Book Review: The Fine Art Of Small Talk by Debra Fine

2015-02-21-15-05-10_deco
Translator: Farida Inayati
Genre: Non Fiksi, Pengembangan Diri
More: Goodreads
Rating: 5

How to start a conversation, keep it going, bulid networking skills, and leave a positive impression! 

Buku ini sebenarnya bukan buku baru karena saat kelas dua SMA saya pernah membacanya dan terlupakan begitu saja di rak. Hingga beberapa tahun ke belakang saya kerap membaca ulang buku ini berkali-kali saat saya sedang kehilangan semangat dan rasa percaya diri untuk bertemu orang baru.  

Begitu membaca blurb-nya, saya langsung jatuh hati karena perasaan yang saya alami ternyata dialami juga oleh penulis buku ini. Bagaimana rasanya lidah menjadi kelu saat berada di depan bos atau orang banyak, berkeringat dingin dengan detak jantung yang cepat, sampai akhirnya kehilangan kesempatan yang sudah lama dinanti-nanti, karena alasan terlalu takut dengan semua ketakutan itu sendiri.

Ya, saat itu saya memang payah dalam mengobrol. Bisa dilihat teman dekat saya tidak banyak, bahkan untuk yang saya anggap sebagai sahabat “hal-hal kecil tentang mereka-bisa jadi saya tidak tahu”.  

Saya jadi ingat, dulu saking senangnya membaca buku ini, saya mencatat hal-hal penting, seperti pertanyaan-pertanyaan obrolan ringan apa saja yang bisa dipakai saat saya sedang bersama teman-teman di sekolah. Dan hasilnya, BERHASIL. Saya bisa berubah menjadi orang yang lebih percaya diri, meski dalam proses yang cukup lama.  

Rasa percaya diri memang bisa dilatih secara terus menerus asal punya komitmen untuk berubah. Buku ini jadi batu loncatan bagi saya yang akhirnya bisa secara natural berubah untuk tidak begitu introvert.  

Dalam buku ini dibahas mengenai perjalanan penulis dari masa kecil hingga dewasa, ia menceritakannya secara singkat dan jelas. Di mana ia menjadi gadis pendiam yang kelebihan berat badan dan tidak banyak orang yang mau menjadi temannya.

Pengalaman itu sangat menyakitkan hingga saya pun menarik diri ke dalam dunia buku. Saya tidak tahu cara mencari teman atau berteman. Akibatnya, saya tidak pernah belajar bagaimana berbicara dengan teman-teman sebaya. (Page x)

Saat dewasa ia memilih profesi aman untuk bekerja, yaitu sebagai seorang teknisi yang menurutnya tidak menuntut banyak bicara. Tapi yang namanya bekerja dengan orang lain, tentu butuh saat di mana ia harus mempresentasikan tugasnya, belum lagi jika ada pertemuan-pertemuan penting dengan para kolega seperti konferensi atau semacamnya. Orang-orang pasti akan bertanya siapa Anda, apa pekerjaan Anda, dan masih banyak lagi obrolan yang harus digali agar jaringan networking bisa bertahan lama dan membantu kesuksesan.  

Sebagai seorang introvert, penulis selalu mengalami kebuntuan dalam percakapan yang hanya berputar di nama, pekerjaan, dan tempat tinggal. Melalui proses yang tidak sebentar, penulis menemukan titik terang saat ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Ia merasa lelah dan semakin tidak percaya diri. Berat badannya pun menurun drastis. Di tambah lagi ia bercerai dengan suaminya. Perceraiannya memang membawa hikmah baginya, ia tentu dituntut untuk mengenal dunia luar, bersosialisasi dengan orang-orang. Kepercayaan dirinya pun tumbuh berkat berat badannya yang turun.  

Penulis mulai mencari cara bagaimana orang-orang di sekitarnya bisa dengan mudah berbicara. Secara diam-diam dan malu-malu, ia pun mulai menirukan orang-orang ekstrovert, bagaimana mereka berbicara dan lain sebagaianya.  

Buku ini menjadi saksi kesuksesannya. Ya, penulis menjelma menjadi seorang motivator untuk mereka yang kesulitan memulai obrolan. Sungguh kisah yang sangat inspiratif bagi banyak orang.  

Dalam buku ini terdapat enam belas bab penting yang tidak bisa saya tuliskan satu persatu. Tapi ada satu bab yang paling berkesan dan saya ingat di bab-bab awal, terutama bab dua.

Orangtua mendidik kita agar menjadi anak yang penurut, semata-mata karena mereka menyayangi kita. Saat masih kecil kita mudah sekali terpengaruh oleh apa yang orangtua kita ajarkan, seperti:
Kebaikan menghampiri mereka yang menunggu.
Diam itu emas.
Tunggulah hingga diperkenalkan dengan benar.
Jangan bicara dengan orang asing.  

Di usia dini, perintah-perintah itu wajar kita turuti. Tapi entah mengapa selalu terbawa secara alami hingga dewasa. Padahal dalam situasi dewasa, jelas sangat berbeda maksudnya.

Kebaikan menghampiri mereka yang mengejarnya

Menunggu akan membuat Anda kehilangan banyak waktu. Anda harus mengambil insiatif. Jangan menghabiskan lebih banyak waktu dengan berpikir bahwa jika Anda terus menunggu, orang-orang menarik akan memperkenalkan diri.

Diam itu tidak sopan

Saya tidak pernah menyangka rasa malu bisa disalahartikan sebagai keangkuhan. Meskipun rasa malu dan keangkuhan jauh berbeda, manifestasi yang terlihat dari keduanya bisa tampak sama.

Perkenalkan diri

Jangan biarkan rasa takut akan kegagalan menghalangi Anda. Ingat, bahkan orang kepercayaan Anda pun dulu adalah orang asing. Ambilah risiko. Hampiri seseorang dan perkenalkan diri. Ulurkan tangan, lakukan kontak mata, dan tersenyum.

Dalam situasi aman, pastikan berbicara dengan orang asing.

Mulailah menganggap orang asing sebagai orang yang bisa membawa dimensi baru ke dalam kehidupan Anda, bukan orang yang harus ditakuti.

Dan, masih banyak lagi hal menarik dalam buku ini. Beberapa contoh obrolan dan kalimat-kalimat pertanyaannya bisa dicontek dan dipraktikkan.  

Menurut saya ini buku non fiksi yang tidak membuat ngantuk, karena penulis seperti membawa kita masuk dalam dunianya dan memahami posisinya. Semuanya ditulis dengan gaya bercerita yang ringan namun berkelas.  

Selamat tinggal zona nyaman!
Selamat berubah : )  

Published: Cetakan II, Maret 2008
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Pages: xviii + 176
The author’s official website: http://www.DebraFine.com

Advertisements

4 thoughts on “Book Review: The Fine Art Of Small Talk by Debra Fine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s