Book Review : Bumi by Tere Liye #1


Publisher: PT Gramedia Pustaka Utama
Published: viii, April 2015
Pages: 440
Genre: Science Fiction, Fantasy
Rating: 5
*
Namaku Raib, usiaku 15 tahun, kelas sepuluh. Aku anak perempuan seperti kalian, adik-adik kalian, tetangga kalian. Aku punya dua kucing, namanya si Putih dan si Hitam.
Mama dan papaku menyenangkan. Guru-guru di sekolahku seru. Teman-temanku baik dan kompak.
Aku sama seperti remaja kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang kusimpan sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan.
Namaku Raib. Dan aku bisa menghilang.

“Buku pertama dari serial Bumi.”
*
Review:
Akhirnya tuntas juga menamatkan bacaan novel setelah lama reading slump. Hmm.. Sebenarnya masih suka baca sih, cuma lama banget ngebangun mood baca sekali duduk. Pilih buku ini itu dengan asal nggak ada yang beres. Emang bener sih, ya.. Mood baca bisa baik kalau kita memulai dengan memilih buku yang disukai. Salah satunya yang akan saya review berikut ini. Continue reading

Madre

Judul: Madre

Penulis: Dewi Lestari (Dee)

Terbit: Cetakan VI, Februari 2013

Penerbit: Bentang Pustaka

Genre: Fiksi, Romance

Tebal:  xiv + 162 halaman

ISBN: 978-602-8811-49

Harga: Rp 47.000,- (Pinjam dari Aini)

Blurb:

“Apa rasanya sejarah hidup kita berubah dalam sehari?

darah saya mendadak sepermpat Tionghoa,

nenek saya ternyata tukang roti, dan dia,

bersama kakek yang tidak saya kenal,

mewariskan anggota keluarga yang tidak pernah saya tahu:

Madre.”

Terdiri dari 13 karya fiksi dan prosa pendek, Madre Continue reading

Rectoverso

cr:photo addeection

Judul: Rectoverso

Penulis: Dewi Lestari (Dee)

Terbit: Cetakan II, Februari 2013

Penerbit: Bentang Pustaka

Genre: Fiksi, Science-Romance

Tebal:  x + 174 halaman

ISBN: 978-602-7888-03-6

Harga: Rp 69.000,- (Pinjam dari Aini)

Blurb:

Dewi Lestari, yang bernama pena See, kali ini hadir dengan mahakarya unik dan pertama di Indonesia. Rectoverso merupakan hibrida dari fiksi dan musik, terdiri dari sebelas cerita pendek dan sebelas lagu yang bisa dinikmati secara terpisah maupun bersama-sama. Keduanya saling melengkapi bagaikan dua imaji yang seolah berdiri sendiri, tetapi sesungguhnya merupakan satu kesatuan.

Inilah cermin dari dua dunia Dewi Lestari yang ia ekspresikan dalam napas kreativitas tunggal bertajuk Rectoverso.

Dengar fiksinya. Baca musiknya. Lengkapi penghayatan Anda dan temukanlah sebuah pengalaman baru.

Review:

Rectoverso adalah buku kumpulan cerpen karya Dee yang sebelumnya pernah diterbitkan pada tahun 2008.  Continue reading

Mockingjay (The Hunger Games #3)


Judul Buku: Mockingjay (The Hunger Games #3)
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi
Genre: Fantasy, Romance, Science Fiction, Thriller
Terbit: Cetakan II, Maret 2012
Tebal: 432 hlm
ISBN: 978-979-22-7843-9
Harga: 68.000,-

Blurb:

Katniss Everdeen selamat dari Hunger Games, dua kali. Tapi Katniss belum sepenuhnya aman dari ancaman Capitol meskipun sekarang ia dalam lindungan Distrik 13.

Pemberontakan makin merajalela di distrik-distrik untuk menjatuhkan Capitol. Kini tak ada seorang pun yang dicintai Katniss aman karena Presiden Snow ingin menumpas revolusi dengan menghancurkan Mockingjay… bagaimana caranya.

“Buku terakhir dari trilogi Hunger Games ini adalah yang terbaik. Novel yang dirancang indah dan cerdas pada setiap tingkat.” – Publisher Weekly

“Memesona, memukau, dan mengerikan.” – Los Angeles Times

“Plot cerita ini menegangkan, dramatis, dan seru.” – School Library Journal

“Menegangkan… bahkan orang dewasa ingin buru-buru membacanya hingga tamat.” – USA Today

“Trilogi ini merangkum gerakan politik dari novel 1984, kekerasaan yang tak terlupakan dari A Clockwork Orange, nunsa imajinasi The Chronicles of Narnia, dan daya cipta nan cerdas dari Harry Potter.” – New York Times Book Review
**


***spoiler***
(yang belum baca abaikan ya ;p)

Last series dari Hunger Games, sesuai dengan judulnya, yaitu Mockingjay—yang merupakan simbol pemberontakan bagi Capitol. Dari Catching Fire, adanya Hunger Games Quell adalah untuk meredam pemberontakan, tetapi di seri ketiga ini pemberontakan itu tidak hilang, justru tersulut dengan adanya Mockingjay.

Yap, Katniss Everdeen, masih dengan karakternya yang spontan, yang tidak ingin jadi pion dari kekuasaan Capitol.
Pemberontakan pun benar-benar terjadi di wilayah panem. Distrik 12 hancur, dihujani bom-bom dari Capitol, yang membuat mereka akhirnya harus mengungsi ke distrik 13.

13? Kalau yang sudah baca seri pertama Hunger Games pasti bertanya-tanya, bukankah distrik 13 sudah musnah alias tidak ada lagi?
Benar, dari mulut ke mulut memang seperti itu, kenyataannya pun lahan distrik 13 rata. Lalu dimana 13 itu berada?
Selama ini ternyata distrik yang dianggap sudah hilang itu diam-diam memiliki kekuasaan terpendam, bertahun-tahun mereka telah melakukan persiapan untuk bangkit setelah sekian lama dianggap musnah. Sebenarnya mereka ada dan tinggal dibawah tanah. Wow!
Dengan dipimpin oleh seorang presiden bernama Coin, distrik 13 kembali dengan segenap kekuatan yang telah dibangunnya bertahun-tahun.

Bagaimana hal itu bisa tidak diketahui oleh Capitol dan distrik-distrik lain adalah karena distrik 13 membangun tempat tinggal di bawah tanah. Dan sempat ketahuan saat tahu distrik 13 membawa beberapa pemain Hunger Games Quell kesana saat hujan bom berjatuhan di arena. Hal ini dilakukan 13 sebagai rencana balas dendam menghancurkan Capitol.

Dari sinilah… Hunger Games Quell, Katniss dan Peeta berpisah. Peeta dijadikan tawanan oleh Capitol, sementara beberapa peserta lain banyak yang tewas. Yang selamat hanya Katniss, Finnick, Johanna, dan beberapa yang aku lupa namanya -_- Pun juri Hunger Games, Plutarch (mentor Hunger Games yang juga termasuk perserta), dan Haymitch. Ternyata mereka berdua adalah sekutu dari distrik 13, merekalah yang membawa Katniss dan lainnya kesana. Karena sudah tahu akhirnya akan seperti ini, mereka membentuk prajurit pemberontakan dengan Mockingjay sebagai pionnya.

Gale ikut sebagai prajurit pemberontakan. Katniss ditunjuk sebagai Mockingjay oleh presiden Coin. Akantetapi, Katniss tidak ingin melakukannya, ia sudah lelah dengan semua yang dilakukannya—yang selalu berbuntut kepada orang-orang yang disayanginya yang harus mati. Termasuk Peeta yang dijadikan tawanan dan disiksa oleh Capitol sebagai umpan untuknya. Katniss bersedih, dia terlihat sayang sekali pada Peeta.

“Tanpa keberadaan pria itu tak sanggup membuatku bertahan hidup.” – Katniss (page 357)

Padahal disisi lain, Gale selalu setia mendampinginya. So, seorang pemburu atau tukang roti yang akhirnya dipilih Katniss? x)

Cari tahu jawabannya sendiri, yang jelas Katniss akhirnya menyanggupi akan menjadi Mockingjay, dengan syarat dia bisa membunuh presiden Snow.

Ternyata Presiden Snow yang semakin marah dengan pemberontakan yang disulutkan Distrik 13, menjadikan Peeta sebagai Mutt (seperti zombie), otaknya dicuci, dibuat untuk membenci Katniss dan melupakan masa lalunya.

Lagi-lagi cinta Katniss diuji, dengan menjadi Mockingjay, presiden Coin memrintah prajuritnya yang sekaligus rekan-rekannya sewaktu di Hunger Games untuk membantu meloloskan Peeta dari tangan Capitol. Berhasil. Tapi, melihat Peeta yang sudah kembali dan tinggal bersamanya di 13 tampak seperti orang asing membuat Katniss kecewa apalagi saat ia mendekatinya Peeta nyaris ingin membunuhnya.

#Sigh. Cukup menguras hati dan emosi.

Sekarang Capitol dan distrik 13 beserta distrik-distrik lainnya tengah berperang, saling menghancurkan.
Bikin tegang, emosi, sekaligus tersentuh. Bener-bener panas dingin, apalagi baca berulang-ulang nyanyian Pohon Gantung :3

Sejujurnya dari tiga seri The Hunger Games, Hunger Games #1 yang paling berkesan buatku. Tapi, dengan endingnya… yang… yah… bolehlah, tidak mengecewakan karena manis banget :”)
Kesimpulannya, dari tiga set novel ini aku kasih 5 bintang. Terlebih karena terjemahannya yang bagus, typo nggak banyak, dan nggak menganggu juga.
Masih—karena tokoh-tokohnyalah aku suka dengan novel ini. Rasanya sedih saat menutup halaman terakhir buku ini, artinya aku berpisah dengan banyak orang di distrik-distrik panem.

Tokoh-tokoh yang tidak bisa kusebutkan satu persatu, begitu banyak memberikan pembelajaran yang bermakna. Kepercayaan, rela berkorban, kasih sayang yang tulus, juga kerakusan pada kekuasaan yang hanya akan membuat diri sendiri hancur.

Dari sekian banyak kelebihan novel ini, ada satu hal yang buatku mengganjal, yaitu saat Prim, adik Katniss meninggal. Aku nggak bermaksud ***spoiler***, hanya kejadian Prim tersebut seperti kejapan mata, aku tidak membaca seperti apa detailnya. Apa mungkin karena aku sendiri pada saat itu bacanya kurang fokus. Entahlah… rasanya aku masih sedikit mengganjal saja.
Tapi dengan ending dari bunga prim itu aku jadi mulai ngerasa memang Prim benar-benar udah nggak ada.

Pohon Gantung aku beri 5 bintang.

Quotes yang kusuka:
“Lebih baik tidak menyerah. Butuh kekuatan sepuluh kali lipat untuk bisa menguatkan diri dibandingkan untuk gagal.” – Finnick (page 174)

Ps.
Jujur ini novel sci-fi fantasy yang bikin saya sukaaaa sama genre tersebut, khususnya fantasi. Jadi, sekarang mencoba untuk nggak akan pilih-pilih novel fantasi lagi kali ya… Lol

Review ini diikutsertakan untuk posting bareng bulan November, dengan tema bacaan Thriller/Horror.

Catching Fire (The Hunger Games #2)


Judul Buku: Catching Fire (The Hunger Games #2)
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah:Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi
Genre: Fantasy, Romance, Science Fiction, Thriller
Terbit: Cetakan I, Juli 2010
Tebal: 424 hlm
ISBN: 978-979-22-5981-0
Harga: Rp 58.000,- (Rp 59.000,- u/ cover film)

Api pemberontakan sudah tersulut. Dan Capitol ingin membalas dendam.

Katniss Everdeen berhasil keluar sebagai pemenang Hunger Games bersama Peeta Mellark. Tapi kemenangan itu menyulut kemarahan Capitol. Kemenangan Katniss ternyata membangkitkan semangat pemberontakan di beberapa distrik untuk menentang kekuasaan Presiden Snow yang kejam.

Presiden Snow mengancam Katniss untuk meredakan kegelisahan penduduk distrik dalam Tur Kemenangan. Satu-satunya cara meredam keinginan penduduk untuk memberontak adalah dengan membuktikan bahwa dia dan Peeta saling mencintai tanpa adanya keraguan sedikit pun. Jika gagal, keluarga dan semua orang yang disayangi Katniss menjadi taruhannya…

“Collins berhasil menulis buku kedua yang lebih bagus daripada buku pertama.” – The New York Times

“Buku ini jauh melampaui perkiraanku. Sama serunya dengan The Hunger Games, tapi lebih mengena di hati… luar biasa. Kau bakal rela begadang membacanya.” – Stephenie Meyer, penulis Twilight Saga
**

Setelah di seri sebelumnya Katniss dan Peeta menjadi pemenang. Hidup mereka dijamin oleh pemerintah Capitol, yaitu tinggal di rumah pemenang.
Bahagia bisa berkumpul kembali dengan Prim dan ibunya, serta sahabatnya, Gale. Kembalinya Katniss ke rumah membuat gadis itu melupakan sejenak hubungannya dengan Peeta yang pada kenyataannya hanya sandiwara.
Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama saat pemimpin Capitol, yaitu presiden Snow datang ke rumahnya membawa kabar yang tidak menyenangkan bagi Katniss.

“Tentu saja, kau tidak tahu tentang hal ini. kau tidak punya akses informasi tentang suasana hati distrik-distrik lain. Di sejumlah distrik, mereka memandang muslihatmu dengan buah berry itu sebagai tindakan perlawanan, bukan perbuatan berlandaskan cinta. Dan jika anak perempuan dari Distrik Dua Belas bisa melawan Capitol lalu lolos begitu saja, apa yang menghentikan mereka melakukan usaha yang sama?” – Presiden Snow (page 29)

Peeta yang benar-benar tulus mencintai Katniss sebenarnya tidak ada masalah. Yang jadi permasalahannya justru ada pada Katniss—yang dari awal hanya berpura-pura mencintai Peeta, sebenarnya hatinya masih berharap pada Gale. Hal ini disebutkan Presiden Snow sebagai pemberontakan.
Hingga akhirnya Katniss dan Peeta diikutsertakan lagi dalam Hunger Games, yang diberi nama Quell untuk meredam pemberontakan.
Hunger Games Quell diperuntukkan bagi para pemenang Hunger Games 1-75 yang masih hidup.
Di HG Quell ini romantisme Peeta dan Katniss lebih banyak, tapi cukup dramatis dibandingkan Hunger Games #1.
Aku semakin suka dengan Peeta yang menunjukkan rasa cintanya yang tulus untuk Katniss. Berusaha melindungi gadisnya agar tetap hidup.

“… Mimpi-mimpi burukku biasanya tentang kehilangan dirimu,”
“Aku baik-baik saja setelah aku sadar kau ada disini” – Peeta (page 100)

Hal ini buat aku terharu, Katniss pun demikian, hingga dia sadari juga bahwa ia ingin melindungi Peeta. Meskipun, aku nggak bisa menghakimi dia karena sudah memberi harapan pada Peeta dengan sandiwaranya. Uh!
Aku pun sedikit sebal di Hunger Games #1 karena Katniss tidak peka dengan perasaan Peeta, mungkin Katniss tidak tahu bahwa Peeta benar-benar tulus mencintainya, tanpa tahu sandiwara itu. Dia malah lebih memilih kembali kepelukan Gale, sampai-sampai HG Quell ini harus ada, karena Katniss dianggap sebagai pemberontak dengan simbol yang disematkan padanya, yaitu Mockingjay.

Yeah, Capitol is damn sick!!!

Kekuasaan Capitol tidak bisa membuat Katniss berkutik. Oke, disini aku cukup berempati padanya, bagaimana Katniss bisa menghadapi Hunger Games Quell dengan mengerahkan segala kemampuannya untuk bertahan hidup dan melindungi Peeta.

Yang kusuka dari novel ini, selain romantisme Katniss dan Peeta, aku pun menyukai bagaimana penulis memberikan gambaran tentang pakaian yang dipakai Katniss dan Peeta setiap kali akan bermain dalam Hunger Games. Tokoh-tokoh lainnya yang unik juga seperti mentor-mentor di Hunger Games, Haymitch, si tukang mabok, tapi waras kalau sudah menghadapi arena HG, juga ada desainer Katniss, yaitu Cinna yang ngemong banget.
Peserta-peserta HG Quell pun tak kalah ambisius dari Hunger Games sebelumnya. Arena Quell ini semakin mendebarkan dan berdarah-darah.
Kehadiran Finncik, Beetee, Johanna sebagai sekutu Katniss dan Peeta di HG Quell pun memberikan kesan yang baru di arena, mereka lebih kuat dan berani (Jelas saja, mereka itu kan para pemenang HUnger Games terdahulu) Dengan adanya sekutu, penonton mungkin akan ingat pada Rue, sekutu Katniss yang meninggal di HG #1. Di Catching Fire tidak kalah mengharukan sekutu-sekutu itu mampu berkorban x(

Seperti di seri pertama, terjemahan novel seri kedua ini rapi, enak dibaca, typo ada tapi tidak mengganggu.

At least, pelajaran yang bisa diambil dari buku kedua ini, menurutku bahwa dari zaman dulu hingga sekarang yang namanya pemimpin selalu punya kuasa untuk mengatur rakyatnya. Punya wibawa yang ‘ditakuti’. Hanya tentu saja tergantung bagaimana si pemimpin itu sendiri, apakah kepemimpinannya itu benar, seperti menegakan hukum yang adil dengan pertimbangan yang tidak berat sebelah hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan seharusnya untuk kepentingan bersama.
Atau jauh dari benar, seperti di Capitol misalnya, Snow merupakan penguasa yang diktator, yang tidak pandang bulu untuk membuat siapa saja yang mencoreng tahta kepemimpinannya akan membuat hidup si pemberontak itu menderita, bahkan jika harus mengorbankan banyak orang disekelilingnya.

Mampukah Katniss melindungi keluarganya, termasuk Gale dan Peeta? x)

4,5 bintang untuk Gadis yang terbakar, Katniss.

lain-lain:
cover novel Catching Fire terbaru versi film 🙂

Katniss Everdeen yang diperankan Jennifer Lawrence. Filmnya sudah tayang loh bulan November ini di bioskop, tepatnya dirilis 21/22 November kemarin 😀

Catching Fire movie

(source pic: google)

The Hunger Games #1


Judul Buku: The Hunger Games #1
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah:Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi
Genre: Fantasy, Romance, Science Fiction, Thriller
Terbit: Cetakan I, Oktober 2009
Tebal: 408 hlm
ISBN: 978-979-22-5075-6
Harga: 58.000

Dua puluh empat peserta.
Hanya satu pemenang yang selamat.

Amerika Utara musnah sudah. Kini di belasnya berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas distrik.
Katniss, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12.

Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televisi The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah: membunuh atau dibunuh.

Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games. Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.
**

Katniss Everdeen, gadis pemburu yang hampir setiap hari pergi ke hutan untuk mencari binatang buruan untuk ia tukarkan dengan uang atau makanan layak di kota. Terkadang hasil tangkapannya pun ia makan sendiri untuk keluarganya. Hidup sebagai tulang punggung keluarga adalah tanggung jawabnya. Ibunya depresi semenjak ayahnya meninggal, sementara adiknya, Prim, masih terlalu muda. Dan ia sangat sayang pada adiknya melebihi siapapun.
Gale adalah sahabat Katniss, teman berburunya. Gale sudah seperti kakak baginya, tapi perasaan nyaman dan menenangkan membuat Katniss menginginkan sesuatu yang lebih dari hubungan sebagai partner berburu. Tapi, itu semua masih sekedar harapan.

“Aku ingin melakukan sesuatu, disini, sekarang, membuat mereka bertanggung jawab, menunjukkan pada Capitol bahwa apa pun yang mereka lakukan atau mereka paksakan pada kami, ada bagian dari setiap peserta yangtak dapat mereka miliki. Bahwa Rue lebih dari sekedar poin dalam permainan mereka. Dan aku juga bukan.” – Katniss (page 261)

Seru, keren, menantang, tapi juga mengharukan dengan bumbu romance yang membuat siapapun pasti bakal nagih bacanya, termasuk aku.

Kompetisi yang tidak biasa, membunuh atau dibunuh. Setiap Distrik wajib mengirimkan dua peserta (laki-laki dan perempuan). Dari kedua belas distrik, didapat dua puluh empat peserta yang akan bertarung, saling mengalahkan, meskipun dari distrik yang sama sekalipun. Karena hanya akan ada satu pemenang. Satu orang yang hidup dalam acara Hunger Games ini.

Hunger Games merupakan acara besar yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga Panem-Capitol, tapi juga merupakan hal yang paling ditakuti, karena bagi anak yang berusia dua belas tahun ke atas, mereka harus mendaftarkan diri sebagai peserta Hunger Games. Bagi mereka warga miskin, bisa mendapatkan tessera (mendaftarkan lebih dari satu nama undian, berkali-kali lipat jumlahnya untuk ditukarkan dengan makanan bagi keluarganya−−jika dia terpilih sebagai peserta). Salah satunya adalah Katniss dan Gale yang memiliki nomor undian paling banyak. Kemungkinan untuk menjadi peserta cukup besar peluangnya, dan Katniss sudah siap dengan resiko itu. Akantetapi, pada akhirnya nama Prim, adiknya yang dimuncul dari undian. Katniss tidak bisa membiarkan hal itu, ia pun mengajukan diri sebagai peserta−−menggantikan adiknya. Semua orang merasa tergugah dengan kerelaan Katniss. Dan, anak laki-laki yang terpilih adalah Peeta (anak dari tukang roti) yang mengingatkan Katniss akan masa lalu, ketika anak laki-laki itu pernah menolongnya, dan ia masih merasa berhutang budi sampai saat ini.

Satu tim bersama orang yang sudah pernah menolongnya, lalu apa yang harus Katniss lakukan di dalam kompetisi ini? Di satu sisi ia harus menang dengan membunuh kedua puluh tiga peserta.

Yang paling buat aku nggak bisa lepas dari novel ini adalah pengakuan Peeta yang mengejutkan, ternyata dia menyukai Katniss, padahal nih Peeta cuek-cuek dingin gitu. Makanya Katniss nggak sadar-sadar kalau Peeta beneran suka. Hwaa semakin dilema…
Bagaimana akhir dari kompetisi ini, apakah Katniss bisa menang (dengan membunuh Peeta) atau malah ia yang dibunuh (mengingat peserta dari distrik 1,2,3 yang kuat dan memiliki banyak sponsor).

“Dengan caraku sendiri, aku akan mati, tapi tak terkalahkan,” – Katniss (page 315)

Dengan sudut pandang orang pertama, ceritanya enak sekali dibaca, terjemahannya oke. Nyaris bersih dari typo.

Novel ini tidak hanya sekedar fiksi fantasi yang berbumbu thriller dan romance. Tapi, Hunger Games ini memberikan pembelajaran tentang kehidupan, seperti kekeluargaan, kepercayaan, kekuasaan, persahabatan, dan cinta.
Kekuasaan pemerintah yang−−well−−kita tahu siapa yang berkuasa akan bisa mengatur segalanya. Termasuk Capitol−−yang ish bikin emosi kita terkuras habis.
Suspense yang menarik diending buku #1 buat aku penasaran dengan kisah Katniss dan Peeta selanjutnya… Next to read Hunger Games: Catching Fire #2

5 bintang untuk Hunger Games

Tentang Penulis:
Sejak tahun 1991 Suzanne Collins bekerja sebagai penulis televisi untuk program anak-anak. Belakangan ia juga dikenal sebagai penulisnovel fantasi remaja dengan beberapa serialnya yang sukses termasuk The Hunger Games.

Saat ini ia tinggal di Connecticut with bersama keluarganya dan sepasang kucing yang dipungut dari halaman belakang rumah mereka.

Lainnya:
PUBLISHER WEEKLYS BEST BOOKS OF THE YEAR
NEW YORK TIMES NOTABLE CHILDREN’S BOOK OF 2008
Selain mendapatkan banyak penghargaan dan apresiasi yang bagus dari para pembaca, novel ini juga diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama The Hunger Games, pada tahun 2012. Yang diperankan oleh Jennifer Lawrence dan Josh Hutcherson.