Book Review: Stasiun by Cynthia Febriana


Author: Cynthia Febriana
Editor: Gina S Noer, Ninus D Andarnuswari
Ilustrasi Sampul: Diani Apsari
Publisher: Plot Point
Genre: Fiction, Romance
Published: May 2013
Pages: viii + 180
Rating: 3

Nyari novel ini susah banget, kemana-mana nggak ada, maklum saya tinggal di kota kecil. Menjelang Idul Fitri kemarin, orang-orang pada sibuk cari baju, lah saya malah nyasar ke toko buku kecil di Yogja Kuningan. Lihat-lihat dong kesitu, kapan lagi coba.. Tahu-tahu nemu buku ini, yang kataku susah banget dicari, di Gramed Cirebon nggak ada. Tahunya  ada di tempat sekecil ini.. Harganya murah lagi, cuma dua belas ribu rupiah. Langsung happy, pengin jingkrak-jingkrak kayak anak kecil nemu baju bagus buat lebaran. Langsung deh dibeli tanpa pikir panjang karena udah jadi wishlist dari dulu. Kenapa harganya bisa murah? Kayaknya sih lagi ada obralan di grup Bentang & Mizan, karena cuma buku-buku terbitan mereka yang didiskon, itupun tidak semua bukunya.

Blurb:
Adinda putus dengan pacarnya. Kini tak ada lagi Rangga yang biasa mengantarjemput. Tiap pagi Adinda harus naik kereta dari Bogor ke kantornya di Jakarta. Harinya berawal dengan teriakan pedagang asongan, sampah yang bertebaran di peron, para penumpang yang berkeringat dan tergea, bahkan aksi copet. Masa lalu pun kerap memberatkan langkah.

Ryan anak kereta sejati, bersahabat dengan para pedagang kios di sepanjang peron. bertahun-tahun dia pulang-pergi Bogor-Jakarta naik kereta. Di balik beban kerja yang menyibukkan, ada kesepian yang sulit terobati, apalagi ketika seorang sahabat meninggal.

Tiap pagi mereka menunggu kereta di peron yang kadang berbeda. Tapi jalur yang sama memungkinkan langkah dan hati mereka bertautan. Stasiun jadi saksinya.

Review:
Seperti yang sudah diceritakan dalam blurb secara singkat, novel ini berlatar stasiun sebagai setting lokasi utamanya. Adinda dan Ryan bergantian menjadi POV dalam buku ini.

Diceritakan bahwa kebiasaan Adinda pulang-pergi ke kantor yang dulunya selalu diantarjemput Rangga, kini terpaksa harus naik kereta. Adinda tidak suka berbaur dengan masyarakat ekonomi lemah, bukan karena dia sombong, tapi sifatnya yang memang tidak acuh banget, ceplas-ceplos, mementingkan diri sendiri, dan pokoknya yang penting ia nyaman sendiri tanpa peduli perasaan orang lain.

Mungkin ini pulalah yang membuatnya memilih kereta Commuter Line dibanding kereta ekonomi yang selalu setia ditumpangi sahabatnya, Sasha. Sasha ini yang memperkenalkan kereta sebagai pengganti mobilnya Rangga. Ini jenis langkah move on yang tepat, karena Adinda mulai bisa mengalihkan dunianya pada dunia luar, bahwa masih ada kehidupan dibalik dunia cintanya yang kelam.

Kehidupan orang-orang yang menggunakan kereta ekonomi sangatlah unik, seperti yang Sasha bilang, “kalau naik kereta ekonomi kita akan belajar mengenai hidup.” Realita hidup yang sesungguhnya ada di depan mata tanpa manipulasi surat kabar maupun berita di televisi.

Awalnya Adinda lebih nyaman berpergian dengan commuter line, tapi setelah sekali mencoba menggunakan kereta ekonomi karena kejadian ketinggalan commuter line, Adinda pun mulai paham apa yang dimaksud Sasha. Dibalik ketidaksukaannya pada bau ikan asin, sempitnya di dalam kereta hingga harus berdesak-desakan, belum lagi kalau ada copet, Adinda mulai ketagihan melihat dan merasakan dengan apa-apa yang ia temui di dalam kereta ekonomi. Berkat Sasha, Adinda bisa mengenal Pak Eko, seorang penjual koran di stasiun yang sangat ramah terhadapnya.

Sementara itu, Ryan, seorang wartawan musik dan pelukis lepas yang suka bergaul dengan kereta ekonomi, tengah galau dengan kesendiriannya. Meski tidak begitu menyedihkan karena ia sangat enjoy dengan rutinitasnya. Ya, walaupun sering galau karena uangnya yang dipinjam Pak Rudy belum dikembalikan juga, dan beberapa persitiwa sederhana yang dialaminya di stasiun kereta, seperti bertemu ustad, menjemput teman yang baru datang dari luar negeri, dan peristiwa-peristiwa umum lainnya.

Meski Adinda dan Ryan merupakan dua orang yang sangat berbeda, tapi stasiun telah mempertemukan mereka pada satu momen yang sama, yang bagi orang barangkali ini momen sedih, tapi bagi yang lain ini sebuah kabar gembira bahwa jodoh datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Dari segi cerita, sangat sederhana. Kisahnya juga tentang kehidupan sehari-hari yang sering kita temui di mana-mana. Segi tulisannya rapi, enak dibaca. Hanya saja kurang gereget, tak ada yang membekas saat saya menamatkan buku ini.

Advertisements

One thought on “Book Review: Stasiun by Cynthia Febriana

  1. adindilla says:

    Untuk beberapa buku plot poin memang minim kesan. Tapi dari segi penulisan sudah sangat bagus dan memang sangat rutinitas sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s