Book Review : Bumi by Tere Liye #1


Publisher: PT Gramedia Pustaka Utama
Published: viii, April 2015
Pages: 440
Genre: Science Fiction, Fantasy
Rating: 5
*
Namaku Raib, usiaku 15 tahun, kelas sepuluh. Aku anak perempuan seperti kalian, adik-adik kalian, tetangga kalian. Aku punya dua kucing, namanya si Putih dan si Hitam.
Mama dan papaku menyenangkan. Guru-guru di sekolahku seru. Teman-temanku baik dan kompak.
Aku sama seperti remaja kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang kusimpan sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan.
Namaku Raib. Dan aku bisa menghilang.

“Buku pertama dari serial Bumi.”
*
Review:
Akhirnya tuntas juga menamatkan bacaan novel setelah lama reading slump. Hmm.. Sebenarnya masih suka baca sih, cuma lama banget ngebangun mood baca sekali duduk. Pilih buku ini itu dengan asal nggak ada yang beres. Emang bener sih, ya.. Mood baca bisa baik kalau kita memulai dengan memilih buku yang disukai. Salah satunya yang akan saya review berikut ini. Baca lebih lanjut

[Baca Bareng] Book Review: Fly By Night by Frances Hardinge

20150124_080011
Translator: Maria M. Lubis
Editor: Endah Sulwesi
Proofreader: Peni Astiti
Genre: Fantasy, Young Adult, Children: Middle Grade, Adventure, Mystery, Historical Fiction
More: Goodreads
Rating: 3,5

Bercerita tentang seorang gadis berumur dua belas tahun yang tumbuh sebagai seorang yatim piatu-tinggal di Chough bersama Paman dan Bibinya. Mosca Mye namanya. Dia anak yang pemberani dan cerdas. Tidak heran karena ia merupakan anak dari seorang ahli cetak zaman dulu, yang dianggap pemerintah sebagai seorang radikal karena menulis buku yang tidak sejalur dengan pemerintahan. Tapi bagi rakyat, Quillam adalah seorang pahlawan yang sangat dikagumi. Karena banyak bukunya yang ditulis secara blak-blakan-Quillam Mye dihukum, semua bukunya dibakar dan ia pun ikut dibakar bersama bukunya tersebut (yang saya tangkap seperti itu). Baca lebih lanjut

Twenties Girl


Judul Buku: Twenties Girl
Penulis: Sophie Kinsella
Penerjemah: Nurkinanti Laraskusuma
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan I, Juni 2010
Genre: Romance, Chick Lit, Fantasy, Contemporary
Tebal: 564 halaman
ISBN: 978-979-22-5872-1

Rating: 4 Bintang

Blurb:
Review:

L&N Executive Recruitment adalah bisnis headhunters yang digawangi oleh Lara dan Natalie. Natalie yang merupakan sosok penggagas ide dibangunnya bisnis ini pergi mencampakkan pekerjaannya dan menimpakan semua tugas-tugasnya pada Lara. Baca lebih lanjut

Mitsuko

mitsuko


Judul Buku: Mitsuko
Judul Asli: Little Sister
Penulis: Kara Dalkey
Penerjemah: Mohammad H
Penerbit: Matahati
Genre: Fantasy, YA, Historical Fiction, Science Fiction
Terbit: Cetakan II, Juli 2007
Tebal: 245 halaman
ISBN: 979-1141-08-8

Blurb:
Mitsuko adalah gadis berusia tiga belas tahun di Jepang abad kedua belas. Layaknya gadis bangsawan lain, dia hidup di balik tirai kesopanan.

Hidupnya berubah ketika keluarganya diserang pemberontak dan kakak iparnya dibunuh. Dengan bantuan tengu – manusia gagak – dan mahluk lain dalam mitos Jepang, Mitsuko melakukan perrjalanan demi menolog keluarganya.
**

“Buku ini mengajarkan tentang persaudaraan, persahabatan, dan kejujuran melalui setiap kejadian yang dihadapi Mitsuko. Sebuah pelajaran untuk menjadi dewasa dan mandiri.” – Majalah Gogirl!

“Petualangan Mitsuko berrhasil membungkus sejarah dan imajinasi dalam kemasan yang menarik.” – Majalah Kawanku

“Racikan yang tepat antara sejarah dan mitologi membuat novel ini sangat menegangkan.” – Publishers Weekly
**

Review:
Adik kecil dari bumi
Betapa teguh perasaan batu-batu itu di bawah kakiku yang berkasut hingga gempa bumi…

Mitsuko. Tokoh utama dalam novel ini menceritakan masa lalunya saat ia berumur tiga belas tahun. Dimulai ketika acara Jamuan Air Berkelok di Festival Ular, dimana para putra putri keluarga bangsawan saling berbalas puisi yang ditulis di kertas dan mengapungkannya dengan perahu kayu.
Mitsuko sangat kagum pada kepiawaian kakak sulungnya, Amaiko. Selain pandai membuat puisi, Amaiko sangat cantik dan anggun, sehingga banyak laki-laki yang menyukainya.
Semenjak Festival Ular, Mitsuko memiliki nama panggilan baru, yaitu Genangan air/ genangan kecil.

“Meskipun aku merasa seperti katak memandang bangau, tetapi aku tidak iri. Aku merasa puas bahwa takdir mengizinkan aku berada di dekatnya, mendengar dia tertawa serta mencaciku dengan senyuman; memerhatikan tangannya bergerak laksana daun mengapung di Sungai Kamo.” – Mitsuko (page 7)

Kakak perempuan kedua dan ketiga Mitsuko adalah Kiwako dan Sotkoko yang berumur lima belas tahun, mereka kakak yang baik, tapi begitu penakut dan banyak bicara. Adik laki-lakinya yang paling kecil masih berumur tiga bulan, namanya Yusho.

Tak butuh waktu lama, Mitsuko menceritakan kakak pertamanya telah menikah dengan seorang bangsawan, pemuda yang tampan, bernama Koga No Yugiri.

Pastilah ada suatu alasan mengapa Mitsuko menjadi narator dalam cerita ini, dimana konflik akhirnya datang saat kebahagiaan pernikahan kakaknya. Isu pembakaran istana oleh biarawan Hiei, membuatnya gusar, sampai akhirnya ia memberanikan diri bertanya pada seorang penjual kue keliling saat melewati kediamannya. Padahal sebagai bangsawan, dilarang untuk bebicara dengan orang asing, apalagi memperlihatkan wajahnya.
Mochi, gadis yang memanggilnya genangan air di gunung, sementara gadis itu menyebut dirinya sendiri burung.

Benar, istana kaisar Fujiwara akan dibakar oleh para biarawan hiei, betapa sedihnya Mitsuko karena tidak ada satupun orang di istana yang menceritakan masalah ini.

“Ada hal-hal yang tak boleh didengar wanita terhormat.”

Sampai akhirnya, keluarga mereka harus mengungsi keluar dari kota Heian Kyo, tetapi ayahnya tetap tinggal untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang kaisar. Menuju pondok Gunung di Tamba, Mitsuko dan keluarganya dihadang prajurit biarawan, kakak iparnya, Yugiri yang memang ikut dalam perjalanan mengawal keluarganya tewas terbunuh saat melawan prajurit dari gunung Hiei itu.

Seakan cobaan tidak ada habisnya datang bertubi-tubi, pondok tempat tinggal yang direkomendasikan ayahnya ternyata sebuah gubuk yang tak terurus. Amaiko berubah pucat bak mayat hidup setelah kehilangan suaminya. Tak mau bicara, menangis pun tidak. Hanya diam, diam, dan diam. Mitsuka dan ibunya merasa khawatir, sampai akhirnya bantuan datang dari Lord Tsubashima, seorang kerabat jauh yang memang akan menyambutnya saat datang ke pondok.
Rahib Dento membantu mengobati Amaiko dari roh jahat, tapi tak ada hasilnya, Amaiko tetap bersikap sama. Rohnya sendiri seperti pergi jauh mencari suaminya.

Bak raja datuk maringgi, Lord Tsubashima yang memilki kekuasaan di wilayah sekitar tempat tinggal, menyuruh mereka untuk pindah ke istananya, mereka akan dijamin hidupa layak, dan diberi pelindungan yang aman. Hanya dengan syarat putri bangsawan Fujiwara mau menikah dengan putra raja Lord Tsubashima.

Mitsuko yang tidak mau itu terjadi, melarikan diri membawa Amaiko di tengah malam. Mempertemukannya dengan tengu, manusia gagak. Namanya Goranu.

Tengu tidak beriman, mendengar cerita Mitsuko ia mau membantunya karena biarawan itu musuh bunian.

Dari sinilah petualangan Mitsuko mencari visi bersama Goranu untuk mencari roh kakak iparnya, agar Amaiko bisa sembuh.
Disini aku suka dengan tokoh Goranu, meskipun dia tengu, dia bisa baik dengan caranya sendiri, tanpa harus berpura-pura apalagi meninggalkan kesan jahatnya. Sekalipun dia hebat, bisa membawa terbang Mitsuko ke alam manapun, tapi tetap saja yang namanya tengu punya kelemahan, dia tidak bisa bertahan di tempat yang suci, seperti kuil dan surga.

Aku juga suka dengan tokoh Mitsuko yang mandiri, yang membuat pandangan seseorang terhadap bangsawan tidak lagi seperti ada sekat yang memisahkan si kaya dan si miskin. Sifat Mitsuko tidak dibuat-buat sok baik terhadap Mochi, dia melakukannya dengan alasan yang logis.

Banyak sekali puisi-puisi dalam novel ini, aku sedikit tidak nyaman, mungkin karena tidak terbiasa membaca puisi, apalagi puisi sastra Jepang.

Untuk keseluruhan aku cukup suka dengan novel ini, selain karena berlatar Jepang juga karena tokoh-tokohnya yang terbangun dengan sangat baik.

3 bintang untuk klan Fujiwara 😀

Quotes yang kusukai:

“Aku sadar bahwa aku pun akan merindukan mereka. Benar bunyi peribahasa bahwa jauh dari kerabat adalah kemiskinan yang terparah.” – Mitsuko. (page 128)

Mockingjay (The Hunger Games #3)


Judul Buku: Mockingjay (The Hunger Games #3)
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi
Genre: Fantasy, Romance, Science Fiction, Thriller
Terbit: Cetakan II, Maret 2012
Tebal: 432 hlm
ISBN: 978-979-22-7843-9
Harga: 68.000,-

Blurb:

Katniss Everdeen selamat dari Hunger Games, dua kali. Tapi Katniss belum sepenuhnya aman dari ancaman Capitol meskipun sekarang ia dalam lindungan Distrik 13.

Pemberontakan makin merajalela di distrik-distrik untuk menjatuhkan Capitol. Kini tak ada seorang pun yang dicintai Katniss aman karena Presiden Snow ingin menumpas revolusi dengan menghancurkan Mockingjay… bagaimana caranya.

“Buku terakhir dari trilogi Hunger Games ini adalah yang terbaik. Novel yang dirancang indah dan cerdas pada setiap tingkat.” – Publisher Weekly

“Memesona, memukau, dan mengerikan.” – Los Angeles Times

“Plot cerita ini menegangkan, dramatis, dan seru.” – School Library Journal

“Menegangkan… bahkan orang dewasa ingin buru-buru membacanya hingga tamat.” – USA Today

“Trilogi ini merangkum gerakan politik dari novel 1984, kekerasaan yang tak terlupakan dari A Clockwork Orange, nunsa imajinasi The Chronicles of Narnia, dan daya cipta nan cerdas dari Harry Potter.” – New York Times Book Review
**


***spoiler***
(yang belum baca abaikan ya ;p)

Last series dari Hunger Games, sesuai dengan judulnya, yaitu Mockingjay—yang merupakan simbol pemberontakan bagi Capitol. Dari Catching Fire, adanya Hunger Games Quell adalah untuk meredam pemberontakan, tetapi di seri ketiga ini pemberontakan itu tidak hilang, justru tersulut dengan adanya Mockingjay.

Yap, Katniss Everdeen, masih dengan karakternya yang spontan, yang tidak ingin jadi pion dari kekuasaan Capitol.
Pemberontakan pun benar-benar terjadi di wilayah panem. Distrik 12 hancur, dihujani bom-bom dari Capitol, yang membuat mereka akhirnya harus mengungsi ke distrik 13.

13? Kalau yang sudah baca seri pertama Hunger Games pasti bertanya-tanya, bukankah distrik 13 sudah musnah alias tidak ada lagi?
Benar, dari mulut ke mulut memang seperti itu, kenyataannya pun lahan distrik 13 rata. Lalu dimana 13 itu berada?
Selama ini ternyata distrik yang dianggap sudah hilang itu diam-diam memiliki kekuasaan terpendam, bertahun-tahun mereka telah melakukan persiapan untuk bangkit setelah sekian lama dianggap musnah. Sebenarnya mereka ada dan tinggal dibawah tanah. Wow!
Dengan dipimpin oleh seorang presiden bernama Coin, distrik 13 kembali dengan segenap kekuatan yang telah dibangunnya bertahun-tahun.

Bagaimana hal itu bisa tidak diketahui oleh Capitol dan distrik-distrik lain adalah karena distrik 13 membangun tempat tinggal di bawah tanah. Dan sempat ketahuan saat tahu distrik 13 membawa beberapa pemain Hunger Games Quell kesana saat hujan bom berjatuhan di arena. Hal ini dilakukan 13 sebagai rencana balas dendam menghancurkan Capitol.

Dari sinilah… Hunger Games Quell, Katniss dan Peeta berpisah. Peeta dijadikan tawanan oleh Capitol, sementara beberapa peserta lain banyak yang tewas. Yang selamat hanya Katniss, Finnick, Johanna, dan beberapa yang aku lupa namanya -_- Pun juri Hunger Games, Plutarch (mentor Hunger Games yang juga termasuk perserta), dan Haymitch. Ternyata mereka berdua adalah sekutu dari distrik 13, merekalah yang membawa Katniss dan lainnya kesana. Karena sudah tahu akhirnya akan seperti ini, mereka membentuk prajurit pemberontakan dengan Mockingjay sebagai pionnya.

Gale ikut sebagai prajurit pemberontakan. Katniss ditunjuk sebagai Mockingjay oleh presiden Coin. Akantetapi, Katniss tidak ingin melakukannya, ia sudah lelah dengan semua yang dilakukannya—yang selalu berbuntut kepada orang-orang yang disayanginya yang harus mati. Termasuk Peeta yang dijadikan tawanan dan disiksa oleh Capitol sebagai umpan untuknya. Katniss bersedih, dia terlihat sayang sekali pada Peeta.

“Tanpa keberadaan pria itu tak sanggup membuatku bertahan hidup.” – Katniss (page 357)

Padahal disisi lain, Gale selalu setia mendampinginya. So, seorang pemburu atau tukang roti yang akhirnya dipilih Katniss? x)

Cari tahu jawabannya sendiri, yang jelas Katniss akhirnya menyanggupi akan menjadi Mockingjay, dengan syarat dia bisa membunuh presiden Snow.

Ternyata Presiden Snow yang semakin marah dengan pemberontakan yang disulutkan Distrik 13, menjadikan Peeta sebagai Mutt (seperti zombie), otaknya dicuci, dibuat untuk membenci Katniss dan melupakan masa lalunya.

Lagi-lagi cinta Katniss diuji, dengan menjadi Mockingjay, presiden Coin memrintah prajuritnya yang sekaligus rekan-rekannya sewaktu di Hunger Games untuk membantu meloloskan Peeta dari tangan Capitol. Berhasil. Tapi, melihat Peeta yang sudah kembali dan tinggal bersamanya di 13 tampak seperti orang asing membuat Katniss kecewa apalagi saat ia mendekatinya Peeta nyaris ingin membunuhnya.

#Sigh. Cukup menguras hati dan emosi.

Sekarang Capitol dan distrik 13 beserta distrik-distrik lainnya tengah berperang, saling menghancurkan.
Bikin tegang, emosi, sekaligus tersentuh. Bener-bener panas dingin, apalagi baca berulang-ulang nyanyian Pohon Gantung :3

Sejujurnya dari tiga seri The Hunger Games, Hunger Games #1 yang paling berkesan buatku. Tapi, dengan endingnya… yang… yah… bolehlah, tidak mengecewakan karena manis banget :”)
Kesimpulannya, dari tiga set novel ini aku kasih 5 bintang. Terlebih karena terjemahannya yang bagus, typo nggak banyak, dan nggak menganggu juga.
Masih—karena tokoh-tokohnyalah aku suka dengan novel ini. Rasanya sedih saat menutup halaman terakhir buku ini, artinya aku berpisah dengan banyak orang di distrik-distrik panem.

Tokoh-tokoh yang tidak bisa kusebutkan satu persatu, begitu banyak memberikan pembelajaran yang bermakna. Kepercayaan, rela berkorban, kasih sayang yang tulus, juga kerakusan pada kekuasaan yang hanya akan membuat diri sendiri hancur.

Dari sekian banyak kelebihan novel ini, ada satu hal yang buatku mengganjal, yaitu saat Prim, adik Katniss meninggal. Aku nggak bermaksud ***spoiler***, hanya kejadian Prim tersebut seperti kejapan mata, aku tidak membaca seperti apa detailnya. Apa mungkin karena aku sendiri pada saat itu bacanya kurang fokus. Entahlah… rasanya aku masih sedikit mengganjal saja.
Tapi dengan ending dari bunga prim itu aku jadi mulai ngerasa memang Prim benar-benar udah nggak ada.

Pohon Gantung aku beri 5 bintang.

Quotes yang kusuka:
“Lebih baik tidak menyerah. Butuh kekuatan sepuluh kali lipat untuk bisa menguatkan diri dibandingkan untuk gagal.” – Finnick (page 174)

Ps.
Jujur ini novel sci-fi fantasy yang bikin saya sukaaaa sama genre tersebut, khususnya fantasi. Jadi, sekarang mencoba untuk nggak akan pilih-pilih novel fantasi lagi kali ya… Lol

Review ini diikutsertakan untuk posting bareng bulan November, dengan tema bacaan Thriller/Horror.

Catching Fire (The Hunger Games #2)


Judul Buku: Catching Fire (The Hunger Games #2)
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah:Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi
Genre: Fantasy, Romance, Science Fiction, Thriller
Terbit: Cetakan I, Juli 2010
Tebal: 424 hlm
ISBN: 978-979-22-5981-0
Harga: Rp 58.000,- (Rp 59.000,- u/ cover film)

Api pemberontakan sudah tersulut. Dan Capitol ingin membalas dendam.

Katniss Everdeen berhasil keluar sebagai pemenang Hunger Games bersama Peeta Mellark. Tapi kemenangan itu menyulut kemarahan Capitol. Kemenangan Katniss ternyata membangkitkan semangat pemberontakan di beberapa distrik untuk menentang kekuasaan Presiden Snow yang kejam.

Presiden Snow mengancam Katniss untuk meredakan kegelisahan penduduk distrik dalam Tur Kemenangan. Satu-satunya cara meredam keinginan penduduk untuk memberontak adalah dengan membuktikan bahwa dia dan Peeta saling mencintai tanpa adanya keraguan sedikit pun. Jika gagal, keluarga dan semua orang yang disayangi Katniss menjadi taruhannya…

“Collins berhasil menulis buku kedua yang lebih bagus daripada buku pertama.” – The New York Times

“Buku ini jauh melampaui perkiraanku. Sama serunya dengan The Hunger Games, tapi lebih mengena di hati… luar biasa. Kau bakal rela begadang membacanya.” – Stephenie Meyer, penulis Twilight Saga
**

Setelah di seri sebelumnya Katniss dan Peeta menjadi pemenang. Hidup mereka dijamin oleh pemerintah Capitol, yaitu tinggal di rumah pemenang.
Bahagia bisa berkumpul kembali dengan Prim dan ibunya, serta sahabatnya, Gale. Kembalinya Katniss ke rumah membuat gadis itu melupakan sejenak hubungannya dengan Peeta yang pada kenyataannya hanya sandiwara.
Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama saat pemimpin Capitol, yaitu presiden Snow datang ke rumahnya membawa kabar yang tidak menyenangkan bagi Katniss.

“Tentu saja, kau tidak tahu tentang hal ini. kau tidak punya akses informasi tentang suasana hati distrik-distrik lain. Di sejumlah distrik, mereka memandang muslihatmu dengan buah berry itu sebagai tindakan perlawanan, bukan perbuatan berlandaskan cinta. Dan jika anak perempuan dari Distrik Dua Belas bisa melawan Capitol lalu lolos begitu saja, apa yang menghentikan mereka melakukan usaha yang sama?” – Presiden Snow (page 29)

Peeta yang benar-benar tulus mencintai Katniss sebenarnya tidak ada masalah. Yang jadi permasalahannya justru ada pada Katniss—yang dari awal hanya berpura-pura mencintai Peeta, sebenarnya hatinya masih berharap pada Gale. Hal ini disebutkan Presiden Snow sebagai pemberontakan.
Hingga akhirnya Katniss dan Peeta diikutsertakan lagi dalam Hunger Games, yang diberi nama Quell untuk meredam pemberontakan.
Hunger Games Quell diperuntukkan bagi para pemenang Hunger Games 1-75 yang masih hidup.
Di HG Quell ini romantisme Peeta dan Katniss lebih banyak, tapi cukup dramatis dibandingkan Hunger Games #1.
Aku semakin suka dengan Peeta yang menunjukkan rasa cintanya yang tulus untuk Katniss. Berusaha melindungi gadisnya agar tetap hidup.

“… Mimpi-mimpi burukku biasanya tentang kehilangan dirimu,”
“Aku baik-baik saja setelah aku sadar kau ada disini” – Peeta (page 100)

Hal ini buat aku terharu, Katniss pun demikian, hingga dia sadari juga bahwa ia ingin melindungi Peeta. Meskipun, aku nggak bisa menghakimi dia karena sudah memberi harapan pada Peeta dengan sandiwaranya. Uh!
Aku pun sedikit sebal di Hunger Games #1 karena Katniss tidak peka dengan perasaan Peeta, mungkin Katniss tidak tahu bahwa Peeta benar-benar tulus mencintainya, tanpa tahu sandiwara itu. Dia malah lebih memilih kembali kepelukan Gale, sampai-sampai HG Quell ini harus ada, karena Katniss dianggap sebagai pemberontak dengan simbol yang disematkan padanya, yaitu Mockingjay.

Yeah, Capitol is damn sick!!!

Kekuasaan Capitol tidak bisa membuat Katniss berkutik. Oke, disini aku cukup berempati padanya, bagaimana Katniss bisa menghadapi Hunger Games Quell dengan mengerahkan segala kemampuannya untuk bertahan hidup dan melindungi Peeta.

Yang kusuka dari novel ini, selain romantisme Katniss dan Peeta, aku pun menyukai bagaimana penulis memberikan gambaran tentang pakaian yang dipakai Katniss dan Peeta setiap kali akan bermain dalam Hunger Games. Tokoh-tokoh lainnya yang unik juga seperti mentor-mentor di Hunger Games, Haymitch, si tukang mabok, tapi waras kalau sudah menghadapi arena HG, juga ada desainer Katniss, yaitu Cinna yang ngemong banget.
Peserta-peserta HG Quell pun tak kalah ambisius dari Hunger Games sebelumnya. Arena Quell ini semakin mendebarkan dan berdarah-darah.
Kehadiran Finncik, Beetee, Johanna sebagai sekutu Katniss dan Peeta di HG Quell pun memberikan kesan yang baru di arena, mereka lebih kuat dan berani (Jelas saja, mereka itu kan para pemenang HUnger Games terdahulu) Dengan adanya sekutu, penonton mungkin akan ingat pada Rue, sekutu Katniss yang meninggal di HG #1. Di Catching Fire tidak kalah mengharukan sekutu-sekutu itu mampu berkorban x(

Seperti di seri pertama, terjemahan novel seri kedua ini rapi, enak dibaca, typo ada tapi tidak mengganggu.

At least, pelajaran yang bisa diambil dari buku kedua ini, menurutku bahwa dari zaman dulu hingga sekarang yang namanya pemimpin selalu punya kuasa untuk mengatur rakyatnya. Punya wibawa yang ‘ditakuti’. Hanya tentu saja tergantung bagaimana si pemimpin itu sendiri, apakah kepemimpinannya itu benar, seperti menegakan hukum yang adil dengan pertimbangan yang tidak berat sebelah hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan seharusnya untuk kepentingan bersama.
Atau jauh dari benar, seperti di Capitol misalnya, Snow merupakan penguasa yang diktator, yang tidak pandang bulu untuk membuat siapa saja yang mencoreng tahta kepemimpinannya akan membuat hidup si pemberontak itu menderita, bahkan jika harus mengorbankan banyak orang disekelilingnya.

Mampukah Katniss melindungi keluarganya, termasuk Gale dan Peeta? x)

4,5 bintang untuk Gadis yang terbakar, Katniss.

lain-lain:
cover novel Catching Fire terbaru versi film 🙂

Katniss Everdeen yang diperankan Jennifer Lawrence. Filmnya sudah tayang loh bulan November ini di bioskop, tepatnya dirilis 21/22 November kemarin 😀

Catching Fire movie

(source pic: google)

The Hunger Games #1


Judul Buku: The Hunger Games #1
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah:Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi
Genre: Fantasy, Romance, Science Fiction, Thriller
Terbit: Cetakan I, Oktober 2009
Tebal: 408 hlm
ISBN: 978-979-22-5075-6
Harga: 58.000

Dua puluh empat peserta.
Hanya satu pemenang yang selamat.

Amerika Utara musnah sudah. Kini di belasnya berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas distrik.
Katniss, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12.

Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televisi The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah: membunuh atau dibunuh.

Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games. Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.
**

Katniss Everdeen, gadis pemburu yang hampir setiap hari pergi ke hutan untuk mencari binatang buruan untuk ia tukarkan dengan uang atau makanan layak di kota. Terkadang hasil tangkapannya pun ia makan sendiri untuk keluarganya. Hidup sebagai tulang punggung keluarga adalah tanggung jawabnya. Ibunya depresi semenjak ayahnya meninggal, sementara adiknya, Prim, masih terlalu muda. Dan ia sangat sayang pada adiknya melebihi siapapun.
Gale adalah sahabat Katniss, teman berburunya. Gale sudah seperti kakak baginya, tapi perasaan nyaman dan menenangkan membuat Katniss menginginkan sesuatu yang lebih dari hubungan sebagai partner berburu. Tapi, itu semua masih sekedar harapan.

“Aku ingin melakukan sesuatu, disini, sekarang, membuat mereka bertanggung jawab, menunjukkan pada Capitol bahwa apa pun yang mereka lakukan atau mereka paksakan pada kami, ada bagian dari setiap peserta yangtak dapat mereka miliki. Bahwa Rue lebih dari sekedar poin dalam permainan mereka. Dan aku juga bukan.” – Katniss (page 261)

Seru, keren, menantang, tapi juga mengharukan dengan bumbu romance yang membuat siapapun pasti bakal nagih bacanya, termasuk aku.

Kompetisi yang tidak biasa, membunuh atau dibunuh. Setiap Distrik wajib mengirimkan dua peserta (laki-laki dan perempuan). Dari kedua belas distrik, didapat dua puluh empat peserta yang akan bertarung, saling mengalahkan, meskipun dari distrik yang sama sekalipun. Karena hanya akan ada satu pemenang. Satu orang yang hidup dalam acara Hunger Games ini.

Hunger Games merupakan acara besar yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga Panem-Capitol, tapi juga merupakan hal yang paling ditakuti, karena bagi anak yang berusia dua belas tahun ke atas, mereka harus mendaftarkan diri sebagai peserta Hunger Games. Bagi mereka warga miskin, bisa mendapatkan tessera (mendaftarkan lebih dari satu nama undian, berkali-kali lipat jumlahnya untuk ditukarkan dengan makanan bagi keluarganya−−jika dia terpilih sebagai peserta). Salah satunya adalah Katniss dan Gale yang memiliki nomor undian paling banyak. Kemungkinan untuk menjadi peserta cukup besar peluangnya, dan Katniss sudah siap dengan resiko itu. Akantetapi, pada akhirnya nama Prim, adiknya yang dimuncul dari undian. Katniss tidak bisa membiarkan hal itu, ia pun mengajukan diri sebagai peserta−−menggantikan adiknya. Semua orang merasa tergugah dengan kerelaan Katniss. Dan, anak laki-laki yang terpilih adalah Peeta (anak dari tukang roti) yang mengingatkan Katniss akan masa lalu, ketika anak laki-laki itu pernah menolongnya, dan ia masih merasa berhutang budi sampai saat ini.

Satu tim bersama orang yang sudah pernah menolongnya, lalu apa yang harus Katniss lakukan di dalam kompetisi ini? Di satu sisi ia harus menang dengan membunuh kedua puluh tiga peserta.

Yang paling buat aku nggak bisa lepas dari novel ini adalah pengakuan Peeta yang mengejutkan, ternyata dia menyukai Katniss, padahal nih Peeta cuek-cuek dingin gitu. Makanya Katniss nggak sadar-sadar kalau Peeta beneran suka. Hwaa semakin dilema…
Bagaimana akhir dari kompetisi ini, apakah Katniss bisa menang (dengan membunuh Peeta) atau malah ia yang dibunuh (mengingat peserta dari distrik 1,2,3 yang kuat dan memiliki banyak sponsor).

“Dengan caraku sendiri, aku akan mati, tapi tak terkalahkan,” – Katniss (page 315)

Dengan sudut pandang orang pertama, ceritanya enak sekali dibaca, terjemahannya oke. Nyaris bersih dari typo.

Novel ini tidak hanya sekedar fiksi fantasi yang berbumbu thriller dan romance. Tapi, Hunger Games ini memberikan pembelajaran tentang kehidupan, seperti kekeluargaan, kepercayaan, kekuasaan, persahabatan, dan cinta.
Kekuasaan pemerintah yang−−well−−kita tahu siapa yang berkuasa akan bisa mengatur segalanya. Termasuk Capitol−−yang ish bikin emosi kita terkuras habis.
Suspense yang menarik diending buku #1 buat aku penasaran dengan kisah Katniss dan Peeta selanjutnya… Next to read Hunger Games: Catching Fire #2

5 bintang untuk Hunger Games

Tentang Penulis:
Sejak tahun 1991 Suzanne Collins bekerja sebagai penulis televisi untuk program anak-anak. Belakangan ia juga dikenal sebagai penulisnovel fantasi remaja dengan beberapa serialnya yang sukses termasuk The Hunger Games.

Saat ini ia tinggal di Connecticut with bersama keluarganya dan sepasang kucing yang dipungut dari halaman belakang rumah mereka.

Lainnya:
PUBLISHER WEEKLYS BEST BOOKS OF THE YEAR
NEW YORK TIMES NOTABLE CHILDREN’S BOOK OF 2008
Selain mendapatkan banyak penghargaan dan apresiasi yang bagus dari para pembaca, novel ini juga diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama The Hunger Games, pada tahun 2012. Yang diperankan oleh Jennifer Lawrence dan Josh Hutcherson.

The Mark Of Athena #3


Judul Buku: The Mark Of Athena #3
Penulis: Rick Riordan
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Noura Books (Mizan Fantasi)
Genre: Fiksi, Fantasi
Terbit: Cetakan I, Oktober 2012
Tebal: 604 halaman
ISBN: 978-979-433-740-0
Harga: Rp 79.000,-

Ikuti Tanda Athena.
Balaskan dendamku

Rencana Annabeth menjemput Percy dengan damai ternyata gagal dilakukan. Leo mengacau dan membuat Perkemahan Jupiter memburunya. Namun, misi Ramalan Tujuh haeus tetap dilaksanakan. Dibayangi kejaran para mata-mata dan pasukan demigod Roma, Percy, Frank, Hazel, Jason, Piper, Leo, dan Annabeth tetap berusaha mencegah rencana jahat Gaea, berlayar menuju negeri kuno di Roma.

Dalam perjalanan penuh tantangan itu, Annabeth yang baru saja merasakan sedikit kebahagiaan setelah bertemu Percy, menyimpan kegalauan. Titah sang Ibu, Athena, untuk mengikuti tanda Athena dan menghancurkan Roma terus membebaninya. Haruskah dia mengkhianati Percy dan teman-teman Rima barunya demi mengikuti Tanda Athena?

Bersama empat narator, Mark of Athena akan membawa kita ke dalam petualangan melintasi angkasa dan samudra yang penuh jebakan dan teror mengerikan.

“Buku ini akan membuat kalian melupakan Hunger Games… kau tidak akan bisa berhenti membacanya.” – Team Leo, Amazon.com
**

Dalam novel ini ada tujuh demigod yang bertualang mengarungi samudra Atlantik dari Perkemahan Jupiter menuju negeri kuno di Roma. Perjalanan ini semata-mata untuk mengikuti tanda Athena, mencari sesuatu yang dulu direbut oleh bangsa Romawi dari Yunani.

Yang merencanakan segala sesuatunya adalah Gaea, sebelum dia bangun–anak-anaknyalah yang menghadapi para demigod, si kembar raksasa Ephialtes dan Otis, serta Phorcys dan Keto. Dan sebelum menghadapi mereka banyak juga para monster dan raksasa yang merintangi jalan Annabeth dan kawan-kawan.

Sebelum itu terjadi, Annabeth yang berlayar ke Roma baru untuk berunding dengan bangsa Romawi (berhadapan dengan Reyna, mantan koleganya yang sekarang menjadi bagian dari demigod adalah Jason. Karena dulu Hera yang menculik Percy untuk barter dengan Jason.

“Ada aroma pengkhianatan dalam semua ini,” – Octavian (page 31)

“Ada legenda lama yang disampaikan turun-temuun selama berabad-abad oleh praetor Perkemahan Jupiter. Jika benar, mungkin legenda tersebut dapat menjelaskan apa sebabnya dua kelompok demigod tak pernah bisa bekerja sama. Mungkin itulah sebabnya kita bermusuhan. Menurut legenda, sampai perselisihan lama tersebut dituntaskan, bangsa Romawi dan Yunani takkan pernah berdamai. Nah, legenda itu berpusat pada Athena–” – Reyna (page 44)

Dalam perundingan itu malahan Leo salah satu demigod yang merupakan teman Annabeth menembaki Perkemahan Jupiter dengan Argo II. Hal ini memicu memicu peperangan lagi antara Yunani dan Romawi–yang nampaknya akan terus berlanjut dan tanda Athena pun benar-benar harus diikuti.

Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga dengan empat narator, yaitu Annabeth, Percy, Leo, dan Piper.
Aku suka bagaimana keempat narator tersebut bisa menggambarkan ketiga tokoh yang lain, seperti Jason, Hazel, Frank, tak lupa juga pak Pelatih Hedge, yang perannya sama-sama kuat dan saling melengkapi.
Secara subjektif aku paling suka dengan tokoh Annabeth, Percy, dan Leo. Untuk pasangan Annabeth dan Percy–jelaslah mereka pasangan heroik, yang bikin iri :p
Kalau Leo–dia tuh konyol abis. Pedean, ceplas-ceplos, paling ngehibur kalau baca bab yang naratornya dia. Apalagi saat petualangannya bersama Hazel bertemu Ny. Narcissus. Leo membentuk tim sendiri untuk mengalahkan kenarsisan Narcissus–dengan tato di lengannya serta kaus yang dikenakannya bertuliskan COWOK KEREN, JAGOAN, dan TIM LEO. LOL XD

Yang paling disayangkan adalah tokoh Reyna yang dari awal muncul, namun sampai di akhir tidak ada ceritanya lagi. Disinggung-singgung pun hanya sedikit. Apa memang kemunculannya akan ada lagi di seri ke 4? Well, kita tunggu saja seri selanjutnya 😀 penasaran dan gak sabar.
Meskipun belum baca seri #1 dan #2 tapi tidak membuat bingung langsung loncat ke seri #3.

Dari segi cover bagus, gak kalah dengan cover aslinya.

Dari ukuran font dan terjemahan juga rapih. Typo hanya ada satu,dua, itu pun tidak terlalu mengganggu.
Novel ini memang pantas jadi bestseller 😀

Aku kasih 5 bintang untuk demigod.

Quotes yang kusukai:
“…Nasib mujur cuma bualan. Roda keberuntungan layaknya arisan beruntun. Kesuksesan sejati menuntut pengorbanan.” – Nemesis (page 75)

“…bahwa orang-orang melihat hal yang ingin mereka lihat. Mereka tidak butuh Kabut untuk membengkokkan persepsi mereka.” (page 416)

“Menjadi pahlawan bukan berarti tidak terkalahkan. Menjadi pahlawan artinya berani berjuang dan melakukan apa saja yang harus dilakukan.” – Piper (page 492)

“Itulah gunanya teman. Kita semua punya kekuatan yang berbeda-beda. Bersama-sama, kita akan memecahkan segalanya.” – Piper (page 492)

Tentang Penulis:
Richard Ruseell “Rick” Riordan, Jr., lahir di San Antonio, Texas, 5 Juni 1964. Dia adalah penulis seri Percy Jackson and the Olympians, Kane Chronicles, dan The Heroes of Olympus. Dia lulus dari Universitas Texas di Austin pada 1986, tempat dia mendalami Bahasa Inggris dan Sejarah. Selama lima belas tahun, dia mengajar di sekolah-sekolah di California dan San Antonio. Rick sangat suka membaca, berenang, bermain gitar, dan bertualang bersama keluarganya. Dia juga suka menemani anaknya bermain video games.

Saat ini lebih dari 30 juta eksemplar karyanya telah terjual di Amerika Serikat dan diterbitkan di lebih dari 35 negara di dunia. SEkarang Rick Riordan menjadi penulis full time. Dia tinggal di San Antonio bersama istri dan dua anaknya.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang Rick Riordan dan para demigod, kunjungi http://www.rickriordan.com

The Bliss Bakery Trilogy #1


Judul Buku: The Bliss Bakery Trilogy #1
Penulis: Kathryn Littlewood
Penerjemah: Nadia Mirzha
Penerbit: Mizan (Mizan Fantasi)
Genre: fiksi, fantasi
Terbit: Cetakan I, November 2012
Tebal: 320 halaman
ISBN: 978-979-433-690-8
Harga: Rp 49.500,-

Musim panas itu, Rosemarry Bliss melihat ibunya mengaduk halilintar ke dalam semangkuk adonan dan semakin yakin bahwa orangtuanya menggunakan sihir di Toko Roti Bliss. Rahasianya ada pada sebuah buku resep BLiss Cookery Booke.

Namun, apa jadinya jika Rose dan Ty memutuskan bereksperimen dengan beberapa resep saat orangtua mereka pergi? Yah, beberapa Muffin Asmara dan Cookie Kebenaran sepertinya tak akan menimbulkan masalah bukan?

“Kisah yang lezat dan penuh petualangan mendebarkan…”
-Tracy Grant, Washington Post

**

Novel ini mengambil sudut pandang orang ketiga, dengan tokoh utama bernama Rose, usianya baru sebelas tahun.
Rose adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya yang tampan bernama Ty, dan adik laki-lakinya yang berpipi gembil bernama Sage, sementara adik yang terakhir, perempuan, bernama Leigh, usianya tiga tahun.
Disini aku tidak tahu jelas, Ty dan Sage berumur berapa, sepertinya tidak beda jauh beberapa tahun dari Rose. Karena mereka berdua juga masih sekolah.

Orangtua mereka, Albert dan Purdy adalah seorang ahli membuat kue. Rumah yang merangkap sebagai Toko Kue Bliss itu tinggal di kota kecil bernama Calamity Falls.

Kue buatan Albert dan Purdy diakui kehebatannya oleh para konsumen yang kadang sekaligus berkonsultasi dengan masalah mereka (ini toko kue apa tempat konsultasi ya). Tapi, mereka tidak tahu yang sebenarnya bahwa kue yang dibuat oleh Toko Kue Bliss itu ada sihirnya. Bahwa yang orang-orang tahu, bahkan anak mereka sendiri–kue-kue Bliss adalah kue biasa.

Sampai akhirnya Rose tahu bahwa kue yang dibuat orangtuanya ternyata dibuat dengan bahan-bahan yang tidak biasa. Semua resep itu tercatat di Cookery Booke. Cookery Booke yang disimpan di tempat yang tersembunyi di rumah mereka. Di kunci di dalam ruang pendingin yang hanya Albert dan Purdy yang bisa memasukinya.

Rose merasa kecewa dengan hal yang ditutup-tutupi orangtuanya. Mereka tidak melibatkan Rose ataupun kakak dan adik-adiknya. Untuk Ty sih mungkin saja dirahasiakan, karena Ty memang tidak suka ikut membantu membuat kue, begitu juga Sage dan Leigh yang lebih suka bermain. Tapi, untuk Rose yang memang sangat mengabdikan diri sekali dengan toko kue Bliss merasa diabaikan/tidak berguna.
Saudara-saudara kandungnya pun seperti tidak mempedulikannya. Rose merasa sangat biasa-biasa saja dibandingkan mereka.
Rose yang tidak berparas cantik dan berpenampilan menarik, dan juga tidak terkenal–merasa buruk sendiri. Apalagi laki-laki yang ditaksirnya, Devin Stetson tidak mengenalnya.

Perasaan seperti itu ada batasannya juga. Hingga kesempatan itu benar-benar ada. Kesempatan untuk membuktikan pada orangtuanya serta saudara-saudaranya bahwa ia hebat dan sangat patut untuk dibanggakan.

Kebetulannya, kunci ruangan tempat disimpannya buku resep itu dititipka pada Rose. Meski begitu tentu saja orangtuanya melarang Rose atau siapapun untuk membukanya.

Dipatuhi? sayangnya tidak.
Dari sinilah petualangan membuat kue dengan sihir dimulai, tanpa keahlian dan pengalaman membuatnya−−semuanya berjalan tidak mudah.

Di tengah situasi seperti ini datang seorang yang mengaku bibi mereka, keluarga dari kakek buyut-buyut-buyut. Namanya Lily.
Ty, Sage, dan Leigh percaya pada bibi Lily. Tapi, Rose tidak sepenuhnya mempercayai. Dia takut orang yang mengaku bibi mereka itu hanya datang karena ingin mengambil Cookery Booke.

Kocak, seru, kue-kue ajaibnya absurd xD

Karakter-karakternya kuat, sebut saja Rose si tokoh utama yang memiliki banyak kekurangan, sangat berbeda dengan tokoh-tokoh utama heroin pada umumnya.
Dia berkepribadian yang pekerja keras. Sama halnya dengan gadis pada umumnya, yang ingin tampil cantik, menarik, dan terkenal. Rose tumbuh menjadi anak yang cukup cerdas dan berambisi ingin melakukan apapun agar dia menjadi disukai banyak orang. Karena selama ini dia merasa tidak percaya diri dengan fisiknya. Untuk kelebihannya dia memiliki tanggungjawab yang tinggi.

“Rose merasa bersalah membayangkan betapa dia telah melanggar semua peraturan orangtuanya. Tujuannya minggu ini hanyalah membuktikan kepada orangtuanya bahwa dia layak mendapatkan kepercayaan mereka, layak menggunakan buku masak keluarga, juga layak menjadi pembuat roti yang sejati.” (page 213)

Ty, cowok yang tampan bak model majalah itu orangnya sedikit angkuh. Ya, wajar saja dia memang tampan. Dia juga sedikit malas untuk bantu-bantu di toko kue. Mungkin takut ketampanannya tidak bersinar. lol

“Kenapa aku harus membantu? Itu kan, tanggung jawab Rose.” – Ty (page 38)
*pengin ngejitak Ty, ganteng-ganteng kok males :p

Sage, versi Ty yang pendek dan berpipi gembil punya kepekaan yang tinggi dengan keadaan di sekelilingnya. Dia juga selalu ingin dilibatkan. Si selalu ingin tampil, yang membuat Rose agak kurang percaya dengan apa yang dilakukan Sage.

“Rose. Kupikir sebaiknya kau membiarkan Sage memegang kunci itu. Dia ingin diperlakukan dengan serius. Kalau kau tak mulai memercayainya sekarang, dia tak akan pernah bertanggung jawab atas apa pun.” – Lily (page 196)

Leigh, si kecil yang menggemaskan, suka bermain di dapur tempat membuat kue. Dia juga suka sekali membawa kamera polaroidnya yang ia kalungkan di leher.

Lily, wanita yang sangat sempurna dimata Rose, karena dia cantik, terkenal, dan berpenampilan menarik. Pandai memasak dan membuat kue pula.
Lily adalah sosok dewasa yang diimpikan Rose. Kelak Rose ingin menjadi seperti dia.
Lily sangat pandai mengambil hati orang, Ty dan Sage saja bertekuk lutut memujanya. Rose pun sempat goyah dengan pendiriannya yang awalnya menjudge Lily adalah penipu.

“Rose, aku mengerti bagaimana rasanya saat semua orang mengunggulimu, rasanya kau ingin berteriak meminta perhatian mereka. Dulu aku orang yang biasa-biasa saja–lalu aku menemukan bakatku dalam membuat roti. Kau dan aku, kita sama-sama membuat roti karena kita senang melakulannya, tapi kita juga membuat roti karena kita ingin menjadi luar biasa. Dan terkadang, saat kau berusaha menjadi luar biasa, kau melangkah terlalu jauh…” – Lily (page 213)

“…Ingatlah bahwa bagian kehebatan itu aalah mengakui bahwa kau membuuhkan bantuan.” – Lily (page 226)

Dan masih banyak tokoh pendukung lainnya yang sangat berperan membangun karakter utama menjadi hidup, seperti Chip, Mrs. Carlson, Mrs. Havegood, Mr. Bastable, Miss Thistle, Ashley Knob, dan masih banyak lagi.

Recomended sekali buku ini untuk anak-anak dan remaja-dewasa sekalipun. Novel yang sangat lezat dan bikin nagih untuk baca sampai habis. Sayangnya untuk beberapa adegan/kata cium−−menurutku seharusnya jangan ada. Kan ini buku anak-anak. Menurutku ini sebagai kekurangan dari jati diri novel yang bergenre anak-anak.

Diluar segi cerita, kelebihan novel ini adalah segi terjemahannya yang enak dibaca, dan ukuran fontnya yang besar sangat nyaman dimata. Covernya juga bagus banget, lebih bagus dibandingkan cover aslinya.

Pelajaran yang bisa diambil dari novel ini adalah tentang keajaiban yang sesungguhnya. Sejatinya yang ada hanyalah keajaiban dalam diri seseorang untuk mau berubah, berkembang, dan menyembuhkan diri, tanpa bantuan sihir sama sekali. Itulah keajaiban yang sebenarnya 😀

3 bintang untuk Cookery Booke.

Tentang Penulis:

Kathryn Littlewood adalah penulis, aktris, komedian, dan bon vivant yang tinggal di New York. Dia sering kali bekerja di Los Angeles, suka makanan manis seperti pain de chocolat dan punya novel yang mania untuk para pembacanya.

SeoulMate is You

Judul Buku: SeoulMate is You
Penulis: Lia Indra Andriana
Penerbit: Penerbit Haru
Genre: Fiksi, Romance, Fantasy
Terbit: Cetakan I, Mei 2012
Tebal: 320 halaman
ISBN: 979-602-98325-5-6
Harga: Rp. 45.000,-

Jika kebenaran itu beresiko, mampukah kau mengatakannya?

Sebagai seseorang yang diberi kemampuan bisa melihat hantu, diikuti oleh seorang hantu adalah hal yang lumrah bagi Kim Sun. Namun saat kekasihnya dibuntuti oleh seorang Hantu Rambut Mie mengerikan siang dan malam, Sun tahu ia harus melindungi kekasihnya itu.

Belum sempat mengusir Hantu Rambut Mie yang suka berteriak itu itu, Siwon—ketua organisasi ‘penyalur hantu’ bernama SeoulMate tempat Sun bekerja—mengatakan bahwa ada sebuah organisasi bernama Memory Maker yang berusaha mengacaukan kehidupan hantu dan manusia. Dan sepertinya, kehadiran Hantu Rambut Mie ini berhubungan dengan Memory Maker. Apakah itu artinya kekasih Sun juga ada dalam bahaya?

Sekarang, saatnyalah untuk memberitahu kekasihnya bahwa ia memiliki kemampuan bisa melihat hantu. Tapi, apakah itu langkah yang tepat?

**

SeoulMate is You adalah sequel dari novel SeoulMate. Bagi yang belum baca novel pertamanya gak masalah kok kalau mau baca novel ini, soalnya proposal yang dikisahkan juga baru. Yak, ini masih mengenai proposal, proposal yang harus dikerjakan para mate dan soulnya.

Kali ini Sun mendapatkan proposal−yang ternyata ada sangkut pautnya dengan Ji Woo, atau yang akrab Sun panggil Jang. Kalau yang sudah pernah baca SeoulMate sebelumnya, pasti tahu Jang itu dulunya soul Sun. Dia Pernah menjadi hantu lupa ingatan, tapi akhirnya bisa sadar kembali dari koma dan menjadi Ji Woo yang sekarang jadi pacar Sun.

Ji Woo tidak ingat bahwa dulu dia pernah jadi soul Sun, bahkan rahasia Sun yang bisa melihat hantu saja dia tidak tahu. Disinilah konflik berkembang, dibumbui proposal hantu baru yang ternyata hilang ingatan juga seperti Jang dulu.
Julukan bagi hantu itu adalah hantu berambut mie, karena rambutnya yang keriting pirang kayak mie xD. Nah, sebenarnya masalahnya itu adalah mengapa hantu berambut mie itu mengikuti Ji Woo, padahal Ji Woo tidak bisa berkomunikasi dengan hantu.

Hubungan Sun dan Ji Woo yang awalnya biasa saja, kini harus menghadapi badai ujian *tsah*, kepercayaan dan komunikasi yang tepat telah menguji mereka. Adanya Su Jin dalam kisah mereka pun membuat konflik semakin panas. Sepupu Su Jin, Hwang Tae Kwang yang telah meninggal karena kecelakaan, membuat Ji woo sibuk menenangkan perasaan Su Jin. Sementara Sun sibuk dengan proposalnya. Nah, ada hubungannyakah hantu rambut mie itu dengan kematian Taekwang?

Sebenarnya agak kesal juga sih dengan kedua main cast nya, Jang dan Sun yang seperti jadi orang baru dalam novel ini, watak mereka rasanya beda dari seri sebelumnya.
Mungkin aku masih lebih tertarik dengan kisah hantu berambut mie itu, yang membuatku senang juga−endingnya dia bisa menemukan ingatannya. Juga kisah Arang dengan Dong menurutku malah jauh lebih menarik, daripada kisah Sun dan Jang. Banyak percakapan yang seperti tempelan aka gak terlalu penting dalam ceritanya, tapi tetap keukeuh dimasukkan, jadi kesannya kok garing ya.

Masih ada typo di beberapa halaman, juga ada kesalahan dalam halaman 213, yang paragraf kedua itu harusnya align text justify malah center.
Dari segi cerita novel ini kurang greget(?) tapi, dari ide sebenarnya ini menarik banget. Aku kasih jempol buat mbak Lia. Sangat dinantikan karya selanjutnya..

Aku kasih 2 bintang.