Book Review : Bumi by Tere Liye #1


Publisher: PT Gramedia Pustaka Utama
Published: viii, April 2015
Pages: 440
Genre: Science Fiction, Fantasy
Rating: 5
*
Namaku Raib, usiaku 15 tahun, kelas sepuluh. Aku anak perempuan seperti kalian, adik-adik kalian, tetangga kalian. Aku punya dua kucing, namanya si Putih dan si Hitam.
Mama dan papaku menyenangkan. Guru-guru di sekolahku seru. Teman-temanku baik dan kompak.
Aku sama seperti remaja kebanyakan, kecuali satu hal. Sesuatu yang kusimpan sejak kecil. Sesuatu yang menakjubkan.
Namaku Raib. Dan aku bisa menghilang.

“Buku pertama dari serial Bumi.”
*
Review:
Akhirnya tuntas juga menamatkan bacaan novel setelah lama reading slump. Hmm.. Sebenarnya masih suka baca sih, cuma lama banget ngebangun mood baca sekali duduk. Pilih buku ini itu dengan asal nggak ada yang beres. Emang bener sih, ya.. Mood baca bisa baik kalau kita memulai dengan memilih buku yang disukai. Salah satunya yang akan saya review berikut ini. Continue reading

Moga Bunda Disayang Allah

22050-mogabundadisayang

Judul Buku: Moga Bunda Disayang Allah
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Genre: Fiksi
Tebal: v + 246 halaman

Blurb:
“Gelap! Melati hanya melihat gelap.
Hitam. Kosong. Tak ada warna….
Senyap! Melati hanya mendengar senyap.
Sepi. Sendiri. Tak ada nada…

“Buku ini akan membuat Anda lebih mencintai Allah dan hamba-hamba-Nya. Jangan menjadi orang yang merugi karena tidak mendapatkan ‘ilmu’ dari buku ini.”…. (Ratih Sang, penulis buku “Kerudung Praktis”)

“Dengan gaya bahasa yang unik dan sarat makna, novel ini kembali mengingatkan kita pada kunci meraih kebahagiaan, yaitu… ikhlas, sabar, dan syukur…” …. (Cut Putri, Perekam Peristiwa Tsunami Aceh 2004)

Review:
Novel ini bercerita tentang seorang anak yang berusia 6 tahun bernama Melati. Gadis kecil itu memiliki kekurangan, dia tidak bisa melihat, mendengar, dan bicara. Hidupnya gelap, sunyi, kosong. Kedua orangtuanya yang kaya raya Continue reading

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin


Judul Buku: Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Fiksi, Romance
Terbit: Cetakan X, Mei 2013
Tebal: 264 halaman
ISBN: 978-979-22-5780-9
Harga: Rp 48.000,-

Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah dan janji masa depan yang lebih baik.

Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.

Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.

Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah… Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun… daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.
**

Selalu dibuat speechless dengan novelnya Tere Liye. Saya memang sangat suka dengan karyanya, mungkin ini yang menjadikan saya bingung setiap kali mau mereview bukunya. Apa yang mau saya tulis, toh saya selalu bilang suka xD

Well, ijinkan saya untuk tidak mereview serius kali ini. lol (memangnya selama ini saya selalu serius ya−−sepertinya biasa saja). haha

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Judul kalimat yang cukup lugas, tidak melenceng dengan cerita yang ada dalam novel ini.

Cerita yang disuguhkan mengambil sudut pandang orang pertama. Dengan aku sebagai Tania. Latar tempat dan waktu yang digunakan sangat menarik. Hanya di toko buku dengan waktu yang sempit, hanya satu jam lima belas menit, ditambah hanya satu waktu esok harinya. (sulit menjelaskan bagian ini, kalau penasaran lebih baik baca sendiri).

Alur yang dipakai adalah alur maju-mundur. Jadi, sebenarnya tidak hanya di toko buku, ada beberapa tempat lain yang akan pembaca lalui bersamaan dengan cerita ini.

Tania menceritakan tentang bagaimana perjalanan hidupnya dari seorang pengamen jalanan−−yang berusia sebelas tahun dan adiknya Dede yang masih enam tahun. Tinggal bersama ibu sebatang kara di rumah kardus dekat pohon linden. Hingga ia bertemu seorang ‘malaikat’ untuk keluarganya bernama Danar.

Tidak hanya tentang kehidupan tapi juga tentang perasaannya. Perasaan yang bermekaran begitu saja saat usianya masih tigabelas tahun. Tidak hanya sampai usia itu saja, tapi rasa itu terus berlanjut hingga ia tumbuh dewasa, pintar, dan cantik.

Saya dibawa larut dalam cerita Tania, tidak ada yang ganjil−−semuanya berjalan dengan rasional. Tidak ada love story seperti di dongeng-dongeng, semuanya serba apa adanya.

Tapi wajarkah seorang gadis berusia tigabelas tahun jatuh cinta pada seorang laki-laki yang usianya sudah duapuluh tujuh tahun?
Mungkin inilah yang menarik dari novel ini. Dalam kenyataan, hal ini sangat tidak wajar, perasaan gadis kecil itu paling hanya perasaan kagum, tidak mungkin cinta kan? Tapi siapa yang bisa menduga, bukankah cinta tidak mengenal batas waktu, bahkan ruang sekalipun. Status pun tidak bisa jadi jaminan untuk membatasi cinta.

Klimaks mulai muncul setelah Tania masuk junior high school di Singapore (beasiswa ASEAN scholarship). Meninggalkan Danar dan Dede. Bagaimana dengan ibu? Ibu sudah meninggal sesaat setelah Tania lulus SD.

“Tania, kehidupan harus berlanjut. Ketika kau kehilangan semangat, ingatlah kata-kataku dulu. Kehidupan ini seperti daun yang jatuh… Biarkanlah angin yang menerbangkannya…” – Danar. (page 70)

Aku seperti bisa menyelami bagaimana perasaan Tania, terlebih puncak klimaksnya saat Tania tahu Kak Danar kembali merajut kasih dengan Kak Ratna, bahkan memutuskan untuk menikah.

Selanjutnya, saya speechless untuk mereviewnya. Terlebih sebenarnya saya tidak mau menceritakan lebih detail karena takut kena spoiler.

Well, tidak lepas dari novel. Saya pengin share tokoh yang saya suka dalam novel ini. Dia adalah Dede. i love this boy.
Untuk yang tidak kusuka sebenarnya tidak ada, tapi saya agak geregetan dengan tokoh Danar. Pengin neriakin dia pake toa kalau beneran saya bisa masuk ke dalam cerita ini. lol

Untuk cover saya rasa tidak masalah, i like this cover. Green, menyejukkan.
Tidak hanya cover saja yang menyejukkan, melainkan isi buku ini pun sejuk dari typo (sama sekali tidak ada typo)−−tapi ada satu sih Anni, seharusnya Anne (page 214). Tapi itu tidak menganggu 😀
Sayangnya tidak ada bookmarknya, huh syebel x(

At least, saya kagum dengan gaya ceritanya bang Tere, tidak membuat saya risih dan mengernyitkan dahi. Tulisannya selalu menginspirasi saya, untuk tidak bercerita dengan sekedar menjual kata-kata, tapi juga makna dibalik kata-kata itu. Tidak terkesan dibuat-buat, tapi karena kata tersebut memang dibutuhkan dalam cerita.

4 bintang untuk pohon Linden.

(source: treepicturesonline.com)

The most quotes i like:
“Kita nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok lusa.”- Danar.

“Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin.”
“Dede dulu tak mengerti apa maksudnya. Kalimat itu bahkan terdengar menyebalkan. Dede bahkan mengibaskan tangan orang yang mengatakannya (…)”
“Dede ternyata keliru (…)”
“Bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.” – Dede. (page 196)

“(…) Ada banyak kebaikan yang justru berbalik menikam, menyakitkan pemberinya.” – Anne (page 212) *aku pernah ngalamin ini rasanya watdepak banget x(

“Dulu Anne pernah bilang, orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.” (page 247)

Negeri Di Ujung Tanduk


Judul Buku: Negeri Di Ujung Tanduk
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Thriller, Fiksi
Terbit: Cetakan III, Mei 2013
Tebal: 360 halaman
ISBN: 978-979-22-9429-3
Harga: Rp. 55.000,-

Di Negeri di Ujung Tanduk
kehidupan semakin rusak,
bukan karena orang jahat semakin banyak,
tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.

Di Negeri di Ujung Tanduk
para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan,
bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladaan,
tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian.

Tapi di Negeri di Ujung Tanduk
setidaknya, kawan, seorang petaeung sejati akan memilih jalan suci,
meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata,
dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

**

Novel ini adalah sequel dari Negeri Para Bedebah. Bagi yang belum pernah baca seri pertamanya, bisa lihat pada review yang saya buat setahun lalu, disini.
Masih tentang Thomas dan orang-orang yang ada di sekelilingnya, seperti Opa, Om Liem, Maggie, dan Kadek. Tenang saja, ada orang-orang baru yang akan terlibat dalam cerita ini.

Namun, perbedaannya kali ini Thomas memiliki bidang pekerjaan yang baru. Masih seorang Konsultan, tapi ia mencoba untuk terjun di ranah yang berbau politik. Motivasi itu ada lantaran seorang kerabat lama yang mengajukan diri sebagai calon presiden dengan visi dan misi yang dapat menjual, meskipun hanya omong kosong. Poinnya penegakan hukum–itulah yang meyakinkan Thomas ingin ikut bagian menjadi seorang konsultan politik. Apalagi dia sudah memiliki nama dari profesinya tersebut, tidak diragukan lagi keahliannya.

Karakter Thomas masih seperti dulu, teguh pendirian dan sedikit keras kepala, sementara dalam sisi akademiknya, dia sangat cerdas dan cekatan.

Bagi sekretarisnya-Maggie, Thomas itu menyebalkan (menurut saya juga begitu sih) xD Tapi, semenyebalkan apapun Thomas, saya gak bisa benci dia XD
Dan bagaimana saya sebagai pembaca begitu takjub karena Thomas pintar sekali mempengaruhi orang lain, tepatnya menanamkan bibit-bibit ide dan membiarkannya tumbuh sendiri kemudian tersebar di pikiran orang-orang yang diajaknya bicara.
Well, Thomas selalu benar.

“Kau bosnya, Thom,”
Kalimat ini sering diucapkan Maggie jika dia sudah tidak bisa mengatakan TIDAK pada Thomas.

Dalam cerita kali ini, Thomas berurusan dengan banyak pihak, bahkan melibatkan orang-orang penting di pemerintahan. Hal itu tak bisa dielakkan karena Thomas sebagai konsultan partai politik dari JD yang sedang mencalonkan diri sebagai presiden. JD adalah mantan gubernur ibukota yang memiliki banyak prestasi selama menjabat sebagai orang nomor satu di ibukota tersebut.

Akan tetapi, tidak lama setelah itu, masalah demi maslah datang seperti tidak ada yang suka dengan keberhasilan JD–yang diperkirakan akan memenangi konvensi partai dan menjadi calon unggul untuk pemilihan presiden nanti. Dengan menjual omong kosong “Penegakan Hukum”, beliau akan menegakkan hukum Indonesia tanpa pandang bulu.

Omong kosong tersebut sepertinya lebih dari sekedar omong kosong, karena JD adalah pemimpin yang taat dalam menjalankan tugasnya. Kemungkinan omong kosong itu pun akan ada benarnya apalagi didukung Thomas, si petarung sejati.
Hal ini nampaknya menimbulkan ketidakpercayaan diri oknum-oknum, takut sekali jika JD benar-benar jadi presiden.

Berbagai carapun dilakukan oknum tersebut untuk menggulingkan JD, termasuk Thomas yang pasti harus ditumbangkan terlebih dahulu.

Seperti di buku pertamanya, Thomas tidak sendiri. Selain Opa dan Kadek, ada seorang wartawan majalah politik yang bernama Maryam-yang akan mewancarai Thomas hingga nekat pergi menyusulnya ke Hong Kong. Saat itu Thomas memang sedang menghadiri Konferensi Internasional tentang Komunikasi Politik, setelah itu, sekalian berada disana-dia juga mengikuti klub petarung yang banyak diikuti oleh berbagai negara. Salah satunya oleh petarung asal Hong Kong tersebut, Lee–yang merupakan petarung tangguh yang tak terkalahkan.

Jakarta. Dimana JD cemas dengan situasi yang akan dihadapinya menjelang konvensi nanti. Sementara, di Hong Kong, ada yang menjebak Thomas di kapal pesiar barunya sendiri. Ada sekitar seratus kilogram heroin dan beberapa senjata yang tidak tahu darimana asalnya, tiba-tiba saja sudah ada di kapalnya.
Dermaga Hong Kong yang menjadi tempat berlabuhnya kapal pesiar Thomas langsung dikepung oleh kepolisian Hong Kong. Dan tanpa proses yang lama, pasukan khusus antiteror Hong Kong SAR yang dikepalai oleh Detektif Liu itu menangkap Thomas beserta Opa, Kadek, dan Maryam, lalu membawa mereka ke markas dan menahannya.

“Pengalaman selalu lebih penting dibanding level pendidikan dan nilai akademis.”

Yap, berbekal pengalaman setahun yang lalu—saat Thomas berurusan dengan orang-orang yang ingin menghancurkan bank Semesta milik Om Liem, kini dia harus merasakan lagi masuk ke dalam penjara.

Di situasi yang sangat terjepit, waktu yang tinggal dua hari lagi menuju konvensi partai-bagaimana Thomas bisa keluar dari gedung kepolisian–yang pada saat ditangkap ke tempat ini saja, matanya ditutup oleh kain.

Lalu di Jakarta sendiri heboh soal penangkapan JD oleh polisi karena diduga terlibat korupsi megaproyek tunel raksasa selama beliau menjabat sebagai gubernur ibukota. Hal ini mengancam didiskualifikasinya JD pada konvensi partai yang tinggal satu hari lagi.

Kasus kali ini tidak kalah menengangkan dengan kasus yang ada pada NPB. Selalu ada Suspense di tiap bab–membuat saya pengin cepat menyelesaikan buku ini, karena berasa ikut dikejar deadline.

“Sebelum semua terlambat, sebelum seluruh negeri ini berubah dari negeri para bedebah menjadi negeri di ujung tanduk.” (page 256)

“Riset adalah segalanya.”

Meskipun terburu-buru, tapi berpikir dengan kepala dingin dan efektif, masalah demi masalah bisa teratasi.

Cerita yang diangkat begitu dekat dengan apa yang sering kita semua lihat di berita-berita televisi. Tapi, tidak seekstrim cerita Thomas−−jika saya melihat dari kacamata sebagai penonton televisi.
Seandainya dalam kehidupan nyata ada peran seperti Thomas, mungkin negara kita akan aman dan sejahtera ya.haha

Mengenai sudut pandang yang dipakai adalah orang pertama serba tahu. Jadi, sebagai pembaca saya merasa ikut terlibat. Dan untuk covernya sangat pas dengan tema cerita.

Kekurangannya, menurut sudut pandangku sebagai pembaca, ada beberapa cerita yang dibuat begitu singkat penjabarannya, seperti adegan Thomas yang bertinju dengan Lee tidak dipaparkan, mungkin hal ini juga yang membuat novel ini lebih tipis dari novel NPB.

Kesimpulan yang bisa saya petik dari novel ini sebenarnya simpel, hanya soal kepedulian dan kehormatan.

Beberapa typo:
1) page 171: Maryam kembali bicara padaku, meletakkan gagang telepon. ->
Seharusnya disitu bukan Maryam, tapi Maggie. Karena jelas disitu−−Maggie yang sedang menelepon Kris.
2) page 335: segara -> segera
3) page 336: Paman Liem -> padahal biasanya Thomas memanggilnya Om Liem.

Overall, saya suka novel ini. 5 bintang untuk Tommi 😀

Bidadari Bidadari Surga

Bidadari-syurga

Judul Buku: Bidadari Bidadari Surga

Penulis: Tere Liye

Terbit: Cetakan XI, April 2012

Penerbit: Republika

Tebal:  viii+367 halaman

Harga: Rp 47.500

 Laisa, adalah sulung dari lima bersaudara. Dia bersumpah akan memberikan kesempatan pada adik-adiknya untuk menjadi orang-orang yang hebat.

Sumpah yang membuat terang benderang seluruh kisah ini.

Laisa, adalah sulung dari lima bersaudara. Menyimpan seluruh pengorbanannya seorang diri hingga detik terakhir hidupnya. Saat empat adik-adiknya pulang secepat mungkin ke Lembah Lahambay yang indah, menemui kakak yang membutuhkan mereka untuk pertama kali sekaligus terakhir kali seumur hidupnya.

Novel ini tentang kasih-sayang keluarga, tentang pengorbanan seorang kakak. Kapan terakhir kali kita memeluk adik-adik kita dan berlinang air mata bilang, meski mereka menyebalkan, kita sungguh sayang pada mereka. Dan sebaliknya, kapan terakhir kita memeluk kakak-kakak kita dan bilang, meski mereka cerewet, suka menyuruh-nyuruh kita sungguh menghargai mereka.

Novel yang menggunakan alur maju mundur ini sangat menyentuh, menguras emosi, visualisasi yang digambarkan dapet banget. Lembah Lahambay, tempat fiksi namun begitu hidup : )

Di Lembah itu ada sebuah rumah panggung yang sangat amat sederhana, yang menjadi tempat tinggal bagi keenam anggota keluarga. Ekonomi keluarga tersebut lemah semenjak Babak mereka meninggal karena di mangsa harimau di Gunung Kendeng. Menjalani hidup sebagai orangtua tunggal tidaklah mudah bagi Mamak, ia harus mengurus kelima anaknya yang masih belia. Beruntungnya Mamak memiliki anak-anak yang luar biasa.

Anak pertamanya bernama Laisa, yang usianya 16 tahun. Gadis remaja itu tumbuh dengan sifat penyayang, pekerja keras, penuh rasa syukur dan selalu berkorban untuk adik-adiknya dengan penuh keihlasan (keikhlasan yang sangat luar biasa menurutku).

Kerja keras, kerja keras, dan kerja keras selalu dimandatkan Laisa pada ketiga adiknya, ia ingin melihat adik-adiknya bisa sukses, menggapai berjuta kerlip cahaya lampu yang jauh lebih indah di luar sana, di luar Lembah Lahambay.

Dalimunte, anak laki-laki yang cerdas. Keberhasilannya membuat kincir air saat usianya masih sepuluh tahun mampu merubah kehidupan Lembah Lahambay jauh lebih baik. Saat ini dia menjadi seorang Profesor, Penemu Ilmiah Fisika. Diantara adik-adiknya yang lain, Dalimunte lah yang paling penurut dan rajin, saya suka dengan karakternya yang begitu peka terhadap Laisa.

Wibisana dan Ikanuri, mereka berdua terpaut usia sebelas bulan, tidak kembar tapi begitu mirip, kompak, dan sangat nakal, kenakalan mereka membuat hari-hari Laisa penuh cemas, was-was, betapa tidak.. kedua adik laki-lakinya itu selalu kabur, bolos sekolah, tidak pernah menurut jika disuruh bantu-bantu Mamak bekerja di ladang. Sampai pada titik tertentu, puncaknya tragedi di Gunung Kendeng membuat kedua sigung kecil yang nakal itu tahu bahwa kakaknya begitu peduli terhadap mereka, bahwa pengorbanan yang tulus itu benar-benar diberikan untuknya. Hinggga saat ini, Wibisana dan Ikanuri sadari setelah mereka sukses memiliki perusahaan  spare part otomotif.

Yashinta, anak paling bungsu yang pemberani. Rupanya yang cantik, yang membuat panggung di Lembah Lahambay terasa berbeda. Berbeda dari Laisa yang secara fisik tidak sesempurna adiknya, Yashinta. Sekarang ia tengah sukses bekerja di konservasi penelitian di Bogor, ia sudah mendaki 27 gunung di dunia. Kecintaannya akan alam, dan hobinya yang cukup ekstrem membuatnya menjadi gadis yang tangguh. Namun tetap saja tidak setangguh kak Laisa.

 “Lais kau bantu mamakmu menjaga adik-adik hingga Babak pulang dari mencari kumbang,” Laisa kecil mengangguk manatp sekali.

Anggukan yang menjadi janji sejati. Karena babak ternyata tidak pernah pulang-pulang. Janji seorang kakak. (Page 312) 

Mereka semua sukses berkat kerja keras dan pengorbanan kakaknya 🙂  

Aku suka dengan ceritanya yang sederhana namun setelah selesai membacanya, ternyata gak sesederhana itu, gak serumit yang dipikirkan pertama kali ketika aku membaca ceritanya di halaman pertama. Semuanya mengalir apa adanya, menyentuh nilai-nilai kemanusiaan, menginspirasi, so touching! Aku sampai menyeka ujung mataku ketika mencapai halaman-halaman terakhir . Menyesakkan.

Dibagian akhir ada yang membuatku sedikit tercengang, bagian itu adalah ketika si penulis mengambil posisi dalam cerita ini. Bahwa cerita ini ditulis oleh pihak ketiga. Jujur aku bacanya sampai tercengang mengangkat alis.lol Baru pertama kali aku membaca buku yang penulisnya ikut ambil bagian dalam cerita tersebut.

Well&he
llip; Rekomendasi banget buku ini untuk kalian semua. Ayah ibu kalian, kakak-kakak kalian, adik-adik kalian, sahabat-sahabat kalian… dan untuk semua-semuanya.. tak terkecuali siapapun. Berikan buku ini sebagai kado terindah buat mereka : ) (dikutip sedikit dari persembahannya Tere Liye, hehe).

 

Dan sungguh di surga ada bidadari-bidadari bermata jeli (Al waqiah:22). Pelupuk mata bidadari-bidadari itu selalu berkedap-kedip bagaikan sayap burung indah. Mereka baik lagi cantik. (Ar Rahman:70)

 

Aku kasih 5 bintang untuk Lembah Lahambay yang menjadi saksi hidup mereka.

Negeri Para Bedebah

1791176131

Judul Buku: Negeri Para Bedebah
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juli, 2012
Tebal: 440 halaman
ISBN: 978-979-22-8552-9
Harga: Rp. 60.000

Di negeri para bedebah, kisah fiksi kalah seru dibanding kisah nyata.
Di negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah.
Tetapi setidaknya, Kawan, di negeri para bedebah, petarung sejati tidak akan penah berkhianat.

Novel yang pas dibaca untuk penutupan tahun 2012. He he
Thomas aka Tommi si tokoh aku yang menjadi pemeran utama dari novel ini. Seorang Konsultan Keuangan Profesional yang cerdas, lihai, tangguh, pemberani, kreatif dan penuh ambisi. Ambisi untuk membalas dendam akan masa lalunya pada dua orang jahat yang membobrokkan hidup keluarganya. Dua orang itu adalah orang-orang penting dalam pemerintahan, seorang Letnan polisi dan satunya lagi seorang pejabat muda Kejaksaan kota.
Thomas kehilangan kedua orangtuanya karena sebuah kebakaran, kebakaran yang dibuat oleh kedua orang itu. Kebakaran melalap habis rumahnya berserta kedua orangtuanya. Saat itu umur Tommi masih sepuluh tahun.
Kejadian belasan tahun itu membuatnya tidak ingin berkumpul lagi bersama keluarganya, memilih menghilang dari catatan keluarga besarnya. Itu semua dikarenakan kejadian itu, kejadian yang berawal dari Om nya. Om Liem, orang yang sudah membuat peluang bagi dua pengkhianat itu menghabiskan seluruh harta kekayaan keluarganya.
Om Liem yang memiliki mental pebisnis selalu mencoba mengambil resiko membuka usaha, mulai dari usaha pabrik tepung terigu yang tidak memuaskan (bekerja sama dengan ayah Thomas, Papa Edward) juga usaha arisan berantai yang berujung kematian pada Edward dan istrinya. Usaha demi usaha untuk berbisnis selalu dicoba dan akhirnya selalu gagal. Opa, ayah mereka selalu mewanti-wanti untuk tidak serakah melakukan bisnis, hidup dengan usaha terigu saja itu sudah cukup, namun ambisi Om Liem yang terlalu besar ingin mendapat keuntungan lebih banyak membuatnya nekat membuka usaha arisan berantai itu. Meskipun awalnya berjalan dengan sukses, tapi lambat laun karena niatnya yang serakah itu, para kolega arisan pun banyak yang merasa dirugikan, hingga meminta uang mereka dikembalikan. Dari masalah itulah sebenarnya kebakaran itu terjadi.
Setelah gagal dari arisan berantai, justru Om Liem semakin giat membangun usaha baru yaitu Bank Semesta. Bank yang dibangun bertahun-tahun, namun kini nyawanya dipertaruhkan tinggal 3 hari lagi.

Dari novel ini alur cerita yang dibuat hanya terjadi dalam 3 hari saja. Kebayang gak waktu yang harus dilakukan Thomas untuk menyelamatkan Bank Semesta? Cuma tiga hari! Keren serius ckck.

Meski Thomas sangat membenci Om Liem karena kematian orangtuanya, tapi ia tidak ingin menjadi pecundang, melihat keluarganya sedang ada dalam masalah. Ia seorang petarung tangguh yang ingin membalaskan dendam masa lalunya melalui Bank Semesta. Bank yang sedang mengalami pailit. Ia akan berusaha keras mati-matian apapun caranya agar Bank Semesta bisa selamat. Dibantu rekan sesama petarung, juga wartawan yang bernama Julia, wanita yang cukup cerdas dan terlalu terus terang, serta Maggie, sekeretaris kantornya yang cekatan dalam melaporkan semua seluk beluk informasi tentang Bank Semesta.
Tiga hari itu cerita yang sangat padat, benar-benar menegangkan. Thomas berhasil lolos dari kejaran polisi sebanyak lima kali. w-o-w. bisa kabur dari penjara bahkan lolos dari kepungan polisi di bandara berkali-kali.
Membaca novel ini berasa nonton film hollywood 😉 Banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel ini. sebuah pengalaman, pengkhianatan, taktik, serta kasus ekonomi yang pas banget dibaca buat mahasiswa Fakultas Ekonomi seperti saya. Hehe
Sangat berbobot.
Amanat yang saya tangkap dari novel ini adalah bahwasannya kita jangan membuang-buang waktu sedetik pun, karena saya lihat sendiri dalam novel ini tiap detik yang Thomas lakukan sangat berharga. Dia benar-benar telaten dalam memenej waktu. *tepuk tangan*
Seharusnya kita juga bisa seperti itu, sedetik kamu berdiam diri saja itu akan merubah hidupmu loh.
Sebenarnya masih banyak yang pengen saya ceritain dari novel ini, soalnya seruu, tapi diakhiri sampai disini saja takut buat spoiler.he he
Kalau penasaran mending baca sendiri novelnya, dijamin mental seorang petarung akan membekas dihati pembaca, ha ha.

Aku kasih 5 bintang untuk si bedebah Thomas : )

Quotes yang kusukai:
“Kau bayangkan, ketika suatu kota dipenuhi orang yang miskin, kejahatan yang terjadi hanya level rendah, perampokan, mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiliki visi-misi, tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota dipenuhi orang yang terlalu kaya, dan terus rakus menelan sumber daya di sekitarnya. Mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan, tidak takut dengan apapun. Sungguh tidak ada yang bisa menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka,” – Thomas. (Page 18)
Keren banget jawabannya Thomas waktu diwawancara Julia, dia gak peduli dan gak cemas soal kemiskinan, justru sebaliknya dia begitu cemas pada kekayaan, orang-orang yang terlalu kaya.

“Di dunia ini, urusan penting dan tidak penting hanya melihat dari kulit luarnya saja. Orang terkadang lupa, orang-orang di sekitarnya yang selama ini terlihat biasa saja dan sederhana, justru adalah bagian terpenting dalam hidupnya,” – Thomas. (Page 269)

“Semuanya dipelajari sendiri. Dicoba, gagal. Dicoba, gagal lagi. Terus saja kau lakukan. Lama-lama kau tahu sendiri bagaimana seharusnya trik terbaik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Itu sekolah terbaik. Apa kata bijak itu? Pengalaman adalah guru terbaik,” – Opa. (Page 290)

Berjuta Rasanya

Berjuta

Judul: Berjuta Rasanya

Penulis: Tere Liye

Penerbit: Mahaka 

Tebal:  205 halaman 

ISBN: 978-602-9474-03-9

Harga: Rp. 40.000,-

Untuk kita, yang terlalu malu walau sekedar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin di jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan.

Untuk kita, yang merasa tidak cantik, tidak tampan, selalu merasa keliru mematut warna baju dan pilihan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan.

Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan lewat puisi-puisi, dan berharap esok lusa ia akan sempat membacanya.

Semoga pemahaman baik itu datang. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita. Tidak peduli sesederahan apa pun itu, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman yang baik.

Selamat membaca cerita-cerita yang berjuta rasanya.

**
“Kalian akan merasakan remuk seketika tepat di dada saat membaca buku ini,” – Fatimah Ratna Wijayanthi, Karyawan.

“Cinta adalah sekumpulan paradoks yang membingungkan. Maka meskipun menyakitkan, cinta tetaplah membahagiakan. Bacaan yang tepat, bagi mereka yang ingi mengeja makna cinta, dan patah,” – Galih Hidayatullah, Mahasiswa.

“Saya bahkan sampai 5 kali membacanya tanpa bosan. Sebuah karya yang patut dinikmati lagi, lagi, dan lagi,” – Sulistyowati, Ibu Rumah Tangga.

“Saya memang meyelesaikan membaca bukunya dalam waktu singkat. Tetapi setelah saya baca, membutuhkan waktu yang lama sekali merenungkan isi ceritanya,” – Rian Mantassa SP, Mahasiswa.

“Buku galau, yang mengobati galau,” – Hanif Khoiriyah, Mahasiswi.

Kumcer yang bikin galau, haha.. setuju dengan testimoni Hanif, yang bilang ini buku galau, yang mengobati galau. Lol.
Ada 15 cerita yang sungguh berjuta rasanya, sekelumit kisah yang sederhana namun ngena ke jantung. Cocok dibaca untuk orang-orang yang sudah mengenal cinta.
Dari buku ini banyak makna tersembunyi yang terselip ditiap kisahnya, kalo kalian menyadarinya pasti merenung.
Syarat akan pesan dan amanat. Nyampe banget..bikin saya sedikit sadar hehe tentang definisi cinta itu sendiri. patut dibaca untuk tahu arti cinta sesungguhnya : )
aku kasih 4 bintang untuk Berjuta Rasanya ^-^

Quotes yang kusukai:
“Urusan ini sebenarnya amat sederhana. Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang akan pergi karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.” (Page 26)

“Aku tidak ingin cintanya kembali karena dia merasa berhutang budi,” – Istri Fram. (Page 145)
Jawaban seorang istri pada dewa tentang suaminya yang pergi bersama belibis, menyentuh banget kisah ini. hiks

“Percayalah, hal yang paling menyakitkan di dunia bukan saat kita sedih banget tapi nggak ada satu pun teman untuk berbagi. Hal yang paling menyakitkan adalah saat kita lagi happy banget tapi justru nggak ada satu pun teman untuk membagi kebahagiaan tersebut.” (Page 156)

 

Tentang Penulis

“Tere Liye” merupakan nama pena dari seorang novelis yang diambil dari bahasa India dengan arti : untukmu, untuk-Mu. Tampaknya Tere-Liye tidak ingin dikenal oleh pembacanya. Hal itu terlihat dari sedikitnya informasi yang pembaca dapat melalui bagian “tentang penulis” yang terdapat pada bagian belakang sebuah novel. Agak sulit ketika mencari tahu tentang Tere-Liye
Tere-Liye Lahir pada tanggal 21 Mei 1979 dan telah menghasilkan 14 buah novel.
Sedikit mengulas profil sang penulis,
lelaki bernama Darwis (mungkin itu nama aslinya,dilihat dari e-mailnya), yang beristrikan Riski Amelia, adalah seorang ayah dari Abdullah Pasai.
Lahir dan besar di pedalaman sumatera, berasal dari keluarga petani, anak keenam dari tujuh bersaudara.

Riwayat
pendidikannya nya:
-SDN 2 Kikim Timur Sumasel
-SMPN 2 Kikim Timur Sumsel
-SMUN 9 Bandar Lampung
-Fakultas Ekonomi UI

Karya-karyanya:

1. Negeri Para Bedebah (Gramedia Pustaka Utama, 2012)

2. Sepotong Hati yang Baru / Berjuta Rasanya 2 (Republika, 2012)

3. Berjuta Rasanya (Penerbit Mahaka, 2012)

4. Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah (Gramedia Pustaka Utama, 2012)

5. Ayahku Bukan Pembohong (Gramedia Pustaka Utama, 2011)

6. Sunset Bersama Rossie (Republika, 2011)

7. Kisah Sang Penandai (Republika, 2011)

8. Daun yg Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (Gramedia Pustaka Umum, 2010)

9. Pukat (Penerbit Republika, 2010)

10. Burlian (Penerbit Republika, 2009)

11. Hafalan Shalat Delisa (Republika, 2005)

12. Moga Bunda Disayang Allah (Republika, 2007)

13. Rembulan Tenggelam di Wajahmu (Republika, 2007)

14. The Gogons Series: James & Incridible Incidents (Gramedia Pustaka Umum, 2006)

15. Bidadari-Bidadari Surga  (Republika, 2008)

16. Sang Penandai (Serambi, 2007)

17. Rembulan Tenggelam Di Wajahmu (Grafindo, 2006; Republika 2009)

18. Mimpi-Mimpi Si Patah Hati (AddPrint, 2005)

19. Cintaku Antara Jakarta & Kuala Lumpur (AddPrint, 2006)

20. Senja Bersama Rosie (Grafindo, 2008)

21. ELIANA ,serial anak-anak mamak

Tere-liye tidak seperti penulis lain yang biasanya memasang foto, contact person, profil lengkap pad
a setiap bukunya sehingga ketika buku/novel tersebut meledak biasanya langsung membuat penulis tersebut terkenal dan diundang serta melanglangbuana kemana-mana. Padahal novel-novel karya tere liye terbilang sukses di pasaran.

Aku tidak tahu persis mengapa sang penulis tidak ingin dikenal, menurut pendapatku alasannya mungkin karena Tere ingin mempersembahkan karya terbaiknya dengan sederhana dan tulus.