Book Review : Bumi by Tere Liye #1


Publisher: PT Gramedia Pustaka Utama
Published: viii, April 2015
Pages: 440
Genre: Science Fiction, Fantasy
Rating: 5
*
Namaku Raib, usiaku 15 tahun, kelas sepuluh. Aku anak perempuan seperti kalian, adik-adik kalian, tetangga kalian. Aku punya dua kucing, namanya si Putih dan si Hitam.
Mama dan papaku menyenangkan. Guru-guru di sekolahku seru. Teman-temanku baik dan kompak.
Aku sama seperti remaja kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang kusimpan sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan.
Namaku Raib. Dan aku bisa menghilang.

“Buku pertama dari serial Bumi.”
*
Review:
Akhirnya tuntas juga menamatkan bacaan novel setelah lama reading slump. Hmm.. Sebenarnya masih suka baca sih, cuma lama banget ngebangun mood baca sekali duduk. Pilih buku ini itu dengan asal nggak ada yang beres. Emang bener sih, ya.. Mood baca bisa baik kalau kita memulai dengan memilih buku yang disukai. Salah satunya yang akan saya review berikut ini. Continue reading

Advertisements

[Baca Bareng] Book Review: Fly By Night by Frances Hardinge

20150124_080011
Translator: Maria M. Lubis
Editor: Endah Sulwesi
Proofreader: Peni Astiti
Genre: Fantasy, Young Adult, Children: Middle Grade, Adventure, Mystery, Historical Fiction
More: Goodreads
Rating: 3,5

Bercerita tentang seorang gadis berumur dua belas tahun yang tumbuh sebagai seorang yatim piatu-tinggal di Chough bersama Paman dan Bibinya. Mosca Mye namanya. Dia anak yang pemberani dan cerdas. Tidak heran karena ia merupakan anak dari seorang ahli cetak zaman dulu, yang dianggap pemerintah sebagai seorang radikal karena menulis buku yang tidak sejalur dengan pemerintahan. Tapi bagi rakyat, Quillam adalah seorang pahlawan yang sangat dikagumi. Karena banyak bukunya yang ditulis secara blak-blakan-Quillam Mye dihukum, semua bukunya dibakar dan ia pun ikut dibakar bersama bukunya tersebut (yang saya tangkap seperti itu). Continue reading

Twenties Girl


Judul Buku: Twenties Girl
Penulis: Sophie Kinsella
Penerjemah: Nurkinanti Laraskusuma
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan I, Juni 2010
Genre: Romance, Chick Lit, Fantasy, Contemporary
Tebal: 564 halaman
ISBN: 978-979-22-5872-1

Rating: 4 Bintang

Blurb:
Review:

L&N Executive Recruitment adalah bisnis headhunters yang digawangi oleh Lara dan Natalie. Natalie yang merupakan sosok penggagas ide dibangunnya bisnis ini pergi mencampakkan pekerjaannya dan menimpakan semua tugas-tugasnya pada Lara. Continue reading

Mitsuko

mitsuko


Judul Buku: Mitsuko
Judul Asli: Little Sister
Penulis: Kara Dalkey
Penerjemah: Mohammad H
Penerbit: Matahati
Genre: Fantasy, YA, Historical Fiction, Science Fiction
Terbit: Cetakan II, Juli 2007
Tebal: 245 halaman
ISBN: 979-1141-08-8

Blurb:
Mitsuko adalah gadis berusia tiga belas tahun di Jepang abad kedua belas. Layaknya gadis bangsawan lain, dia hidup di balik tirai kesopanan.

Hidupnya berubah ketika keluarganya diserang pemberontak dan kakak iparnya dibunuh. Dengan bantuan tengu – manusia gagak – dan mahluk lain dalam mitos Jepang, Mitsuko melakukan perrjalanan demi menolog keluarganya.
**

“Buku ini mengajarkan tentang persaudaraan, persahabatan, dan kejujuran melalui setiap kejadian yang dihadapi Mitsuko. Sebuah pelajaran untuk menjadi dewasa dan mandiri.” – Majalah Gogirl!

“Petualangan Mitsuko berrhasil membungkus sejarah dan imajinasi dalam kemasan yang menarik.” – Majalah Kawanku

“Racikan yang tepat antara sejarah dan mitologi membuat novel ini sangat menegangkan.” – Publishers Weekly
**

Review:
Adik kecil dari bumi
Betapa teguh perasaan batu-batu itu di bawah kakiku yang berkasut hingga gempa bumi…

Mitsuko. Tokoh utama dalam novel ini menceritakan masa lalunya saat ia berumur tiga belas tahun. Dimulai ketika acara Jamuan Air Berkelok di Festival Ular, dimana para putra putri keluarga bangsawan saling berbalas puisi yang ditulis di kertas dan mengapungkannya dengan perahu kayu.
Mitsuko sangat kagum pada kepiawaian kakak sulungnya, Amaiko. Selain pandai membuat puisi, Amaiko sangat cantik dan anggun, sehingga banyak laki-laki yang menyukainya.
Semenjak Festival Ular, Mitsuko memiliki nama panggilan baru, yaitu Genangan air/ genangan kecil.

“Meskipun aku merasa seperti katak memandang bangau, tetapi aku tidak iri. Aku merasa puas bahwa takdir mengizinkan aku berada di dekatnya, mendengar dia tertawa serta mencaciku dengan senyuman; memerhatikan tangannya bergerak laksana daun mengapung di Sungai Kamo.” – Mitsuko (page 7)

Kakak perempuan kedua dan ketiga Mitsuko adalah Kiwako dan Sotkoko yang berumur lima belas tahun, mereka kakak yang baik, tapi begitu penakut dan banyak bicara. Adik laki-lakinya yang paling kecil masih berumur tiga bulan, namanya Yusho.

Tak butuh waktu lama, Mitsuko menceritakan kakak pertamanya telah menikah dengan seorang bangsawan, pemuda yang tampan, bernama Koga No Yugiri.

Pastilah ada suatu alasan mengapa Mitsuko menjadi narator dalam cerita ini, dimana konflik akhirnya datang saat kebahagiaan pernikahan kakaknya. Isu pembakaran istana oleh biarawan Hiei, membuatnya gusar, sampai akhirnya ia memberanikan diri bertanya pada seorang penjual kue keliling saat melewati kediamannya. Padahal sebagai bangsawan, dilarang untuk bebicara dengan orang asing, apalagi memperlihatkan wajahnya.
Mochi, gadis yang memanggilnya genangan air di gunung, sementara gadis itu menyebut dirinya sendiri burung.

Benar, istana kaisar Fujiwara akan dibakar oleh para biarawan hiei, betapa sedihnya Mitsuko karena tidak ada satupun orang di istana yang menceritakan masalah ini.

“Ada hal-hal yang tak boleh didengar wanita terhormat.”

Sampai akhirnya, keluarga mereka harus mengungsi keluar dari kota Heian Kyo, tetapi ayahnya tetap tinggal untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang kaisar. Menuju pondok Gunung di Tamba, Mitsuko dan keluarganya dihadang prajurit biarawan, kakak iparnya, Yugiri yang memang ikut dalam perjalanan mengawal keluarganya tewas terbunuh saat melawan prajurit dari gunung Hiei itu.

Seakan cobaan tidak ada habisnya datang bertubi-tubi, pondok tempat tinggal yang direkomendasikan ayahnya ternyata sebuah gubuk yang tak terurus. Amaiko berubah pucat bak mayat hidup setelah kehilangan suaminya. Tak mau bicara, menangis pun tidak. Hanya diam, diam, dan diam. Mitsuka dan ibunya merasa khawatir, sampai akhirnya bantuan datang dari Lord Tsubashima, seorang kerabat jauh yang memang akan menyambutnya saat datang ke pondok.
Rahib Dento membantu mengobati Amaiko dari roh jahat, tapi tak ada hasilnya, Amaiko tetap bersikap sama. Rohnya sendiri seperti pergi jauh mencari suaminya.

Bak raja datuk maringgi, Lord Tsubashima yang memilki kekuasaan di wilayah sekitar tempat tinggal, menyuruh mereka untuk pindah ke istananya, mereka akan dijamin hidupa layak, dan diberi pelindungan yang aman. Hanya dengan syarat putri bangsawan Fujiwara mau menikah dengan putra raja Lord Tsubashima.

Mitsuko yang tidak mau itu terjadi, melarikan diri membawa Amaiko di tengah malam. Mempertemukannya dengan tengu, manusia gagak. Namanya Goranu.

Tengu tidak beriman, mendengar cerita Mitsuko ia mau membantunya karena biarawan itu musuh bunian.

Dari sinilah petualangan Mitsuko mencari visi bersama Goranu untuk mencari roh kakak iparnya, agar Amaiko bisa sembuh.
Disini aku suka dengan tokoh Goranu, meskipun dia tengu, dia bisa baik dengan caranya sendiri, tanpa harus berpura-pura apalagi meninggalkan kesan jahatnya. Sekalipun dia hebat, bisa membawa terbang Mitsuko ke alam manapun, tapi tetap saja yang namanya tengu punya kelemahan, dia tidak bisa bertahan di tempat yang suci, seperti kuil dan surga.

Aku juga suka dengan tokoh Mitsuko yang mandiri, yang membuat pandangan seseorang terhadap bangsawan tidak lagi seperti ada sekat yang memisahkan si kaya dan si miskin. Sifat Mitsuko tidak dibuat-buat sok baik terhadap Mochi, dia melakukannya dengan alasan yang logis.

Banyak sekali puisi-puisi dalam novel ini, aku sedikit tidak nyaman, mungkin karena tidak terbiasa membaca puisi, apalagi puisi sastra Jepang.

Untuk keseluruhan aku cukup suka dengan novel ini, selain karena berlatar Jepang juga karena tokoh-tokohnya yang terbangun dengan sangat baik.

3 bintang untuk klan Fujiwara 😀

Quotes yang kusukai:

“Aku sadar bahwa aku pun akan merindukan mereka. Benar bunyi peribahasa bahwa jauh dari kerabat adalah kemiskinan yang terparah.” – Mitsuko. (page 128)

Mockingjay (The Hunger Games #3)


Judul Buku: Mockingjay (The Hunger Games #3)
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi
Genre: Fantasy, Romance, Science Fiction, Thriller
Terbit: Cetakan II, Maret 2012
Tebal: 432 hlm
ISBN: 978-979-22-7843-9
Harga: 68.000,-

Blurb:

Katniss Everdeen selamat dari Hunger Games, dua kali. Tapi Katniss belum sepenuhnya aman dari ancaman Capitol meskipun sekarang ia dalam lindungan Distrik 13.

Pemberontakan makin merajalela di distrik-distrik untuk menjatuhkan Capitol. Kini tak ada seorang pun yang dicintai Katniss aman karena Presiden Snow ingin menumpas revolusi dengan menghancurkan Mockingjay… bagaimana caranya.

“Buku terakhir dari trilogi Hunger Games ini adalah yang terbaik. Novel yang dirancang indah dan cerdas pada setiap tingkat.” – Publisher Weekly

“Memesona, memukau, dan mengerikan.” – Los Angeles Times

“Plot cerita ini menegangkan, dramatis, dan seru.” – School Library Journal

“Menegangkan… bahkan orang dewasa ingin buru-buru membacanya hingga tamat.” – USA Today

“Trilogi ini merangkum gerakan politik dari novel 1984, kekerasaan yang tak terlupakan dari A Clockwork Orange, nunsa imajinasi The Chronicles of Narnia, dan daya cipta nan cerdas dari Harry Potter.” – New York Times Book Review
**


***spoiler***
(yang belum baca abaikan ya ;p)

Last series dari Hunger Games, sesuai dengan judulnya, yaitu Mockingjay—yang merupakan simbol pemberontakan bagi Capitol. Dari Catching Fire, adanya Hunger Games Quell adalah untuk meredam pemberontakan, tetapi di seri ketiga ini pemberontakan itu tidak hilang, justru tersulut dengan adanya Mockingjay.

Yap, Katniss Everdeen, masih dengan karakternya yang spontan, yang tidak ingin jadi pion dari kekuasaan Capitol.
Pemberontakan pun benar-benar terjadi di wilayah panem. Distrik 12 hancur, dihujani bom-bom dari Capitol, yang membuat mereka akhirnya harus mengungsi ke distrik 13.

13? Kalau yang sudah baca seri pertama Hunger Games pasti bertanya-tanya, bukankah distrik 13 sudah musnah alias tidak ada lagi?
Benar, dari mulut ke mulut memang seperti itu, kenyataannya pun lahan distrik 13 rata. Lalu dimana 13 itu berada?
Selama ini ternyata distrik yang dianggap sudah hilang itu diam-diam memiliki kekuasaan terpendam, bertahun-tahun mereka telah melakukan persiapan untuk bangkit setelah sekian lama dianggap musnah. Sebenarnya mereka ada dan tinggal dibawah tanah. Wow!
Dengan dipimpin oleh seorang presiden bernama Coin, distrik 13 kembali dengan segenap kekuatan yang telah dibangunnya bertahun-tahun.

Bagaimana hal itu bisa tidak diketahui oleh Capitol dan distrik-distrik lain adalah karena distrik 13 membangun tempat tinggal di bawah tanah. Dan sempat ketahuan saat tahu distrik 13 membawa beberapa pemain Hunger Games Quell kesana saat hujan bom berjatuhan di arena. Hal ini dilakukan 13 sebagai rencana balas dendam menghancurkan Capitol.

Dari sinilah… Hunger Games Quell, Katniss dan Peeta berpisah. Peeta dijadikan tawanan oleh Capitol, sementara beberapa peserta lain banyak yang tewas. Yang selamat hanya Katniss, Finnick, Johanna, dan beberapa yang aku lupa namanya -_- Pun juri Hunger Games, Plutarch (mentor Hunger Games yang juga termasuk perserta), dan Haymitch. Ternyata mereka berdua adalah sekutu dari distrik 13, merekalah yang membawa Katniss dan lainnya kesana. Karena sudah tahu akhirnya akan seperti ini, mereka membentuk prajurit pemberontakan dengan Mockingjay sebagai pionnya.

Gale ikut sebagai prajurit pemberontakan. Katniss ditunjuk sebagai Mockingjay oleh presiden Coin. Akantetapi, Katniss tidak ingin melakukannya, ia sudah lelah dengan semua yang dilakukannya—yang selalu berbuntut kepada orang-orang yang disayanginya yang harus mati. Termasuk Peeta yang dijadikan tawanan dan disiksa oleh Capitol sebagai umpan untuknya. Katniss bersedih, dia terlihat sayang sekali pada Peeta.

“Tanpa keberadaan pria itu tak sanggup membuatku bertahan hidup.” – Katniss (page 357)

Padahal disisi lain, Gale selalu setia mendampinginya. So, seorang pemburu atau tukang roti yang akhirnya dipilih Katniss? x)

Cari tahu jawabannya sendiri, yang jelas Katniss akhirnya menyanggupi akan menjadi Mockingjay, dengan syarat dia bisa membunuh presiden Snow.

Ternyata Presiden Snow yang semakin marah dengan pemberontakan yang disulutkan Distrik 13, menjadikan Peeta sebagai Mutt (seperti zombie), otaknya dicuci, dibuat untuk membenci Katniss dan melupakan masa lalunya.

Lagi-lagi cinta Katniss diuji, dengan menjadi Mockingjay, presiden Coin memrintah prajuritnya yang sekaligus rekan-rekannya sewaktu di Hunger Games untuk membantu meloloskan Peeta dari tangan Capitol. Berhasil. Tapi, melihat Peeta yang sudah kembali dan tinggal bersamanya di 13 tampak seperti orang asing membuat Katniss kecewa apalagi saat ia mendekatinya Peeta nyaris ingin membunuhnya.

#Sigh. Cukup menguras hati dan emosi.

Sekarang Capitol dan distrik 13 beserta distrik-distrik lainnya tengah berperang, saling menghancurkan.
Bikin tegang, emosi, sekaligus tersentuh. Bener-bener panas dingin, apalagi baca berulang-ulang nyanyian Pohon Gantung :3

Sejujurnya dari tiga seri The Hunger Games, Hunger Games #1 yang paling berkesan buatku. Tapi, dengan endingnya… yang… yah… bolehlah, tidak mengecewakan karena manis banget :”)
Kesimpulannya, dari tiga set novel ini aku kasih 5 bintang. Terlebih karena terjemahannya yang bagus, typo nggak banyak, dan nggak menganggu juga.
Masih—karena tokoh-tokohnyalah aku suka dengan novel ini. Rasanya sedih saat menutup halaman terakhir buku ini, artinya aku berpisah dengan banyak orang di distrik-distrik panem.

Tokoh-tokoh yang tidak bisa kusebutkan satu persatu, begitu banyak memberikan pembelajaran yang bermakna. Kepercayaan, rela berkorban, kasih sayang yang tulus, juga kerakusan pada kekuasaan yang hanya akan membuat diri sendiri hancur.

Dari sekian banyak kelebihan novel ini, ada satu hal yang buatku mengganjal, yaitu saat Prim, adik Katniss meninggal. Aku nggak bermaksud ***spoiler***, hanya kejadian Prim tersebut seperti kejapan mata, aku tidak membaca seperti apa detailnya. Apa mungkin karena aku sendiri pada saat itu bacanya kurang fokus. Entahlah… rasanya aku masih sedikit mengganjal saja.
Tapi dengan ending dari bunga prim itu aku jadi mulai ngerasa memang Prim benar-benar udah nggak ada.

Pohon Gantung aku beri 5 bintang.

Quotes yang kusuka:
“Lebih baik tidak menyerah. Butuh kekuatan sepuluh kali lipat untuk bisa menguatkan diri dibandingkan untuk gagal.” – Finnick (page 174)

Ps.
Jujur ini novel sci-fi fantasy yang bikin saya sukaaaa sama genre tersebut, khususnya fantasi. Jadi, sekarang mencoba untuk nggak akan pilih-pilih novel fantasi lagi kali ya… Lol

Review ini diikutsertakan untuk posting bareng bulan November, dengan tema bacaan Thriller/Horror.

Catching Fire (The Hunger Games #2)


Judul Buku: Catching Fire (The Hunger Games #2)
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah:Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi
Genre: Fantasy, Romance, Science Fiction, Thriller
Terbit: Cetakan I, Juli 2010
Tebal: 424 hlm
ISBN: 978-979-22-5981-0
Harga: Rp 58.000,- (Rp 59.000,- u/ cover film)

Api pemberontakan sudah tersulut. Dan Capitol ingin membalas dendam.

Katniss Everdeen berhasil keluar sebagai pemenang Hunger Games bersama Peeta Mellark. Tapi kemenangan itu menyulut kemarahan Capitol. Kemenangan Katniss ternyata membangkitkan semangat pemberontakan di beberapa distrik untuk menentang kekuasaan Presiden Snow yang kejam.

Presiden Snow mengancam Katniss untuk meredakan kegelisahan penduduk distrik dalam Tur Kemenangan. Satu-satunya cara meredam keinginan penduduk untuk memberontak adalah dengan membuktikan bahwa dia dan Peeta saling mencintai tanpa adanya keraguan sedikit pun. Jika gagal, keluarga dan semua orang yang disayangi Katniss menjadi taruhannya…

“Collins berhasil menulis buku kedua yang lebih bagus daripada buku pertama.” – The New York Times

“Buku ini jauh melampaui perkiraanku. Sama serunya dengan The Hunger Games, tapi lebih mengena di hati… luar biasa. Kau bakal rela begadang membacanya.” – Stephenie Meyer, penulis Twilight Saga
**

Setelah di seri sebelumnya Katniss dan Peeta menjadi pemenang. Hidup mereka dijamin oleh pemerintah Capitol, yaitu tinggal di rumah pemenang.
Bahagia bisa berkumpul kembali dengan Prim dan ibunya, serta sahabatnya, Gale. Kembalinya Katniss ke rumah membuat gadis itu melupakan sejenak hubungannya dengan Peeta yang pada kenyataannya hanya sandiwara.
Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama saat pemimpin Capitol, yaitu presiden Snow datang ke rumahnya membawa kabar yang tidak menyenangkan bagi Katniss.

“Tentu saja, kau tidak tahu tentang hal ini. kau tidak punya akses informasi tentang suasana hati distrik-distrik lain. Di sejumlah distrik, mereka memandang muslihatmu dengan buah berry itu sebagai tindakan perlawanan, bukan perbuatan berlandaskan cinta. Dan jika anak perempuan dari Distrik Dua Belas bisa melawan Capitol lalu lolos begitu saja, apa yang menghentikan mereka melakukan usaha yang sama?” – Presiden Snow (page 29)

Peeta yang benar-benar tulus mencintai Katniss sebenarnya tidak ada masalah. Yang jadi permasalahannya justru ada pada Katniss—yang dari awal hanya berpura-pura mencintai Peeta, sebenarnya hatinya masih berharap pada Gale. Hal ini disebutkan Presiden Snow sebagai pemberontakan.
Hingga akhirnya Katniss dan Peeta diikutsertakan lagi dalam Hunger Games, yang diberi nama Quell untuk meredam pemberontakan.
Hunger Games Quell diperuntukkan bagi para pemenang Hunger Games 1-75 yang masih hidup.
Di HG Quell ini romantisme Peeta dan Katniss lebih banyak, tapi cukup dramatis dibandingkan Hunger Games #1.
Aku semakin suka dengan Peeta yang menunjukkan rasa cintanya yang tulus untuk Katniss. Berusaha melindungi gadisnya agar tetap hidup.

“… Mimpi-mimpi burukku biasanya tentang kehilangan dirimu,”
“Aku baik-baik saja setelah aku sadar kau ada disini” – Peeta (page 100)

Hal ini buat aku terharu, Katniss pun demikian, hingga dia sadari juga bahwa ia ingin melindungi Peeta. Meskipun, aku nggak bisa menghakimi dia karena sudah memberi harapan pada Peeta dengan sandiwaranya. Uh!
Aku pun sedikit sebal di Hunger Games #1 karena Katniss tidak peka dengan perasaan Peeta, mungkin Katniss tidak tahu bahwa Peeta benar-benar tulus mencintainya, tanpa tahu sandiwara itu. Dia malah lebih memilih kembali kepelukan Gale, sampai-sampai HG Quell ini harus ada, karena Katniss dianggap sebagai pemberontak dengan simbol yang disematkan padanya, yaitu Mockingjay.

Yeah, Capitol is damn sick!!!

Kekuasaan Capitol tidak bisa membuat Katniss berkutik. Oke, disini aku cukup berempati padanya, bagaimana Katniss bisa menghadapi Hunger Games Quell dengan mengerahkan segala kemampuannya untuk bertahan hidup dan melindungi Peeta.

Yang kusuka dari novel ini, selain romantisme Katniss dan Peeta, aku pun menyukai bagaimana penulis memberikan gambaran tentang pakaian yang dipakai Katniss dan Peeta setiap kali akan bermain dalam Hunger Games. Tokoh-tokoh lainnya yang unik juga seperti mentor-mentor di Hunger Games, Haymitch, si tukang mabok, tapi waras kalau sudah menghadapi arena HG, juga ada desainer Katniss, yaitu Cinna yang ngemong banget.
Peserta-peserta HG Quell pun tak kalah ambisius dari Hunger Games sebelumnya. Arena Quell ini semakin mendebarkan dan berdarah-darah.
Kehadiran Finncik, Beetee, Johanna sebagai sekutu Katniss dan Peeta di HG Quell pun memberikan kesan yang baru di arena, mereka lebih kuat dan berani (Jelas saja, mereka itu kan para pemenang HUnger Games terdahulu) Dengan adanya sekutu, penonton mungkin akan ingat pada Rue, sekutu Katniss yang meninggal di HG #1. Di Catching Fire tidak kalah mengharukan sekutu-sekutu itu mampu berkorban x(

Seperti di seri pertama, terjemahan novel seri kedua ini rapi, enak dibaca, typo ada tapi tidak mengganggu.

At least, pelajaran yang bisa diambil dari buku kedua ini, menurutku bahwa dari zaman dulu hingga sekarang yang namanya pemimpin selalu punya kuasa untuk mengatur rakyatnya. Punya wibawa yang ‘ditakuti’. Hanya tentu saja tergantung bagaimana si pemimpin itu sendiri, apakah kepemimpinannya itu benar, seperti menegakan hukum yang adil dengan pertimbangan yang tidak berat sebelah hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan seharusnya untuk kepentingan bersama.
Atau jauh dari benar, seperti di Capitol misalnya, Snow merupakan penguasa yang diktator, yang tidak pandang bulu untuk membuat siapa saja yang mencoreng tahta kepemimpinannya akan membuat hidup si pemberontak itu menderita, bahkan jika harus mengorbankan banyak orang disekelilingnya.

Mampukah Katniss melindungi keluarganya, termasuk Gale dan Peeta? x)

4,5 bintang untuk Gadis yang terbakar, Katniss.

lain-lain:
cover novel Catching Fire terbaru versi film 🙂

Katniss Everdeen yang diperankan Jennifer Lawrence. Filmnya sudah tayang loh bulan November ini di bioskop, tepatnya dirilis 21/22 November kemarin 😀

Catching Fire movie

(source pic: google)

The Hunger Games #1


Judul Buku: The Hunger Games #1
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah:Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi
Genre: Fantasy, Romance, Science Fiction, Thriller
Terbit: Cetakan I, Oktober 2009
Tebal: 408 hlm
ISBN: 978-979-22-5075-6
Harga: 58.000

Dua puluh empat peserta.
Hanya satu pemenang yang selamat.

Amerika Utara musnah sudah. Kini di belasnya berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas distrik.
Katniss, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12.

Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televisi The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah: membunuh atau dibunuh.

Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games. Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.
**

Katniss Everdeen, gadis pemburu yang hampir setiap hari pergi ke hutan untuk mencari binatang buruan untuk ia tukarkan dengan uang atau makanan layak di kota. Terkadang hasil tangkapannya pun ia makan sendiri untuk keluarganya. Hidup sebagai tulang punggung keluarga adalah tanggung jawabnya. Ibunya depresi semenjak ayahnya meninggal, sementara adiknya, Prim, masih terlalu muda. Dan ia sangat sayang pada adiknya melebihi siapapun.
Gale adalah sahabat Katniss, teman berburunya. Gale sudah seperti kakak baginya, tapi perasaan nyaman dan menenangkan membuat Katniss menginginkan sesuatu yang lebih dari hubungan sebagai partner berburu. Tapi, itu semua masih sekedar harapan.

“Aku ingin melakukan sesuatu, disini, sekarang, membuat mereka bertanggung jawab, menunjukkan pada Capitol bahwa apa pun yang mereka lakukan atau mereka paksakan pada kami, ada bagian dari setiap peserta yangtak dapat mereka miliki. Bahwa Rue lebih dari sekedar poin dalam permainan mereka. Dan aku juga bukan.” – Katniss (page 261)

Seru, keren, menantang, tapi juga mengharukan dengan bumbu romance yang membuat siapapun pasti bakal nagih bacanya, termasuk aku.

Kompetisi yang tidak biasa, membunuh atau dibunuh. Setiap Distrik wajib mengirimkan dua peserta (laki-laki dan perempuan). Dari kedua belas distrik, didapat dua puluh empat peserta yang akan bertarung, saling mengalahkan, meskipun dari distrik yang sama sekalipun. Karena hanya akan ada satu pemenang. Satu orang yang hidup dalam acara Hunger Games ini.

Hunger Games merupakan acara besar yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga Panem-Capitol, tapi juga merupakan hal yang paling ditakuti, karena bagi anak yang berusia dua belas tahun ke atas, mereka harus mendaftarkan diri sebagai peserta Hunger Games. Bagi mereka warga miskin, bisa mendapatkan tessera (mendaftarkan lebih dari satu nama undian, berkali-kali lipat jumlahnya untuk ditukarkan dengan makanan bagi keluarganya−−jika dia terpilih sebagai peserta). Salah satunya adalah Katniss dan Gale yang memiliki nomor undian paling banyak. Kemungkinan untuk menjadi peserta cukup besar peluangnya, dan Katniss sudah siap dengan resiko itu. Akantetapi, pada akhirnya nama Prim, adiknya yang dimuncul dari undian. Katniss tidak bisa membiarkan hal itu, ia pun mengajukan diri sebagai peserta−−menggantikan adiknya. Semua orang merasa tergugah dengan kerelaan Katniss. Dan, anak laki-laki yang terpilih adalah Peeta (anak dari tukang roti) yang mengingatkan Katniss akan masa lalu, ketika anak laki-laki itu pernah menolongnya, dan ia masih merasa berhutang budi sampai saat ini.

Satu tim bersama orang yang sudah pernah menolongnya, lalu apa yang harus Katniss lakukan di dalam kompetisi ini? Di satu sisi ia harus menang dengan membunuh kedua puluh tiga peserta.

Yang paling buat aku nggak bisa lepas dari novel ini adalah pengakuan Peeta yang mengejutkan, ternyata dia menyukai Katniss, padahal nih Peeta cuek-cuek dingin gitu. Makanya Katniss nggak sadar-sadar kalau Peeta beneran suka. Hwaa semakin dilema…
Bagaimana akhir dari kompetisi ini, apakah Katniss bisa menang (dengan membunuh Peeta) atau malah ia yang dibunuh (mengingat peserta dari distrik 1,2,3 yang kuat dan memiliki banyak sponsor).

“Dengan caraku sendiri, aku akan mati, tapi tak terkalahkan,” – Katniss (page 315)

Dengan sudut pandang orang pertama, ceritanya enak sekali dibaca, terjemahannya oke. Nyaris bersih dari typo.

Novel ini tidak hanya sekedar fiksi fantasi yang berbumbu thriller dan romance. Tapi, Hunger Games ini memberikan pembelajaran tentang kehidupan, seperti kekeluargaan, kepercayaan, kekuasaan, persahabatan, dan cinta.
Kekuasaan pemerintah yang−−well−−kita tahu siapa yang berkuasa akan bisa mengatur segalanya. Termasuk Capitol−−yang ish bikin emosi kita terkuras habis.
Suspense yang menarik diending buku #1 buat aku penasaran dengan kisah Katniss dan Peeta selanjutnya… Next to read Hunger Games: Catching Fire #2

5 bintang untuk Hunger Games

Tentang Penulis:
Sejak tahun 1991 Suzanne Collins bekerja sebagai penulis televisi untuk program anak-anak. Belakangan ia juga dikenal sebagai penulisnovel fantasi remaja dengan beberapa serialnya yang sukses termasuk The Hunger Games.

Saat ini ia tinggal di Connecticut with bersama keluarganya dan sepasang kucing yang dipungut dari halaman belakang rumah mereka.

Lainnya:
PUBLISHER WEEKLYS BEST BOOKS OF THE YEAR
NEW YORK TIMES NOTABLE CHILDREN’S BOOK OF 2008
Selain mendapatkan banyak penghargaan dan apresiasi yang bagus dari para pembaca, novel ini juga diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama The Hunger Games, pada tahun 2012. Yang diperankan oleh Jennifer Lawrence dan Josh Hutcherson.