Twenties Girl


Judul Buku: Twenties Girl
Penulis: Sophie Kinsella
Penerjemah: Nurkinanti Laraskusuma
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan I, Juni 2010
Genre: Romance, Chick Lit, Fantasy, Contemporary
Tebal: 564 halaman
ISBN: 978-979-22-5872-1

Rating: 4 Bintang

Blurb:
Review:

L&N Executive Recruitment adalah bisnis headhunters yang digawangi oleh Lara dan Natalie. Natalie yang merupakan sosok penggagas ide dibangunnya bisnis ini pergi mencampakkan pekerjaannya dan menimpakan semua tugas-tugasnya pada Lara.

Lara Lington adalah perempuan berumur 27 tahun yang kadang-kadang tampak seperti anak remaja 17 tahun yang dikhawatirkan oleh orangtuanya. Hal ini lantaran ia punya masalah dengan pekerjaannya dan kehidupan percintaannya dengan Josh, yang sekarang jadi mantan pacarnya.

Dad dan Mom memang khawatir Lara akan depresi menghadapi kenyataan putusnya hubungan ia dengan Josh. Tapi bagi Lara dia merasa baik-baik saja, sebab ia yakin hubungan mereka berakhir karena sebuah kekeliruan. Itu artinya, ia optimis bisa kembali lagi bersama Josh.

Namun, lagi-lagi orangtuanya terutama Dad beranggapan lain sehingga Lara tampak seolah-olah terobsesi pada Josh. Untungnya sih masalah Natalie meninggalkannya di perusahaan tidak diketahui oleh kedua orangtuanya. Kalau tahu, bisa-bisa Lara semakin disangka depresi.

“Tuhan tidak pernah menciptakan bukan siapa-siapa di antara semua manusia di muka bumi ini.”

Di awal cerita memang banyak beberapa hal yang membingungkan, bagaimana mulanya tokoh Lara datang ke pemakaman bibi ayahnya, Sadie, yang meninggal di usia 105 tahun. Beliau adalah kerabat yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah dikunjungi keluarganya. Jadi tidak heran kalau upacara pemakamannya begitu sepi. Pertanyaannya adalah: kenapa kok bisa begitu? Memangnya dulu Great Aunt Sadie ini seperti apa? :))

Lara saja dibuat bingung, apalagi pembaca. Ya, karena penulis menggunakan sudut pandang orang pertama, jadi sebagai pembaca pun ikut terbawa bingung campur penasaran.

Di pemakaman upacara itu, Lara bertemu dengan saudara-saudaranya, salah satunya Uncle Bill, adik dari ayahnya. Ia adalah seorang pengusaha kedai kopi “Bill” sekelas Starbucks, yang sekarang jadi motivator berkat menulis buku mengenai kiat sukses berwirausaha dengan modal dua koin uang receh.

Di saat pemakaman berlangsung–di mana semua keluarganya hening, tiba-tiba terdengar suara yang mengusik pendengaran Lara selain pidato sang pendeta.

“Di mana kalungku?”

Awalnya sih terdengar sayup-sayup, tapi lama-lama semakin nyata dan Lara bisa melihat sosok perempuan berusia sekitar 23 tahunan dengan wajah putih pucat dan berbadan kurus. Ya, itulah gambaran sosok yang bersuara itu.  

Lara terkejut sekaligus ngeri, apa dia benar-benar depresi sampai berimajinasi hantu. Bukannya merasa takut, yang saya tangkap dari Lara–justru perasaan risih karena gadis itu terus meraung-raung meminta kalungnya. Sampai akhirnya gadis yang ternyata memang benar-benar hantu itu menangkap pandangan Lara yang bisa melihatnya. Lara langsung mengelak bertemu pandang dengan hantu itu, tapi jelas sekali ia tidak bisa menutupinya karena ia sungguhan bisa melihat dan mendengar hantu yang namanya ternyata adalah Sadie.  

Lara terkejut, Sadie, bibi ayahnya? Yang telah terbujur kaku di peti mati itu?  

Si hantu pun ikut terkejut melihat jasadnya, dan dengan memohon meminta tolong pada Lara untuk menemukan kalung miliknya. Dan, lebih parahnya lagi meminta pemakaman di hentikan sebelum ia mendapatkan kalungnya.  

Lara tidak goyah, ia bersikeras bahwa ini hanya permainan otaknya saja. Tapi, Sadie ternyata semakin memaksa dan mengancam akan terus menghantuinya. Karena tidak tahan dengan pekikannya yang terus meminta kalung, akhirnya Lara menyerah dan menuruti keinginan Sadie. Kemudian Lara pun mengarang cerita semeyakinkan mungkin pada pendeta agar pemakaman bibi ayahnya bisa dihentikan untuk sementara waktu. Kebohongan-kebohongan memang diciptakan Lara agar ia bisa memiliki kesempatan untuk mencari kalug Sadie–yang berbandul capung dengan manik-manik di sisinya.  

Lama-lama Lara semakin mengenal Sadie, pun sebaliknya. Bersama-sama terus setiap saat rasanya seperti jadi bayangan sendiri. Salah satu kebersamaan yang tidak dapat dipisahkan adalah saat Lara sedang bersama Josh. Sadie selalu berbisik dan sok tahu mengenai pribadi Josh  yang sudah tidak mencintai Lara lagi. Faktanya, semua memang masuk akal. Tapi, Lara tetap yakin bahwa Josh masih mencintainya, hanya saja tidak ada waktu yang tepat untuk berbicara.  

Mencari kalung Sadie tidak mudah, apalagi Lara belum pernah melihatnya. Selain mencari kalung, ia juga disibukkan dengan pekerjaannya mencari kepala pemasaran untuk Leonidas Sports, karena beberapa kandidiat yang masuk ke dalam daftarnya banyak yang tidak sesuai dengan perusahaan Leonidas. Ditambah lagi, gangguan-gangguan dari Sadie yang terus menerus mengajaknya bicara di saat ia harus menemui kliennya. Anggapan perempuan “gila” tampaknya akan terus melekat sampai ia benar-benar bisa menemukan kalung capung itu. Kegilaan Lara juga masih terus berlanjut selama masalahnya dengan Josh belum selesai.

Yang membuat ceritanya semakin menarik adalah saat Sadie tertarik dengan seorang lelaki asal Amerika yang sedang bekerja di sebuah perusahaan tidak jauh dari kantor Lara. Sadie terus memaksa Lara untuk melihatnya. Bagian ini cukup kocak xD

Sadie yang begitu tergila-gila pada Mr. American Frown itu tidak bisa menahan diri untuk meminta Lara mengajaknya berkencan. Ya, Sadie ingin berkencan dengan lelaki itu melalui perantara Lara.

Pada bagian Lara mengajak Mr. American Frown kencan itu membuat saya berpikir, keberanian memang mengalahkan segalanya. Hal yang ditakutkan dengan berdiam diri tidak akan membuat kita bisa mencapai sesuatu. Jadi, intinya harus berani mencoba/action kalau mau tahu sukses itu milik kita atau bukan.hehe Baru-baru ini saya juga membaca sedikit dari internet tentang buku Radical Honesty karya Brad Blant, kalau di Indonesia dipopulerkan oleh Ronald Frank melalui websitenya. Memang buku itu ditujukan untuk laki-laki, tapi tidak ada salahnya kan perempuan juga tahu x)  

Mr. American Frown yang ternyata bernama Ed Harisson itu sempurna sekali di mata Sadie, dia tipe-tipe cowok heroin di setiap novel-novel luar. Namun sayang sekali, bagi Lara–Ed bukan tipenya (karena ia masih dibayangi Josh yang nomor satu). Jadi, Lara cukup sebal harus pergi berkencan dengannya.  

Ed adalah pria asing yang mau diajak kencan oleh wanita asing juga baginya. Kok Ed bisa mau ya? 😉 Lucunya kalau mau kencan, Lara disuruh Sadie bergaya gadis 80-an sama seperti gaya Sadie waktu umur 20-an.  

Dari sini mulai banyak perkembangan tokoh-tokohnya. Hadirnya Sadie di kehidupan Lara memang banyak membuatnya berubah, salah satunya dalam pekerjaan; berkat Sadie, ia bisa menyelesaikan beberapa masalah di kantor. Sementara dalam percintaan, ia bisa menyelesaikan konflik batinnya dengan Josh.  

Mengenai kalung capung, pencariannya sungguh luar biasa. Bener-bener nggak nyangka hilangnya kalung itu berhubungan dengan masa lalu Sadie. Jadi, sebenernya Sadie itu bukan orang biasa yang tidak dekat dengan keluarga. Dan, yah… Pokoknya nggak disangka deh kalung itu ada di mana 🙂  

“Kau tahu, kalau dia terluka, mungkin dia menunggumu mencarinya… ” (page 427)  

Repot banget kalau marahan sama hantu. Iya, Lara sama Sadie lagi berantem. Memang udah biasa sih… Tapi yang ini berantemnya luar biasa. Sadie pergi dan ia tidak mau menampakkan diri di depan Lara.  

Susah nyari hantu yang hilang, mau bersembunyi juga nggak kelihatan, nanya ke orang… Bisa dikira gila. Lagi-lagi ini jadi cambukan tersendiri bagi Lara. Dengan begitu ia juga semakin mengenal sosok neneknya itu.  

“Jangan terlalu keras terhadap dirimu sendiri. Santai saja. Mungkin ini tidak serumit yang kaukira.” (page 445)  

Tidak adanya Sadie selama berhari-hari membuat Lara kangen setengah mati. Kalau lagi ada masalah sepelik ini, kira-kira Sadie ada di mana ya?

“Saat hidupmu sedang di persimpangan dan kau perlu memikirkan masalah-masalahmu, tidak ada tempat lain sebaik rumahmu sendiri. Tidak peduli berapa umurmu.” (page 448)  

Pokoknya bagian ini semakin menambah penasaran. Memang sih di awal-awal alur cerita terasa lamabat dan agak membosankan. Saya sampai menunda-nunda terus kalau mau lanjut baca. Akhirnya sampai di tengah-tengah ternyata seru dan sangat sangat seru sampai ending. Jadi jangan menyerah di awal-awal ya, maju terus bacanya 😀 Karena konflik antartokoh juga banyak, tidak hanya Lara dengan Sadie, Ed, dan Josh, tapi juga Natalie dan beberapa rekan kerjanya, serta Uncle Bill dan Diamante (anaknya Uncle Bill).  

Saya juga suka dengan gaya penulisannya Sophie Kinsella. Ini novel pertamanya yang saya baca dan langsung suka. Buku-bukunya Sophie Kinsella memang terkenal bagus-bagus. Jadi, nggak heranlah..  

Twenties Girl cukup recommend buat penikmat novel horor yang nggak seram, romance yang nggak menye-menye, detektif kecil-kecilan yang nggak seberat Sherlock Holmes. 😀

Advertisements

One thought on “Twenties Girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s