Book Review: The Wind Leading to Love by Ibuki Yuki


Translator: Mohammad Ali
Editor: Arumdyah Tyasayu
Proofreader: Dini Novita Sari
Cover & Illustration: Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Genre: Romance, Adult, Family, J-lit
More: Goodreads / booksfromjapan
Rating: 4

—  

Cerita bermula dari para supir truk yang sedang beristirahat sambil mengobrol di rest area Ya no Hana. Mereka membicarakan wanita tengah baya yang mirip dengan Peko-chan karena wajahnya yang bulat. Karena panggilan tersebut wanita itu banyak dikenali oleh para supir yang berbaik hati selalu memberinya tumpangan. Bagi yang memberikan ia tumpangan, Peko-chan akan memberikan imbalan dengan mencukur rambut si supir. Terdengar kabar juga kalau memberikan tumpangan pada Peko-chan, niscaya hidup orang yang mengantarnya itu akan berubah, jauh lebih bahagia dan beruntung.  

Suga Tetsuji yang sedang beristirahat di rest area tak sengaja mendengar percakapan itu, tapi ia tidak mendengarkan secara serius karena rasa kantuknya. Tetsuji pun memilih untuk melanjutkan perjalanan dengan mobil kecil yang dipinjami oleh seorang pemilik toko aneka ikan kering Miwashi.

Miwashi. Daerah terpencil yang menjadi tempat tujuan Tetsuji. Ia sebenarnya berasal dari Tokyo. Di musim panas ini ia sedang mengambil cuti selama enam minggu di Rumah Semenanjung, rumah peninggalan ibunya yang sudah meninggal belum lama ini.

Peko-chan yang sedang mencari tumpangan untuk pulang merasa senang mendapati Tetsuji akan pergi ke tujuan yang sama dengannya. Ia pun mengenali mobil kecil yang dipakai Tetsuji sebagai mobil Mai-chan, cucu pemilik toko aneka ikan kering.

Fukui Kimiko, nama asli dari Peko-chan. Usianya 39 tahun, seumuran dengan Tetsuji. Di pertemuan pertamanya, Tetsuji lebih banyak diam dan tidak peduli, sambil mendengarkan musik klasik dengan earphonenya. Sementara itu, Kimiko yang tidak bisa menutupi rasa senangnya karena pulang ke Miwashi tidak bisa berhenti untuk berbicara dan bersorak.

“Maaf ya, aku terlalu berisik. Sekarang aku akan diam, kok.” – Kimiko (page 16)

Karena musik klasik yang didengar Tetsuji, Kimiko jadi diam dan tertarik untuk membicarakan soal musik saja. Musik klasik memang mengingatkannya pada mendiang anaknya, Tomoki, yang sudah tujuh tahun lalu meninggal dunia karena terseret ombak di laut. Suaminya juga sudah meninggal karena bunuh diri di Tokyo tak lama setelah Tomoki.

“Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup.” – Kimikio (page 29)

Keberadaan Tetsuji di Miwashi juga bukan tanpa alasan, ia sebenarnya sedang depresi karena pekerjaannya di Bank yang sangat menumpuk, tidak sebanding dengan penghasilan yang bisa didapatkannya karena penghasilannya kalah jauh dengan istrinya. Selain itu tiba-tiba ia terkena insomnia dan parahnya lagi lehernya tidak bisa menoleh ke kanan, akibatnya ia butuh istirahat untuk memulihkan kondisinya.

Miwashi memang pilihan tepat untuk Tetsuji, karena selain sepi, laut yang terbentang di depan Rumah Semenanjung membuatnya bisa melakukan percobaan bunuh diri. Yaa, Tetsuji yang tidak tahan dengan kondisinya saat ini memilih untuk menenggelamkan diri di laut. Namun, belum sampai itu terjadi, Kimiko yang sedang melintas menggagalkan rencana tersebut.

Kejadian inilah yang membuat Kimiko dan Tetsuji saling mengenal lebih dekat. Kimiko banyak membantu Tetsuji membereskan Rumah Semenanjung yang sudah lama tidak terawat, barang-barang ibunya yang sangat banyak juga ia bantu rapihkan, seperti kumpulan CD dan piringan hitam musik klasik, Video Opera, dan buku-buku.

Di antara mereka pun ada perjanjian yang menguntungkan kedua belah pihak. Kimkio akan membantu Tetsuji dalam pekerjaan rumah asal ia diajari tentang musik klasik. Tetsuji pun menyanggupi, ia banyak memberitahukan beberapa musik klasik yang enak untuk didengar seperti Gleen Gould dan Bach.

Kimiko sangat senang dengan musik klasik karena anaknya juga sangat suka dengan musik tersebut dan sering memainkannya. Cita-cita Tomoki memang ingin menjadi pianis. Tidak hanya Kimiko yang merasa diuntungkan, Tetsuji juga merasa senang karena saat teman ibunya, Akino-san, datang berkunjung ke Rumah Semenanjung bersama beberapa muridnya untuk bersilaturahmi dan memainkan beberapa musik. Tetsuji merasa tertolong karena berkat Kimiko ia bisa menyiapkan jamuan yang cukup berkesan bagi Akino-san. Salah satu yang menjadi favorit Kimiko saat murid-murid Akino-san datang adalah permainan musik Putri Kamelia, yang juga ternyata jadi favoritnya Mishio-san, ibu Tetsuji.

Cueknya Tetsuji dengan penampilannya dan juga sikapnya, membuat Kimkio tidak tahan untuk mengubah penampilan Tetsuji. Selain memotong rambut, ia juga memijat Tetsuji agar pundaknya yang sering terasa sakit dan kaku bisa sembuh.

“Kalau terus dipendam, tubuhmu akan sakit…” (page79)

Tetsuji yang telah menyadari ia merasa segar berkat pijatan Kimiko mulai meluluhkan sikap dinginnya. Ia pun tidak menutup diri lagi dengan beberapa orang di sekelilingnya, seperti Madam, Shun, dan Mai-chan. Shun yang merupakan cucu dari Madam sangat menggemari Gunpra, Tetsuji merasa bisa akrab dengannya karena saat masih muda dulu sampai sekarang pun ia sangat menyukai Gunpra.

“Repot, kan? Aku juga menderita karena Nenek selalu melarangku dan berkata bahwa tidak ada gunanya untuk menonton anime di usiaku sekarang ini. Tapi, benar-benar di luar dugaan ya, ternyata kau sama denganku.” (page 131)

Saya sangat suka dengan hubungan antara Kimiko dan keluarga Madam. Shun dan Mai-chan adalah anak muda yang ceria dan penyayang, Kimiko menganggap mereka sudah seperti anak sendiri karena kalau Tomoki masih hidup, sekarang ini ia pasti seumuran dengan mereka, 19 tahun.

Berkat keceriaan mereka pula, Tetsuji mulai semakin terbuka. Beberapa kali Tetsuji maupun Kimiko sering curhat colongan disela-sela obrolan mereka soal musik atau sambil menonton opera Putri Kamelia. Tetsuji menceritakan tentang keretakan rumah tangganya dengan Rika, istrinya, juga masalah putrinya, Yuka, yang memilih tinggal di rumah neneknya. Masa kecilnya bersama orangtuanya pun tak ketinggalan ia ceritakan.

“Ketika tiba saatnya mengurus orangtua, aku jadi sadar bahwa aku tidak bisa kembali ke masa kanak-kanak.”(page 70)

“Aku selalu berpikir… keputusan yang dibuat oleh orangtua memengaruhi kehidupan anak mereka.” (page 70)

Sebaliknya pun, Kimikio bercerita banyak tentang dirinya yang sering dianggap ‘sok pintar-pintaran’ oleh suaminya dulu. Sifatnya yang blak-blakan dalam berbicara membuatnya selalu dicap rendahan karena pendidikannya yang hanya sampai SMP. Ia jadi sering meminta maaf setiap kali banyak berbicara.

“Hidup yang selalu minta maaf itu tidak baik, kan? Padahal kau tidak melakukan kesalahan sedikit pun. Jangankan melakukan kesalahan, kau bahkan memperhatikan sekelilingmu dengan cukup baik. Kau itu seharusnya marah.” – Tetsuji (page 120)

“Tapi aku tidak pernah berpikir seperti itu tentangmu.”

“Memang, mungkin aku mengetahui sesuatu yang tidak kau ketahui. Tapi kau juga pasti mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui…”- Tetsuji (Page 121)

Ah, sweet banget Tetsuji ini :’)

Konflik semakin memuncak saat Tetsuji dan Kimkio mulai merasa nyaman satu sama lain dan mulai berani skinship. Hubungan mereka pun semakin intim. Meskipun tidak ada ungkapan cinta-cintaan seperti anak muda lagi, sebagai orang dewasa mereka sudah cukup paham untuk mengerti perasaan masing-masing.

“Aku memang tidak tahu banyak tentang Tetsu-san. Tapi saat aku menyentuh pundakmu, aku mengerti satu hal; betapa kau sudah berusaha sangat keras.” (page 194)

Yang jadi masalah adalah, bagaimana dengan keluarga Tetsuji di Tokyo? Rika dan Yuka yang mungkin saja sedang menunggu Tetsuji untuk pulang. Apa mungkin ini hanya pelarian Tetsuji selama musim panas berlangsung?

“Banyak orang bilang bahwa anak yang hubungan rumah tangga orangtuanya buruk akan lebih cepat menjadi dewasa dibandingkan dengan yang lain. Tetapi dilain pihak, anak tersebut akan menjadi penakut dan terkesan malu-malu dalam menjalani hubungan sosial. Aku mengerti karena hubungan rumah tangga orangtuaku pun demikian.” (page 223)

Menguras emosi banget konfliknya Tetsuji dan Rika, kasihan Yuka yang jadi korban. Kimi-chan juga tidak kalah kasihannya. Ia tidak pernah menampakkannya sih, tapi tetap saja ia selalu merasa hanya seorang bibi-bibi yang akan segera berakhir masa musim panasnya 😦

“Dulu, salah satu pelangganku pernah berkata bahwa setiap manusia akan melewati empat musim dalam hidupnya. Musim semi yang biru, musim panas yang oranye, musim gugur yang putih, dan musim dingin yang hitam. Musim semi adalah saat usia belasan, musim panas adalah usia dua puluh sampai tiga puluh tahunan, musim gugur adalah usia empat puluh sampai lima puluh tahunan, terakhir musim dingin adalah usia melebihi musim lainnya.” (page 264)

Dia merupakan tokoh favoritku yang tidak sok lemah dengan kondisinya, tapi ia sangat kuat dan selalu mengekspresikan perasaannya dengan sangat tepat. Keputusannya diakhirpun bikin saya deg-degan, Tetsuji apalagi… Ah, susah banget ngungkapin perasaan suka sama kedua tokoh ini, menyesakkan, geregetan, pokoknya harus baca keseluruhan ceritanya, baru deh ngerti kenapa saya bisa jatuh cinta sama mereka. Walaupun saya tahu perselingkuhan itu tidak dibenarkan, tapi kedua tokoh ini tidak membuat saya berpikir kalau mereka salah.

Penulis membuat perasaan pembaca terombang-ambing seperti ombak, ada lucu, kesal, senang, sedih, haru, cerita yang sangat kompleks. Tokoh-tokohnya juga khas banget, saya seperti disajikan tontonan Dorama melalui tulisan. Musik klasik yang jadi bumbu utama membuat novel ini sendu sekaligus manis.

Terjemahannya enak, mudah dipahami, minim typo, dan bikin nagih untuk dibaca sampai akhir. Covernya juga cocok banget dengan isi ceritanya, manis 🙂

Published: Februari, 2015
Publisher: Penerbit Haru
Pages: 342
About Author: Yuki Ibuki
Cover Japan Version:


Ps: Arigatou Kak Dini sudah memberikan buku ini untuk saya^^ seneng banget bisa nambah koleksi buku J-lit

Advertisements

5 thoughts on “Book Review: The Wind Leading to Love by Ibuki Yuki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s