Katarsis


Judul Buku: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Editor: Hetih Rusli
Desain & Illustration Cover: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Psychology Thriller
Terbit: April, 2013
Tebal: 264 Halaman
ISBN: 978-979-22-9466-8
Harga: Rp 45.000

Rating: 4 Bintang


Continue reading

Advertisements

Mockingjay (The Hunger Games #3)


Judul Buku: Mockingjay (The Hunger Games #3)
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi
Genre: Fantasy, Romance, Science Fiction, Thriller
Terbit: Cetakan II, Maret 2012
Tebal: 432 hlm
ISBN: 978-979-22-7843-9
Harga: 68.000,-

Blurb:

Katniss Everdeen selamat dari Hunger Games, dua kali. Tapi Katniss belum sepenuhnya aman dari ancaman Capitol meskipun sekarang ia dalam lindungan Distrik 13.

Pemberontakan makin merajalela di distrik-distrik untuk menjatuhkan Capitol. Kini tak ada seorang pun yang dicintai Katniss aman karena Presiden Snow ingin menumpas revolusi dengan menghancurkan Mockingjay… bagaimana caranya.

“Buku terakhir dari trilogi Hunger Games ini adalah yang terbaik. Novel yang dirancang indah dan cerdas pada setiap tingkat.” – Publisher Weekly

“Memesona, memukau, dan mengerikan.” – Los Angeles Times

“Plot cerita ini menegangkan, dramatis, dan seru.” – School Library Journal

“Menegangkan… bahkan orang dewasa ingin buru-buru membacanya hingga tamat.” – USA Today

“Trilogi ini merangkum gerakan politik dari novel 1984, kekerasaan yang tak terlupakan dari A Clockwork Orange, nunsa imajinasi The Chronicles of Narnia, dan daya cipta nan cerdas dari Harry Potter.” – New York Times Book Review
**


***spoiler***
(yang belum baca abaikan ya ;p)

Last series dari Hunger Games, sesuai dengan judulnya, yaitu Mockingjay—yang merupakan simbol pemberontakan bagi Capitol. Dari Catching Fire, adanya Hunger Games Quell adalah untuk meredam pemberontakan, tetapi di seri ketiga ini pemberontakan itu tidak hilang, justru tersulut dengan adanya Mockingjay.

Yap, Katniss Everdeen, masih dengan karakternya yang spontan, yang tidak ingin jadi pion dari kekuasaan Capitol.
Pemberontakan pun benar-benar terjadi di wilayah panem. Distrik 12 hancur, dihujani bom-bom dari Capitol, yang membuat mereka akhirnya harus mengungsi ke distrik 13.

13? Kalau yang sudah baca seri pertama Hunger Games pasti bertanya-tanya, bukankah distrik 13 sudah musnah alias tidak ada lagi?
Benar, dari mulut ke mulut memang seperti itu, kenyataannya pun lahan distrik 13 rata. Lalu dimana 13 itu berada?
Selama ini ternyata distrik yang dianggap sudah hilang itu diam-diam memiliki kekuasaan terpendam, bertahun-tahun mereka telah melakukan persiapan untuk bangkit setelah sekian lama dianggap musnah. Sebenarnya mereka ada dan tinggal dibawah tanah. Wow!
Dengan dipimpin oleh seorang presiden bernama Coin, distrik 13 kembali dengan segenap kekuatan yang telah dibangunnya bertahun-tahun.

Bagaimana hal itu bisa tidak diketahui oleh Capitol dan distrik-distrik lain adalah karena distrik 13 membangun tempat tinggal di bawah tanah. Dan sempat ketahuan saat tahu distrik 13 membawa beberapa pemain Hunger Games Quell kesana saat hujan bom berjatuhan di arena. Hal ini dilakukan 13 sebagai rencana balas dendam menghancurkan Capitol.

Dari sinilah… Hunger Games Quell, Katniss dan Peeta berpisah. Peeta dijadikan tawanan oleh Capitol, sementara beberapa peserta lain banyak yang tewas. Yang selamat hanya Katniss, Finnick, Johanna, dan beberapa yang aku lupa namanya -_- Pun juri Hunger Games, Plutarch (mentor Hunger Games yang juga termasuk perserta), dan Haymitch. Ternyata mereka berdua adalah sekutu dari distrik 13, merekalah yang membawa Katniss dan lainnya kesana. Karena sudah tahu akhirnya akan seperti ini, mereka membentuk prajurit pemberontakan dengan Mockingjay sebagai pionnya.

Gale ikut sebagai prajurit pemberontakan. Katniss ditunjuk sebagai Mockingjay oleh presiden Coin. Akantetapi, Katniss tidak ingin melakukannya, ia sudah lelah dengan semua yang dilakukannya—yang selalu berbuntut kepada orang-orang yang disayanginya yang harus mati. Termasuk Peeta yang dijadikan tawanan dan disiksa oleh Capitol sebagai umpan untuknya. Katniss bersedih, dia terlihat sayang sekali pada Peeta.

“Tanpa keberadaan pria itu tak sanggup membuatku bertahan hidup.” – Katniss (page 357)

Padahal disisi lain, Gale selalu setia mendampinginya. So, seorang pemburu atau tukang roti yang akhirnya dipilih Katniss? x)

Cari tahu jawabannya sendiri, yang jelas Katniss akhirnya menyanggupi akan menjadi Mockingjay, dengan syarat dia bisa membunuh presiden Snow.

Ternyata Presiden Snow yang semakin marah dengan pemberontakan yang disulutkan Distrik 13, menjadikan Peeta sebagai Mutt (seperti zombie), otaknya dicuci, dibuat untuk membenci Katniss dan melupakan masa lalunya.

Lagi-lagi cinta Katniss diuji, dengan menjadi Mockingjay, presiden Coin memrintah prajuritnya yang sekaligus rekan-rekannya sewaktu di Hunger Games untuk membantu meloloskan Peeta dari tangan Capitol. Berhasil. Tapi, melihat Peeta yang sudah kembali dan tinggal bersamanya di 13 tampak seperti orang asing membuat Katniss kecewa apalagi saat ia mendekatinya Peeta nyaris ingin membunuhnya.

#Sigh. Cukup menguras hati dan emosi.

Sekarang Capitol dan distrik 13 beserta distrik-distrik lainnya tengah berperang, saling menghancurkan.
Bikin tegang, emosi, sekaligus tersentuh. Bener-bener panas dingin, apalagi baca berulang-ulang nyanyian Pohon Gantung :3

Sejujurnya dari tiga seri The Hunger Games, Hunger Games #1 yang paling berkesan buatku. Tapi, dengan endingnya… yang… yah… bolehlah, tidak mengecewakan karena manis banget :”)
Kesimpulannya, dari tiga set novel ini aku kasih 5 bintang. Terlebih karena terjemahannya yang bagus, typo nggak banyak, dan nggak menganggu juga.
Masih—karena tokoh-tokohnyalah aku suka dengan novel ini. Rasanya sedih saat menutup halaman terakhir buku ini, artinya aku berpisah dengan banyak orang di distrik-distrik panem.

Tokoh-tokoh yang tidak bisa kusebutkan satu persatu, begitu banyak memberikan pembelajaran yang bermakna. Kepercayaan, rela berkorban, kasih sayang yang tulus, juga kerakusan pada kekuasaan yang hanya akan membuat diri sendiri hancur.

Dari sekian banyak kelebihan novel ini, ada satu hal yang buatku mengganjal, yaitu saat Prim, adik Katniss meninggal. Aku nggak bermaksud ***spoiler***, hanya kejadian Prim tersebut seperti kejapan mata, aku tidak membaca seperti apa detailnya. Apa mungkin karena aku sendiri pada saat itu bacanya kurang fokus. Entahlah… rasanya aku masih sedikit mengganjal saja.
Tapi dengan ending dari bunga prim itu aku jadi mulai ngerasa memang Prim benar-benar udah nggak ada.

Pohon Gantung aku beri 5 bintang.

Quotes yang kusuka:
“Lebih baik tidak menyerah. Butuh kekuatan sepuluh kali lipat untuk bisa menguatkan diri dibandingkan untuk gagal.” – Finnick (page 174)

Ps.
Jujur ini novel sci-fi fantasy yang bikin saya sukaaaa sama genre tersebut, khususnya fantasi. Jadi, sekarang mencoba untuk nggak akan pilih-pilih novel fantasi lagi kali ya… Lol

Review ini diikutsertakan untuk posting bareng bulan November, dengan tema bacaan Thriller/Horror.

Catching Fire (The Hunger Games #2)


Judul Buku: Catching Fire (The Hunger Games #2)
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah:Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi
Genre: Fantasy, Romance, Science Fiction, Thriller
Terbit: Cetakan I, Juli 2010
Tebal: 424 hlm
ISBN: 978-979-22-5981-0
Harga: Rp 58.000,- (Rp 59.000,- u/ cover film)

Api pemberontakan sudah tersulut. Dan Capitol ingin membalas dendam.

Katniss Everdeen berhasil keluar sebagai pemenang Hunger Games bersama Peeta Mellark. Tapi kemenangan itu menyulut kemarahan Capitol. Kemenangan Katniss ternyata membangkitkan semangat pemberontakan di beberapa distrik untuk menentang kekuasaan Presiden Snow yang kejam.

Presiden Snow mengancam Katniss untuk meredakan kegelisahan penduduk distrik dalam Tur Kemenangan. Satu-satunya cara meredam keinginan penduduk untuk memberontak adalah dengan membuktikan bahwa dia dan Peeta saling mencintai tanpa adanya keraguan sedikit pun. Jika gagal, keluarga dan semua orang yang disayangi Katniss menjadi taruhannya…

“Collins berhasil menulis buku kedua yang lebih bagus daripada buku pertama.” – The New York Times

“Buku ini jauh melampaui perkiraanku. Sama serunya dengan The Hunger Games, tapi lebih mengena di hati… luar biasa. Kau bakal rela begadang membacanya.” – Stephenie Meyer, penulis Twilight Saga
**

Setelah di seri sebelumnya Katniss dan Peeta menjadi pemenang. Hidup mereka dijamin oleh pemerintah Capitol, yaitu tinggal di rumah pemenang.
Bahagia bisa berkumpul kembali dengan Prim dan ibunya, serta sahabatnya, Gale. Kembalinya Katniss ke rumah membuat gadis itu melupakan sejenak hubungannya dengan Peeta yang pada kenyataannya hanya sandiwara.
Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama saat pemimpin Capitol, yaitu presiden Snow datang ke rumahnya membawa kabar yang tidak menyenangkan bagi Katniss.

“Tentu saja, kau tidak tahu tentang hal ini. kau tidak punya akses informasi tentang suasana hati distrik-distrik lain. Di sejumlah distrik, mereka memandang muslihatmu dengan buah berry itu sebagai tindakan perlawanan, bukan perbuatan berlandaskan cinta. Dan jika anak perempuan dari Distrik Dua Belas bisa melawan Capitol lalu lolos begitu saja, apa yang menghentikan mereka melakukan usaha yang sama?” – Presiden Snow (page 29)

Peeta yang benar-benar tulus mencintai Katniss sebenarnya tidak ada masalah. Yang jadi permasalahannya justru ada pada Katniss—yang dari awal hanya berpura-pura mencintai Peeta, sebenarnya hatinya masih berharap pada Gale. Hal ini disebutkan Presiden Snow sebagai pemberontakan.
Hingga akhirnya Katniss dan Peeta diikutsertakan lagi dalam Hunger Games, yang diberi nama Quell untuk meredam pemberontakan.
Hunger Games Quell diperuntukkan bagi para pemenang Hunger Games 1-75 yang masih hidup.
Di HG Quell ini romantisme Peeta dan Katniss lebih banyak, tapi cukup dramatis dibandingkan Hunger Games #1.
Aku semakin suka dengan Peeta yang menunjukkan rasa cintanya yang tulus untuk Katniss. Berusaha melindungi gadisnya agar tetap hidup.

“… Mimpi-mimpi burukku biasanya tentang kehilangan dirimu,”
“Aku baik-baik saja setelah aku sadar kau ada disini” – Peeta (page 100)

Hal ini buat aku terharu, Katniss pun demikian, hingga dia sadari juga bahwa ia ingin melindungi Peeta. Meskipun, aku nggak bisa menghakimi dia karena sudah memberi harapan pada Peeta dengan sandiwaranya. Uh!
Aku pun sedikit sebal di Hunger Games #1 karena Katniss tidak peka dengan perasaan Peeta, mungkin Katniss tidak tahu bahwa Peeta benar-benar tulus mencintainya, tanpa tahu sandiwara itu. Dia malah lebih memilih kembali kepelukan Gale, sampai-sampai HG Quell ini harus ada, karena Katniss dianggap sebagai pemberontak dengan simbol yang disematkan padanya, yaitu Mockingjay.

Yeah, Capitol is damn sick!!!

Kekuasaan Capitol tidak bisa membuat Katniss berkutik. Oke, disini aku cukup berempati padanya, bagaimana Katniss bisa menghadapi Hunger Games Quell dengan mengerahkan segala kemampuannya untuk bertahan hidup dan melindungi Peeta.

Yang kusuka dari novel ini, selain romantisme Katniss dan Peeta, aku pun menyukai bagaimana penulis memberikan gambaran tentang pakaian yang dipakai Katniss dan Peeta setiap kali akan bermain dalam Hunger Games. Tokoh-tokoh lainnya yang unik juga seperti mentor-mentor di Hunger Games, Haymitch, si tukang mabok, tapi waras kalau sudah menghadapi arena HG, juga ada desainer Katniss, yaitu Cinna yang ngemong banget.
Peserta-peserta HG Quell pun tak kalah ambisius dari Hunger Games sebelumnya. Arena Quell ini semakin mendebarkan dan berdarah-darah.
Kehadiran Finncik, Beetee, Johanna sebagai sekutu Katniss dan Peeta di HG Quell pun memberikan kesan yang baru di arena, mereka lebih kuat dan berani (Jelas saja, mereka itu kan para pemenang HUnger Games terdahulu) Dengan adanya sekutu, penonton mungkin akan ingat pada Rue, sekutu Katniss yang meninggal di HG #1. Di Catching Fire tidak kalah mengharukan sekutu-sekutu itu mampu berkorban x(

Seperti di seri pertama, terjemahan novel seri kedua ini rapi, enak dibaca, typo ada tapi tidak mengganggu.

At least, pelajaran yang bisa diambil dari buku kedua ini, menurutku bahwa dari zaman dulu hingga sekarang yang namanya pemimpin selalu punya kuasa untuk mengatur rakyatnya. Punya wibawa yang ‘ditakuti’. Hanya tentu saja tergantung bagaimana si pemimpin itu sendiri, apakah kepemimpinannya itu benar, seperti menegakan hukum yang adil dengan pertimbangan yang tidak berat sebelah hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan seharusnya untuk kepentingan bersama.
Atau jauh dari benar, seperti di Capitol misalnya, Snow merupakan penguasa yang diktator, yang tidak pandang bulu untuk membuat siapa saja yang mencoreng tahta kepemimpinannya akan membuat hidup si pemberontak itu menderita, bahkan jika harus mengorbankan banyak orang disekelilingnya.

Mampukah Katniss melindungi keluarganya, termasuk Gale dan Peeta? x)

4,5 bintang untuk Gadis yang terbakar, Katniss.

lain-lain:
cover novel Catching Fire terbaru versi film 🙂

Katniss Everdeen yang diperankan Jennifer Lawrence. Filmnya sudah tayang loh bulan November ini di bioskop, tepatnya dirilis 21/22 November kemarin 😀

Catching Fire movie

(source pic: google)

The Hunger Games #1


Judul Buku: The Hunger Games #1
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah:Hetih Rusli
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi
Genre: Fantasy, Romance, Science Fiction, Thriller
Terbit: Cetakan I, Oktober 2009
Tebal: 408 hlm
ISBN: 978-979-22-5075-6
Harga: 58.000

Dua puluh empat peserta.
Hanya satu pemenang yang selamat.

Amerika Utara musnah sudah. Kini di belasnya berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai pusat kota yang dikelilingi dua belas distrik.
Katniss, gadis 16 tahun, tinggal bersama adik perempuan dan ibunya di wilayah termiskin di Distrik 12.

Karena pemberontakan di masa lalu terhadap Capitol, setiap tahun masing-masing distrik harus mengirim seorang anak perempuan dan anak lelaki untuk bertarung dan ditayangkan secara langsung di acara televisi The Hunger Games. Hanya ada satu pemenang setiap tahun. Tujuannya adalah: membunuh atau dibunuh.

Ketika adik perempuannya terpilih mengikuti The Hunger Games. Katniss mengajukan diri untuk menggantikannya. Dan dimulailah pertarungan yang takkan pernah dilupakan Capitol.
**

Katniss Everdeen, gadis pemburu yang hampir setiap hari pergi ke hutan untuk mencari binatang buruan untuk ia tukarkan dengan uang atau makanan layak di kota. Terkadang hasil tangkapannya pun ia makan sendiri untuk keluarganya. Hidup sebagai tulang punggung keluarga adalah tanggung jawabnya. Ibunya depresi semenjak ayahnya meninggal, sementara adiknya, Prim, masih terlalu muda. Dan ia sangat sayang pada adiknya melebihi siapapun.
Gale adalah sahabat Katniss, teman berburunya. Gale sudah seperti kakak baginya, tapi perasaan nyaman dan menenangkan membuat Katniss menginginkan sesuatu yang lebih dari hubungan sebagai partner berburu. Tapi, itu semua masih sekedar harapan.

“Aku ingin melakukan sesuatu, disini, sekarang, membuat mereka bertanggung jawab, menunjukkan pada Capitol bahwa apa pun yang mereka lakukan atau mereka paksakan pada kami, ada bagian dari setiap peserta yangtak dapat mereka miliki. Bahwa Rue lebih dari sekedar poin dalam permainan mereka. Dan aku juga bukan.” – Katniss (page 261)

Seru, keren, menantang, tapi juga mengharukan dengan bumbu romance yang membuat siapapun pasti bakal nagih bacanya, termasuk aku.

Kompetisi yang tidak biasa, membunuh atau dibunuh. Setiap Distrik wajib mengirimkan dua peserta (laki-laki dan perempuan). Dari kedua belas distrik, didapat dua puluh empat peserta yang akan bertarung, saling mengalahkan, meskipun dari distrik yang sama sekalipun. Karena hanya akan ada satu pemenang. Satu orang yang hidup dalam acara Hunger Games ini.

Hunger Games merupakan acara besar yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga Panem-Capitol, tapi juga merupakan hal yang paling ditakuti, karena bagi anak yang berusia dua belas tahun ke atas, mereka harus mendaftarkan diri sebagai peserta Hunger Games. Bagi mereka warga miskin, bisa mendapatkan tessera (mendaftarkan lebih dari satu nama undian, berkali-kali lipat jumlahnya untuk ditukarkan dengan makanan bagi keluarganya−−jika dia terpilih sebagai peserta). Salah satunya adalah Katniss dan Gale yang memiliki nomor undian paling banyak. Kemungkinan untuk menjadi peserta cukup besar peluangnya, dan Katniss sudah siap dengan resiko itu. Akantetapi, pada akhirnya nama Prim, adiknya yang dimuncul dari undian. Katniss tidak bisa membiarkan hal itu, ia pun mengajukan diri sebagai peserta−−menggantikan adiknya. Semua orang merasa tergugah dengan kerelaan Katniss. Dan, anak laki-laki yang terpilih adalah Peeta (anak dari tukang roti) yang mengingatkan Katniss akan masa lalu, ketika anak laki-laki itu pernah menolongnya, dan ia masih merasa berhutang budi sampai saat ini.

Satu tim bersama orang yang sudah pernah menolongnya, lalu apa yang harus Katniss lakukan di dalam kompetisi ini? Di satu sisi ia harus menang dengan membunuh kedua puluh tiga peserta.

Yang paling buat aku nggak bisa lepas dari novel ini adalah pengakuan Peeta yang mengejutkan, ternyata dia menyukai Katniss, padahal nih Peeta cuek-cuek dingin gitu. Makanya Katniss nggak sadar-sadar kalau Peeta beneran suka. Hwaa semakin dilema…
Bagaimana akhir dari kompetisi ini, apakah Katniss bisa menang (dengan membunuh Peeta) atau malah ia yang dibunuh (mengingat peserta dari distrik 1,2,3 yang kuat dan memiliki banyak sponsor).

“Dengan caraku sendiri, aku akan mati, tapi tak terkalahkan,” – Katniss (page 315)

Dengan sudut pandang orang pertama, ceritanya enak sekali dibaca, terjemahannya oke. Nyaris bersih dari typo.

Novel ini tidak hanya sekedar fiksi fantasi yang berbumbu thriller dan romance. Tapi, Hunger Games ini memberikan pembelajaran tentang kehidupan, seperti kekeluargaan, kepercayaan, kekuasaan, persahabatan, dan cinta.
Kekuasaan pemerintah yang−−well−−kita tahu siapa yang berkuasa akan bisa mengatur segalanya. Termasuk Capitol−−yang ish bikin emosi kita terkuras habis.
Suspense yang menarik diending buku #1 buat aku penasaran dengan kisah Katniss dan Peeta selanjutnya… Next to read Hunger Games: Catching Fire #2

5 bintang untuk Hunger Games

Tentang Penulis:
Sejak tahun 1991 Suzanne Collins bekerja sebagai penulis televisi untuk program anak-anak. Belakangan ia juga dikenal sebagai penulisnovel fantasi remaja dengan beberapa serialnya yang sukses termasuk The Hunger Games.

Saat ini ia tinggal di Connecticut with bersama keluarganya dan sepasang kucing yang dipungut dari halaman belakang rumah mereka.

Lainnya:
PUBLISHER WEEKLYS BEST BOOKS OF THE YEAR
NEW YORK TIMES NOTABLE CHILDREN’S BOOK OF 2008
Selain mendapatkan banyak penghargaan dan apresiasi yang bagus dari para pembaca, novel ini juga diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama The Hunger Games, pada tahun 2012. Yang diperankan oleh Jennifer Lawrence dan Josh Hutcherson.

Negeri Di Ujung Tanduk


Judul Buku: Negeri Di Ujung Tanduk
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Thriller, Fiksi
Terbit: Cetakan III, Mei 2013
Tebal: 360 halaman
ISBN: 978-979-22-9429-3
Harga: Rp. 55.000,-

Di Negeri di Ujung Tanduk
kehidupan semakin rusak,
bukan karena orang jahat semakin banyak,
tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.

Di Negeri di Ujung Tanduk
para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan,
bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladaan,
tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian.

Tapi di Negeri di Ujung Tanduk
setidaknya, kawan, seorang petaeung sejati akan memilih jalan suci,
meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata,
dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan.

**

Novel ini adalah sequel dari Negeri Para Bedebah. Bagi yang belum pernah baca seri pertamanya, bisa lihat pada review yang saya buat setahun lalu, disini.
Masih tentang Thomas dan orang-orang yang ada di sekelilingnya, seperti Opa, Om Liem, Maggie, dan Kadek. Tenang saja, ada orang-orang baru yang akan terlibat dalam cerita ini.

Namun, perbedaannya kali ini Thomas memiliki bidang pekerjaan yang baru. Masih seorang Konsultan, tapi ia mencoba untuk terjun di ranah yang berbau politik. Motivasi itu ada lantaran seorang kerabat lama yang mengajukan diri sebagai calon presiden dengan visi dan misi yang dapat menjual, meskipun hanya omong kosong. Poinnya penegakan hukum–itulah yang meyakinkan Thomas ingin ikut bagian menjadi seorang konsultan politik. Apalagi dia sudah memiliki nama dari profesinya tersebut, tidak diragukan lagi keahliannya.

Karakter Thomas masih seperti dulu, teguh pendirian dan sedikit keras kepala, sementara dalam sisi akademiknya, dia sangat cerdas dan cekatan.

Bagi sekretarisnya-Maggie, Thomas itu menyebalkan (menurut saya juga begitu sih) xD Tapi, semenyebalkan apapun Thomas, saya gak bisa benci dia XD
Dan bagaimana saya sebagai pembaca begitu takjub karena Thomas pintar sekali mempengaruhi orang lain, tepatnya menanamkan bibit-bibit ide dan membiarkannya tumbuh sendiri kemudian tersebar di pikiran orang-orang yang diajaknya bicara.
Well, Thomas selalu benar.

“Kau bosnya, Thom,”
Kalimat ini sering diucapkan Maggie jika dia sudah tidak bisa mengatakan TIDAK pada Thomas.

Dalam cerita kali ini, Thomas berurusan dengan banyak pihak, bahkan melibatkan orang-orang penting di pemerintahan. Hal itu tak bisa dielakkan karena Thomas sebagai konsultan partai politik dari JD yang sedang mencalonkan diri sebagai presiden. JD adalah mantan gubernur ibukota yang memiliki banyak prestasi selama menjabat sebagai orang nomor satu di ibukota tersebut.

Akan tetapi, tidak lama setelah itu, masalah demi maslah datang seperti tidak ada yang suka dengan keberhasilan JD–yang diperkirakan akan memenangi konvensi partai dan menjadi calon unggul untuk pemilihan presiden nanti. Dengan menjual omong kosong “Penegakan Hukum”, beliau akan menegakkan hukum Indonesia tanpa pandang bulu.

Omong kosong tersebut sepertinya lebih dari sekedar omong kosong, karena JD adalah pemimpin yang taat dalam menjalankan tugasnya. Kemungkinan omong kosong itu pun akan ada benarnya apalagi didukung Thomas, si petarung sejati.
Hal ini nampaknya menimbulkan ketidakpercayaan diri oknum-oknum, takut sekali jika JD benar-benar jadi presiden.

Berbagai carapun dilakukan oknum tersebut untuk menggulingkan JD, termasuk Thomas yang pasti harus ditumbangkan terlebih dahulu.

Seperti di buku pertamanya, Thomas tidak sendiri. Selain Opa dan Kadek, ada seorang wartawan majalah politik yang bernama Maryam-yang akan mewancarai Thomas hingga nekat pergi menyusulnya ke Hong Kong. Saat itu Thomas memang sedang menghadiri Konferensi Internasional tentang Komunikasi Politik, setelah itu, sekalian berada disana-dia juga mengikuti klub petarung yang banyak diikuti oleh berbagai negara. Salah satunya oleh petarung asal Hong Kong tersebut, Lee–yang merupakan petarung tangguh yang tak terkalahkan.

Jakarta. Dimana JD cemas dengan situasi yang akan dihadapinya menjelang konvensi nanti. Sementara, di Hong Kong, ada yang menjebak Thomas di kapal pesiar barunya sendiri. Ada sekitar seratus kilogram heroin dan beberapa senjata yang tidak tahu darimana asalnya, tiba-tiba saja sudah ada di kapalnya.
Dermaga Hong Kong yang menjadi tempat berlabuhnya kapal pesiar Thomas langsung dikepung oleh kepolisian Hong Kong. Dan tanpa proses yang lama, pasukan khusus antiteror Hong Kong SAR yang dikepalai oleh Detektif Liu itu menangkap Thomas beserta Opa, Kadek, dan Maryam, lalu membawa mereka ke markas dan menahannya.

“Pengalaman selalu lebih penting dibanding level pendidikan dan nilai akademis.”

Yap, berbekal pengalaman setahun yang lalu—saat Thomas berurusan dengan orang-orang yang ingin menghancurkan bank Semesta milik Om Liem, kini dia harus merasakan lagi masuk ke dalam penjara.

Di situasi yang sangat terjepit, waktu yang tinggal dua hari lagi menuju konvensi partai-bagaimana Thomas bisa keluar dari gedung kepolisian–yang pada saat ditangkap ke tempat ini saja, matanya ditutup oleh kain.

Lalu di Jakarta sendiri heboh soal penangkapan JD oleh polisi karena diduga terlibat korupsi megaproyek tunel raksasa selama beliau menjabat sebagai gubernur ibukota. Hal ini mengancam didiskualifikasinya JD pada konvensi partai yang tinggal satu hari lagi.

Kasus kali ini tidak kalah menengangkan dengan kasus yang ada pada NPB. Selalu ada Suspense di tiap bab–membuat saya pengin cepat menyelesaikan buku ini, karena berasa ikut dikejar deadline.

“Sebelum semua terlambat, sebelum seluruh negeri ini berubah dari negeri para bedebah menjadi negeri di ujung tanduk.” (page 256)

“Riset adalah segalanya.”

Meskipun terburu-buru, tapi berpikir dengan kepala dingin dan efektif, masalah demi masalah bisa teratasi.

Cerita yang diangkat begitu dekat dengan apa yang sering kita semua lihat di berita-berita televisi. Tapi, tidak seekstrim cerita Thomas−−jika saya melihat dari kacamata sebagai penonton televisi.
Seandainya dalam kehidupan nyata ada peran seperti Thomas, mungkin negara kita akan aman dan sejahtera ya.haha

Mengenai sudut pandang yang dipakai adalah orang pertama serba tahu. Jadi, sebagai pembaca saya merasa ikut terlibat. Dan untuk covernya sangat pas dengan tema cerita.

Kekurangannya, menurut sudut pandangku sebagai pembaca, ada beberapa cerita yang dibuat begitu singkat penjabarannya, seperti adegan Thomas yang bertinju dengan Lee tidak dipaparkan, mungkin hal ini juga yang membuat novel ini lebih tipis dari novel NPB.

Kesimpulan yang bisa saya petik dari novel ini sebenarnya simpel, hanya soal kepedulian dan kehormatan.

Beberapa typo:
1) page 171: Maryam kembali bicara padaku, meletakkan gagang telepon. ->
Seharusnya disitu bukan Maryam, tapi Maggie. Karena jelas disitu−−Maggie yang sedang menelepon Kris.
2) page 335: segara -> segera
3) page 336: Paman Liem -> padahal biasanya Thomas memanggilnya Om Liem.

Overall, saya suka novel ini. 5 bintang untuk Tommi 😀

Tangan Kelima


Judul Buku: Tangan Kelima (1 Mobil, 4 Nama, 5 Misteri)
Penulis: Christian Armantyo
Penerbit: Visimedia
Genre: Detektif, Thriller
Terbit: Cetakan I, Mei 2013
Tebal: 366 halaman
ISBN: 979-065-183-X
Harga: Rp. 55.000,-

NO GAME LIKE IT, NO TALE LAKE IT, NO LOVE LIKE IT
MERCEDES Benz SL klasik merah menyala ditemukan di gudang rumah tua. Sang pemilik rumah meninggal tiba-tiba beberapa waktu sebelumnya. Tanpa ada kejelasan penyebabnya. Di dalam mobil klasik itu ditemukan BKPB berisi nama-nama pemilik sebelumnya dan sepasang sepatu perempuan yang masih baru.
RANTAU, sang ahli waris pemilik rumah menemukan berbagai kejanggalan di sekitar gudang tempat mobil itu ditemukan. Tak ada nama sang ayah di BPKB itu. Sederet tanda tanya memenuhi kepalanya. Mobil siapakah itu? Rantau akhirnya memutuskan menelusuri satu persatu nama yang tertera di dalam buku kepemilikan mobil itu. Ia tak pernah menyangka, penyelidikan kecil itu akan membawanya ke dalam labirin misteri yang semakin rumit. Misteri yang berusia puluhan tahun.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu Anna, perempuan yang mengaku anak salah satu pemilik mobil. Anna menawarkan diri membantu Rantau melanjutkan pencarian. Bersama Anna, Rantau keluar-masuk jalanan Jakarta, bahkan hingga menyeberangi Laut Cina Selatan, mencari alamat demi alamat yang terkadang berujung pada kekecewaan. Kebersamaan itu pun memunculkan benih asmara di dalam hati keduanya. Sampai pada akhirnya Rantau menemukan fakta-fakta yang mengejutkan. Pencarian yang dilakukan ternyata membuatnya tidak hanya kehilangan seorang kekasih yang sudah lama menemani, tetapi juga sahabat setia, bahkan nyaris nyawanya sendiri!

**
Sebelumnya saya berterima kasih banget nih buat Penerbit Visimedia yang sudah memberikan buku ini pada saya sebagai Tangan Keduabelas 😀

Dari judul dan sinopsisnya sudah cukup menggambarkan seperti apa perjalanan kasus yang akan dipecahkan oleh seseorang yang bernama Rantau. Ya, Rantau adalah tokoh utama dari novel ini. Penulis memakai sudut pandang orang pertama yang membuat saya sebagai pembaca menjadi lebih mengenal Rantau. Dan, bisa langsung bikin saya jatuh hati dengan tokoh ini xD

Cerita berawal dari Rantau yang baru lulus kuliah dari jurusan Arkeolog. Bicara soal arkeolog, pandanganku terhadap arkeolog di Indonesia memang masih terbilang tidak biasa dijadikan profesi sehari-hari. Entah karena memang istilahnya masih asing atau memang kebanyakan masyarakat sekarang lebih menilai kekayaan yang sudah ada dan modern, dibandingkan peninggalan-peninggalan zaman dulu yang bendanya sudah tidak ada atau ada tapi bukan untuk milik sendiri. Namun, faktanya hasil peninggalan malah lebih suka dilempar sana-sini untuk dijual, dan mirisnya dengan harga yang tidak sebanding.

“Hei, kamu itu arkeolog! Apa kamu mencari tahu sesuatu berdasarkan benda yang masih ada, atau yang kamu miliki?” – Elora

Saya sangat suka bagaimana penulis memberikan banyak informasi tentang Arkeologi−yang bagi saya masih awam. Tulisannya yang enak dibaca semakin membuat saya larut dalam kisah Rantau. Latar dalam ceritanya juga tidak perlu membuat saya berpikir keras mengenai tata letaknya, karena hanya berlokasi di Jakarta dan Bandung, tapi di bab pertengahan kita akan dibawa berpetualang dua hari di Hongkong 😀

Mobil Mercedes Benz SL ditemukan Rantau di rumah almarhum ayah kandungnya di Bandung. Tepatnya berada di dalam sebuah gudang yang tak pernah ia buka. Gudang itu sebenarnya tempat parkiran namun dialih fungsikan menjadi gudang karena pemilik rumahnya tidak memiliki mobil. Rantau yang datang kesana bersama Daan, sahabatnya, menaruh curiga dengan keganjilan yang ada pada mobil klasik berwarna merah itu.

Ayahnya tidak mungkin memiliki mobil antik seperti ini, lalu milik siapa mobil yang ditinggalkan secara tidak wajar ini. Apalagi, dipastikan mobil ini memang sudah ada sejak ayahnya ditemukan meninggal di rumahnya. Dan, yang tak terduga ada BPKB yang berisi nama-nama dari pemilik sebelumnya. Analisis-analisis yang selalu tepat dari seorang Rantau pun akhirnya keluar, dibumbui sifat humor dari Daan membuat analisis ini terbilang santai, jauh dari kesan rumit. Analisisnya sangat mudah dipahami dan terbilang natural, tidak terkesan dibuat-buat ataupun terpaksa harus ada petunjuk. Hal ini yang membuat ceritanya begitu mengalir dan nyata.

Sebagai seorang anak dengan jiwa arkeolog, sudah pasti Rantau sangat ingin menyelidiki hubungan antara mobil antik itu dengan ayahnya. Penyelidikan pun akhirnya dimulai dengan mencari sang pemilik terakhir yang mempertemukannya dengan Anna, anak dari pemilik mobil tersebut. Namun, karena nonya Elisabeth (pemilik mobil) tidak berada di tempat, Rantau harus memulainya terlebih dahulu dengan anaknya. Anna adalah perempuan cantik berwajah indo yang tertarik dengan apa yang sedang diselidiki Rantau. Keduanya akhirnya sepakat untuk memulai petualangan mencari pemilik-pemilik mobil sebelumnya, selama menunggu nyonya Elisabeth pulang dari luar negeri. Dan pencarian tangan ketiga, kedua, dan pertama pun dimulai, membuat saya sendiri menggebu-gebu seperti ikut berpetualang mencari orang-orang di masa lampau tersebut.

Dari sini pula dapat terlihat bagaimana chemistry antara Rantau dan Anna tumbuh. Tapi, perlu diketahui bahwa Rantau sudah punya kekasih, bernama Elora. Itulah yang selalu diwanti-wanti Daan setiap kali Rantau mulai beraksi mencari tangan-tangan berikutnya yang ia selidiki bersama Anna. Elora memang kuliah di Jogja, karena itu, soal penyelidikan ini pun tak diberitahunya. Sementara disisi Rantau ada Daan, disisi Anna juga ada Leo. Rantau kerap kali diperingatkan Leo untuk tidak macam-macam dengan Anna. Yah, maklum ceritanya Leo itu kakaknya Anna. *cough* :p

Jadi, intinya sih ya..menyelidiki pemilik mobil sebelumnya yang diurutkan dari sang tangan ke empat ke tangan pertama, yang akan membukakan petunjuk siapa pemilik sebenarnya, yaitu tangan kelima. Bisa dibilang, ini termasuk proses penyelidikan yang berjalan mundur.

Selalu ditemukan tokoh-tokoh baru disetiap babnya dan selalu ada cerita dibalik orang-orang yang pernah memiliki mobil tersebut. Dan, anehnya selalu saja mereka menawarkan diri ingin membeli mobil itu lagi. Tapi, tenang saja.. Rantau tidak silau harta untuk menjualnya. Dia masih ingin terus menguak hubungan mobil itu dengan ayahnya. Bahkan sampai berani terbang ke Hongkong berdua bersama Anna, demi mendapatkan informasi mengenai mobil mercedes itu.

Bab menjelang akhir, muncul tokoh Elora, kekasih Rantau. Meskipun munculnya ada di bab tiga terakhir, tapi tidak membuat sosoknya kehilangan peran. Justru perannya sangat kuat dengan pemikiran-pemikiran yang masih fresh dibandingkan Rantau yang isi kepalanya pasti sudah mumet gara-gara banyaknya informasi yang ia dapat, sehingga membuatnya berputar-putar sendiri dalam kekusutan kasusnya itu. Kesetiaan Rantau pada Elora tak perlu dipertanyakan lagi, meski selama Elora tidak ada, tapi itu tidak membuatnya mudah berpaling. Meskipun begitu, saya mendapakan chemistrynya pada Anna tidak kalah jauh dengan hubungan yang sudah bertahan selama dua tahun itu dengan Elora. xD

Sebenarnya aku sudah mulai menebak siapa Anna sebenarnya. Namun, karena asumsi Rantau yang begitu menerima informasi dengan mentah-mentah, membuat kecurigaan saya mengendur. Bahkan, dengan teganya saya ikut-ikutan mencurigai Daan. LOL
Menurut saya, tokoh Rantau ini memang tokoh yang lahir dengan sangat alami. Meskipun dia arkeolog, tapi tetap saja sifat tidak telitinya ada, yang membuat penyelidikannya semakin menarik.

“Saya arkeolog, bukan detektif… Arekolog itu lebih keren daripada detektif, Dik…” – Rantau (page 340)

Seorang arkeolog bisa otomatis disebut detektif, tapi detektif belum tentu seorang arkeolog. (menurutku) xD

Aku suka dengan endingnya yang memberikan penjelasan masuk akal. Tapi, kenapa harus seperti itu? Benar-benar bikin nyesek!! Saya gak terima dengan nasib Daan 😥

Novel ini seperti parcel buku, komplit genrenya. Ada history, horror, thriller, detektif, romance, humor, dan juga melodramanya.
Sangat disayangkan dalam buku ini saya menemukan lebih dari sepuluh typo, tapi tidak mengurangi kesan saya untuk menyukai buku ini. Hanya lebih bagus kalau typo itu gak ada, sehingga mata saya gak perlu ngucek-ngucek setiap kali liat typo.

Berhubung Rantau sudah saya kasih hati, bintang kali ini saya kasih buat Got. Eh, Daan Mogot! 4 bintang 😀

NB: Setelah habis membaca buku ini, saya jadi berasumsi bahwa title tangan keduabelas yang disematkan pada saya adalah bukan untuk memecahkan kasus-kasus selanjutnya yang tidak berujung, melainkan untuk membedah buku ini menjadi sebuah resensi. haha xD Apa diantara kalian juga ingin menjadi tangan-tangan berikutnya? Silahkan coba baca buku ini, barangkali benar anda adalah orang selanjutnya (tangan ketigabelas)? atau tangan keseratus, bahkan keseribu? x)

Tentang Penulis
Christian Armantyo

Membatalkan pilihannya menempuh pendidikan kesenian, lalu beralih mengikuti jejak kedua kakak dan ayahnya. Setelah menyelesaikan studi Akuntansi di Fakultas Ekonomi, UI, pada usia yang ke-20 tahun menjalani profesi sebagai bankir di salah satu bank milik negara.
Pagi hingga petang berjerih mengembangkan produk kredit bagi para pengusaha UKM. Saat malam sudah terlalu larut dan pagi yag masih buta berjerih mengembangkan produk imajinasi bagi para pembaca.
Mengenai beberapa bidang seni lainnya, seperti menggambar, bermain alat musik gitar dan cello. Merasa pernah hidup pada masa lampau, sehingga selalu terenyuh ketika mendengar musik-musik lama, melihat bangunan tua, dan hal bersejarah.

Untuk yang ingin mengenal lebih jauh penulis bisa berkunjung ke websitenya. Emailnya christian.armantyo@gmail.com, dan bisa follow twitternya @carmantyo

The Way Of The Warrior

Image

Judul Buku: The Way Of The Warrior

Penulis: Andrew Matthews

Penerjemah: Meithya Rose

Penerbit: Matahati

Terbit: Cetakan I, Desember, 2008

Tebal: 200 halaman

ISBN: 979-1141-30-4

Harga: Rp. 39.500,-

“Segala sesuatu diawali dan diakhiri dengan kehormatan.” – Bushido (Samurai Code)

Shimomura Jimmu kehilangan segalanya ketika sang ayah melakukan seppuku akibat dipermalukan oleh Choju Ankan. Ia pun melatih diri sebagai samurai agar dapat membalaskan dendam sang ayah serta memulihkan nama baik keluarganya.

Berlatar belakang kehidupan di Jepang pada abad ke-16, buku ini bercerita tentang loyalitas dan pengkhianatan, masa lalu serta ramalan di masa depan, dan jalan hidup seorang samurai.

Suka banget sama novel ini…….. baru kali ini dapat terjemahan buku yang bikin aku terkesan alias ceritanya nyampe ke dalam benak saya *alah. Padahal aku sudah cukup lama punya buku ini, dari tahun lalu aku timbun terus di rak dengan segel yang masih rapih. Aku mengulur-ngulur waktunya gara-gara dapat novel-novel baru yang fresh,hehe. Sementara liat aja novel ini, dari covernya tidak terlalu menarik, lalu terasa mengintimidasi saya sebelum membukanya. Padahal itu tidak sesuai dengan isinya, memang benar kata pepatah jangan menjudge buku dari covernya, nah sekarang aku kena deh sama pepatah itu.

Tokoh dalam novel ini adalah seorang remaja laki-laki bernama Shimomura Jimmu yang masih berusia sepuluh tahun. Ia anak satu-satunya dari pasangan Lord Kensu dan Lady Izanami. Konflik yang disuguhkan dalam novel ini langsung muncul di bab awal dengan prolog yang bikin tercengang, dan membuat ku penasaran untuk membaca kisahnya lebih lanjut.

Lord Kensu bunuh diri di depan anaknya dan pengawal pribadinya, Araki Nichiren. Kensu melakukan itu karena suatu alasan, nah karena suatu alasan ini disebabkan oleh Lord Ankan, orang yang sudah memalsukan dokumen dan merebut tahtanya. Sebelum meninggal ia mengatakan pada Jimmu untuk tetap hidup dan keluar dari nama keluarganya, ia dan istrinya akan menunggu Jimmu kembali. Sementara itu Nichiren yang akan mendidik Jimmu hingga ia bisa menjadi samurai dan dapat membalaskan dendam Lord Kensu pada keluarga Choju, yang dipimpin Lord Ankan.

Selama tujuh tahun Jimmu digembleng habis-habisan oleh Nichiren agar pandai menggunakan pedang dan mampu menebas musuh. Dan tentunya agar bisa membunuh Lord Ankan.

Tujuh belas tahun telah berlalu, Nichiren sudah meninggal dunia, kini Jimmu tinggal seorang diri, ia pergi merantau mencari tempat tinggal Ankan, tepatnya di Kastil Mitsukage di propinsi Ise. Perjalanannya menuju ke tempat tersebut mempertemukannya dengan serombongan bandit yang tengah beraksi merampok seorang kusir. Dalam perjalanan tersebut Jimmu berhasil menebas beberapa perampok tersebut, termasuk dari pemimpin mereka, Toshiro.

Berkat menolong kusir tersebut, Jimmu mendapat petunjuk untuk menemukan Kastil Mitsukage. Dan akhirnya ia pun bisa sampai ke tempat tersebut, bertemu dengan Sesan Hankei untuk pertama kalinya, lalu instruktur penjaga tersebut membawanya untuk bertemu Kapten Ishida Muraki. Jimmu yang berpura-pura ingin mengabdi di Mitsukage karena ingin menjadi samurai, meminta diijinkan untuk berguru dan mengabdi di Kastil Mitsukage. Usahanya pun berhasil, hanya dalam semalam saja Jimmu menekatkan diri untuk membunuh Lord Ankan menjelang malam hari tiba di hari pertamanya tinggal. Namun, rencananya gagal karena kepergok Lady Takeko, anak perempuan dari Lord Ankan yang seumuran dengannya. Meski Takeko tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan Jimmu di tengah malam dekat kediaman keluarganya, tapi Takeko tidak menaruh curiga pada Jimmu, justru ia malah sedikit tertarik.

Tokoh Lady Takeko ini adalah gadis yang cantik, angkuh, dan manja, semua keinginannya harus bisa dicapai, hingga tak ada satu pun yang bisa menentangnya.

Disisi lain, Jimmu cukup terpesona dengan gadis itu, namun ia sadar diri, ia tidak boleh menyukai anak dari seorang yang akan ia bunuh, seperti yang selalu diperingatkan Nichiren agar ia bisa mengendalikan diri. Meski Nichiren sudah tiada, namun suaranya masih tetap hidup dalam benaknya, suaranya selalu nyaring terdengar di telinganya setiap kali diingatkan bahwa ia harus segera membunuh Lord Ankan.

Waktu cepat berlalu namun Jimmu belum juga menemukan waktu yang tepat untuk membunuh Lord Ankan. Belum menemukan kesempatan atau memang Jimmu ragu? Karena orang yang dibayangkannya berwajah sangat garang dan lebih mirip setan itu ternyata memiliki paras yang sempurna sebagai seorang pemimpin, tak ada aura jahat di wajahnya, dan setiap tingkah lakunya terlihat sangat baik pada semua orang. Pandangan Jimmu tentang orang tersebut menjadi terbagi, disisi lain sangat bertolak belakang dengan cerita Nichiren yang mengatakan Lord Ankan sangatlah kejam. Apa Ankan hanya berpura-pura baik dibalik topeng jahatnya? Lalu bagaimana dengan perasaannya pada Lady Takeko? begitu pun sebaliknya?

Kisah ini sangat menarik untuk diikuti, aku sangat menyukai karakter-karakter dalam tokoh ini, karakternya sangat kuat dan hidup. Aku suka bagaimana Takeko menghadapi sikap Jimmu yang begitu kaku dan sangat sopan padanya, sementara ia membalasnya dengan ceplas ceplos dan apa adanya sebagai gadis yang angkuh dan manja.

Aku kasih 5bintang untuk Samurai Jimmu. Dalam novel ini nanyak sekali pelajaran yang bisa diambil : ) hampir tidak ada typo.

Quotes yang kusukai:

“Modal dari kesempurnaan adalah latihan yang terus menerus,” – Nichiren.

“Berlatihlah sampai kau tak lagi harus berpikir tentang apa yang sedang kau lakukan. Berlatihlah sampai itu jadi sealamiah bernapas,” – Nichiren. (Page 44)

Ini penampakan cover aslinya!

Image

Aku lebih suka cover aslinya deh : )

Tentang penulis

Andrew Matthews telah gemar menulis sejak usia tujuh tahun, tapi ia baru berkecimpung sebagai penulis purnawaktu setelah dua puluh tiga tahun menjadi guru. Kini ia sudah menulis lebih dari 60 buku untuk anak-anak dan remaja, termasuk Cat Song, yang dinominasikan untuk Smarties Book Award pada tahun 1994 dan Love Street yang diakui oleh para kritikus. Ia merupakan penulis yang sangat piawai dalam aneka ragam cerita, dan telah mengisahkan ulang berbagai mitos, legenda serta cerita-cerita klasik, sekaligus mengarang buku bergambar dan novel-novelnya sendiri. Andrew tinggal di Reading bersama istrinya dan kucing mereka.