[Baca Bareng] Book Review: Pulang by Leila S. Chudori



Author: Leila S. Chudori
Genre: Historical Fiction, Romance, Adult
Published: Cet. I, December 2012
Publisher: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Pages: viii + 464
Rating: 4

Paris, Mei 1968.
Ketika gerakan mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo, seorang eksil politik Indonesia, bertemu Vivienne Deveraux, mahasiswa yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya ditangkap tentara dan dinyatakan tewas.

Di tengah kesibukan mengelola Restoran Tanah Air di Paris, Dimas bersama tiga kawannya, Nugroho, Tjai, dan Risjaf-terus menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan peristiwa 30 Spetember. Apalagi dia tak bisa melupakan Surti Anandari-isteri Hananto-yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan untuk diinterogasi tentara.

Jakarta, Mei 1998.
Lintang Utara, puteri Dimas dari perkawinan dengan Viviene Deveraux, akhirnya berhasil memperoleh visa masuk Indonesia untuk merekam pengalaman keluarga korban tragedi 30 Sepetember sebagai tugas akhir kuliahnya. Apa yan terkuak oleh Lintang bukan sekedar masa lalu ayahnya dengan Surti Anandari, tetapi juga bagaimana sejarah paling berdarah di negerinya mempunyai kaitan dengan Ayah dan kawan-kawan ayahnya.Bersama Segara Alam, putera Hananto, Lintang menjadi saksi mata apayang kemudian menjadi kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei 1998 dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

Pulang adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta, dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 Spetember 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia Mei 1998.

Empat pilar tanah air adalah pemilik dari restoran tanah air Indonesia di Paris. Empat, karena mereka terdiri dari empat orang, yaitu Dimas Suryo, Nugroho, Tjai, dan Risjaf. Mereka bukanlah orang-orang kaya yang berprofesi pengusaha di Paris, mereka adalah orang-orang yang kehilangan identitas sejak kekisruhan 30 S PKI di Indonesia. Tahun 1965, ketika Dimas dan Nugroho diundang menghadiri konferensi International Organization of Journalists di Santiago, Cile. Dimas dan kawan-kawannya dianggap terlibat dalam golongan PKI karena tertangkapnya Hananto, sahabatnya Dimas dan kawan-kawannya itu. Continue reading

[Baca Bareng] Book Review: Fly By Night by Frances Hardinge

20150124_080011
Translator: Maria M. Lubis
Editor: Endah Sulwesi
Proofreader: Peni Astiti
Genre: Fantasy, Young Adult, Children: Middle Grade, Adventure, Mystery, Historical Fiction
More: Goodreads
Rating: 3,5

Bercerita tentang seorang gadis berumur dua belas tahun yang tumbuh sebagai seorang yatim piatu-tinggal di Chough bersama Paman dan Bibinya. Mosca Mye namanya. Dia anak yang pemberani dan cerdas. Tidak heran karena ia merupakan anak dari seorang ahli cetak zaman dulu, yang dianggap pemerintah sebagai seorang radikal karena menulis buku yang tidak sejalur dengan pemerintahan. Tapi bagi rakyat, Quillam adalah seorang pahlawan yang sangat dikagumi. Karena banyak bukunya yang ditulis secara blak-blakan-Quillam Mye dihukum, semua bukunya dibakar dan ia pun ikut dibakar bersama bukunya tersebut (yang saya tangkap seperti itu). Continue reading

Mitsuko

mitsuko


Judul Buku: Mitsuko
Judul Asli: Little Sister
Penulis: Kara Dalkey
Penerjemah: Mohammad H
Penerbit: Matahati
Genre: Fantasy, YA, Historical Fiction, Science Fiction
Terbit: Cetakan II, Juli 2007
Tebal: 245 halaman
ISBN: 979-1141-08-8

Blurb:
Mitsuko adalah gadis berusia tiga belas tahun di Jepang abad kedua belas. Layaknya gadis bangsawan lain, dia hidup di balik tirai kesopanan.

Hidupnya berubah ketika keluarganya diserang pemberontak dan kakak iparnya dibunuh. Dengan bantuan tengu – manusia gagak – dan mahluk lain dalam mitos Jepang, Mitsuko melakukan perrjalanan demi menolog keluarganya.
**

“Buku ini mengajarkan tentang persaudaraan, persahabatan, dan kejujuran melalui setiap kejadian yang dihadapi Mitsuko. Sebuah pelajaran untuk menjadi dewasa dan mandiri.” – Majalah Gogirl!

“Petualangan Mitsuko berrhasil membungkus sejarah dan imajinasi dalam kemasan yang menarik.” – Majalah Kawanku

“Racikan yang tepat antara sejarah dan mitologi membuat novel ini sangat menegangkan.” – Publishers Weekly
**

Review:
Adik kecil dari bumi
Betapa teguh perasaan batu-batu itu di bawah kakiku yang berkasut hingga gempa bumi…

Mitsuko. Tokoh utama dalam novel ini menceritakan masa lalunya saat ia berumur tiga belas tahun. Dimulai ketika acara Jamuan Air Berkelok di Festival Ular, dimana para putra putri keluarga bangsawan saling berbalas puisi yang ditulis di kertas dan mengapungkannya dengan perahu kayu.
Mitsuko sangat kagum pada kepiawaian kakak sulungnya, Amaiko. Selain pandai membuat puisi, Amaiko sangat cantik dan anggun, sehingga banyak laki-laki yang menyukainya.
Semenjak Festival Ular, Mitsuko memiliki nama panggilan baru, yaitu Genangan air/ genangan kecil.

“Meskipun aku merasa seperti katak memandang bangau, tetapi aku tidak iri. Aku merasa puas bahwa takdir mengizinkan aku berada di dekatnya, mendengar dia tertawa serta mencaciku dengan senyuman; memerhatikan tangannya bergerak laksana daun mengapung di Sungai Kamo.” – Mitsuko (page 7)

Kakak perempuan kedua dan ketiga Mitsuko adalah Kiwako dan Sotkoko yang berumur lima belas tahun, mereka kakak yang baik, tapi begitu penakut dan banyak bicara. Adik laki-lakinya yang paling kecil masih berumur tiga bulan, namanya Yusho.

Tak butuh waktu lama, Mitsuko menceritakan kakak pertamanya telah menikah dengan seorang bangsawan, pemuda yang tampan, bernama Koga No Yugiri.

Pastilah ada suatu alasan mengapa Mitsuko menjadi narator dalam cerita ini, dimana konflik akhirnya datang saat kebahagiaan pernikahan kakaknya. Isu pembakaran istana oleh biarawan Hiei, membuatnya gusar, sampai akhirnya ia memberanikan diri bertanya pada seorang penjual kue keliling saat melewati kediamannya. Padahal sebagai bangsawan, dilarang untuk bebicara dengan orang asing, apalagi memperlihatkan wajahnya.
Mochi, gadis yang memanggilnya genangan air di gunung, sementara gadis itu menyebut dirinya sendiri burung.

Benar, istana kaisar Fujiwara akan dibakar oleh para biarawan hiei, betapa sedihnya Mitsuko karena tidak ada satupun orang di istana yang menceritakan masalah ini.

“Ada hal-hal yang tak boleh didengar wanita terhormat.”

Sampai akhirnya, keluarga mereka harus mengungsi keluar dari kota Heian Kyo, tetapi ayahnya tetap tinggal untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang kaisar. Menuju pondok Gunung di Tamba, Mitsuko dan keluarganya dihadang prajurit biarawan, kakak iparnya, Yugiri yang memang ikut dalam perjalanan mengawal keluarganya tewas terbunuh saat melawan prajurit dari gunung Hiei itu.

Seakan cobaan tidak ada habisnya datang bertubi-tubi, pondok tempat tinggal yang direkomendasikan ayahnya ternyata sebuah gubuk yang tak terurus. Amaiko berubah pucat bak mayat hidup setelah kehilangan suaminya. Tak mau bicara, menangis pun tidak. Hanya diam, diam, dan diam. Mitsuka dan ibunya merasa khawatir, sampai akhirnya bantuan datang dari Lord Tsubashima, seorang kerabat jauh yang memang akan menyambutnya saat datang ke pondok.
Rahib Dento membantu mengobati Amaiko dari roh jahat, tapi tak ada hasilnya, Amaiko tetap bersikap sama. Rohnya sendiri seperti pergi jauh mencari suaminya.

Bak raja datuk maringgi, Lord Tsubashima yang memilki kekuasaan di wilayah sekitar tempat tinggal, menyuruh mereka untuk pindah ke istananya, mereka akan dijamin hidupa layak, dan diberi pelindungan yang aman. Hanya dengan syarat putri bangsawan Fujiwara mau menikah dengan putra raja Lord Tsubashima.

Mitsuko yang tidak mau itu terjadi, melarikan diri membawa Amaiko di tengah malam. Mempertemukannya dengan tengu, manusia gagak. Namanya Goranu.

Tengu tidak beriman, mendengar cerita Mitsuko ia mau membantunya karena biarawan itu musuh bunian.

Dari sinilah petualangan Mitsuko mencari visi bersama Goranu untuk mencari roh kakak iparnya, agar Amaiko bisa sembuh.
Disini aku suka dengan tokoh Goranu, meskipun dia tengu, dia bisa baik dengan caranya sendiri, tanpa harus berpura-pura apalagi meninggalkan kesan jahatnya. Sekalipun dia hebat, bisa membawa terbang Mitsuko ke alam manapun, tapi tetap saja yang namanya tengu punya kelemahan, dia tidak bisa bertahan di tempat yang suci, seperti kuil dan surga.

Aku juga suka dengan tokoh Mitsuko yang mandiri, yang membuat pandangan seseorang terhadap bangsawan tidak lagi seperti ada sekat yang memisahkan si kaya dan si miskin. Sifat Mitsuko tidak dibuat-buat sok baik terhadap Mochi, dia melakukannya dengan alasan yang logis.

Banyak sekali puisi-puisi dalam novel ini, aku sedikit tidak nyaman, mungkin karena tidak terbiasa membaca puisi, apalagi puisi sastra Jepang.

Untuk keseluruhan aku cukup suka dengan novel ini, selain karena berlatar Jepang juga karena tokoh-tokohnya yang terbangun dengan sangat baik.

3 bintang untuk klan Fujiwara 😀

Quotes yang kusukai:

“Aku sadar bahwa aku pun akan merindukan mereka. Benar bunyi peribahasa bahwa jauh dari kerabat adalah kemiskinan yang terparah.” – Mitsuko. (page 128)

Just Patty

Just-patty

Tittle : Just Patty

Penulis : Jean Webster

Genre : Novel Klasik 

Category: Novel Terjemahan 

Pages : 270 halaman

Price : Rp 60.000

Published : Cetakan I, April 2010

Penerjemah: Rien Chaerani  

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House (Orange Books) 

ISBN: 978-602-8436-83-0 


“Menyebalkan!” kata Prisilla.

“Keterlaluan!” kata Conny.

“Kurang ajar!” kata Patty.

“Beraninya mereka memisahkan kita setelah tiga tahun kita bersama-sama…”

“Dan rasanya kita tidak terlalu nakal tahun kemarin. Banyak gadis lain yang mendapat lebih banyak nilai pelanggaran.”

“Kenakalan kita memang agak mencolok saja,” Patty mengakui.

“Tapi kita berkelakuan sangat baik tiga mingggu terakhir,” sergah Conny.

Ya, Patty dan kedua sahabatnya, Connie Wilder dan Priscilla, memang memilki reputasi sebagai gadis-gadis yang bandel di asrama SMA St. Ursula, AS. Tapi uniknya, mereka juga adalah gadis-gadsi yang cerdas.

Setelah beberapa tahun bersama, Miss Lord-guru bahasa Latin mereka-meminta kepala sekolah untuk memisahkan gadis itu di tahun terakhir, agar mereka tak lagi menjadi teman sekamar.

Patty dan kedua sahabatnya tidak terima. Mereka pun mengusahakan agar tetap bersatu, kembali menjadi roommate. Cara-cara yang mereka tempu sangat banyak akal dan kocak.

Keisengan dan kenakalan ketiga gadis itu berlanjut. Dan pada “pesta tengah malam”, hingga menjodohkan guru olahraga mereka Miss Jellings, dengan Mr. Gilroy.

Novel yang sangat menawan tentang persahabatan, kenakalan, dan tentu, kecerdasan gadis-gadis muda di awal abad ke-20.

Pertama kali baca sinopsisnya, aku pikir novel ini bercerita tentang keseluruhan cerita yang menyatu (maksudku bukan kumcer) eh ternyata kumcer toh… tapi masih dengan tokoh yang sama kok… Patty, Priscilla, dan Conny. Mereka bertiga adalah siswi dari SMA St. Ursula, sekolah berasrama. Dari sinopsis diatas udah tergambar jelas bercerita tentang apa novel ini, jadi aku cuma mengulas lagi aja tanpa bikin spoiler kok, hehe…

Ketiganya adalah sahabat yang tidak bisa dan tidak akan mudah untuk dipisahkan x)

Karena apa? karena menurut mereka hanya merekalah yang memiliki kehidupan yang lancar tanpa punya masalah pribadi yang berarti, tidak seperti teman-teman sekolahnya yang lain, yang memiliki banyak kekurangan dan selalu saja sibuk sendiri dengan kelemahan mereka.

Mereka bertiga selalu punya ide untuk melakukan hal-hal konyol, membuat seisi sekolah ini gempar dan dibuat pusing dengan tingkah mereka, sampai-sampai Nona Lord/Nyonya Bangsawan sendiri harus turun tangan untuk menghentikan tingkah mereka yang sangat menggangu jalannya pembelajaran di sekolah.

Nyonya Lord menyuruh mereka untuk berpisah kamar. Tentu saja mereka menolak, tidak bisa meninggalkan Lorong Firdaus. Lorong Firdaus adalah julukan bagi markas besar mereka, kamar mereka! Mereka tidak mau berpisah meninggalkan lorong ini, lorong yang sudah menjadi saksi bisu mengawasi mereka.

Tapi apa yang harus dilakukan? Mereka tidak bisa menolak perintah Nyonya Lord, sehingga  dengan terpaksa mereka pun berpisah kamar.

Semua guru pikir dengan mereka bertiga terpisah, mereka tidak akan membuat ulah lagi. Awalnya memang begitu, karena Patty, Prisilla, Conny belum terbiasa untuk berpisah seperti ini (tidak bisa bertukar pikiran lebih dekat… itu sangat menyiksa bagi mereka). Apalagi harus sekamar dengan orang yang tidak mereka sukai, banyak sekali kekurangan yang tidak bisa mereka terima dari teman sekamar barunya.

Memang bukan tanpa alasan Nyonya Lord memisahkan mereka dan menyatukannya dengan murid lain, Nyonya Lord menginginkan Patty, Priscilla, dan Cony bisa akrab dengan teman lainnya, juga ia ingin supaya tiga bersahabat itu membantu teman-temannya untuk bisa menghadapi kekurangan yang mereka milki, supaya mereka tidak merasa diri mereka aneh atau berbeda dengan yang lain. Tugas yang cukup rumit, sulit dan menyebalkan bagi Patty, Priscilla, dan Cony…

Tapi yang namanya Patty, apa sih yang nggak? Semua dalang/ tokoh dibalik semua ulah yang terjadi di sekolah adalah berasal dari Patty. Walaupun mereka tidak sekamar ternyata masing-masing diantara mereka bertiga bisa menyelesaikan masalah demi masalah dengan hal yang tidak terduga, seperti berpetualang ke dunia yang sebelumnya belum pernah mereka temui…

Sedikit rumit memang&hel
lip; tapi ceritanya bagus. Aku suka dengan ceritanya yang begitu mengalir namun berbeda plot… buku ini membawa kamu ke dunia petualang yang nyata, gak seperti HarPot yang fantasy, ini lebih real…

Beberapa cerita petualangan Patty yang aku suka:

  • Mogok Belajar Serikat Virgil
  • Bawang & Anggrek
  • Kue Sitrun & Kunci Inggris
  • Jejak Gispi

Ini cuma sebagian cerita yang ku suka^^

Oya, di novel ini aku suka adegan yang setiap kali si tokoh berbicara Porkem di lingkungan St. Ursula maka harus didenda 1 sen (mungkin kalau di Korea, Porkem itu maksudnya Banmal kali ya :D)

Alhamdulillah gak ada typo sama sekali, great!!

Quotes yang ku sukai:

“Hal paling menyenangkan di dunia adalah berlari dari hal-hal yang seharusnya kau kerjakan.” – Patty. 

Aku kasih 4 bintang untuk Patty yang cerdik 🙂 

 

Cover novel aslinya

1738699

Tentang Penulis

Webster

Alice Jane Chandler Webster, atau lebih dikenal dengan Jean Webster, lahir di Fredonia, New York, 24 Juli 1876. Jean adalah anak tertua dari Charles Luther Webster dan Annie Moffet Webster. Ibu Jean adalah keponakan dari Mark Twain, pengarang terkenal Amerika.

Jean menghabiskan masa kanak-kanaknya dalam pengasuhan ibu, nenek, dan nenek buyutnya, yang tinggal satu atap. Neneknya adalah pejuang persamaan ras dan hak pilih bagi wanita.

Pada tahun 1894 hingga 1896, Jean menuntut ilmu di Lady Jane Grey School di Binghamton. Selama sekolah disinilah, Jean mendapat banyak inspirasi untuk novelnya Just Patty. Dari setting sekolah, nama-nama ruang (Sky Parlour, Paradise Alley/Lorong Firdaus), seragam sekolah, hingga jadwal harian para gadis dan guru-guru. Just Patty terbit tahun 1911.

Vassar College adalah tempat Jean menuntut ilmu selepas dari Lay Jane Grey School. Jean mengabil studi Bahasa Inggris dan Ekonomi. Di Vassar College, yang saat itu merupakan sekolah khusus perempuan, Jean mulai tertarik dengan siu-isu sosial. Pengalamannya kulaih di Vassar juga menginspirasiJean untuk menulis When Patty Went to College dan Daddy-Long-Legs.

Selulus dari Vassar, Jean kembali ke Fredonia dan mulai menulis When Patty Went to College yang terbit pada 1905. Setelah itu buku-buku Jean pun terbit bersusulan, Legs, novelnya yang terbit pada 1912, banyak diperbincangkan, menjadi best seller, dan diangkat menjadi film. Beberapa tahun kemudian bersama sahabatnya semasa di Vassar, Ethelyn McKinney dan Lena Weinstein, Jean melakukan perjalanan selama delapan bulan ke Itali, Mesir, India, Burma (sekarang Mynamar), Sri Lanka, Indonesia, Hongkong, China, dan Jepang.

Jean menikah dengan Glenn Ford McKinney. Ia wafat setelah melahirkan putrinya pada 11 Juni 1916. Putrinya dinamai Jean (Little Jean) untuk mengenang Jean.

Buku-buku Jean Webster:

  1. When Patty Went to College (1903)
  2. Wheat Princess (1905)
  3. Jery Junior (1907)
  4. Four-Pools Mystery (1908)
  5. Much Ado About Peter (1909)
  6. Just Paty (1911)
  7. Dady-Long-Legs (1912)
  8. Dear Enemy (1915)