That Affair Next Door


Judul Buku: That Affair Next Door
Penulis: Anna Katharine Green
Penerjemah: Diana A. Santoso
Penyunting: Fitria Pratiwi
Penerbit: Visimedia
Genre: Detektif, Misteri
Terbit: Cetakan I, Juni 2013
Tebal: viii+408 halaman
ISBN: 979-065-184-8
Harga: Rp 65.000

Saya menemukan beberapa orang sedikit marah dengan fakta bahwa Anna Katharine Green adalah penulis fiksi detektif best seller jauh sebelum Arthur Conan Doyle menulis karya pertamanya. Mereka marah karena mereka tidak ingin mendengar bahwa ada perempuan yang bersaing dengan seorang master.
(Prof. Ellen Higgins, Universitas Albany)
*****

Amelia Butterworth tidak akan keluar rumah tanpa topi lebar, gaun megar, dan sarung tangan khas perempuan New York yang memesona. Meakipun perempuan berpendidikan tinggi ini sangat suka berbelanja, dia bukanlah sosialita biasa. Pada suatu malam, Miss Buterworth tanpa sengaja mengintip rumah tetangganya melalui jendela kamarnya. Alangkah terkejutnya dia, tindakannya ini membawa pengaruh besar baginya, termasuk mengenalkannya dengan detektif dari kesatuan kepolisian New York Metropolitan, Ebenezer Gryce.

Mayat seorang perempuan ditemukan tertindih lemari di rumah tetangga Miss Butterworth. Semua orang terkejur karena rumah keluarga van Burnam itu kosong, ditinggal berlibur selama lima bulan. Dengan analisis khas perempuan, Miss Butterworth berhasil meyakinkan Mr. Gryce bahwa kasus ini adalah sebuah pembunuhan. Awalnya, Mr. Gryce yang sombong tidak mau dibantu oleh seorang perempuan untuk menangani kasus ini. Merasa diremehkan, Miss Butterworth marah dan menantang Mr. Gryce untuk bersaing dalam membongkar teka-teki dalam kasus penemuan mayat di rumah itu. Siapalah yang dibunuh? Siapa yang membunuh? Misteri apa yang akan dibongkar Mr. Gryce dan the first lady detective, Amelia Butterworth.
***

Kisah dalam novel ini tentang pembunuhan di rumah kosong milik Van Burnam. Sebenarnya rumah itu kosong karena yang memiliki sedang berpergian keluar negeri−−orang-orang rumah (termasuk anak-anak Van Burnam sekaligus menantu, yang semuanya sedang sibuk di luar kota), mereka adalah Franklin Van Burnam, Howard Van Burnam dan Mrs. Howard Van Burnam (istri Howard), Caroline, dan Isabella.

Amelia Butterworth yang merupakan tetangga depan rumah, pada tengah malam saat ia tidak bisa tidur−mendapati seorang perempuan dan laki-laki memasuki rumah Van Burnam. Tak lama setelah itu, sekitar sepuluh menit si laki-laki keluar tanpa perempuan yang masuk dengannya tadi.
“Aku bukan seorang perempuan yang suka usil ikut campur urusan orang lain, tetapi pada tengah malam September yang hangat, saat aku mendengar kereta kuda berhenti di depan rumah sebelah, aku tidak bisa menahan diri untuk meninggalkan ranjang dan mengintip melalui tirai jendela.” – Amelia Butterworth (page 1)

Keesokkan harinya Miss Butterworth yang merasa khawatir bercampur penasaran pada perempuan yang ditinggalkan seorang laki-laki di rumah kosong itu−−meminta kepolisian setempat untuk membuka rumah tersebut. Yang kebetulan saat itu juga seseorang yang mengaku sebagai tukang bersih-bersih rumah Van Burnam datang. Dia adalah Mrs. Boppert—yang satu bulan sekali datang ke rumah Van Burnam untuk melakukan tugasnya.

Dan kekhawatiran Miss Butterworth akhirnya terjawab saat Mrs. Boppert yang memiliki kunci rumah itu membukanya. Benar saja—di dalam rumah tersebut ditemukan mayat seorang perempuan tergeletak di lantai ruang tamu dengan kabinet/lemari menimpa tubuhnya, terutama merusak bagian wajahnya, hingga sulit untuk dikenali.

Yang membuat novel ini menarik adalah tersangka dan saksinya banyak. Di satu sisi memiliki alibi kuat, disisi lain hal itu mencurigakan semua. Aku sampai terkecoh beberapa kali untuk menebak pelakunya dan siapa perempuan yang dibunuh itu.
Selain itu, Miss Butterworth yang bukan siapa-siapa—maksudnya hanya seorang saksi yang melihat di kegelapan malam (seorang perempuan dan laki-laki itu masuk ke rumah) tanpa ia bisa melihat dengan jelas wajah mereka.

Hari-hari Miss Butterworth pun dilalui untuk menyelidiki kasus tersebut, dia tidak bisa diam begitu saja setelah menyaksikan semua ini. Dari penyelidikan koroner dan tim kepolisian yang didampingi detektif Mr. Gryce—perempuan yang meninggal itu diduga kuat adalah istri dari Howard. Tapi, Mr. Howard sendiri saat dimintai keterangan tidak mengakui bahwa istrinya itu yang meninggal. Pihak keluarga Van Burnam pun bungkam, seperti Franklin yang dimintai keterangan juga tidak tahu menahu mengenai perempuan itu. Hingga para saksi pun dihadirkan, mulai dari pemilik kos-kosan (tempat menginap Mr. dan Mrs. Howard), kurir pengantar barang, pelayan hotel, kusir kereta kuda, Mr. Stone (teman Franklin dan Howard), dan beberapa saksi lainnya.

Mr. Gryce yang usianya sudah kepala tujuh itu masih cukup tangkas dan cermat mengusut kasus yang diduga pembunuhan ini, dia pun tidak mau kalah dengan Miss Butterworth yang ingin menguak kebenaran dari kasus tersebut. Dan petualangan Miss Butterworth pun dimulai dengan menyelidiki hal-hal kecil yang dimiliki Mrs. Howard, hingga membawanya kedalam sebuah teori-teori yang…well, mematahkan!! Lalu siapa yang berhasil membeberkan kasus pembunuhan misteri itu? Mr. Gryce atau Miss Butterworth? Atau keduanya bekerja sama? –tidak ada spoiler- :p

Sudut pandang yang dipakai dalam novel ini adalah sudut pandang orang pertama dengan tiga narator.
Tokoh utama, Butterworth adalah perempuan yang mandiri, cerdas dan peka terhadap sekitarnya. Meskipun dia memilih untuk tidak menikah, di usianya yang padahal sudah matang.
Dengan latar tahun 80-an karena novel ini memang terbit tahun 1897, nama-nama merk dan istilah yang dipakaipun begitu klasik. Terjemahannya yang enak dibaca membuatku bisa ikut terbawa ke setting novel ini, meskipun typo masih berseliweran dimana-mana.
Untuk cover yang biasa Visimedia gunakan selalu pas dengan cerita, cocok saja menurutku.

3 Bintang untuk pelaku yang sulit ditebak.

Tentang penulis:
Anna Katherine Green
Ibu dari fiksi detektif dunia
Jika Edgar Allan Poe dikenal sebagai bapak dari fiksi detektif dunia, Anna Katherine Green adalah ibu untuk kategori yang sama. Anna Katherine Green lahir di Brooklyn, 11 November 1846. Anak dari Catharine ann Whitney Green dan James Wilson Green, pengacara terkenal di New York, ini sesungguhnya memiliki ambisi untuk menjadi penulis puisi dan roman. Oleh karena itu, dia berkorespondensi dengan Ralph Waldo Emerson dalam proses kreatif tulisannya. Saat puisi-puisinya tidak mendapatkan pengakuan, justru novel detektif pertamanya The Leavenworth Case (1878), mendapat pujian dari Wilkie Collins dan menjadi buku internasional best seller Amerika pertama. Dengan semangat baru, Green lalu beralih menjadi penulis novel detektif.

Pada 1866, Green menyelesaikan pendidikannya dari Ripley Female College (sekarang Green Mountain College) di Poultney, Vermont. Green merupakan sarjana perempuan pertama untuk ilmu seni. Pada 1877, Green beretemu dengan Charles Rohlfs yang saat itu berprofesi sebagai aktor. Laki-laki yang lebih muda 7 tahun darinya ini kemudian menikahinya pada 25 November 1884 di Gereja Congregational Selatan, Brooklyn. Setelah menikah, Rohfls memilih beralih profesi menjadi desainer furniture dan Green mengelola penerbitan buku. Namun, aktivitas penulisan Green tetap berjalan. Pada 1885, Green melahirkan anak pertamanya, Rosamond, dan satu tahun berikutnya Green menerbitkan The Mill Mystery dan Risifi’s Daughter. Mei 1887, Green melahirkan anak keduanya, Sterling, dan novel 7 to 12: A Detective Story diterbitkan pada Juni. Tahun 1892 Green melahgirkan anak ketiganya, Roland dan menerbitkan Cynthia Wakeham’s Money. Selain mengelola penerbitan buku, Green juga kerap membantu dan berkolaborasi dengan suaminya dalam bisnis furniture.

Novel detektif Green memperkenalkan tokoh detektif Ebenzer Gryce dari Kesatuan Kepolisian New York Metropolitan. Namun, dalam novelnya That Affair Next Door (1897), Lost Man’s Lane: a Second Episode in the Life of Amelia Butterworth (1898), dan The Circular Study (1900), Mr. Gryce dibantu perempuan mandiri dan cerdas, Amelia Butterworth. Miss Butterworth digambarkan sebagai perempuan yang memilih untuk tidak menikah, tetapi dengan kecerdasannya mampu membantu Mr. Gryce memecahkan kasus yang tidak bisa ditemukan akar permasalahnnya. Selain Miss Butterworth, Green juga menciptakan Violet Strange, gadis yang beekrja sebagai detektif amatir untuk kepolisian dalam kumpulan cerpen The Golden Slipper and Other Poroblems for Violet Strange (1915). Dua tokoh perempuan dalam karya Green ini merupakan kisah detektif perempuan pertama di dunia.

Green terinspirasi oleh Edgar Allan Poe dan Emile gaboriau, pendahulunya dalam menulis fiksi detektfi. Sosok ayahnya yang seorang pengacara juga menjadi inspirasi Green dalam menulis kisah-kisah detektif dan cerita Ralph Waldo Emerson, dosennya, tentang agen intelijen perempuan pada masa Perang Sipil Amerika menginspirasi tokoh-tokoh detektif perempuannya. Pada 11 April 1935 Green tutup usia pada usia 88 tahun di rumahnya, Buffalo, New York, setelah menghasilkan 40 buku.

Tangan Kelima


Judul Buku: Tangan Kelima (1 Mobil, 4 Nama, 5 Misteri)
Penulis: Christian Armantyo
Penerbit: Visimedia
Genre: Detektif, Thriller
Terbit: Cetakan I, Mei 2013
Tebal: 366 halaman
ISBN: 979-065-183-X
Harga: Rp. 55.000,-

NO GAME LIKE IT, NO TALE LAKE IT, NO LOVE LIKE IT
MERCEDES Benz SL klasik merah menyala ditemukan di gudang rumah tua. Sang pemilik rumah meninggal tiba-tiba beberapa waktu sebelumnya. Tanpa ada kejelasan penyebabnya. Di dalam mobil klasik itu ditemukan BKPB berisi nama-nama pemilik sebelumnya dan sepasang sepatu perempuan yang masih baru.
RANTAU, sang ahli waris pemilik rumah menemukan berbagai kejanggalan di sekitar gudang tempat mobil itu ditemukan. Tak ada nama sang ayah di BPKB itu. Sederet tanda tanya memenuhi kepalanya. Mobil siapakah itu? Rantau akhirnya memutuskan menelusuri satu persatu nama yang tertera di dalam buku kepemilikan mobil itu. Ia tak pernah menyangka, penyelidikan kecil itu akan membawanya ke dalam labirin misteri yang semakin rumit. Misteri yang berusia puluhan tahun.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu Anna, perempuan yang mengaku anak salah satu pemilik mobil. Anna menawarkan diri membantu Rantau melanjutkan pencarian. Bersama Anna, Rantau keluar-masuk jalanan Jakarta, bahkan hingga menyeberangi Laut Cina Selatan, mencari alamat demi alamat yang terkadang berujung pada kekecewaan. Kebersamaan itu pun memunculkan benih asmara di dalam hati keduanya. Sampai pada akhirnya Rantau menemukan fakta-fakta yang mengejutkan. Pencarian yang dilakukan ternyata membuatnya tidak hanya kehilangan seorang kekasih yang sudah lama menemani, tetapi juga sahabat setia, bahkan nyaris nyawanya sendiri!

**
Sebelumnya saya berterima kasih banget nih buat Penerbit Visimedia yang sudah memberikan buku ini pada saya sebagai Tangan Keduabelas 😀

Dari judul dan sinopsisnya sudah cukup menggambarkan seperti apa perjalanan kasus yang akan dipecahkan oleh seseorang yang bernama Rantau. Ya, Rantau adalah tokoh utama dari novel ini. Penulis memakai sudut pandang orang pertama yang membuat saya sebagai pembaca menjadi lebih mengenal Rantau. Dan, bisa langsung bikin saya jatuh hati dengan tokoh ini xD

Cerita berawal dari Rantau yang baru lulus kuliah dari jurusan Arkeolog. Bicara soal arkeolog, pandanganku terhadap arkeolog di Indonesia memang masih terbilang tidak biasa dijadikan profesi sehari-hari. Entah karena memang istilahnya masih asing atau memang kebanyakan masyarakat sekarang lebih menilai kekayaan yang sudah ada dan modern, dibandingkan peninggalan-peninggalan zaman dulu yang bendanya sudah tidak ada atau ada tapi bukan untuk milik sendiri. Namun, faktanya hasil peninggalan malah lebih suka dilempar sana-sini untuk dijual, dan mirisnya dengan harga yang tidak sebanding.

“Hei, kamu itu arkeolog! Apa kamu mencari tahu sesuatu berdasarkan benda yang masih ada, atau yang kamu miliki?” – Elora

Saya sangat suka bagaimana penulis memberikan banyak informasi tentang Arkeologi−yang bagi saya masih awam. Tulisannya yang enak dibaca semakin membuat saya larut dalam kisah Rantau. Latar dalam ceritanya juga tidak perlu membuat saya berpikir keras mengenai tata letaknya, karena hanya berlokasi di Jakarta dan Bandung, tapi di bab pertengahan kita akan dibawa berpetualang dua hari di Hongkong 😀

Mobil Mercedes Benz SL ditemukan Rantau di rumah almarhum ayah kandungnya di Bandung. Tepatnya berada di dalam sebuah gudang yang tak pernah ia buka. Gudang itu sebenarnya tempat parkiran namun dialih fungsikan menjadi gudang karena pemilik rumahnya tidak memiliki mobil. Rantau yang datang kesana bersama Daan, sahabatnya, menaruh curiga dengan keganjilan yang ada pada mobil klasik berwarna merah itu.

Ayahnya tidak mungkin memiliki mobil antik seperti ini, lalu milik siapa mobil yang ditinggalkan secara tidak wajar ini. Apalagi, dipastikan mobil ini memang sudah ada sejak ayahnya ditemukan meninggal di rumahnya. Dan, yang tak terduga ada BPKB yang berisi nama-nama dari pemilik sebelumnya. Analisis-analisis yang selalu tepat dari seorang Rantau pun akhirnya keluar, dibumbui sifat humor dari Daan membuat analisis ini terbilang santai, jauh dari kesan rumit. Analisisnya sangat mudah dipahami dan terbilang natural, tidak terkesan dibuat-buat ataupun terpaksa harus ada petunjuk. Hal ini yang membuat ceritanya begitu mengalir dan nyata.

Sebagai seorang anak dengan jiwa arkeolog, sudah pasti Rantau sangat ingin menyelidiki hubungan antara mobil antik itu dengan ayahnya. Penyelidikan pun akhirnya dimulai dengan mencari sang pemilik terakhir yang mempertemukannya dengan Anna, anak dari pemilik mobil tersebut. Namun, karena nonya Elisabeth (pemilik mobil) tidak berada di tempat, Rantau harus memulainya terlebih dahulu dengan anaknya. Anna adalah perempuan cantik berwajah indo yang tertarik dengan apa yang sedang diselidiki Rantau. Keduanya akhirnya sepakat untuk memulai petualangan mencari pemilik-pemilik mobil sebelumnya, selama menunggu nyonya Elisabeth pulang dari luar negeri. Dan pencarian tangan ketiga, kedua, dan pertama pun dimulai, membuat saya sendiri menggebu-gebu seperti ikut berpetualang mencari orang-orang di masa lampau tersebut.

Dari sini pula dapat terlihat bagaimana chemistry antara Rantau dan Anna tumbuh. Tapi, perlu diketahui bahwa Rantau sudah punya kekasih, bernama Elora. Itulah yang selalu diwanti-wanti Daan setiap kali Rantau mulai beraksi mencari tangan-tangan berikutnya yang ia selidiki bersama Anna. Elora memang kuliah di Jogja, karena itu, soal penyelidikan ini pun tak diberitahunya. Sementara disisi Rantau ada Daan, disisi Anna juga ada Leo. Rantau kerap kali diperingatkan Leo untuk tidak macam-macam dengan Anna. Yah, maklum ceritanya Leo itu kakaknya Anna. *cough* :p

Jadi, intinya sih ya..menyelidiki pemilik mobil sebelumnya yang diurutkan dari sang tangan ke empat ke tangan pertama, yang akan membukakan petunjuk siapa pemilik sebenarnya, yaitu tangan kelima. Bisa dibilang, ini termasuk proses penyelidikan yang berjalan mundur.

Selalu ditemukan tokoh-tokoh baru disetiap babnya dan selalu ada cerita dibalik orang-orang yang pernah memiliki mobil tersebut. Dan, anehnya selalu saja mereka menawarkan diri ingin membeli mobil itu lagi. Tapi, tenang saja.. Rantau tidak silau harta untuk menjualnya. Dia masih ingin terus menguak hubungan mobil itu dengan ayahnya. Bahkan sampai berani terbang ke Hongkong berdua bersama Anna, demi mendapatkan informasi mengenai mobil mercedes itu.

Bab menjelang akhir, muncul tokoh Elora, kekasih Rantau. Meskipun munculnya ada di bab tiga terakhir, tapi tidak membuat sosoknya kehilangan peran. Justru perannya sangat kuat dengan pemikiran-pemikiran yang masih fresh dibandingkan Rantau yang isi kepalanya pasti sudah mumet gara-gara banyaknya informasi yang ia dapat, sehingga membuatnya berputar-putar sendiri dalam kekusutan kasusnya itu. Kesetiaan Rantau pada Elora tak perlu dipertanyakan lagi, meski selama Elora tidak ada, tapi itu tidak membuatnya mudah berpaling. Meskipun begitu, saya mendapakan chemistrynya pada Anna tidak kalah jauh dengan hubungan yang sudah bertahan selama dua tahun itu dengan Elora. xD

Sebenarnya aku sudah mulai menebak siapa Anna sebenarnya. Namun, karena asumsi Rantau yang begitu menerima informasi dengan mentah-mentah, membuat kecurigaan saya mengendur. Bahkan, dengan teganya saya ikut-ikutan mencurigai Daan. LOL
Menurut saya, tokoh Rantau ini memang tokoh yang lahir dengan sangat alami. Meskipun dia arkeolog, tapi tetap saja sifat tidak telitinya ada, yang membuat penyelidikannya semakin menarik.

“Saya arkeolog, bukan detektif… Arekolog itu lebih keren daripada detektif, Dik…” – Rantau (page 340)

Seorang arkeolog bisa otomatis disebut detektif, tapi detektif belum tentu seorang arkeolog. (menurutku) xD

Aku suka dengan endingnya yang memberikan penjelasan masuk akal. Tapi, kenapa harus seperti itu? Benar-benar bikin nyesek!! Saya gak terima dengan nasib Daan 😥

Novel ini seperti parcel buku, komplit genrenya. Ada history, horror, thriller, detektif, romance, humor, dan juga melodramanya.
Sangat disayangkan dalam buku ini saya menemukan lebih dari sepuluh typo, tapi tidak mengurangi kesan saya untuk menyukai buku ini. Hanya lebih bagus kalau typo itu gak ada, sehingga mata saya gak perlu ngucek-ngucek setiap kali liat typo.

Berhubung Rantau sudah saya kasih hati, bintang kali ini saya kasih buat Got. Eh, Daan Mogot! 4 bintang 😀

NB: Setelah habis membaca buku ini, saya jadi berasumsi bahwa title tangan keduabelas yang disematkan pada saya adalah bukan untuk memecahkan kasus-kasus selanjutnya yang tidak berujung, melainkan untuk membedah buku ini menjadi sebuah resensi. haha xD Apa diantara kalian juga ingin menjadi tangan-tangan berikutnya? Silahkan coba baca buku ini, barangkali benar anda adalah orang selanjutnya (tangan ketigabelas)? atau tangan keseratus, bahkan keseribu? x)

Tentang Penulis
Christian Armantyo

Membatalkan pilihannya menempuh pendidikan kesenian, lalu beralih mengikuti jejak kedua kakak dan ayahnya. Setelah menyelesaikan studi Akuntansi di Fakultas Ekonomi, UI, pada usia yang ke-20 tahun menjalani profesi sebagai bankir di salah satu bank milik negara.
Pagi hingga petang berjerih mengembangkan produk kredit bagi para pengusaha UKM. Saat malam sudah terlalu larut dan pagi yag masih buta berjerih mengembangkan produk imajinasi bagi para pembaca.
Mengenai beberapa bidang seni lainnya, seperti menggambar, bermain alat musik gitar dan cello. Merasa pernah hidup pada masa lampau, sehingga selalu terenyuh ketika mendengar musik-musik lama, melihat bangunan tua, dan hal bersejarah.

Untuk yang ingin mengenal lebih jauh penulis bisa berkunjung ke websitenya. Emailnya christian.armantyo@gmail.com, dan bisa follow twitternya @carmantyo

Arsene Lupin versus Mafia Mafia

Image

Judul Buku: Arsene Lupin versus Mafia Mafia

Penulis: Maurice Leblanc

Penerjemah: Julie Medikawati

Penerbit: Visimedia

Terbit: Cetakan I, Februari, 2013

Tebal: xii + 290 halaman

ISBN: 979-065-175-9

Harga: Rp. 57.000,-

“LUPIN MENGIKUTIKU KE MANA SAJA.

 DIA BUKANLAH BAYANGANKU, AKULAH BAYANGANNYA.”

~MAURICE LEBLANC~

Petualangan apa lagi yang dihadapi oleh si pencuri aristokrat dari Prancis ini? Kali ini, Arsene Lupin berjuang keras menyelamatkan kekayaannya yang melimpah dari incaran kelompok mafia Amerika bernama Maffia. Semua bermula ketika James Mac Allermy, bos sebuah surat kabar di Amerika ditemukan tewas mengenaskan. Begitu pula asisten setianya. Pihak kepolisian tidak menemukan petunjuk apa pun mengenai siapa pelaku yang sebenarnya. Siapa sangka, sekretaris James Mac Allermy, Patricia Johnston, memegang dokumen penting yang pada kemudian hari menjadi bukti penting yang menentukan. James Mac Allermy menyerahkan dokumen ini menjelang kematiannya.

Patricia kemudian melakukan penyelidikan independen ke Prancis, mencari tahu siapa sebenarnya pelaku pembunuhan itu. Saat berusaha menelusuri bukti-bukti yang terbatas, dia bertemu dengan Arsene Lupin yang menyamar menjadi bangsawan Prancis. Berkat bantuan Lupin, Patricia menyadari sindikat yang dihadapinya. Berkali-kali Particia menjadi tawanan mafia, dan berkali-kali pula Lupin berhasil melepaskannya. Saat komplotan mafia merasa berada di atas angin dan tinggal membagi rata hasil jarahan berupa harta kekayaan Arsene Lupin yang melimpah itu, kejutan datang tanpa mereka duga. Mimpi bergelimang harta musnah seketika.

Novel ini merupakan karya terakhir Maurice Leblanc. Beberapa bagian dari novel ini sempat lenyap dalam beberapa edisi yang terbit di Prancis. Seorang kolektor karya-karya Leblanc akhirnya bisa melengkapi bagian yang hilang itu. Novel utuh inilah yang kami sajikan untuk Anda, Lupinian sejati.

Sinopsis diatas cukup jelas menceritakan isi yang menarik dari novel ini. Gadis bernama Patricia yang merupakan sekretaris dari Direktur penerbitan Allo Police, telah dihadapi masalah yang cukup menegangkan. Bagaimana tidak, setelah rapat di malam hari bersama James Mac Allermy beserta asistennya Frederic Fildes, ia mengetahui jika maksud bos nya menyuruhnya ikut rapat malam-malam hari itu untuk memberikan dokumen penting. Hal tersebut dilakukannya  karena ia ingin menyelamatkan asetnya agar tidak jatuh ke tangan rekan-rekan Mafia yang lain, ternyata JM Allermy dan Frederic ini anggota dari Mafia. Itu terbukti saat Patricia tidak sengaja melihat kedua orang tersebut masuk ke gerbang Place de La Li berte, tepatnya sebelas orang yang sedang berkumpul di tempat tersebut. Dompet kuning kemerahan yang selalu dibawa Allermy pun dibawanya saat itu, dokumen penting yang akan diberikan pada Patricia ada di dalam situ.

Patricia disini cukup berani, padahal sebelum ia memilih untuk membuntuti bosnya ia telah di sekap beberapa menit dalam kegelapan oleh si Liar, ya… panggil saja si Liar, laki-laki kasar, berwajah menyeramkan hingga membuat Patricia tidak suka. Namun ancaman si Liar itu membuatnya khawatir pada bosnya, itulah sebabnya sekarang ia berada tidak jauh di gerbang Place de la Liberte. Keyakinannya untuk melawan perasaan takut itu datang dari seorang laki-laki yang menyelamatkannya dari sekapan si Liar, laki-laki itu pastilah Arsene Lupin, pikirnya. Ia diberi peluit perak oleh laki-laki tersebut, kapan pun Patricia dalam bahaya tiup saja peluit itu, laki-laki bak pahlawan tersebut akan segara datang menyelamatkannya. Di malam itu juga ternyata Allermy dibunuh dan ia melihat dompet kuning itu berpindah tangan pada seseorang yang tak terlihat jelas wajahnya karena tertutup topi apalagi saat itu jarak pandangnya jauh dari pabrik tersebut. Disusul kematian Frederic, kini Patricia harus mengungkapkan kasus tersebut dan mengambil kembali dokumen yang ada pada dompet kuning tersebut.

Saat aku baca di bab-bab awal aku pikir Arsene Lupin ini memang sosok yang misterius dan mengagumkan, tapi di bab ke tiga, sosok Arsene Lupin ini terlihat dan bahkan kesehariannya dipaparkan sangat berbeda dari yang ku pikirkan, dia memiliki pengasuh bibi tua bernama Victorie. Bersama pengasuhnya, Lupin atau dalam keseharian sesungguuhnya ia bernama Horace Velmont ini cukup manja, dan seenaknya. Mungkin karena memang Victorie sudah menganggapnya sebagai anak. Pertemuan pertamanya pun (seharusnya menjadi kedua) dengan Patricia tidak membuat Patricia mengenal bahwa laki-laki yang mengaku bangsawan tersebut adalah Lupin, meskipun dari cara menolongnya sebenarnya Patricia sudah mencurigai bahwa Horace adalah Lupin seperti yang diteriakkan si Liar (Maffiano).

Penyelidikan yang Patricia lakukan hingga ke Prancis memberikan banyak sekali petualangan-petualangan seru, selain harus berhadapan dengan mantan kekasihnya, anak dari James Mac Allermy yang bernama Henry yang memintanya untuk kembali. Pada laki-laki yang sudah meninggalkannya tersebut karena lebih memilih menikahi wanita lain padahal ia dengannya telah memiliki seorang anak laki-laki yang berusia sebelas tahun. Penghianatan dari Henry tidak bisa Patricia maafkan meskipun pada akhirnya ia bisa bekerja dengan ayahnya, tapi itu semua tidak ada hubungannya dengan masa lalunya dengan Henry. Selain harus beradu cekcok dengan mantan kekasihnya itu, Patricia harus bertemu lagi dengan Si Liar Maffiano, namun untungnya ada Horace yang melinduginya, persis dengan yang ia harapkan agar Lupin datang. Kejadian-kejadian penyelamatan diri dan pengambilan dokumen penting serta kartu Mafia yang yang dimilki sebelas anggota Mafia tersebut membuat perjalanan di Prancis semakin mendebarkan dan menegangkan, dan kehebatan anak Patricia yang Horace panggil Pangeran Rodolphe ini begitu jenius seperti ibunya, juga harimau yang bernama Saida yang mampu melawan polisi membuat aksi Lupin disini jadi lebih menarik.

Lagi, saya menyayangkan tokoh Arsene Lupin ini tidak sehebat yang saya pikirkan, meski jenius tapi kecerdikan dan keberanian Patricia justru lebih menonjol, juga tanpa disangka Victorie memiliki insting yang bagus dan cukup membentengi Lupin untuk tidak gegabah dalam melakukan aksinya. Yah, walaupun ada sedikit kekurangan dan memang seharusnya ada keseimbangan power dari setiap tokoh, tetap saja Lupin yang seorang pahlawan, meski dia seorang buronan karena banyak sekali harta yang dicurinya hingga membuat Mafia ingin mendapatkan harta berlimpah milik Lupin, sementara polisi ingin menangkapnya.

Novel asal Prancis yang cukup klasik karena buku terakhir ini dirilis tahun 1941, tahun dimana Maurice penulis Arsene Lupin ini telah wafat. Saking kalsiknya bahasa terjemahannya pun banyak yang membuat saya tidak mengerti, meskipun tahu maksudnya. Sedikit mengganggu memang, karena bukan bahasa sehari-hari (jelas saja sih karena meskipun terjemahan novel ini mengikuti pemaparan zaman dahulu yang memang bahasanya mungkin seperti ini). untuk masalah typo cukup sedikit, tidak banyak sehingga tidak menganggu saya selama membaca.

3,8 bintang aku beri pada novel ini. Sejujurnya aku sangat menanti lanjutannya…

Quotes yang kusukai:

“Aku melihatmu datang dalam gelap dan aku mendengarmu dalam keheningan,” – Patricia.

 

Tentang Penulis:

Image

Novelis yang mempunyai nama lengkap Maurice Marie Emile Leblance ini dilahirkan di Rouen, Normandy, Prancis, 11 Novemeber 1864. Dia berasal dari keluarga kaya dengan tradsisi Prancis yang kental. Dia adalah anak kedua dari pasangan Emile Leblanc, seorang laki-laki keturunan Italia, dan Blance Brohy. Saat perang 1870 pecah, dia masih berusia enam tahun. Setelah sempat mengenyam pendidikan di Rouen, Jerman, dan Italia, dia memutuskan untuk bekerja pada firma milik keluarganya. Leblance mulai menemukan keasyikan lain dalam dunia menulis. Dia akhirnya mengabaikan bisnis keluarga dan sekolahnya kemudian beralih menekuni dunia menulis sebagai penulis cerita kriminal di majalah amatir juga sebagai reporter untuk surat kabar Prancis, seperti Figaro, Gil Blas, dan Echo de Paris. Leblance akhirnya drop out dan memilih fokus menekuni profesi sebagai penulis. Tahun 1899 dia menikahi Marie-Ernestine Lalanne, tetapi bercerai pada tahun 1895.

Novelis Prancis yang menginspirasi Leblanc dalam menulis adalah Gustave Flaubert dan Guy de Maupassant. Novel pertamanya dipublikasikan tahun 1887, berjudul Une Femme, yang bertema psikologi. Namanya belum cukup diakui di Prancis sampai ketika cerita lepas pertamanya yang memunculkan sosok Arsene Lupin diterbitkan pertama kali di majalah Je Sais Tout Vol. 6, tanggal 15 Juli 1905. Sosok Arsene Lupin dianggap hanya ditampilkan sebagai pencuri ulung yang cerdik mendapat sambutan luar biasa dari pembaca. Ketenaran Maurice Leblanc dengan tokoh Arsene Lupin dianggap hanya bisa disaingi oleh Sir Arthur Conan Doyle dengan tokoh detektif andalnya. Dia menghabiskan 25 tahu8n masa hidupnya untuk menghasilkan buku dengan tokoh Arsene Lupin. Karena dedikasinya dalam dunia literasi Prancis, Leblanc pernah mendapat penghargan Legion d’Honneur. Dia meninggal di Perpignan pada tahun 1941. Bekas rumahnya di Etretat kini dijadikan Museum Maurice Leblanc.

The Deadly Violin ‘Five Detectives Quest’

The_deadly_violin_five_detectives_quest-228x228

Judul Buku: The Deadly Violin ‘Five Detectives Quest’

Penulis: Andy M. Baramuli

Terbit: Cetakan I, Oktober 2012

Penerbit: Visimedia

Genre: Novel Misteri-Detektif

Tebal:  xii + 420 halaman

Harga: Rp. 56.000

ISBN: 979-065-168-6

Konser “The Real Sensation of Stradivarius” telah menampilkan kelima peserta dengan luar biasa! Pewaris biola Stradivarius pun akan segera diumumkan. Tiba-tiba, seorang peserta, violis Revuelta Delica memucat, lemas, pingsan, dan tewas! Sehari kemudian, Sang Guru sekaligus pemilik biola, Senior Ford, tewas mengenaskan di dalam bath-up kamar mandinya! Paris pun gempar!

Kedua tragedi memilkukan itu terjadi di depan mata Randy Swats, Maria Ksvitsova, Ken Kyoichiro, Peter Hans, dan Diana Verolyn yang merupakan tamu undangan VVIP pada konser tersebut. Kelimanya diundang oleh Mister X. Apa yang terjadi? Siapa kelima tamu istimewa itu? Siapa sebenarnya Mister X? Siapa pembunuh kedua korban? Apa kaitan antara Mister X, biola Stradivarius, keluarga Senior Ford, murid-murid Ford, dan kelima tamu istimewa itu?

The Deadly Violin merupakan novel detektif yang ciamik! Alur ceritanya bagus. Bahasanya sederhana. Unsur narasi, deskripsi, dan argumentasinya jelas. Imajinasi penulisnya pun liar!

Seorang penulis Misteri, Randy Swats dikirimi surat undangan oleh seseorang yang bernama Mister X untuk menyaksikan pertunjukan Stradivarius, yang bertajuk penyerahan pergantian kepemilikan Biola Vierlitto Stradivarius yang berkisar usia 300 tahunan. Sang pemilik Senior Ford akan mewariskan Biola yang salah satu senarnya itu terbuat dari emas kepada salah satu diantara kelima muridnya. Kelima murid tersebut adalah Reveuelta Delica, Aprilia, McEntire, Rave Gilles, Freddy Jenkins. Dalam pertunjukan itu tak terlepas juga peran-peran yang lain dalam menyukseskan acara tersebut, diantara lain istri Senior Ford, Yvone, Julia (penyelenggara acara), Jason Smith dan Harviana adalah perwakilan kepolisian dari kota Paris untuk menjaga-jaga jika teror pembunuhan itu terjadi.

Dibalik kemegahan dan kemeriahan pertunjukan biola itu, terdapat ancaman pembunuhan, seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya dalam surat yang Randy dapatkan. Ternyata surat itu tidak hanya ditujukan padanya, tetapi juga ditujukan pada keempat orang hebat lainnya, yang Randy tidak kenali. Mereka adalah Diana Verolyn, Ken Kyoichiro, Maria Ksvitova, Peter Hans. Kelima orang yang ditunjuk Mister X itu ditantang untuk menyaksikan kasus pembunuhan yang sudah Mister X rancang. Namun, melihat begitu ketat pengamanan di gedung Kesenian Perancis, Randy dan kawan-kawan tidak lagi mengkhawatirkan hal itu.

Diluar dugaan, pembunuhan itu tetap terjadi bahkan mengintai nyawa salah seorang murid dari Senior Ford, Delica tewas seketika, selain itu Rave hampir sekarat juga karena terkena sedikit racun sianida yang mematikan itu. Senior Ford yang merasa dirinyalah yang terancam akan dibunuh merasa was-was, ia sangat sedih kehilangan murid kesayangannya, Delica. Setelah hari kematian Delica, justru benar nyatanya bahwa nyawa Senior Ford terancam, ia tewas di kamar mandi, dengan alibi bunuh diri.

Siapakah pelaku sebenarnya Delica dan Senior Ford? Trik apa yang digunakan si pembunuh untuk menghabisi nyawa sang violis Delica yang sedang bermain biola di depan panggung dengan indahnya. Lalu Senior Ford yang tewas di kamar mandi dengan terkunci rapat di dalam, seperti apa trik ruangan tertutup itu? semua jawabannya ada di novel ini. hehe berasa baca komik Detektif Conan 😀

Oya kelima detektif itu aku sangat suka kelebihan mereka, berikut aku urutkan:

§  Randy Swats (Amerika Serikat) Seorang penulis novel Misteri-detektif yang telah mengarang lebih dari 10 buku terkenal. Penegtahuan dan hasil karyanya membuat ia lebiih banyak tahu tentang motif seseorang pembunuh untuk membunuh, tetapi belum pernah mengalami/menemui kasus pembunuhan yang sebenarnya.

§  Diana Verolyn (Inggris/berpindah-pindah) Memiliki orangtua yang bekerja sebagai duta besar membuatnya menguasai berbagai bahasa. Diana adalah seorang kriminolog yang mendalami ilmu kriminal dan juga viktimologi. Dia pernah membantu Interpol dalam mengusut sebuah kasus.

§  Ken Kyoichiro (Jepang) laki-laki asal Jepang ini adalah seorang wartawan investigasi yang suka menyelidiki kejadian-kejadian besar. Disebabkan profesinya yang berbahaya, Ken mendalami banyak ilmu bela diri untuk melindungi dirinya.

§  Maria Ksvitsova (Rusia) Semenjak lahir telah dianugerahi bakat alamiah photographic memories, yaitu kemampuan mengingat yang sangat kuat dalam sekali melihat, mendengar atau mencium.

§  Peter Hans (Inggris) Seorang dokter ahli dalam bidang forensik. Memilki kemampuan menelaah penyebab kematian seseorang dan mengidentifikasi luka, baik luka luar maupun dalam yang ada di tubuh korban. Peter sering membantu Kepolisian Inggris dalam menangani kasus pembunuhan.

Ceritanya bagus, sampai ke pembaca. Bisa menyeimbangi kasus-kasus yang ada dalam cerita-cerita detektif lain, ya…gak kalah kerenlah intinya mah.hehe dengan umurnya yang masih muda bisa buat novel detektif seperti ini.

Tapi…, (pasti aja ada tapinya hehe). Aku kurang begitu suka dengan penulisannya (penyampaiannya), meskipun pesannya nyampe, tapi kurang enak dibaca.

Aku kasih 2 bintang untuk lima detektif yang amazing! 😀

 

Tentang Penulis:

Andy Muhammad Baramuli atau biasa dipanggil Andy, kelahiran Makasar, 14 April 1992. Kesukaannya akan cerita detektif dirasakannya semenjak umur enam tahun.

Ia menulis novel detektif karena merasa belum ada buku yang membuatnya puas, terutama buku-buku novel yang bertema detektif. Ia mulai menulis saat berumur 17 tahun karena terinspirasi Christoper Paolini, penulis muda yang menerbitkan buku perdananya saat berumur 15 tahun. Ini merupakan novel debutnya. Ia memutuskan tetap akan menulis buku-buku lainnya.