[Baca Bareng] Book Review: The Fault in Our Stars by John Green


20150328_140020
Translator: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Editor: Prisca Primasari
Proofreader: Yunni Yuliana M.
Genre: Romance, Young Adult
More: Goodreads
Rating: 4

Meski keajaiban medis mampu mengecilkan tumornya dan membuat Hazel bertahan hidup beberapa tahun lagi, Hazel Grace tetap putus asa. Hazel merasa tak ada gunanya lagi hidup di dunia. Namun, ketika nasib mempertemukannya dengan Augustus Waters di Grup Pendukung Anak-anak Penderita Kanker, hidup Hazel berubah 180 derajat.

Mencerahkan, berani, dan menggugah, The Fault in Our Stars dengan brilian mengeksplorasi kelucuan, ketegangan, juga tragisnya hidup dan cinta.

Sebenarnya sih novel ini biasa saja, nggak wow, tema yang diangkat pun bagi saya cukup mainstream. Entah sudah berapa novel yang saya baca mengenai tokoh utama yang mempunyai penyakit.

TFIOS bukan cerita yang cengeng untuk mengasihini tokoh utama yang sedang berjuang melawan penyakit. Bukan pula harus digadang-gadang berakhir dengan happy atau sad ending karena si tokoh yang bisa sembuh atau bahkan tidak sama sekali.

Hazel Grace, si tokoh utama yang sedang saya bicarakan ini mempunyai penyakit kanker paru-paru. Setiap waktunya ia harus menggunakan tangki oksigen yang disambung oleh selang untuk hidungnya. Benda itu tidak pernah lepas, kecuali saat ia ada di rumah, ia memakai BiPAP yang fungsinya sama dengan tangki oksigen yang selalu ia bawa-bawa dengan kereta kecil.   Di luar kekurangan yang Hazel miliki, saya menyukai karakter Hazel yang gemar membaca buku, Kemalangan Luar Biasa karya Peter Van Houten adalah bacaan favoritnya. Buku tersebut secara tidak langsung telah memberikan suntikan semangat baginya untuk bertahan hidup.

“Kepedihan menuntut untuk dirasakan.” (page 81)

Dalam buku KLB, tokoh utama yang bernama Anna telah meninggal, meninggalkan ibu dan ayah tirinya, juga hewan piaraannya. Biasanya dalam sebuah ending cerita selalu dijelaskan akhir yang seperti apa, baik diceritakan secara langsung maupun dalam epilog. Di KLB, justru hal itu sama sekali tidak ada, seperti buku yang tidak selesai ditulis, menggantung, dan membuat rasa penasaran pembaca fanatiknya. Hazel salah satunya, yang tidak terima dengan ending yang tidak memuaskan. Berbagai hal ia lakukan, termasuk mengirimi Peter Van Houten surat mengenai pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat di benaknya tentang ibu dan ayah tiri Anna. Namun, ditunggu berapa lama pun surat itu tak pernah kunjung dibalas.

Semenjak bertemu Augustus Waters di Kelompok Pendukung, Hazel merasa terhibur, tidak lagi seperti orang sakit yang harus terus mengurung diri di rumah. Bukan tanpa alasan mengapa Augustus berada di kelompok pendukung, ia memang sakit, tapi itu dulu, satu setengah tahun yang lalu ketika kakinya mendapat sentuhan Osteosarkoma, sekarang ia sudah memakai satu kaki palsu untuk kelangsungan hidupnya. Ia memang terlihat sehat-sehat saja. Karena itu ia datang ke KP untuk menemani sahabatnya, Isaac. Isaac sendiri memiliki tumor di matanya yang harus dioperasi, sehingga membuatnya akan buta.   Bukan hal sulit bagi Hazel dan Augustus untuk dekat. Dalam satu kali pertemuan saja Hazel bisa berkunjung ke rumah Augustus. Di sana mereka berbagi cerita tentang hobi dan lain sebagainya. Augustus menyukai permainan sekaligus buku berjudul Ganjaran Fajar. Mereka saling merekomendasikan kesukaan masing-masing.

“Sadarlah bahwa berupaya menjaga jarak dariku tidak akan mengurangi kasih sayangku terhadapmu.”

Augustus yang mengetahui keinginan terbesar Hazel untuk mendapatkan cerita lanjutan dari Kemalangan Luar Biasa, secara mengejutkan–setelah menunggu beberapa lama–entah bagaimana caranya Augustus mendapatkan email Lidewij, asisten dari Peter Van Hauten, ia mendapat celah untuk bisa bertemu penulis langsung ke Amsterdam, Belanda. Mengingat kondisi Hazel yang tidak sehat, maka ia tidak diperbolehkan untuk pergi keluar negeri, apalagi kesehatannya mendadak drop karena suatu lain hal yang cukup membuatnya stres memikirkan hal itu.

“Tanpa penderitaan, kita tidak bisa mengenal kebahagiaan.” (page 365)

Buku yang diterbitkan tahun 2012 oleh Dutton Book ini diadaptasikan ke layar lebar pada tahun 2014 yang dibintangi oleh Shailene Woodley dan Ansel Elgort.

Saya belum sempat menonton filmnya tapi sudah melihat foto-foto dari scene filmnya, jadi kurang tahu apa ada yang dikurangi atau ditambahkan dalam ceritanya. Apakah mungkin lebih seru film daripada bukunya atau malah sebaliknya? Karena di dalam buku, cerita yang disuguhkan bersudut pandang orang pertama (Hazel), jadi saya tidak bisa melihat bagaimana usaha keras Augustus untuk mendapatkan email Lidewij dan kesehariannya sendiri. Tapi kehadiran tokoh Isaac, membuat saya bisa mengetahui keseriusan dan usaha Augustus dari cerita-ceritanya juga pertemuan-pertemuan mereka.

Selain itu, dengan difilmkannya buku ini visualisasinya bisa terlihat, karena saya yang awam dengan peralatan-peralatan yang dipakai Hazel tidak bisa membayangkan dengan yakin seperti apa alatnya. Dengan adanya film, sesuatu yang ingin dilihat bisa jadi nyata.

Quotes favorit:
“Terkadang orang tidak memahami janji yang mereka ucapkan ketika mereka sedang mengucapkannya.”

“Hal ganjil mengenai rumah adalah, walaupun sebagian besar kehidupan kita berada di dalamnya, dari luar selalu tampak seakan tidak ada sesuatu pun yang terjadi di dalamnya.”

“Dunia, bukanlah pabrik pewujud keinginan.”

Published: Cet. VII, Agustus 2014
Publisher: Qanita
Pages: 424

Ps: Review ini dibuat sebagai bentuk partisipasi blog treasure books dalam event BBI “Tema Baca Bareng: Adaptasi”

Advertisements

8 thoughts on “[Baca Bareng] Book Review: The Fault in Our Stars by John Green

  1. Dion says:

    Quote-quote-nya buku ini yg menyentuh banget, dr sudut pandang anak remaja. Endingnya agak2 ngingetin saya sama The Age of Miracles

  2. astrid.lim says:

    buku ini… hmmm… gimana ya? aku kok nggak ngerasa “kena” dengan hype nya haha.. menurutku tokoh2nya agak terlalu pretensius untuk ukuran anak muda… tapi mungkin akunya aja yang udah ketuaan baca buku YA hahah… filmnya belum nonton sih, tampaknya kata orang2 cukup setia dengan bukunya 🙂

    • irnari says:

      aku agak terjebak. penasaran banget sama buku ini karena banyak orang yang suka, tapi setelah baca bukunya ga sesuai ekspektasi (kirain bakal suka, tapi ternyata biasa aja). mungkin tergantung selera ya..
      4 bintang karena merasa buku ini layak aja sih dikasih segitu.hihi

  3. desty says:

    Awalnya aku skeptis sama filmnya, soalnya bukunya aku kasih bintang 5. Takutnya nggak sesuai imajinasiku…eh tapi pas nonton ya nangis juga…hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s