Book Review: Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya


Genre: Indonesian Literature, Family, Parenting, Romance
More: Goodreads
Rating: 5


New Doc 5_1

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.
—  

Sebuah novel yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari seorang Bapak dan Ibu beserta anak-anaknya. Pak Gunawan yang memiliki penyakit kanker mengetahui bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Dokter memvonis hidupnya yang hanya tinggal setahun. Bersama istrinya, Ibu Itje, dia mencoba sabar dan siap menghadapi penyakit ini.  

Merasa khawatir karena kedua anak laki-lakinya, Satya (8 tahun) dan Cakra (5 tahun) yang masih terlalu dini dan perlu bimbingannya hingga dewasa kelak, ia pun memutuskan untuk membuat video dokumenter dirinya yang membahas hal-hal apa saja yang akan anak-anaknya temui di usia-usia tertentu jika ia sudah tidak ada lagi nantinya.

“Rencana untuk kita semua. Bahkan kanker ini pun, Bapak siap. Bapak punya rencana.”

Dari bab ke bab diceritakan perjalanan keluarga tersebut setelah Pak Gunawan meninggal, dari masa anak-anak, remaja, hingga dewasa. Setiap hari Sabtu Satya dan Cakra selalu menonton video ayahnya yang disiapkan sesuai umur mereka. Sabtu Bersama Bapak adalah hari yang sangat istimewa.  

“Semua orang pasti pernah menjadi anak-dan mungkin memiliki anak. Semua pasti memiliki orangtua-dan mungkin menjadi orangtua.”

Satya sudah berumur 33 tahun, sudah menikah dengan Rissa (32 tahun), mempunyai tiga orang anak, Ryan, Miku, dan Dani. Dia sudah bekerja sebagai Geophysicist untuk NOG, perusahaan kilang minyak yang beroperasi di kapal Mathildell.  

Berbeda dengan Satya, pria tampan dan pintar. Wanita manapun yang melihatnya pasti langsung tertarik. Sementara adiknya, Cakra, yang sekarang berumur 30 tahun masih betah menjomblo, tidak satupun wanita yang bisa nyangkut di hatinya. Mengalami penolakan empat kali padahal baru nembak tiga kali. Terlepas dari itu semua, Cakra anaknya baik, humoris, dan mudah bergaul. Tapi jika dekat dengan wanita cantik, semuanya jadi buyar dan garing.  

Sudut pandang yang digunakan adalah orang ketiga dengan POV Satya, Cakra, dan juga Ibu Itje.

“Menikah itu banyak tanggungjawabnya. Rencanakan. Rencanakan untuk kalian. Rencanakan untuk anak-anak kalian.”

Satya dengan problemanya. Ia menjadi seorang Bapak untuk ketiga anaknya, dan suami untuk Rissa. Sejak kecil Satya sebagai anak sulung memang terbentuk sebagai anak yang cadas, tidak heran sifatnya itu terbawa hingga sudah jadi seorang Bapak.  

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung-kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua-untuk semua anak.”

Setiap pulang dari pekerjaannya yang beberapa bulan sekali itu, ia selalu pulang dengan marah-marah. Entah itu karena Rissa yang masakannya tidak enak, atau anak-anaknya yang belum bisa ini itu. Sementara kalau soal bermain dan mengacak-acak rumah selalu nomor satu. Sejujurnya, setiap kali pulang, Satya ingin semuanya sesuai dengan apa yang ia inginkan, tidak membuat emosi seperti ini.

Berbeda sudut pandang, tentu Rissa juga menginginkan suaminya tidak pulang dalam keadaan selalu marah-marah. Karena hal itu membuat anak-anaknya takut dan segan pada sosok seorang Bapak.  

Pada suatu saat, sebuah email dari Rissa rupanya menyadarkan Satya, berikut juga video-video dokumenter ayahnya yang ternyata sudah lama tidak ia tonton.  

“We all love you.
But the question is, do you love us?”

Cerita kehidupan keluarga Satya menyadarkan saya atau siapapun yang membacanya akan tergugah dan cukup menyentak. Sebab hal seperti ini pasti banyak dialami oleh siapa saja. Yah, meskipun saya belum berumah tangga, tapi sebagai seorang anak yang juga memiliki Bapak dan Ibu pasti sangat memahami problem seperti ini.  

Sementara itu, Cakra dengan problemnya, masih saja menjomblo. Padahal karirnya sudah sangat bagus, Deputy Director di sebuah Bank asing bernama POD. Karyawan-karyawannya selalu bergurau masalah kejombloan Cakra, terlebih adanya beberapa mahasiswi magang yang cantik-cantik, tapi itu semua tidak mempan bagi Cakra. Sampai akhirnya, ia bertemu Ayu, staf baru di POD yang menjabat sebagai asisten manajer untuk Divisi Costumer Service.  

Ayu jadi primadonna baru di kantor, Cakra yang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama itu langsung mempunyai rival. Namanya Salman, Deputy Director juga sepertinya namun berbeda Divisi.  

Salman jauh berbeda dengan Cakra, karena selain tampan, Salman juga mudah menebar pesona pada banyak wanita. Cakra yang memang tidak ganteng-ganteng amat kalah jauh dengan Salman. Persaingan unuk mendapatkan Ayu pun tampaknya tidaklah mudah ia ungguli. Apalagi ibu Itje sudah merencanakan perjodohan untuk Cakra. Hanya perjodohan biasa sih, baru mau dipertemukan saja. Kalau cocok yang lanjut, kalau nggak, ya sudah.  

Ini bukan spoiler sih, tapi hanya sebuah kalimat yang membuat pembaca harus semakin penasaran dan mau baca buku ini. Karena akan ada kejutan tak terduga bagi sang jomblowan dan ibu Itje.
—  

Last but not least, saya suka buku ini karena tokoh-tokohnya terasa real, banyak sekali kita temui di mana-mana. Konflik ceritanya juga mudah diterima. Sebuah buku yang secara tidak langsung mengajarkan banyak hal. Meskipun terbilang mainstream, tapi tidak akan pernah ada bosan-bosannya untuk dibahas. Yah, selama manusia itu sendiri masih memerlukan cinta dan kasih sayang.

Favorite scene:
“Kamu, ih, masih main game ajah. Kapan mau cari pacar?”
“Iya, Saka juga baru mau mulai nyari kok, Mah.”
“Mau Mamah bantu?”
“Yaah… topik ini lagi.” Satu hal yang membuat Cakra lebih malas membahas topik jodoh adalah topik dijodohkan.
“Beberapa teman Mamah ingin mengenalkan anak mereka sama kamu.”
“Gak deh, Mah. Risih dijodohin gitu.”
Ibu Itje terdiam lama. Dia berusaha menyusun petuah untuk anaknya.
“Mamah… mm, Mamah gak akan jadi orangtua yang ngomong ‘Mamah udah tua… pengin punya cucu dari kamu.”
“…”
“Mamah tahu, setiap anak berhak cari dan dapat orang yang saling mencinta. Bukan karena mereka mengejar umur senja orangtua.”
“…”
“Kamu, kerjaan udah bagus. rumah udah punya. Tapi punya kamar, dijadiin ruang game gini, Gak usah anak atau istri, pacar aja belum punya. Kalau kamu punya anak dan ngeliat dia kayak gini, menurut kamu, kamu bakal ngerasa apa?”  

Favorite Quotes:
“Istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat. Tapi, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat.”  

“Jika ingin menilai seseorang, jangan nilai dia dari bagaimana dia berinteraksi dengan kita, karena itu bisa saja tertutup topeng. Tapi nilai dia dari bagaimana orang itu berinteraksi dengan orang-orang yang dia sayang.”  

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.”  

Published: Cetakan III, 2014
Publisher: Gagasmedia
Pages: x + 278

Advertisements

2 thoughts on “Book Review: Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s