Book Review: The Evolution Of Calpurnia Tate by Jacqueline Kelly

20150124_075956
Translator: Berliani M. Nugrahani
Editor: Nady Andwiani
Proofreader: Nani
Genre: Young Adult, Children: Middle Grade, Parenting, Historical Fiction
More: Goodreads
Rating: 4

Buku yang sudah lama saya timbun sejak tahun 2012 ini akhirnya selesai juga dibaca. Yang membaca opini bareng bertema ekspektasi saya bulan lalu pasti tidak asing dengan buku ini. Awalnya saya memang berekspektasi bahwa buku ini bergenre science fiction, tapi ternyata bukan.

Buku ini bercerita tentang seorang gadis berumur 11 tahun dari Fentress, Texas. Calpurnia Virginia Tate atau Callie Vee namanya. Ia anak ke empat dari tujuh bersaudara, satu-satunya anak perempuan dari pasangan Alferd dan Margaret. Keenam saudaranya laki-laki dengan tiga kakak: Harry, Sam Houston, dan Lamar, serta adik laki-laki: Travis, Sul Ros, dan Jim Bowie (J.B). Ayahnya adalah pemilik pabrik pengolahan kapas dan perkebunan pecan. Baca lebih lanjut

[Baca Bareng] Book Review: Fly By Night by Frances Hardinge

20150124_080011
Translator: Maria M. Lubis
Editor: Endah Sulwesi
Proofreader: Peni Astiti
Genre: Fantasy, Young Adult, Children: Middle Grade, Adventure, Mystery, Historical Fiction
More: Goodreads
Rating: 3,5

Bercerita tentang seorang gadis berumur dua belas tahun yang tumbuh sebagai seorang yatim piatu-tinggal di Chough bersama Paman dan Bibinya. Mosca Mye namanya. Dia anak yang pemberani dan cerdas. Tidak heran karena ia merupakan anak dari seorang ahli cetak zaman dulu, yang dianggap pemerintah sebagai seorang radikal karena menulis buku yang tidak sejalur dengan pemerintahan. Tapi bagi rakyat, Quillam adalah seorang pahlawan yang sangat dikagumi. Karena banyak bukunya yang ditulis secara blak-blakan-Quillam Mye dihukum, semua bukunya dibakar dan ia pun ikut dibakar bersama bukunya tersebut (yang saya tangkap seperti itu). Baca lebih lanjut

Mitsuko

mitsuko


Judul Buku: Mitsuko
Judul Asli: Little Sister
Penulis: Kara Dalkey
Penerjemah: Mohammad H
Penerbit: Matahati
Genre: Fantasy, YA, Historical Fiction, Science Fiction
Terbit: Cetakan II, Juli 2007
Tebal: 245 halaman
ISBN: 979-1141-08-8

Blurb:
Mitsuko adalah gadis berusia tiga belas tahun di Jepang abad kedua belas. Layaknya gadis bangsawan lain, dia hidup di balik tirai kesopanan.

Hidupnya berubah ketika keluarganya diserang pemberontak dan kakak iparnya dibunuh. Dengan bantuan tengu – manusia gagak – dan mahluk lain dalam mitos Jepang, Mitsuko melakukan perrjalanan demi menolog keluarganya.
**

“Buku ini mengajarkan tentang persaudaraan, persahabatan, dan kejujuran melalui setiap kejadian yang dihadapi Mitsuko. Sebuah pelajaran untuk menjadi dewasa dan mandiri.” – Majalah Gogirl!

“Petualangan Mitsuko berrhasil membungkus sejarah dan imajinasi dalam kemasan yang menarik.” – Majalah Kawanku

“Racikan yang tepat antara sejarah dan mitologi membuat novel ini sangat menegangkan.” – Publishers Weekly
**

Review:
Adik kecil dari bumi
Betapa teguh perasaan batu-batu itu di bawah kakiku yang berkasut hingga gempa bumi…

Mitsuko. Tokoh utama dalam novel ini menceritakan masa lalunya saat ia berumur tiga belas tahun. Dimulai ketika acara Jamuan Air Berkelok di Festival Ular, dimana para putra putri keluarga bangsawan saling berbalas puisi yang ditulis di kertas dan mengapungkannya dengan perahu kayu.
Mitsuko sangat kagum pada kepiawaian kakak sulungnya, Amaiko. Selain pandai membuat puisi, Amaiko sangat cantik dan anggun, sehingga banyak laki-laki yang menyukainya.
Semenjak Festival Ular, Mitsuko memiliki nama panggilan baru, yaitu Genangan air/ genangan kecil.

“Meskipun aku merasa seperti katak memandang bangau, tetapi aku tidak iri. Aku merasa puas bahwa takdir mengizinkan aku berada di dekatnya, mendengar dia tertawa serta mencaciku dengan senyuman; memerhatikan tangannya bergerak laksana daun mengapung di Sungai Kamo.” – Mitsuko (page 7)

Kakak perempuan kedua dan ketiga Mitsuko adalah Kiwako dan Sotkoko yang berumur lima belas tahun, mereka kakak yang baik, tapi begitu penakut dan banyak bicara. Adik laki-lakinya yang paling kecil masih berumur tiga bulan, namanya Yusho.

Tak butuh waktu lama, Mitsuko menceritakan kakak pertamanya telah menikah dengan seorang bangsawan, pemuda yang tampan, bernama Koga No Yugiri.

Pastilah ada suatu alasan mengapa Mitsuko menjadi narator dalam cerita ini, dimana konflik akhirnya datang saat kebahagiaan pernikahan kakaknya. Isu pembakaran istana oleh biarawan Hiei, membuatnya gusar, sampai akhirnya ia memberanikan diri bertanya pada seorang penjual kue keliling saat melewati kediamannya. Padahal sebagai bangsawan, dilarang untuk bebicara dengan orang asing, apalagi memperlihatkan wajahnya.
Mochi, gadis yang memanggilnya genangan air di gunung, sementara gadis itu menyebut dirinya sendiri burung.

Benar, istana kaisar Fujiwara akan dibakar oleh para biarawan hiei, betapa sedihnya Mitsuko karena tidak ada satupun orang di istana yang menceritakan masalah ini.

“Ada hal-hal yang tak boleh didengar wanita terhormat.”

Sampai akhirnya, keluarga mereka harus mengungsi keluar dari kota Heian Kyo, tetapi ayahnya tetap tinggal untuk memenuhi tugasnya sebagai seorang kaisar. Menuju pondok Gunung di Tamba, Mitsuko dan keluarganya dihadang prajurit biarawan, kakak iparnya, Yugiri yang memang ikut dalam perjalanan mengawal keluarganya tewas terbunuh saat melawan prajurit dari gunung Hiei itu.

Seakan cobaan tidak ada habisnya datang bertubi-tubi, pondok tempat tinggal yang direkomendasikan ayahnya ternyata sebuah gubuk yang tak terurus. Amaiko berubah pucat bak mayat hidup setelah kehilangan suaminya. Tak mau bicara, menangis pun tidak. Hanya diam, diam, dan diam. Mitsuka dan ibunya merasa khawatir, sampai akhirnya bantuan datang dari Lord Tsubashima, seorang kerabat jauh yang memang akan menyambutnya saat datang ke pondok.
Rahib Dento membantu mengobati Amaiko dari roh jahat, tapi tak ada hasilnya, Amaiko tetap bersikap sama. Rohnya sendiri seperti pergi jauh mencari suaminya.

Bak raja datuk maringgi, Lord Tsubashima yang memilki kekuasaan di wilayah sekitar tempat tinggal, menyuruh mereka untuk pindah ke istananya, mereka akan dijamin hidupa layak, dan diberi pelindungan yang aman. Hanya dengan syarat putri bangsawan Fujiwara mau menikah dengan putra raja Lord Tsubashima.

Mitsuko yang tidak mau itu terjadi, melarikan diri membawa Amaiko di tengah malam. Mempertemukannya dengan tengu, manusia gagak. Namanya Goranu.

Tengu tidak beriman, mendengar cerita Mitsuko ia mau membantunya karena biarawan itu musuh bunian.

Dari sinilah petualangan Mitsuko mencari visi bersama Goranu untuk mencari roh kakak iparnya, agar Amaiko bisa sembuh.
Disini aku suka dengan tokoh Goranu, meskipun dia tengu, dia bisa baik dengan caranya sendiri, tanpa harus berpura-pura apalagi meninggalkan kesan jahatnya. Sekalipun dia hebat, bisa membawa terbang Mitsuko ke alam manapun, tapi tetap saja yang namanya tengu punya kelemahan, dia tidak bisa bertahan di tempat yang suci, seperti kuil dan surga.

Aku juga suka dengan tokoh Mitsuko yang mandiri, yang membuat pandangan seseorang terhadap bangsawan tidak lagi seperti ada sekat yang memisahkan si kaya dan si miskin. Sifat Mitsuko tidak dibuat-buat sok baik terhadap Mochi, dia melakukannya dengan alasan yang logis.

Banyak sekali puisi-puisi dalam novel ini, aku sedikit tidak nyaman, mungkin karena tidak terbiasa membaca puisi, apalagi puisi sastra Jepang.

Untuk keseluruhan aku cukup suka dengan novel ini, selain karena berlatar Jepang juga karena tokoh-tokohnya yang terbangun dengan sangat baik.

3 bintang untuk klan Fujiwara 😀

Quotes yang kusukai:

“Aku sadar bahwa aku pun akan merindukan mereka. Benar bunyi peribahasa bahwa jauh dari kerabat adalah kemiskinan yang terparah.” – Mitsuko. (page 128)

Thirteen Reason Why


Judul Buku: Thirteen Reason Why
Penulis: Jay Asher
Penerjemah: Merry Riansyah
Penerbit: Matahati
Genre: Young Adult, Mistery
Terbit: Cetakan I, Oktober 2011
Tebal: 287 halaman
ISBN: 602962557-8
Harga: Rp. 40.000,-

Best Books for Young Adults (YALSA)
New York Times Best Seller
Publishers Weekly Best Seller
Barnes & Noble – Top 10 Best for Teens

THIRTEEN REASON WHY
Kau tak bisa mengehentikan masa depan, tak bisa mundur ke masa lalu. Satu-satunya cara mengetahui rahasia itu adalah…
terus dengarkan kaset ini.

Clay Jensen kembali dari sekolah dan menemukan kotak misterius untuknya di teras rumah. Dalam kotak itu dia menemukan tiga belas kaset yang direkam Hannah Baker–teman sekelas sekaligus gadis yabg ditaksirnya–yang bunuh diri dua minggu sebelumnya.

Hannah sudah meninggal. Rahasia gadis itu seharusnya terkubur bersama jasadnya. Namun, Hannah menjelaskan tiga belas alasannya memutuskan mengakhiri hidup. Clay salah satunya. Dengan mendengarkan kaset itu, Clay akan tahu mengapa dirinya termasuk dalam tiga belas alasan itu.

Sepanjang malam, Clay mendengarkan kaset itu. Clay mengikuti petunjuk dari kaset Hannah menyusuri kota kecilnya… dan apa yang dia temukan mengubah hidupnya selamanya.

“Debut yang brilian dan memesona dari seorang penulis baru berbakat.” — Kirkus, resensi berbintang.
**

Sempat menunda-nunda baca buku ini karena sedang malas baca novel terjemahan xO
Tapi, berhubung timbunan buku sudah habis, terpaksalah saya baca xD

Novel ini bercerita tentang seorang pelajar SMA yang bunuh diri lantaran orang-orang di sekitarnya banyak yang percaya dengan gosip murahan tentang dirinya. Gara-gara gosip itu, dengan mudahnya Hannah dilecehkan teman-teman sekolahnya, terutama oleh murid laki-laki.

Sebelum bunuh diri ternyata Hannah meninggalkan pesan yang sudah direkamnya menjadi tujuh kaset (sisi A dan B).
Dalam kaset itu ada tiga belas alasan mengapa dia akhirnya membulatkan tekad untuk bunuh diri. Kalau saya tidak salah hitung, ada dua belas orang yang termasuk ke dalam alasan itu. Mereka yang membuat psikologis Hanna semakin terpuruk, kedua belas orang tersebut akan dikirim kaset rekaman ini secara bergilir. Entah siapa penerima pertama, karena dalam novel ini Clay menjadi orang kesekian (dia tidak tahu sendiri yang ke berapa, karena pengirim kaset tanpa nama).

Awalnya Clay tidak begitu percaya dengan isi rekaman suara Hannah itu. Tapi, instingnya takut karena Hannah mengancam jika orang yang sudah ditunjuk mendapatkan kaset ini harus mendengarkan semuanya dan menyebarkan pada kedua belas list yang Hannah sebutkan satu per satu dalam ceritanya. Jika tidak, maka kopian kaset ini akan menyebar keseluruh penjuru kota. Clay tentu tidak ingin itu terjadi… Mau tak mau ia harus tetap mendengarkan karena yang menerima kaset ini berarti termasuk dalam tiga belas alasan Hannah bunuh diri. Dan itu artinya kita bisa ikut menikmati novel ini x) karena isinya lebih banyak narasi rekaman Hannah.

Hal ini yang membuat saya penasaran juga untuk menuntaskan baca buku ini.
Clay seperti apa ya di mata Hannah? Karena tanpa sepengetahuan Hannah–sebenarnya Clay menyayanginya.
Kalau menurutku, memang teman-teman Hannah yang termasuk dalam tiga belas alasan tersebut sangat membuat psikis Hannah terguncang. Meskipun dalam pandangan saya, Hannah sendiri yang memulai, sehingga kelakuannya itu malah dicap tidak benar.

Saya sendiri suka bagaimana Clay menyimak suara Hannah dalam kaset, dan penulis memberikan narasi yang hidup di sekitar Clay. Clay sendiri pun selalu menimpali kata-kata Hannah meskipun dia tidak tahu dan tidak mungkin merubah pikiran Hannah.

2 bintang untuk 13 Reason Why.

ini cover asli novelnya:

The House Of The Scorpion

Image

Judul Buku: The House Of The Scorpion

Penulis: Nancy Farmer

Penerjemah: Abubakar Bilfaqih

Penerbit: Matahati

Terbit: Cetakan I, Juli 2005

Tebal: 438 halaman

ISBN: 979-98407-3-2

Harga: Rp. 44,500,-

Matteo Alacran tidak dilahirkan; Ia adalah hasil DNA El Patron, pemimpin negara Opium-negara yang terletak di ladang opium yang terbentang antara Amerika dan Mexico. Sel darah El Patron dipilah, lalu ditempatkan ke rahim lembu, di mana dia terus berkembang dari embrio menjadi janin dan kemudian menjadi bayi.

Saat beranjak remaja, kebanyakan orang mengangg dia monster. Hanya El Patron menyayangi Matt seperti ia menyayangi dirinya sendiri, karena Matt adalah dirinya.

Ketika Matt berjuang untuk memahami keberadaannya, dia diperlakukan dengan keji oleh hampir semua orang, termasuk keluarga El Patron yang haus kekuasaan sehingga Matt harus dikawal. Melarikan diri adalah satu-satunya cara agar Matt dapat tetap bertahan hidup. Namun melarikan diri bukanlah jaminan untuk mendapatkan kebebasan, karena Matt memilki perbedaan yang ia sendiri tidak mengharapkannya.

Penghargaan untuk THE HOUSE OF THE SCORPION

  • National Book Award Winner (2002)
  • Michael L. Printz Award Honor Book (2003)
  • Newbery Medal Honor Book (2003)
  • ALA Notable Book of the Year

“Kisah yang inspiratif tentang persahabatan, bertahan hidup, dan harapan,” – Kirkus.

Aku suka sekali dengan novel ini, kisah yang sangat inspiratif, penjabaran latar, tokoh, karakter, sangat kuat, sehingga aku bisa dengan mudah masuk ke dalam ceritanya dan juga ga bikin aku  menunda-nunda bacanya, soalnya tiap bab ada aja yang bikin penasaran dengan kelanjutan kisahnya Matt.

Yap, ini perjalanan hidup seorang Clone manusia bernama Matteo Alacran. Ia adalah clone dari El Patron Alacran. El Patron ini sudah berumur 143 tahun, dia adalah raja dari pemilik ladang Opium, hartanya berlimpah dan pengikutnya sangat banyak, tak akan ada yang bisa bebas keluar dari hidupnya, jika sudah terikat, terikatlah seumur hidup dengannya. Seperti Celia, pengasuh Matt, dia seperti seorang ibu yang membesarkan Matt di ladang Opium. Celia selalu mengunci Matt di rumahnya agar Matt tidak keluar. Bukan berarti Celia jahat, sama seklai tidak, justru Celia sangat menyayanginya, ia melakukan itu untuk melindungi Matt.

Umur 6 tahun, Matt kelihatan semakin cerdas, ia banyak pengetahuan dari membaca dan menonton tv, ia juga sering mendengarkan cerita-cerita dongeng dari Celia. Namun semua itu tidak membuatnya merasa puas, ia masih penasaran akan dunia luar seperti apa, dunia yang bahkan lebih menyenangkan dari buku dan televisi juga dongeng-dongeng menyeramkan yang selalu Celia ceritakan padanya. Sepertinya itu memang siasat Celia agar Matt tidak berniat untuk mengetahui dunia luar. Di saat Celia meniggalkan rumahnya untuk bekerja di kediaman rumah keluarga Alacran, Matt dengan rasa penasarannya yang besar itu akhirnya memberanikan diri untuk  mencari jalan untuk keluar dari rumahnya, tapi pintu di kunci, jendela pun tak bisa dibuka. Hanya ada satu cara setelah di hari kedua rencananya itu; yaitu dia memecahkan jendela, berhasilah ia memecahkannya, namun bukannya keluar, ia malah bersembunyi, karena pada saat itu, beberapa anak tengah ada di depan rumahnya, mereka adalah Steven, Emilia, dan Maria, anak-anak dari keluarga Alacran dan kerabatnya. Matt sangat takut dengan orang asing, lebih tepatnya adalah ia bingung harus mengatakan apa dan melakukan apa di depan orang-orang tersebut.

Rasa simpati Steven, Emilia, dan Maria akhirnya mampu membuat Matt berani bicara dan memutuskan keluar dari jendela yang banyak pecahan kaca itu. Tak seperti yang Celia katakan tentang kejelekan anak-anak keluarga Alacran, mereka sangatlah ramah padanya. Matt akhirnya bisa keluar dari ladang Opium berkat mereka dan masuk ke rumah keluarga Alacran. Saat itu kakinya berdarah karena tertusuk pecahan kaca jendela, Steven yang memboyongnya hingga ke rumah dan langsung saja diobati oleh Rose, pelayan di rumah Alacran beserta dokter keluarga Alacran, yaitu Willum. Willum yang mengobati kaki Matt sangat terkejut saat melihat tanda ‘Milik Alacran’ di kakinya, dan pada saat itu pula Mr. Alacran tiba dengan sangat geram mengetahui kalau ada clone dari buyutnya yang menginjak rumahnya. Dengan sangat kejam Mr. Alacran memaki Matt dan menyuruh Rose untuk melempar Matt keluar dari rumahnya, anak yang sangat menjijikan, pekiknya.

Sedih banget masa kecil Matt ini, di usianya yang masih enam tahun ia harus mengalami kekerasan tak manusiawi dari keluarga Alacran. Di sini Celia tidak tahu kalau Matt itu hilang karena dikurung di kamar yang gelap dan sangat mirip seperti kandang ayam, Rose memenjarakan Matt seperti binatang. Selama enam bulan itu Matt benar-benar disiksa, (sedih banget baca bab umur 0-6 tahun ini). Tapi semuanya berubah setelah Celia diberitahu Maria kalau Matt sebenarnya dikurung oleh Rose, Celia pun akhirnya membawa El Patron agar bisa membebaskan Matt dari siksaan keluarga Alacran. Seperti yang sudah ku duga sebelumnya, buru-buru deh Rose kena damprat Mr. Alacran dan dokter Willum karena mengurus Matt seperti binatang, akhirnya Rose pun mengeluarkan Matt dari kandang dan memandikannya sampai bersih agar saat El patron datang, Matt akan terlihat baik-baik saja.

El Patron, laki-laki tua yang sudah sangat lemah itu duduk di atas kursi roda dengan dua pengawal bernama Tam Lin dan Daft Donald, Matt sangat senang ia juga bisa memilih Tam Lin sebagai pengawalnya, ia banyak belajar dari Tam Lin. Seperti sebelumnya keluarga Alacran hanya berpura-pura saja menerima Matt di rumah mereka, padahal kenyataannya adalah Mr. Alacran, Felicia, serta anak-anak mereka, Benito dan Steven, juga Tom serta Emilia sangat membenci Matt, terutama Tom yang memiliki sifat seperti rubah itu membuat hidup Matt terasa menyiksa apalagi Tom dekat dengan Maria.

Seperti apa Matt menghadapi usianya yang terus bertambah hingga dewasa, sementara konon ceritanya… clone akan terpecah-pecah mengerikan ketika semakin tua. Bagiamana juga Matt menghadapi keluarga Alacran yang sangat membencinya? Dan di saat ia menemukan jati dirinya mengapa ia dilahirkan akan terkuak kalau dibaca sampai tuntas. Hoho..

Banyak sekali tokoh beserta karakter-karakternya yang ada di novel ini, aku sampai bingung sendiri mau menjabarkan seperti apa jalan ceritanya, semuanya sangat penting untuk dibahas, tapi gak mungkin juga kan, nanti kena spoiler lagi. Tapi, yang diatas itu hanya seperempat bagian awal kisah dari Clone. pokoknya gak akan nyesel deh bacanya, gak usah bingung juga dengan nama-nama tokohnya, karena di halaman awal dipampangkan list tokoh-tokoh dari novel ini, beserta bagan silisilah keluarga Alacran. Sangat komplit. Seruuu 😀

Aku kasih 5 bintang untuk Sarang Kalajengking.

Quotes yang ku suka:

“Kau bisa tahu seberapa besar seseorang mencintaimu dari hadiah yang mereka berikan,” – El Patron. (page 128)

Sebenarnya aku gak setuju dengan quotes ini, seakan-akan kita hanya menilai orang dari pemberiannya saja, padahal kan yang terpenting itu keikhlasannya, bukan barang apa yang diberikannya, soalnya kemampuan materi seseorang kan beda-beda. El Patron mengucapkan ini tentu saja sesuai dengan gaya hidupnya yang sangat berlimpah dengan harta. Tapi dari quotes inilah kita bisa belajar, intinya sih mengoreksi diri : ) pokoknya banyak quotes-quotes yang membuat aku sebagai pembaca berpikir−hem, iya ya, iya sih masuk akal, tapi gak berdasar juga kalau kita lihat dari sisi kemanusiaan. Hehe. Ya begitulah, banyak sekali pelajaran dan pengalaman luar biasa yang bisa kita kutip dari novel ini. Pantas saja memang banyak penghargaan yang diraih oleh karya Nancy Farmer ini.

“Aku selalu bilang kebenaran adalah yang terbaik, walaupun pahit. Tikus di got bisa berbohong. Begitulah perilaku tikus. Itulah sebabnya mereka disebut tikus. Tapi, manusia tidak lari dan bersembunyi, karena manusia memiliki kelebihan. Berbohong adalah tindakan pengecut,” – Tam Lin.(page 160)

Nah kalau ini aku setuju : )

Ini cover asli bukunya:

Image

The Way Of The Warrior

Image

Judul Buku: The Way Of The Warrior

Penulis: Andrew Matthews

Penerjemah: Meithya Rose

Penerbit: Matahati

Terbit: Cetakan I, Desember, 2008

Tebal: 200 halaman

ISBN: 979-1141-30-4

Harga: Rp. 39.500,-

“Segala sesuatu diawali dan diakhiri dengan kehormatan.” – Bushido (Samurai Code)

Shimomura Jimmu kehilangan segalanya ketika sang ayah melakukan seppuku akibat dipermalukan oleh Choju Ankan. Ia pun melatih diri sebagai samurai agar dapat membalaskan dendam sang ayah serta memulihkan nama baik keluarganya.

Berlatar belakang kehidupan di Jepang pada abad ke-16, buku ini bercerita tentang loyalitas dan pengkhianatan, masa lalu serta ramalan di masa depan, dan jalan hidup seorang samurai.

Suka banget sama novel ini…….. baru kali ini dapat terjemahan buku yang bikin aku terkesan alias ceritanya nyampe ke dalam benak saya *alah. Padahal aku sudah cukup lama punya buku ini, dari tahun lalu aku timbun terus di rak dengan segel yang masih rapih. Aku mengulur-ngulur waktunya gara-gara dapat novel-novel baru yang fresh,hehe. Sementara liat aja novel ini, dari covernya tidak terlalu menarik, lalu terasa mengintimidasi saya sebelum membukanya. Padahal itu tidak sesuai dengan isinya, memang benar kata pepatah jangan menjudge buku dari covernya, nah sekarang aku kena deh sama pepatah itu.

Tokoh dalam novel ini adalah seorang remaja laki-laki bernama Shimomura Jimmu yang masih berusia sepuluh tahun. Ia anak satu-satunya dari pasangan Lord Kensu dan Lady Izanami. Konflik yang disuguhkan dalam novel ini langsung muncul di bab awal dengan prolog yang bikin tercengang, dan membuat ku penasaran untuk membaca kisahnya lebih lanjut.

Lord Kensu bunuh diri di depan anaknya dan pengawal pribadinya, Araki Nichiren. Kensu melakukan itu karena suatu alasan, nah karena suatu alasan ini disebabkan oleh Lord Ankan, orang yang sudah memalsukan dokumen dan merebut tahtanya. Sebelum meninggal ia mengatakan pada Jimmu untuk tetap hidup dan keluar dari nama keluarganya, ia dan istrinya akan menunggu Jimmu kembali. Sementara itu Nichiren yang akan mendidik Jimmu hingga ia bisa menjadi samurai dan dapat membalaskan dendam Lord Kensu pada keluarga Choju, yang dipimpin Lord Ankan.

Selama tujuh tahun Jimmu digembleng habis-habisan oleh Nichiren agar pandai menggunakan pedang dan mampu menebas musuh. Dan tentunya agar bisa membunuh Lord Ankan.

Tujuh belas tahun telah berlalu, Nichiren sudah meninggal dunia, kini Jimmu tinggal seorang diri, ia pergi merantau mencari tempat tinggal Ankan, tepatnya di Kastil Mitsukage di propinsi Ise. Perjalanannya menuju ke tempat tersebut mempertemukannya dengan serombongan bandit yang tengah beraksi merampok seorang kusir. Dalam perjalanan tersebut Jimmu berhasil menebas beberapa perampok tersebut, termasuk dari pemimpin mereka, Toshiro.

Berkat menolong kusir tersebut, Jimmu mendapat petunjuk untuk menemukan Kastil Mitsukage. Dan akhirnya ia pun bisa sampai ke tempat tersebut, bertemu dengan Sesan Hankei untuk pertama kalinya, lalu instruktur penjaga tersebut membawanya untuk bertemu Kapten Ishida Muraki. Jimmu yang berpura-pura ingin mengabdi di Mitsukage karena ingin menjadi samurai, meminta diijinkan untuk berguru dan mengabdi di Kastil Mitsukage. Usahanya pun berhasil, hanya dalam semalam saja Jimmu menekatkan diri untuk membunuh Lord Ankan menjelang malam hari tiba di hari pertamanya tinggal. Namun, rencananya gagal karena kepergok Lady Takeko, anak perempuan dari Lord Ankan yang seumuran dengannya. Meski Takeko tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan Jimmu di tengah malam dekat kediaman keluarganya, tapi Takeko tidak menaruh curiga pada Jimmu, justru ia malah sedikit tertarik.

Tokoh Lady Takeko ini adalah gadis yang cantik, angkuh, dan manja, semua keinginannya harus bisa dicapai, hingga tak ada satu pun yang bisa menentangnya.

Disisi lain, Jimmu cukup terpesona dengan gadis itu, namun ia sadar diri, ia tidak boleh menyukai anak dari seorang yang akan ia bunuh, seperti yang selalu diperingatkan Nichiren agar ia bisa mengendalikan diri. Meski Nichiren sudah tiada, namun suaranya masih tetap hidup dalam benaknya, suaranya selalu nyaring terdengar di telinganya setiap kali diingatkan bahwa ia harus segera membunuh Lord Ankan.

Waktu cepat berlalu namun Jimmu belum juga menemukan waktu yang tepat untuk membunuh Lord Ankan. Belum menemukan kesempatan atau memang Jimmu ragu? Karena orang yang dibayangkannya berwajah sangat garang dan lebih mirip setan itu ternyata memiliki paras yang sempurna sebagai seorang pemimpin, tak ada aura jahat di wajahnya, dan setiap tingkah lakunya terlihat sangat baik pada semua orang. Pandangan Jimmu tentang orang tersebut menjadi terbagi, disisi lain sangat bertolak belakang dengan cerita Nichiren yang mengatakan Lord Ankan sangatlah kejam. Apa Ankan hanya berpura-pura baik dibalik topeng jahatnya? Lalu bagaimana dengan perasaannya pada Lady Takeko? begitu pun sebaliknya?

Kisah ini sangat menarik untuk diikuti, aku sangat menyukai karakter-karakter dalam tokoh ini, karakternya sangat kuat dan hidup. Aku suka bagaimana Takeko menghadapi sikap Jimmu yang begitu kaku dan sangat sopan padanya, sementara ia membalasnya dengan ceplas ceplos dan apa adanya sebagai gadis yang angkuh dan manja.

Aku kasih 5bintang untuk Samurai Jimmu. Dalam novel ini nanyak sekali pelajaran yang bisa diambil : ) hampir tidak ada typo.

Quotes yang kusukai:

“Modal dari kesempurnaan adalah latihan yang terus menerus,” – Nichiren.

“Berlatihlah sampai kau tak lagi harus berpikir tentang apa yang sedang kau lakukan. Berlatihlah sampai itu jadi sealamiah bernapas,” – Nichiren. (Page 44)

Ini penampakan cover aslinya!

Image

Aku lebih suka cover aslinya deh : )

Tentang penulis

Andrew Matthews telah gemar menulis sejak usia tujuh tahun, tapi ia baru berkecimpung sebagai penulis purnawaktu setelah dua puluh tiga tahun menjadi guru. Kini ia sudah menulis lebih dari 60 buku untuk anak-anak dan remaja, termasuk Cat Song, yang dinominasikan untuk Smarties Book Award pada tahun 1994 dan Love Street yang diakui oleh para kritikus. Ia merupakan penulis yang sangat piawai dalam aneka ragam cerita, dan telah mengisahkan ulang berbagai mitos, legenda serta cerita-cerita klasik, sekaligus mengarang buku bergambar dan novel-novelnya sendiri. Andrew tinggal di Reading bersama istrinya dan kucing mereka.

Blue Remembered Heels

Image

Judul Buku: Blue Remembered Heels

Penulis: Nell Dixon

Penerbit: Matahati (M-pop)

Terbit: Maret, 2010

Tebal: 311 halaman

ISBN: 602-962-551-9

Harga: Rp. 42.500,-

Abbey Gifford dan kakaknya, Charlie, adalah penipu yang gemar merampok pria kaya. Itulah yang mereka kerjakan sampai suatu ketika Abbey tersambar petir.

Sejak saat itulah, Abbey mengalami ingatan kilas balik yang aneh. Sepasang sepatu biru kerap muncul dalam mimpinya. Parahnya lagi, dia jadi tidak bisa berbohonh. Padahal, pekerjaan Abbey menuntutnya untuk terus-menerus berdusta. Lalu, ketika seorang detektif misterius yang tampan bernama Mike Flynn mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya, dia merasa seperti dijebak…

Dan jika Mike sampai tahu kenyataan kehidupan kriminal Abbey, mungkinkah Abbey akan menemukan kebahagiaannya?

Awalnya aku sedikit ogah-ogahan baca novel terjemahan lagi. Soalnya beberapa buku mengecewakaan isi terjemahannya, bikin males buat baca. Tapi, setelah membaca salah satu reviewan novel ini dari blog temenku, aku jadi tertarik buat buka segel novel ini dan membacanya. hh

Ternyata Blue Remembered Heels lumayan seru juga, ceritanya agak thriller, tapi kurang nendang.

Jadi, ceritanya buku ini tuh tentang kehidupan tiga orang anak yatim piatu, mereka adalah Charlie, Abbey, dan Kip (yang disebutkan adalah nama panggilan mereka). Tiga bersaudara tersebut tentunya tidak mudah menjalani keseharian tanpa orangtua, meskipun mereka memilki seorang Bibi, adik dari ibunya, tapi mereka tidak ingin tinggal bersama dengan bibi yang bernama Beatrice itu, karena Kip, adik dari Charlie dan abbey yang berumur tujuh belas tahun itu merasa tidak nyaman tinggal dengannya.

Dalam buku ini Kip diceritakan sebagai anak autis, dia takut sekali dengan orang asing, tidak suka keramaian, dan lebih memilih mengurung diri di dalam rumah, sibuk dengan eksperimen-eksperimen yang sering ia geluti, juga kesukaannya berselancar di dunia internet.

Hal inilah yang membuat kedua kakaknya, Charlie dan Abbey memutuskan untuk melakukan pekerjaan sebagai penipu, demi mendapatkan uang banyak dengan cara singkat. Semua itu dilakukan mereka untuk memenuhi keinginan Kip, Kip ingin memiliki rumah di desa dengan halaman luas beserta perternakan hewan. Tidak seperti saat ini mereka tinggal di dalam flat yang sempit dengan tingkat keramaian yang luar biasa.

Awalnya tipu menipu itu biasa dan lancar digeluti oleh kedua kakak beradik yang cantik tersebut, Charlie dan Abbey. Namun, semuanya menjadi menghawatirkan saat Abbey tidak bisa lagi berkata bohong, ia selalu jujur saat orang mengajukan pertanyaan. Hal ini membuat strategi menipu yang mereka rencanakan malah jadi berantakan, terutama Charlie yang awalnya tidak respect pada keanehan yang terjadi pada Abbey. Selain tidak bisa berkata dusta, Abbey selalu dihantui ingatan masa lalu dalam mimpinya, sepatu biru dan bayangan seorang wanita yang dipastikan adalah ibunya dan seorang laki-laki, entah siapa?

Urusan menjadi lebih panjang saat mereka menemukan klien bernama Freddie. Meskipun berhasil menipunya dan melarikan diri dengan uangnya, mereka berdua justru terjebak oleh polisi bernama Mike, yang tengah mengusut kasus Freddie yang diduga telah menggelapkan uang. Dari hal tersebut, diam-diam Mike ternyata suka mengikuti mereka, Abbey yang selalu tanpa sengaja bertemu dengannya membuat kedekatan hubungan diantara mereka, disamping itu bahwa Charlie tidak suka dengan Abbey yang dekat dengan Mike, karena itu akan mengancam profesi mereka, dan bisa saja Mike ternyata menjebak mereka sungguhan, bisa jadi mereka nanti malah dijebloskan ke penajara.

Disisi lain klien baru mereka, Philippe, seorang atlit olahraga yang berasal dari keluaraga yang kaya dan agamis, membuat Charlie justru termakan ucapannya sendiri untuk tidak tertarik pada orang yang tidak seharusnya disukai. Yap, Charlie dan Philippe saling menyukai. Seperti halnya Abbey dan Mike. Nah, hubungan Abbey dan Mike yang semakin dekat, otomatis membuat kasus Freddie terungkap, juga dengan ingatan-ingatan masa lalu Abbey dalam mimpinya terkuak, nah jadi kasus ibunya yang menghilang itu ada hubungannya dengan Freddie.

Sayang sekali justru judul dari novel ini tentang kenangan sepatu biru itu tidak terlalu kuat perannya dalam cerita ini, juga tokoh Freddie yang menurutku kurang sangar. Kebanyakan yang disuguhkan malah sisi romance mereka.

Oya, untuk maslah Kip, dia jadi banyak berubah setelah pindah rumah ke Cheshire, dan berteman dengan tetangga baru yang bernama Sophie.

Overall, novel ini cukup menghibur untuk sekali baca.

Aku kasih 3,5 bintang untuk Sepatu Biru Kenangan.

Tentang Penulis

NELL DIXON lahir dan tinggal di sebuah kota kecil di Inggris yang dikenal sebagai Black Country. Dari pernikahannya yang sudah berjalan 25 tahun, dia memiliki tiga anak perempuan. Selain penulis, Dixon adalah sukarelawan kesehatan di daerah tempat tinggalnya. Dia pemenang RNA Romance Prize tahun 2007.

Love, Aubrey

Lau

Judul: Love, Aubrey

Penulis: Suzanne LaFleur

Penerjemah: Ary Nilandari

Penerbit: M-pop (Matahati)

Tebal:  256 halaman

Genre: Teen Fiction

Aubrey baru saja kehilangan ayah dan adiknya dalam kecelakaan tragis yang membuat seluruh hidupnya jungkir balik. Bersama ibunya, gadis itu berusaha menata hidupnya kembali. Namun pada suatu hari, sang ibu pergi meninggalkannya, entah kemana, tanpa pesan, tak ingat pada dirinya.

Gadis berusia sebelas tahun itu terpaksa mengurus diri dan menjalani hari-harinya sendirian, menunggu ibunya kembali. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah menulis surat untuk mengungkapkan perasaan bahkan di saat tak ada seorang pun yang dapat membacanya.

Ini adalah kisah mengharukan tentang keluarga, persahabatan, kenangan, cinta, serta kekuatan untuk memaafkan. Pada akhirnya, semua pengalaman itu memaksa Aubrey membuat salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya.

Sinopsis diatas sudah cukup jelas menggambarkan isi cerita dari novel ini. Ketegaran Aubrey menghadapi musibah patut diacungi jempol, seorang gadis cilik berusia sebelas tahun sudah berani hidup sendiri dan harus menjadi dewasa sebelum waktunya, dibandingkan orang dewasa sesungguhnya (ibu Aubrey) yang terlihat rapuh dan tak bisa bertahan hingga ia nyaris melupakan Aubrey dan telah pergi meninggalkannya sendirian.

Namun itu semua tidak berlangsung lama karena sang nenek (Gram) datang ke Virginia membawa Aubrey pergi ke Vermont untuk tinggal bersamanya. Awalnya Aubrey tidak nyaman tinggal dengan Gram, ia masih diliputi kesedihan dan ingatannya akan Dad, Savannah, dan juga ibunya yang menghilang. Hanya ikan piaraannya (Sammy) yang menjadi teman setianya saat ini. Selain itu Aubrey masih sering menulis surat untuk Jilly (teman khayalan Savannah) untuk menceritakan semua isi hatinya setiap hari.

Gram tidak pernah menyerah untuk membuat Aubrey hidup ceria kembali, Gram menyuruh cucunya itu melakukan kegiatan dan bersekolah agar ia tidak terus mengurung diri di kamar.

Berkat neneknya Aubrey bisa bertemu Bridget, gadis cilik seusianya yang tinggal disebelah rumah Gram. Keluarga Bridget sangat baik sekali terhadap Aubrey. Mereka berdua kini bersahabat baik, di sekolah pun kompak selalu bersama-sama.

Masa lalu Aubrey sudah banyak diketahui pihak sekolah, ia pun diberi guru konseling bernama Amy. Amy selalu memberikan nasihat dan solusi pada Aubrey, meskipun setiap obrolan mereka seperti halnya seorang teman, tidak terlihat menggurui ataupun memerintah.

Ini yang saya suka dari novel ini, tidak ada kesan menggurui dalam setiap kata-katanya.

Sang Nenek tidak hanya berdiam diri, ia selalu berusaha mencari tahu keberadaan putrinya (ibu Aubrey) sampai sanak saudara semua dilibatkan dalam pencariannya.

Bagaimana usaha Gram untuk menemukan ibu Aubrey dan apakah Aubrey bisa bertahan di rumah neneknya? Akankah ia bisa kembali dengan ibunya? Lalu kisah apa saja yang terjadi di sekolahnya bersama Bridget juga seseorang yang disukainya?

Semua jawabannya ada di novel ini, kalau tertarik baca saja selengkapnya dibuku ini, saya tidak mau bikin spoiler,hehe meskipun sudah banyak clue yang diceritakan,kkk.

Aku kasih 3 bintang untuk Love, Aubrey.

Sebenarnya cerita dalam buku ini gak buat aku sedih, tapi sedikit tersentuh saat membaca surat Aubrey untuk Dad (page 167).

School Of Fear

Sof

Judul: School Of Fear

Penulis: Gitty Daneshvari 

Penerjemah: Maria M. Lubis 

Penerbit: Matahati

Genre: Teen Fiction, Fantasy 

Tebal:  348 halaman

Harga: Rp 53.000,-

Setiap orang memiliki rasa takut terhadap sesuatu. Namun, jika ketakutannya sangat parah sehingga merepotkan diri sendiri maupun orang lain di sekitar, hal itu harus segera diatasi.

Empat orang anak−Madeleine, Theo, Garrison, dan Lulu−dengan ketakutan masing-masing, bergabung di sebuah program kamp musim panas, untuk mengatasi fobia masing-masing. Tempat itu bernama Sekolah Kengerian.

Alih-alih mendapatkan pelajaran untuk mengatasi ketakutan mereka, keempat anak itu harus berhadapan dengan kepala sekolah yang sudah tua dan sinting. Namun, terjadi peristiwa mengerikan yang membuat sang kepala sekolah tewas dan keadaan menjadi sangat genting. Mereka harus bertindak secepatnya, dan itu berarti mereka harus menghadapi ketakutan masing-masing.

Empat anak yang masih remaja mempunyai fobia berbeda-beda, mereka dipertemukan di Sekolah Kengerian. Sebelum memasuki sekolah itu, mereka awalnya hanya orang biasa yang hidup dengan ketakutan masing-masing. Mereka menghadapinya seakan-akan sudah jadi hal yang biasa dan takdir. Namun, keluarga dan orang-orang di sekelilingnya merasa tidak nyaman dengan fobia itu, hingga akhirnya memaksa mereka untuk mengikuti saran masuk sekolah kengerian.

Madeleine, seorang gadis yang masih berusia dua belas tahun selalu memakai cadar berjaring dan membawa beberapa botol semprotan anti serangga yang selalu ia semprotkan kemana-mana, termasuk dibadannya. Yup, dia fobia terhadap ngengat.

Theo, seorang anak laki-laki yang fobia pada kecelakaan/kematian. Ia begitu super protectif menjaga orang-orang disekitarnya, memastikan hidup atau mati, meskipun hanya bisa memantu melalui ponsel saat berada jauh dari keluarga yang disayanginya.

Lulu, seorang gadis yang fobia pada lift/ tempat sempit lainnya. Anak perempuan ini agak sensitif terlebih lagi jika dekat dengan Theo.

Garrison, anak laki-laki yang tampan, seorang atlit di sekolahnya dan menjadi pangeran pujaan setiap wanita. Namuhn, dibalik semua itu ia memiliki fobia pada air yang jumlahnya banyak, seperti laut, sungai, kolam dan sebagainya.. berbeda dari Maddie, Theo, dan Lulu yang dipaksa ikut kamp musim panas ini, Garrison justru berkeinginan sendiri masuk sekolah kengerian, karena ia tidak ingin dipandang lemah oleh ayahnya dan juga tidak ingin ketahuan oleh teman-temannya karena takut pada air.

Kisahnya tidak terduga. Sekolah yang misterius, yang dapat mengobati fobia setiap orang. Kepala sekolah yang bernama Mrs. Wellington dan atistennya sangat aneh dan nyentrik. Keganjilan di sekolah itu membuat mereka berempat semakin ingin lari… sebenarnya apa yang terjadi? Aku gak bisa ngasih bocoran, karena takut kena spolier. Soalnya banyak kunci disetiap cerita dan bab per bab nya.

Yang paling menarik juga adalah di tiap bab ada nama-nama fobia beserta artinya. Ada 28 bab dan 28 fobia tentunya. Kebayang gak… selain dapat keseruan cerita SOF, kita dapat juga pengetahuan soal fobia, siapa tahu salah satunya kamu termasuk, hehe *jk

Aku cukup suka dengan buku ini, meskipun kurang gereget… entah kenapa aku suka senyum-senyum sendiri dengan kisah romance secuil antara mereka berempat. Jadi penasaran dengan kelanjutan buku ke 2 dan ke 3 nya >_< moga bakal diterjemahin juga dan diterbitin, aku sangat menanti kisah apalagi yang terjadi? Apa fobia mereka tetap ada?

Quotes yang kusukai:

“Ini adalah proses, para kontestan; suatu proses yang akan mengubah diri kalian secara konstan. Sekarang, kalian telah menempuh langkah-langkah pertama kalian disini, dan kalian akan terus membuat kemajuan setiap musim panas, dan tak lama lagi, kalian tidak akan pernah ingat sedetik pun saat kalian masih memiliki fobia,” – Mrs. Wellington.

Aku kasih 4 bintang untuk Sekolah Kengerian ^_^

Cover buku aslinya:

Seri 1

Sof1

Seri 2

Sof2_classisnotdismissed

Seri 3

Sof3_thefinalexam

Tentang Penulis:

Bisa lihat di websitenya, webnya keren loh ^.^)b

www.gittydaneshvari.com

enrollinschooloffear.com

Marcy?s Problem at School

3670195

Judul: Marcy’s Problem at School

Judul Asli: Cat Ate My Gymsuit

Penulis: Paula Danziger 

Penerjemah: Maria M. Lubis 

Penerbit: Matahati 

Tebal:  178 halaman     

Perkenalkan, namaku Marcy Lewis. Aku gemuk dan berjerawat. Canggung dan mudah gugup. Sekolahku mengerikan. Aku tahu teman-teman tertawa di belakangku. Keadaan di rumah lebih buruk. Ayah menganggapku tidak berarti, dan seringkali bertengkar dengan ibu. Singkatnya: aku punya banyak masalah!

Semua itu berybah ketika Ms. Finney muncul. Sebenarnya dia adalah guru bahasa Inggris yang aneh, teteapi metode mengajarnya sungguh mengasyikan. Karena diajari oleh Ms. Finney, aku jadi punya tujuan hidup dan merasa lebih percaya diri.

Tetapi Kepala Sekolah berpikiran lain. Ms. Finney malah dipecat! Aku bergabung dengan teman-teman untuk menggagalkan rencana itu. Upaya yang justru menamabah masalah di rumah, juga di sekolah.

Simpel… tapi ngena. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari buku ini. Si culun Marcy, berusia masih tiga belas tahun, berbadan gemuk dan berjerawat, juga pemalu dan pendiam. Hidupnya tidaklah mudah!

Marcy selalu merasa buruk. Baik di sekolah maupun di rumah. Sinopsis di atas sebenarnya sudah cukup jelas untuk menggambarkan isi dari buku ini. jadi saya hanya akan mengulasnya sedikit saja, semoga ga bikin spoiler, hehe..

Di sekolah sudah jelas ia merasa buruk karena berbadan gemuk dan berjerawat. Dia tidak punya banyak teman. Hanya Nancy satu-satunya teman Marcy, yang mungkin juga Nancy terpaksa berteman dengannya karena ibu mereka berdua adalah teman baik.

Di rumah, tidak ada yang menyenangkan. Hanya ada suara teriakan Martin, ayah Marcy yang selalu menyulut pertengakaran bersama dengan Lili, ibu Marcy. Semua itu memang bukan tanpa alasan. Siapa lagi kalau bukan anak-anak mereka yang disudutkan. Terutama bagi Marcy, karena itu Marcy membenci ayahnya yang selalu menyudutkannya biang dari masalah di rumah. Selain itu, Stuart, adik Marcy yang masih berumur empat tahun selalu menangis setiap menyaksikan pertengkaran ayahnya. Ia pun tidak lepas dari alasan Martin selalu berteriak. Stuart suka dimarahi karena selalu menghisap jempol dan memeluk boneka kemana-mana yang bernama Wolf. Wolf adalah boneka kesayangannya Stuart, boneka itu pun sering diberi makan biji jeruk.

Namun semua berubah setelah kedatangan Ms. Finney, guru baru bahasa Inggris di kelas Marcy. Marcy dan teman-teman sekelasnya mengira Ms. Finney sama dengan guru-guru lainnya yang tidak tahan dengan kelas lalu pergi tidak sampai sebulan mengajar. Tapi ternyata Ms. Finney berbeda… dia punya kelebihan yang menarik, hingga membuat para murid menyenanginya.

Perubahan demi perubahan pun akhirnya Marcy alami pada dirinya sendiri, meskipun itu tidak berlaku di dalam rumah. Di sekolah ia merasa menjadi lebih baik, ia terlalu menyayangi Ms. Finney hingga membuat semuanya berubah. Lebih senangnya lagi karena Marcy bisa dekat dengan seorang teman laki-laki sekelasnya yang bernama Joel. Keakraban mereka terjalin karena Semdley, perkumpulan kelompok bahasa Inggris yang didirikan oleh Ms. Finney.

Dimana banyak orang yang menyukai, disitu pula banyak orang yang tidak suka. Termasuk diantaranya Kepala Sekolah dan rekan-rekan guru lainnya. Karena itulah tanpa diduga Marcy dan lainnya, Ms. Finney sudah tidak mengajar lagi di kelas, bahkan sudah terancam keluar dari sekolah.

Sebenarnya banyak sekali pembelajaran yang dapat kita ambil dari buku ini. aku sangat suka karena tanpa aku sadari, ceritanya disampaikan dengan sangat mengalir.. sampai gak sadar upaya demi upaya yang dilakukan para murid Ms. Finney terkesan seperti detektif cilik, namun tidak berisi kode-kode rahasia yang sangat menonjol seperti dalam setiap cerita detektif.

Aku tidak akan membongkar seperti apa upaya-upaya yang dijalankan oleh Marcy dan kawan-kawan, karena semuanya terasa mengalir… juga karena ini review yang tidak boleh ada spoiler. hehe

Tebak sendiri saja apa para murid bisa membuat Ms. Finney kembali mengajar atau tetap dipecat. Lalu bagaimana dengan konflik di rumah Marcy? Agak sedikit menggantung karena tidak ada penyelesaian. Mungkin si penulis memang benar-benar ingin menonjolkan kealamian tulisannya, tidak seperti novel-novel drama yang sudah pasti happy ending atau sad ending.

Buku ini rekomendasi buat para remaja atau siapapun yang sedang kurang percaya diri. Dengan membaca buku ini setidaknya bisa menambah motivasi. Intinya sih … Tidak ada orang yang benar-benar sangat buruk, tidak ada juga orang yang benar-benar sangat baik : ) 

Quotes yang kusukai:

(Page 16)

“Ada banyak sekali pelajaran menulis, walaupun sulit, aku menyukainya. Kadang-kadang, lebih mudah menuliskan sesuatu daripada mengatakannya keras.” – Marcy.

(Page 17)

“Aku kaget ketika melihat ternyata semua orang punya masalah. Aku yakin, banyak orang yang memiliki masalah lebih besar daripada yang kamu bicarakan.” – Marcy.

(Page 19)

“Aku menghabiskan hampir semua uang sakuku untuk membeli buku. Aku mulai ketagihan terhadap dunia tulis menulis. Sampai-sampai aku merasa sebuah buku d
apat menghibur serta mengurangi kekecewaanku.”
– Marcy.

(page 74)

“Benar-benar membingungkan. Sudah pasti, menjadi orang dewasa itu sulit. Lebih mudah menjadi anak kecil yang masalah besarnya adalah mempelajari bagaimana caranya mengikat tali sepatu.” – Marcy.

(page 173)

“Ingat bagian buku To Kill A Mockingbiral, saat Atticus berkata kepada Jem jika kita tidak bisa mengerti seseorang hingga kita menempatkan diri dalam posisinya nanti. Itulah yang harus kau lakukan.” – Marcy.

Aku kasih 4 bintang untuk buku ini : )