Book Review: Career First by Maya Arvini

Co-writer: Ninus D. Andarnuswari
Penyunting: Jumali Ariadinata & Patresia Kirnandita
Proofreader: Yuke Ratna P
Ilustrasi cover dan isi: Siska Felicia
Genre: Non Fiksi, Karier, Pengembangan Diri
More: Goodreads
Rating: 4

Kenapa saya beri 4 bintang? Karena saya suka suka buku ini. Tidak hanya karena temanya saja, tapi juga karena gaya bahasanya yang tidak membosankan, tidak terlalu mendikte bak buku tips-tips lainnya. Juga, karena banyak ilustrasi gambar yang nggak bikin bosan.

Sebagai pembaca, saya dibawa langsung melihat kehidupan penulis, dari nol sampai terus merangkak naik dan sukses. Maya Arvini menceritakan kalau dulunya dia berasal dari keluarga sederhana. Kedua orangtuanya adalah guru.

Setelah lulus SMA ia mendaftar kuliah melalui jalur PMDK ke perguruan tinggi negeri impiannya, namun sayangnya tidak diterima. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencoba jalur penerimaan mahasiswa PTN melalui tes. Bersyukur, akhirnya diterima, tapi tidak di kampus dan jurusan yang ia inginkan. Melainkan dipilihan kedua yang ia tulis asal-asalan yang malahan diterima.

Tahun berikutnya, ia mencoba mengambil jurusan baru masih di kampus yang sama, jadi ia memiliki dua jurusan kuliah selang satu tahun. Kenapa ia tidak berhenti di jurusan yang pertama? Alasannya karena sayang jika harus meninggalkan kuliah pertamanya. Hebat ya =))

Dengan kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk kuliah di dua jurusan, ia tetap bertahan dan menjadi mahasiswa berprestasi agar mendapat beasiswa. Selain itu, ia juga aktif pada berbagai organisasi, sehingga kemampuannya dalam akademik tetap gemilang dan pergaulan sehari-harinya pun berkualitas.

Rahasia keberhasilan itu sebenarnya sederhana banget, kok, yaitu berani bercita-cita setinggi langit, giat bekerja kerja sejak muda, dan siap menjawab tantangan yang ada di hadapan dengan sepenuh hati. (page 3)

Wah, keren banget, Mbak! Kalau saya justru memutuskan untuk keluar, jadi ceritanya saya juga gitu, salah masuk jurusan. Akhirnya di akhir semester pertama mundur, dan tahun ajaran baru memulai kuliah lagi :\

Mulailah menentukan prioritas dalam kehidupan. Itulah kunci sukses saya semasa sekolah. (page 16)

Kesuksesan itu memang tidak mudah diraih secara instan, perlu kerja keras yang supeeeeer sekaliiii. Nah, berhubung buku ini berisi lima bab, saya jabarkan saja bab per bab nya secara singkat 😉

Yang pertama tentang diri sendiri, yang merupakan modal awal untuk menentukan karir kita ke depannya. Kegiatan Maya kuliah di dua jurusan–dengan keikutsertaannya berorganisasi–yang cukup padat, tidak membuatnya lengah. Dispilin, daya tahan, fighting spirit, dan daya saing adalah kata kuncinya untuk sukses menjalani kehidupan. Selain tentang diri sendiri, yang paling penting pun kita harus tahu kelebihan dan kekurangan diri sendiri, bakat/passion, lingkaran pertemanan, dan tokoh panutan. Yang semuanya itu membentuk karakter kita seutuhnya.

Hal paling mudah untuk mencermati lingkaran pergaulan adalah dengan mengingat "peta pergaulan" masa lalu di sekolah.(page 48)

Yang kedua, mengenali diri sendiri. Bagaimana tentang intergritas kita, profesionalisme kita, comfort zone yang tidak baik untuk terus dituruti karena tidak akan membuat kita berkembang. Lalu bagaimana cara mengasah skill, talenta tak terduga, memperbaiki kekurangan dan mengasah kelebihan, menyeimbangkan secara proporsional proses dan hasil kerja kita untuk menuju arah yang tepat.

Yang ketiga, You & Your Work Place. Saya menemukan pengetahuan baru dalam bab ini, ternyata dunia kerja itu tidak sebatas mengerjakan pekerjaan saja. Tapi juga harus tahu tanggung jawab, berpikiran terbuka, mengontrol diri, menghadapi office politics dan membangun aliansi.

Bagi kamu yang memimpikan kesuksesan di usia muda, penting untuk selalu memiliki pola pikir yang terbuka.(page 99)

Setuju sekali, dengan berpikir terbuka kita tidak akan picik dan dangkal dalam menghadapi tantangan. Orang yang berpikir terbuka pasti bisa mengatasi masalah dan tantangan yang ada di depan mata.

Politik di dalam kantor memegang peranan besar dalam karier seseorang.(page 119)

Di lingkungan kantor, kamu jelas harus berteman dengan siapa saja tanpa membeda-bedakan. (page 124)

Nah, bagi mereka yang tidak open minded pasti bakal kewalahan menghadapi office politics (bisa jadi korban atau bisa jadi pelakunya). Ugh! Apa sih itu office politics? Kalau yang saya tangkap, office politics itu usaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan, tapi tidak mau bersusah payah mencapainya. Jadi, semacam licik gitu. Ada juga free-rider, yaitu orang yang mendompleng keberhasilan orang lain. Dengan kata lain, orang lain susah payah, tapi free-ride-lah yang mengklaim keberhasilan sehingga mendapatkan pengakuan atau penghargaan. (page 118)

Jangan ditiru ya, teman-teman 🙂

Yang ke empat, Your Work, Your Life, Your Balance. Keduanya harus seimbang, keseimbangan di sini tergantung toleransi pada keduanya mana yang diprioritaskan. Kita harus bisa beradaptasi, mengenal pekerjaan, menghadapi konflik, dan menaklukan stres, juga mengaitkan dunia kerja dengan dunia pribadi.


Yang kelima, Happily Succesful. Bersyukur pada Allah atas apa yang telah dicapai. Menyenangkan diri sendiri dan orang lain:)

Mengapa apresiasi terhadap diri sendiri perlu? Salah satu alasannya, seseorang yang menghargai dirinya sendiri tahu betul bagaimana menghargai orang lain. (page 185)

**

Quotes favorit:
“Kegagalan adalah peluang tak tergantikan untuk berintrospeksi dan mengatur strategi.” (page 25)

“Nama besar kampus tidak menjamin kesuksesan seseorang. Yang lebih penting adalah apa yang kamu lakukan sendiri dengan tiap langkah dalam hidupmu.” (page 26)

“Apapun bakat, passion, dan life interest yang kita miliki, kita mesti mengenali sedini mungkin karena hal-hal ini akan membantu dalam menemukan arah masa depan yang tepat, mendorong kinerja, dan mampu membuat kita meraih kesuksesan.” (page 37)

“Jangan takut untuk keluar dari comfort zone kamu. Bila ada kepercayaan yang diberikan kepadamu, jangan takut untuk menerimanya.” (page 77)

“Jika kamu sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan apa yang kamu bisa, ini kuncinya: berhenti memaksakan ekspetasimu.” (page 166)

Banyak banget quotes yang bagus, kalau penasaran seperti apa siasat mengatasi office politics dan lainnya? Baca saja bukunya, buku ini bisa dibeli di online shop atau di toko buku. Saya merekomendasikannya karena buku ini bisa dibaca oleh siapapun yang sudah memahami arti dari pengembangan diri, baik bagi mereka yang baru lulus ataupun sedang bekerja. Keduanya bisa membaca buku ini karena banyak tips dan pengetahuan yang bermanfaat. Juga bisa dibaca para remaja dan anak kuliahan supaya ke depannya punya bayangan dalam meniti sebuah karier^^/

“You build your own destiny”(page 4) *ikut setuju dengan pepatah ini*^^d

Published: Cetakan I, 2014
Publisher: Gagasmedia
Pages: xviii + 202

Advertisements

One thought on “Book Review: Career First by Maya Arvini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s