bisbol itu ternyata memiliki cerita hidup yang menyedihkan. Prestasi yang terlihat dari luar tidak serta merta membuat hidupnya menjadi begitu sempurna. Justru dibalik apa yang terlihat ada rahasia yang mengekang.  

Sebut saja si penulis yang datang ke rumah kecilnya, yang tidak sengaja bertemu dengan Charles “Chick” Benetto di lapangan di sekitar rumahnya di Peppervile Beach. Menurut seorang pria tua pemotong rumput, bahwa laki-laki yang sedang duduk sendirian di bangku memiliki cerita yang bagus. Si penulis yang keceplosan menyebut dirinya penulis di depan pria itu akhirnya menghampiri Chick.  

“Biar kutebak. Kau ingin tahu kenapa aku mencoba bunuh diri.”  

Karena terdengar seperti cerita hantu, maka si penulis memutuskan bahwa kisah ini harus ditulis dengan sudut pandang Chick agar ceritanya bisa terdengar lebih dipercaya. Dan, kisah hidup Chick pun dimulai dengan menggunakan alur maju mundur.

Chick bersama adiknya, Roberta sejak kecil sudah dipaksa memilih “anak mama atau anak papa”. Sebagai seorang anak laki-laki yang merasa memiliki kesamaan dengan ayahnya (pada bisbol), ia pun memilih ayah. Akan tetapi tidak begitu lama, saat remaja ayahnya pergi dan ia pun diurus oleh ibunya sampai dewasa. Berbeda dengan passion ayahnya, ibunya lebih menginginkan Chick mengutamakan pendidikan untuk masa depan yang lebih terjamin. Namun sayang, Chick tidak begitu meresponnya.  

Keluarga broken home memang menjadi salah satu sejarah kelam hidup Chick yang menjadikannya alasan-alasan ingin mengakhiri hidup. Saat ia sudah menjadi pria tua yang anaknya tengah menikah dan ia tidak bisa hadir di acara penting itu. Seperti sudah bukan keluarga lagi, Chick merasa terbuang, apalagi perceraiannya dengan Catherine yang membuatnya semakin jauh dari anak kesayangannya itu.  

Depresi dengan kehidupannya setelah pensiun dari bisbol tidak hanya karena rumah tangganya berantakan, tapi karena ibunya–orang yang selalu membelanya itu telah meninggal dunia. Apalagi kejadiannya di saat ia sedang tidak membela ibunya. Ada beberapa cerita dalam buku ini yang mengisahkan saat-saat Chick tidak membela ibunya, pun sebaliknya saat-saat ibu membelanya. Ini bagian flashback yang cukup mengharukan bagi saya, kasih sayang ibu Chick sepanjang masa yang tidak bisa diukur dengan apapun.  

Semenyebalkannya Chick, ibunya tidak pernah berhenti menyayangi anak sulungnya itu, meskipun sudah delapan tahun yang lalu perasaan sedih dan bersalah masih terus menggelayuti Chick. Selain mengisahkan masa kecilnya, ia juga menceritakan bagaimana ia berniat bunuh diri dan bertemu dengan arwah ibunya di rumah yang dulu (Peppervile Beach).  

Dalam satu hari Chick memanfaatkan pertemuannya dengan ibunya tersebut untuk menyelesaikan persoalan yang masih menggantung di masa lalu. Dengan mengajak Chick berjalan-jalan menemui teman-teman ibunya satu per satu. Dan terakhir, menemui seseorang yang ada hubungannya dengan ayahnya.  

Pesan moralnya sampai, cerita yang sangat inspiratif. Bahwa hidup janganlah disia-siakan, bahagiakan orangtua terutama ibu.

Quotes favorit:
“Yang terjadi saat impianmu menjadi nyata adalah kesadaran yang perlahan  luruh bahwa impianmu tidaklah seperti yang kau bayangkan.” (page 15)  

“Punggung sebuah gunung adalah peperangan melawan tabiat manusia. Kau harus berhati-hati dengan hidupmu saat menuruninya, sama seperti saat kau menaikinya.” (page 174)

“Kalau seseorang ada di dalam hatimu, mereka tidak pernah benar-benar pergi. Mereka bisa kebali padamu, bahkan pada waktu-waktu yang tak terduga.” (page 178)

“Menyia-nyiakan waktu itu memalukan. Kita selalu berpikir kita punya terlalu banyak waktu.” (page 186)

“… Kau bisa menemukan sesuatu yang benar-benar berarti dalam satu menit yang amat biasa.” (page 239)

Advertisements

3 thoughts on “For One More Day

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s