That Affair Next Door


Judul Buku: That Affair Next Door
Penulis: Anna Katharine Green
Penerjemah: Diana A. Santoso
Penyunting: Fitria Pratiwi
Penerbit: Visimedia
Genre: Detektif, Misteri
Terbit: Cetakan I, Juni 2013
Tebal: viii+408 halaman
ISBN: 979-065-184-8
Harga: Rp 65.000

Saya menemukan beberapa orang sedikit marah dengan fakta bahwa Anna Katharine Green adalah penulis fiksi detektif best seller jauh sebelum Arthur Conan Doyle menulis karya pertamanya. Mereka marah karena mereka tidak ingin mendengar bahwa ada perempuan yang bersaing dengan seorang master.
(Prof. Ellen Higgins, Universitas Albany)
*****

Amelia Butterworth tidak akan keluar rumah tanpa topi lebar, gaun megar, dan sarung tangan khas perempuan New York yang memesona. Meakipun perempuan berpendidikan tinggi ini sangat suka berbelanja, dia bukanlah sosialita biasa. Pada suatu malam, Miss Buterworth tanpa sengaja mengintip rumah tetangganya melalui jendela kamarnya. Alangkah terkejutnya dia, tindakannya ini membawa pengaruh besar baginya, termasuk mengenalkannya dengan detektif dari kesatuan kepolisian New York Metropolitan, Ebenezer Gryce.

Mayat seorang perempuan ditemukan tertindih lemari di rumah tetangga Miss Butterworth. Semua orang terkejur karena rumah keluarga van Burnam itu kosong, ditinggal berlibur selama lima bulan. Dengan analisis khas perempuan, Miss Butterworth berhasil meyakinkan Mr. Gryce bahwa kasus ini adalah sebuah pembunuhan. Awalnya, Mr. Gryce yang sombong tidak mau dibantu oleh seorang perempuan untuk menangani kasus ini. Merasa diremehkan, Miss Butterworth marah dan menantang Mr. Gryce untuk bersaing dalam membongkar teka-teki dalam kasus penemuan mayat di rumah itu. Siapalah yang dibunuh? Siapa yang membunuh? Misteri apa yang akan dibongkar Mr. Gryce dan the first lady detective, Amelia Butterworth.
***

Kisah dalam novel ini tentang pembunuhan di rumah kosong milik Van Burnam. Sebenarnya rumah itu kosong karena yang memiliki sedang berpergian keluar negeri−−orang-orang rumah (termasuk anak-anak Van Burnam sekaligus menantu, yang semuanya sedang sibuk di luar kota), mereka adalah Franklin Van Burnam, Howard Van Burnam dan Mrs. Howard Van Burnam (istri Howard), Caroline, dan Isabella.

Amelia Butterworth yang merupakan tetangga depan rumah, pada tengah malam saat ia tidak bisa tidur−mendapati seorang perempuan dan laki-laki memasuki rumah Van Burnam. Tak lama setelah itu, sekitar sepuluh menit si laki-laki keluar tanpa perempuan yang masuk dengannya tadi.
“Aku bukan seorang perempuan yang suka usil ikut campur urusan orang lain, tetapi pada tengah malam September yang hangat, saat aku mendengar kereta kuda berhenti di depan rumah sebelah, aku tidak bisa menahan diri untuk meninggalkan ranjang dan mengintip melalui tirai jendela.” – Amelia Butterworth (page 1)

Keesokkan harinya Miss Butterworth yang merasa khawatir bercampur penasaran pada perempuan yang ditinggalkan seorang laki-laki di rumah kosong itu−−meminta kepolisian setempat untuk membuka rumah tersebut. Yang kebetulan saat itu juga seseorang yang mengaku sebagai tukang bersih-bersih rumah Van Burnam datang. Dia adalah Mrs. Boppert—yang satu bulan sekali datang ke rumah Van Burnam untuk melakukan tugasnya.

Dan kekhawatiran Miss Butterworth akhirnya terjawab saat Mrs. Boppert yang memiliki kunci rumah itu membukanya. Benar saja—di dalam rumah tersebut ditemukan mayat seorang perempuan tergeletak di lantai ruang tamu dengan kabinet/lemari menimpa tubuhnya, terutama merusak bagian wajahnya, hingga sulit untuk dikenali.

Yang membuat novel ini menarik adalah tersangka dan saksinya banyak. Di satu sisi memiliki alibi kuat, disisi lain hal itu mencurigakan semua. Aku sampai terkecoh beberapa kali untuk menebak pelakunya dan siapa perempuan yang dibunuh itu.
Selain itu, Miss Butterworth yang bukan siapa-siapa—maksudnya hanya seorang saksi yang melihat di kegelapan malam (seorang perempuan dan laki-laki itu masuk ke rumah) tanpa ia bisa melihat dengan jelas wajah mereka.

Hari-hari Miss Butterworth pun dilalui untuk menyelidiki kasus tersebut, dia tidak bisa diam begitu saja setelah menyaksikan semua ini. Dari penyelidikan koroner dan tim kepolisian yang didampingi detektif Mr. Gryce—perempuan yang meninggal itu diduga kuat adalah istri dari Howard. Tapi, Mr. Howard sendiri saat dimintai keterangan tidak mengakui bahwa istrinya itu yang meninggal. Pihak keluarga Van Burnam pun bungkam, seperti Franklin yang dimintai keterangan juga tidak tahu menahu mengenai perempuan itu. Hingga para saksi pun dihadirkan, mulai dari pemilik kos-kosan (tempat menginap Mr. dan Mrs. Howard), kurir pengantar barang, pelayan hotel, kusir kereta kuda, Mr. Stone (teman Franklin dan Howard), dan beberapa saksi lainnya.

Mr. Gryce yang usianya sudah kepala tujuh itu masih cukup tangkas dan cermat mengusut kasus yang diduga pembunuhan ini, dia pun tidak mau kalah dengan Miss Butterworth yang ingin menguak kebenaran dari kasus tersebut. Dan petualangan Miss Butterworth pun dimulai dengan menyelidiki hal-hal kecil yang dimiliki Mrs. Howard, hingga membawanya kedalam sebuah teori-teori yang…well, mematahkan!! Lalu siapa yang berhasil membeberkan kasus pembunuhan misteri itu? Mr. Gryce atau Miss Butterworth? Atau keduanya bekerja sama? –tidak ada spoiler- :p

Sudut pandang yang dipakai dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama dengan tiga narator.
Tokoh utama, Butterworth adalah perempuan yang mandiri, cerdas dan peka terhadap sekitarnya. Meskipun dia memilih untuk tidak menikah, di usianya yang padahal sudah matang.
Dengan latar tahun 80-an karena novel ini memang terbit tahun 1897, nama-nama merk dan istilah yang dipakaipun begitu klasik. Terjemahannya yang enak dibaca membuatku bisa ikut terbawa ke setting novel ini, meskipun typo masih berseliweran dimana-mana.
Untuk cover yang biasa Visimedia gunakan selalu pas dengan cerita, cocok saja menurutku.

3 Bintang untuk pelaku yang sulit ditebak.

Tentang penulis:
Anna Katherine Green
Ibu dari fiksi detektif dunia
Jika Edgar Allan Poe dikenal sebagai bapak dari fiksi detektif dunia, Anna Katherine Green adalah ibu untuk kategori yang sama. Anna Katherine Green lahir di Brooklyn, 11 November 1846. Anak dari Catharine ann Whitney Green dan James Wilson Green, pengacara terkenal di New York, ini sesungguhnya memiliki ambisi untuk menjadi penulis puisi dan roman. Oleh karena itu, dia berkorespondensi dengan Ralph Waldo Emerson dalam proses kreatif tulisannya. Saat puisi-puisinya tidak mendapatkan pengakuan, justru novel detektif pertamanya The Leavenworth Case (1878), mendapat pujian dari Wilkie Collins dan menjadi buku internasional best seller Amerika pertama. Dengan semangat baru, Green lalu beralih menjadi penulis novel detektif.

Pada 1866, Green menyelesaikan pendidikannya dari Ripley Female College (sekarang Green Mountain College) di Poultney, Vermont. Green merupakan sarjana perempuan pertama untuk ilmu seni. Pada 1877, Green beretemu dengan Charles Rohlfs yang saat itu berprofesi sebagai aktor. Laki-laki yang lebih muda 7 tahun darinya ini kemudian menikahinya pada 25 November 1884 di Gereja Congregational Selatan, Brooklyn. Setelah menikah, Rohfls memilih beralih profesi menjadi desainer furniture dan Green mengelola penerbitan buku. Namun, aktivitas penulisan Green tetap berjalan. Pada 1885, Green melahirkan anak pertamanya, Rosamond, dan satu tahun berikutnya Green menerbitkan The Mill Mystery dan Risifi’s Daughter. Mei 1887, Green melahirkan anak keduanya, Sterling, dan novel 7 to 12: A Detective Story diterbitkan pada Juni. Tahun 1892 Green melahgirkan anak ketiganya, Roland dan menerbitkan Cynthia Wakeham’s Money. Selain mengelola penerbitan buku, Green juga kerap membantu dan berkolaborasi dengan suaminya dalam bisnis furniture.

Novel detektif Green memperkenalkan tokoh detektif Ebenzer Gryce dari Kesatuan Kepolisian New York Metropolitan. Namun, dalam novelnya That Affair Next Door (1897), Lost Man’s Lane: a Second Episode in the Life of Amelia Butterworth (1898), dan The Circular Study (1900), Mr. Gryce dibantu perempuan mandiri dan cerdas, Amelia Butterworth. Miss Butterworth digambarkan sebagai perempuan yang memilih untuk tidak menikah, tetapi dengan kecerdasannya mampu membantu Mr. Gryce memecahkan kasus yang tidak bisa ditemukan akar permasalahnnya. Selain Miss Butterworth, Green juga menciptakan Violet Strange, gadis yang beekrja sebagai detektif amatir untuk kepolisian dalam kumpulan cerpen The Golden Slipper and Other Poroblems for Violet Strange (1915). Dua tokoh perempuan dalam karya Green ini merupakan kisah detektif perempuan pertama di dunia.

Green terinspirasi oleh Edgar Allan Poe dan Emile gaboriau, pendahulunya dalam menulis fiksi detektfi. Sosok ayahnya yang seorang pengacara juga menjadi inspirasi Green dalam menulis kisah-kisah detektif dan cerita Ralph Waldo Emerson, dosennya, tentang agen intelijen perempuan pada masa Perang Sipil Amerika menginspirasi tokoh-tokoh detektif perempuannya. Pada 11 April 1935 Green tutup usia pada usia 88 tahun di rumahnya, Buffalo, New York, setelah menghasilkan 40 buku.

Advertisements

Tangan Kelima


Judul Buku: Tangan Kelima (1 Mobil, 4 Nama, 5 Misteri)
Penulis: Christian Armantyo
Penerbit: Visimedia
Genre: Detektif, Thriller
Terbit: Cetakan I, Mei 2013
Tebal: 366 halaman
ISBN: 979-065-183-X
Harga: Rp. 55.000,-

NO GAME LIKE IT, NO TALE LAKE IT, NO LOVE LIKE IT
MERCEDES Benz SL klasik merah menyala ditemukan di gudang rumah tua. Sang pemilik rumah meninggal tiba-tiba beberapa waktu sebelumnya. Tanpa ada kejelasan penyebabnya. Di dalam mobil klasik itu ditemukan BKPB berisi nama-nama pemilik sebelumnya dan sepasang sepatu perempuan yang masih baru.
RANTAU, sang ahli waris pemilik rumah menemukan berbagai kejanggalan di sekitar gudang tempat mobil itu ditemukan. Tak ada nama sang ayah di BPKB itu. Sederet tanda tanya memenuhi kepalanya. Mobil siapakah itu? Rantau akhirnya memutuskan menelusuri satu persatu nama yang tertera di dalam buku kepemilikan mobil itu. Ia tak pernah menyangka, penyelidikan kecil itu akan membawanya ke dalam labirin misteri yang semakin rumit. Misteri yang berusia puluhan tahun.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu Anna, perempuan yang mengaku anak salah satu pemilik mobil. Anna menawarkan diri membantu Rantau melanjutkan pencarian. Bersama Anna, Rantau keluar-masuk jalanan Jakarta, bahkan hingga menyeberangi Laut Cina Selatan, mencari alamat demi alamat yang terkadang berujung pada kekecewaan. Kebersamaan itu pun memunculkan benih asmara di dalam hati keduanya. Sampai pada akhirnya Rantau menemukan fakta-fakta yang mengejutkan. Pencarian yang dilakukan ternyata membuatnya tidak hanya kehilangan seorang kekasih yang sudah lama menemani, tetapi juga sahabat setia, bahkan nyaris nyawanya sendiri!

**
Sebelumnya saya berterima kasih banget nih buat Penerbit Visimedia yang sudah memberikan buku ini pada saya sebagai Tangan Keduabelas 😀

Dari judul dan sinopsisnya sudah cukup menggambarkan seperti apa perjalanan kasus yang akan dipecahkan oleh seseorang yang bernama Rantau. Ya, Rantau adalah tokoh utama dari novel ini. Penulis memakai sudut pandang orang pertama yang membuat saya sebagai pembaca menjadi lebih mengenal Rantau. Dan, bisa langsung bikin saya jatuh hati dengan tokoh ini xD

Cerita berawal dari Rantau yang baru lulus kuliah dari jurusan Arkeolog. Bicara soal arkeolog, pandanganku terhadap arkeolog di Indonesia memang masih terbilang tidak biasa dijadikan profesi sehari-hari. Entah karena memang istilahnya masih asing atau memang kebanyakan masyarakat sekarang lebih menilai kekayaan yang sudah ada dan modern, dibandingkan peninggalan-peninggalan zaman dulu yang bendanya sudah tidak ada atau ada tapi bukan untuk milik sendiri. Namun, faktanya hasil peninggalan malah lebih suka dilempar sana-sini untuk dijual, dan mirisnya dengan harga yang tidak sebanding.

“Hei, kamu itu arkeolog! Apa kamu mencari tahu sesuatu berdasarkan benda yang masih ada, atau yang kamu miliki?” – Elora

Saya sangat suka bagaimana penulis memberikan banyak informasi tentang Arkeologi−yang bagi saya masih awam. Tulisannya yang enak dibaca semakin membuat saya larut dalam kisah Rantau. Latar dalam ceritanya juga tidak perlu membuat saya berpikir keras mengenai tata letaknya, karena hanya berlokasi di Jakarta dan Bandung, tapi di bab pertengahan kita akan dibawa berpetualang dua hari di Hongkong 😀

Mobil Mercedes Benz SL ditemukan Rantau di rumah almarhum ayah kandungnya di Bandung. Tepatnya berada di dalam sebuah gudang yang tak pernah ia buka. Gudang itu sebenarnya tempat parkiran namun dialih fungsikan menjadi gudang karena pemilik rumahnya tidak memiliki mobil. Rantau yang datang kesana bersama Daan, sahabatnya, menaruh curiga dengan keganjilan yang ada pada mobil klasik berwarna merah itu.

Ayahnya tidak mungkin memiliki mobil antik seperti ini, lalu milik siapa mobil yang ditinggalkan secara tidak wajar ini. Apalagi, dipastikan mobil ini memang sudah ada sejak ayahnya ditemukan meninggal di rumahnya. Dan, yang tak terduga ada BPKB yang berisi nama-nama dari pemilik sebelumnya. Analisis-analisis yang selalu tepat dari seorang Rantau pun akhirnya keluar, dibumbui sifat humor dari Daan membuat analisis ini terbilang santai, jauh dari kesan rumit. Analisisnya sangat mudah dipahami dan terbilang natural, tidak terkesan dibuat-buat ataupun terpaksa harus ada petunjuk. Hal ini yang membuat ceritanya begitu mengalir dan nyata.

Sebagai seorang anak dengan jiwa arkeolog, sudah pasti Rantau sangat ingin menyelidiki hubungan antara mobil antik itu dengan ayahnya. Penyelidikan pun akhirnya dimulai dengan mencari sang pemilik terakhir yang mempertemukannya dengan Anna, anak dari pemilik mobil tersebut. Namun, karena nonya Elisabeth (pemilik mobil) tidak berada di tempat, Rantau harus memulainya terlebih dahulu dengan anaknya. Anna adalah perempuan cantik berwajah indo yang tertarik dengan apa yang sedang diselidiki Rantau. Keduanya akhirnya sepakat untuk memulai petualangan mencari pemilik-pemilik mobil sebelumnya, selama menunggu nyonya Elisabeth pulang dari luar negeri. Dan pencarian tangan ketiga, kedua, dan pertama pun dimulai, membuat saya sendiri menggebu-gebu seperti ikut berpetualang mencari orang-orang di masa lampau tersebut.

Dari sini pula dapat terlihat bagaimana chemistry antara Rantau dan Anna tumbuh. Tapi, perlu diketahui bahwa Rantau sudah punya kekasih, bernama Elora. Itulah yang selalu diwanti-wanti Daan setiap kali Rantau mulai beraksi mencari tangan-tangan berikutnya yang ia selidiki bersama Anna. Elora memang kuliah di Jogja, karena itu, soal penyelidikan ini pun tak diberitahunya. Sementara disisi Rantau ada Daan, disisi Anna juga ada Leo. Rantau kerap kali diperingatkan Leo untuk tidak macam-macam dengan Anna. Yah, maklum ceritanya Leo itu kakaknya Anna. *cough* :p

Jadi, intinya sih ya..menyelidiki pemilik mobil sebelumnya yang diurutkan dari sang tangan ke empat ke tangan pertama, yang akan membukakan petunjuk siapa pemilik sebenarnya, yaitu tangan kelima. Bisa dibilang, ini termasuk proses penyelidikan yang berjalan mundur.

Selalu ditemukan tokoh-tokoh baru disetiap babnya dan selalu ada cerita dibalik orang-orang yang pernah memiliki mobil tersebut. Dan, anehnya selalu saja mereka menawarkan diri ingin membeli mobil itu lagi. Tapi, tenang saja.. Rantau tidak silau harta untuk menjualnya. Dia masih ingin terus menguak hubungan mobil itu dengan ayahnya. Bahkan sampai berani terbang ke Hongkong berdua bersama Anna, demi mendapatkan informasi mengenai mobil mercedes itu.

Bab menjelang akhir, muncul tokoh Elora, kekasih Rantau. Meskipun munculnya ada di bab tiga terakhir, tapi tidak membuat sosoknya kehilangan peran. Justru perannya sangat kuat dengan pemikiran-pemikiran yang masih fresh dibandingkan Rantau yang isi kepalanya pasti sudah mumet gara-gara banyaknya informasi yang ia dapat, sehingga membuatnya berputar-putar sendiri dalam kekusutan kasusnya itu. Kesetiaan Rantau pada Elora tak perlu dipertanyakan lagi, meski selama Elora tidak ada, tapi itu tidak membuatnya mudah berpaling. Meskipun begitu, saya mendapakan chemistrynya pada Anna tidak kalah jauh dengan hubungan yang sudah bertahan selama dua tahun itu dengan Elora. xD

Sebenarnya aku sudah mulai menebak siapa Anna sebenarnya. Namun, karena asumsi Rantau yang begitu menerima informasi dengan mentah-mentah, membuat kecurigaan saya mengendur. Bahkan, dengan teganya saya ikut-ikutan mencurigai Daan. LOL
Menurut saya, tokoh Rantau ini memang tokoh yang lahir dengan sangat alami. Meskipun dia arkeolog, tapi tetap saja sifat tidak telitinya ada, yang membuat penyelidikannya semakin menarik.

“Saya arkeolog, bukan detektif… Arekolog itu lebih keren daripada detektif, Dik…” – Rantau (page 340)

Seorang arkeolog bisa otomatis disebut detektif, tapi detektif belum tentu seorang arkeolog. (menurutku) xD

Aku suka dengan endingnya yang memberikan penjelasan masuk akal. Tapi, kenapa harus seperti itu? Benar-benar bikin nyesek!! Saya gak terima dengan nasib Daan 😥

Novel ini seperti parcel buku, komplit genrenya. Ada history, horror, thriller, detektif, romance, humor, dan juga melodramanya.
Sangat disayangkan dalam buku ini saya menemukan lebih dari sepuluh typo, tapi tidak mengurangi kesan saya untuk menyukai buku ini. Hanya lebih bagus kalau typo itu gak ada, sehingga mata saya gak perlu ngucek-ngucek setiap kali liat typo.

Berhubung Rantau sudah saya kasih hati, bintang kali ini saya kasih buat Got. Eh, Daan Mogot! 4 bintang 😀

NB: Setelah habis membaca buku ini, saya jadi berasumsi bahwa title tangan keduabelas yang disematkan pada saya adalah bukan untuk memecahkan kasus-kasus selanjutnya yang tidak berujung, melainkan untuk membedah buku ini menjadi sebuah resensi. haha xD Apa diantara kalian juga ingin menjadi tangan-tangan berikutnya? Silahkan coba baca buku ini, barangkali benar anda adalah orang selanjutnya (tangan ketigabelas)? atau tangan keseratus, bahkan keseribu? x)

Tentang Penulis
Christian Armantyo

Membatalkan pilihannya menempuh pendidikan kesenian, lalu beralih mengikuti jejak kedua kakak dan ayahnya. Setelah menyelesaikan studi Akuntansi di Fakultas Ekonomi, UI, pada usia yang ke-20 tahun menjalani profesi sebagai bankir di salah satu bank milik negara.
Pagi hingga petang berjerih mengembangkan produk kredit bagi para pengusaha UKM. Saat malam sudah terlalu larut dan pagi yag masih buta berjerih mengembangkan produk imajinasi bagi para pembaca.
Mengenai beberapa bidang seni lainnya, seperti menggambar, bermain alat musik gitar dan cello. Merasa pernah hidup pada masa lampau, sehingga selalu terenyuh ketika mendengar musik-musik lama, melihat bangunan tua, dan hal bersejarah.

Untuk yang ingin mengenal lebih jauh penulis bisa berkunjung ke websitenya. Emailnya christian.armantyo@gmail.com, dan bisa follow twitternya @carmantyo

The Deadly Violin ‘Five Detectives Quest’

The_deadly_violin_five_detectives_quest-228x228

Judul Buku: The Deadly Violin ‘Five Detectives Quest’

Penulis: Andy M. Baramuli

Terbit: Cetakan I, Oktober 2012

Penerbit: Visimedia

Genre: Novel Misteri-Detektif

Tebal:  xii + 420 halaman

Harga: Rp. 56.000

ISBN: 979-065-168-6

Konser “The Real Sensation of Stradivarius” telah menampilkan kelima peserta dengan luar biasa! Pewaris biola Stradivarius pun akan segera diumumkan. Tiba-tiba, seorang peserta, violis Revuelta Delica memucat, lemas, pingsan, dan tewas! Sehari kemudian, Sang Guru sekaligus pemilik biola, Senior Ford, tewas mengenaskan di dalam bath-up kamar mandinya! Paris pun gempar!

Kedua tragedi memilkukan itu terjadi di depan mata Randy Swats, Maria Ksvitsova, Ken Kyoichiro, Peter Hans, dan Diana Verolyn yang merupakan tamu undangan VVIP pada konser tersebut. Kelimanya diundang oleh Mister X. Apa yang terjadi? Siapa kelima tamu istimewa itu? Siapa sebenarnya Mister X? Siapa pembunuh kedua korban? Apa kaitan antara Mister X, biola Stradivarius, keluarga Senior Ford, murid-murid Ford, dan kelima tamu istimewa itu?

The Deadly Violin merupakan novel detektif yang ciamik! Alur ceritanya bagus. Bahasanya sederhana. Unsur narasi, deskripsi, dan argumentasinya jelas. Imajinasi penulisnya pun liar!

Seorang penulis Misteri, Randy Swats dikirimi surat undangan oleh seseorang yang bernama Mister X untuk menyaksikan pertunjukan Stradivarius, yang bertajuk penyerahan pergantian kepemilikan Biola Vierlitto Stradivarius yang berkisar usia 300 tahunan. Sang pemilik Senior Ford akan mewariskan Biola yang salah satu senarnya itu terbuat dari emas kepada salah satu diantara kelima muridnya. Kelima murid tersebut adalah Reveuelta Delica, Aprilia, McEntire, Rave Gilles, Freddy Jenkins. Dalam pertunjukan itu tak terlepas juga peran-peran yang lain dalam menyukseskan acara tersebut, diantara lain istri Senior Ford, Yvone, Julia (penyelenggara acara), Jason Smith dan Harviana adalah perwakilan kepolisian dari kota Paris untuk menjaga-jaga jika teror pembunuhan itu terjadi.

Dibalik kemegahan dan kemeriahan pertunjukan biola itu, terdapat ancaman pembunuhan, seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya dalam surat yang Randy dapatkan. Ternyata surat itu tidak hanya ditujukan padanya, tetapi juga ditujukan pada keempat orang hebat lainnya, yang Randy tidak kenali. Mereka adalah Diana Verolyn, Ken Kyoichiro, Maria Ksvitova, Peter Hans. Kelima orang yang ditunjuk Mister X itu ditantang untuk menyaksikan kasus pembunuhan yang sudah Mister X rancang. Namun, melihat begitu ketat pengamanan di gedung Kesenian Perancis, Randy dan kawan-kawan tidak lagi mengkhawatirkan hal itu.

Diluar dugaan, pembunuhan itu tetap terjadi bahkan mengintai nyawa salah seorang murid dari Senior Ford, Delica tewas seketika, selain itu Rave hampir sekarat juga karena terkena sedikit racun sianida yang mematikan itu. Senior Ford yang merasa dirinyalah yang terancam akan dibunuh merasa was-was, ia sangat sedih kehilangan murid kesayangannya, Delica. Setelah hari kematian Delica, justru benar nyatanya bahwa nyawa Senior Ford terancam, ia tewas di kamar mandi, dengan alibi bunuh diri.

Siapakah pelaku sebenarnya Delica dan Senior Ford? Trik apa yang digunakan si pembunuh untuk menghabisi nyawa sang violis Delica yang sedang bermain biola di depan panggung dengan indahnya. Lalu Senior Ford yang tewas di kamar mandi dengan terkunci rapat di dalam, seperti apa trik ruangan tertutup itu? semua jawabannya ada di novel ini. hehe berasa baca komik Detektif Conan 😀

Oya kelima detektif itu aku sangat suka kelebihan mereka, berikut aku urutkan:

§  Randy Swats (Amerika Serikat) Seorang penulis novel Misteri-detektif yang telah mengarang lebih dari 10 buku terkenal. Penegtahuan dan hasil karyanya membuat ia lebiih banyak tahu tentang motif seseorang pembunuh untuk membunuh, tetapi belum pernah mengalami/menemui kasus pembunuhan yang sebenarnya.

§  Diana Verolyn (Inggris/berpindah-pindah) Memiliki orangtua yang bekerja sebagai duta besar membuatnya menguasai berbagai bahasa. Diana adalah seorang kriminolog yang mendalami ilmu kriminal dan juga viktimologi. Dia pernah membantu Interpol dalam mengusut sebuah kasus.

§  Ken Kyoichiro (Jepang) laki-laki asal Jepang ini adalah seorang wartawan investigasi yang suka menyelidiki kejadian-kejadian besar. Disebabkan profesinya yang berbahaya, Ken mendalami banyak ilmu bela diri untuk melindungi dirinya.

§  Maria Ksvitsova (Rusia) Semenjak lahir telah dianugerahi bakat alamiah photographic memories, yaitu kemampuan mengingat yang sangat kuat dalam sekali melihat, mendengar atau mencium.

§  Peter Hans (Inggris) Seorang dokter ahli dalam bidang forensik. Memilki kemampuan menelaah penyebab kematian seseorang dan mengidentifikasi luka, baik luka luar maupun dalam yang ada di tubuh korban. Peter sering membantu Kepolisian Inggris dalam menangani kasus pembunuhan.

Ceritanya bagus, sampai ke pembaca. Bisa menyeimbangi kasus-kasus yang ada dalam cerita-cerita detektif lain, ya…gak kalah kerenlah intinya mah.hehe dengan umurnya yang masih muda bisa buat novel detektif seperti ini.

Tapi…, (pasti aja ada tapinya hehe). Aku kurang begitu suka dengan penulisannya (penyampaiannya), meskipun pesannya nyampe, tapi kurang enak dibaca.

Aku kasih 2 bintang untuk lima detektif yang amazing! 😀

 

Tentang Penulis:

Andy Muhammad Baramuli atau biasa dipanggil Andy, kelahiran Makasar, 14 April 1992. Kesukaannya akan cerita detektif dirasakannya semenjak umur enam tahun.

Ia menulis novel detektif karena merasa belum ada buku yang membuatnya puas, terutama buku-buku novel yang bertema detektif. Ia mulai menulis saat berumur 17 tahun karena terinspirasi Christoper Paolini, penulis muda yang menerbitkan buku perdananya saat berumur 15 tahun. Ini merupakan novel debutnya. Ia memutuskan tetap akan menulis buku-buku lainnya.