Ai


Judul Buku: Ai
Penulis: Winna Efendi
Editor: Nurul Hikmah
Genre: Romance, Young Adult
Penerbit: Gagasmedia
Terbit: Cetakan ke-19, 2013
Tebal: 282 halaman
ISBN: 979-780-686-3

Rating: 3 Bintang

Blurb:
Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat, kau tiba-tiba baru sadar, cinta menyergapmu tanpa peringatan. (more)

Review:
Tema persahabatan jadi cinta sudah cukup mainstream bagi penikmat genre romance.
Winna Efendi menjadi salah satu penulis yang sering membuat tema tersebut, yang mana sejauh ini–baru empat bukunya yang saya baca. Tapi, entah kenapa tidak pernah bosan untuk diikuti.  

Dengan ciri khas gaya penulisannya yang enak dibaca, Mbak Winna saya masukan ke dalam list penulis favorit. Jadi, apapun temanya, saya selalu suka dengan ceritanya. Namun ternyata, proses berjalannya waktu tampaknya bisa membuat siapa saja bisa berubah alias move on. Lol. Yah, mau tidak mau saya akui sedikit bosan.  

Ai diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu cinta. Spesialnya nama Ai digunakan sebagai tokoh perempuan utama dalam novel ini. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama dengan POV dibagi dua, yaitu Sei dan Ai.  

Sei dan Ai bersahabat sejak kecil meskipun dari segi usia Sei lebih muda satu tahun dari Ai. Tapi mereka terlihat seperti seumuran lantaran satu angkatan di sekolah.

Keluarga Matsumoto (Sei) memiliki restoran bersebelahan dengan pemandian keluarga Nakaji (Ai). Jadi, kebersamaan mereka memang terlahir di situ. Selain itu, awal kedekatan mereka memang karena sebuah kejadian di mana Sei bersedih telah kehilangan anjingnya. Kemudian datanglah Ai, si gadis ceria yang membuat Sei tidak murung lagi.  

Tulisan Winna hidup dengan deskripsi yang apik. Kalau nggak, mungkin ini akan jadi novel yang membosankan karena cukup minim dialog. Latar Jepang-nya pun cukup terasa dengan banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang diselipkan tentang tempat-tempat fenomenal di Jepang, khususnya Tokyo Tower. Saya baru tahu Tokyo Tower lebih tinggi dari menara Eiffel. Hehe

Someday semoga saya bisa ke sini. Aamiin

Shin pendatang baru dari Tokyo datang ke desa mereka untuk tinggal bersama nenek dan kakeknya. Karena kedua orangtua Shin sudah meninggal dunia.  

Shin laki-laki yang modern dan seceria Ai. Ia cepat mengakrabkan diri dengan orang-orang, termasuk dengan Sei dan Ai.   Semenjak Shin jadi murid baru di sekolah Ai dan Sei, mereka bertiga selalu bersama, sampai akhirnya setelah lulus sekolah Shin akan melanjutkan pendidikannya ke Universitas Todai di Tokyo.  

Ai tidak ingin berpisah dengan Shin, lantaran mereka sudah pacaran. Padahal saat masih sekolah, Ai pernah berjanji pada Sei akan kuliah di tempat yang sama dengannya.  

“Janji itu hanya menjadi angan, sesuatu yg mulai terlupakan” (page 38)  

Ya, itu jelas. Berbeda dengan Sei yang tidak ingin meninggalkan kampung halamannya yang di sekelilingi oleh laut itu, karena ia ingin membantu bisnis kedua orangtuanya. Tapi, karena paksaan Ai dan Shin, akhirnya Sei menurut. Ia pun mendaftar ke Universitas Todai. Ai pun  sangat senang dan giat belajar dibantu  Sei dan Shin agar bisa lulus.  

“Jika kau menginginkan sesuatu, kejarlah semampumu. Jangan sampai kau menyesal.” (page 59)  

Di Tokyo, mereka bertiga tinggal di apartmen yang sama. Apartmennya digambarkan sederhana dan jauh dari kota, agar biaya sewanya tidak terlalu mahal.  

Di sini tidak diceritakan kegiatan kampus mereka. Konflik hanya ada dalam diri tokoh-tokohnya masing-masing. Konflik semakin berkembang saat ketiganya memutuskan bekerja paruh waktu untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Shin bekerja di toko CD, Ai menjadi penyiar radio, dan Sei menjadi pelayan restoran Hikari.  

“Masa-masa sulit selalu membuat kita ingin menyerah. Tapi, kau hanya perlu percaya bahwa segalanya akan baik-baik saja.” (page 144)  

Yang dibahas adalah pekerjaan paruh waktunya Sei. Berhubung POV Sei cukup tebal halamannya dibandingkan POV Ai.  

Sei memiliki teman kerja bernama Natsu, gadis yang ramah dan penuh perhatian. Bersama Natsu, Sei merasa senang karena dia perempuan yang bisa membuatnya menjadi diri sendiri, selain Ai.  

Pelan-pelan tumbuh rasa suka Sei pada Natsu. Tapi, tahukah bahwa Sei sebenarnya menyukai Ai sejak lama. Sayangnya, ia belum bisa mengungkapkannya. Di sisi lain, hubungan Shin dan Ai semakin lengket, terlebih dua sahabatnya itu saling mencintai. Terbesit untuk Sei pindah dari apartemen agar tidak mengganggu hubungan mereka. Tapi, apa dengan begitu Sei bisa bahagia dan melupakan perasaannya pada Ai?  

“Kehilangan memiliki cara tersendiri untuk mengubah orang-orang yang mengalaminya, tapi melarikan diri tidak pernah menyelesaikan apa-apa.” (page 252)  

Endingnya cukup–yah–mau bagaimana lagi–mungkin sudah takdirnya. Hh Penyelesaian yang mau tidak mau harus diterima.  

“Di dunia ini, ada beberapa hal yang disebut takdir–sisanya adalah pilihan. Jangan sesali sesuatu yang sudah ditentukan oleh takdir, karena tanpa kesulitan dan kesedihan, kita tidak akan benar-benar menghargai kebahagiaan.” (page 253)

Dari empat buku Winna Efendi yang saya baca, ‘Ai’ menempati peringkat akhir di hati saya /tsaaah Padahal saya suka dengan latarnya “Jepang”. Ya, apa boleh buat x)

Random Quote:
“… Yang aku benci adalah orang-orang lemah yang tidak bisa berdiri pada kedua kaki mereka sendiri, selalu bergantung dan menyebabkan penderitaan pada orang lain.” (page 261)

Advertisements

3 thoughts on “Ai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s